earth bending - water bending - fire bending - wind bending

7.30.2008

gangguan binatang penggangu

. 7.30.2008

©2003 Digitized by USU digital library 1

MENTIFIKASI VEKTOR DAN PENGENDALIAN NYAMUK ANOPHELES

ACONITUS SECARASEDERHANA

Dra. NURMAINI, MKM

Fakultas Kesehatan Masyarakat

Bagian Kesehatan Lingkungan

Universitas Sumatera Utara

I. PENDAHULUAN

Vektor adalah anthropoda yang dapat menimbulkan dan menularkan suatu

Infectious agent dari sumber Infeksi kepada induk semang yang rentan. Bagi dunia

kesehatan masyarakat, binatang yang termasuk kelompok vektor yang dapat

merugikan kehidupan manusia karena disamping mengganggu secara langsung juga

sebagai perantara penularan penyakit, seperti yang sudah diartikan diatas.

Adapun dari penggolongan binatang ada dikenal dengan 10 golongan yang

dinamakan phylum diantaranya ada 2 phylum sangat berpengaruh terhadap

kesehatan manusia yaitu phylum anthropoda seperti nyamuk yang dapat bertindak

sebagai perantara penularan penyakit malaria, deman berdarah, dan Phyluml

chodata yaitu tikus sebagai pengganggu manusia, serta sekaligus sebagai tuan

rumah (hospes), pinjal Xenopsylla cheopis yang menyebabkan penyakit pes.

Sebenarnya disamping nyamuk sebagai vektor dan tikus binatang pengganggu masih

banyak binatang lain yang berfimgsi sebagai vektor dan binatang pengganggu.

Namun kedua phylum sangat berpengaruh didalam menyebabkan kesehatan

pada manusia, untuk itu keberadaan vektor dan binatang penggangu tersebut harus

di tanggulangi, sekalipun demikian tidak mungkin membasmi sampai keakar-akarnya

melainkan kita hanya mampu berusaha mengurangi atau menurunkan populasinya

kesatu tingkat ertentu yang tidak mengganggu ataupun membahayakan kehidupan

manusia. Dalam hal ini untuk mencapai harapan tersebut perlu adanya suatu

managemen pengendalian dengan arti kegiatan-kegiatan/proses pelaksanaan yang

bertujuan untuk memurunkan densitas populasi vektor pada tingkat yang tidak

membahayakan.

Pada penulisan ini sebelum membahas metode pengendalian secara

sederhana pemberantasan vektor malaria, terlebih dahulu disampaikan secara

pengertian serta ciri-ciri vektor dan binatang pengganggu.

II. VEKTOR DAN BINATANG PENGANGGU

1. Jenis-jenis Vektor.

Seperti telah diketahui vektor adalah Anthropoda yang dapat

memindahkan/menularkan suatu infectious agent dari sumber infeksi kepada

induk semang yang rentan.

Sebagian dari Anthropoda dapat bertindak sebagai vektor, yang mempunyai ciriciri

kakinya beruas-ruas, dan merupakan salah satu phylum yang terbesar

jumlahnya karena hampir meliputi 75% dari seluruh jumlah binatang.

©2003 Digitized by USU digital library 2

Antropoda dibagi menjadi 4 kelas :

1. Kelas crustacea (berkaki 10): misalnya udang

2. Kelas Myriapoda : misalnya binatang berkaki seribu

3. Kelas Arachinodea (berkaki 8) : misalnya Tungau

4. Kelas hexapoda (berkaki 6) : misalnya nyamuk

Dari kelas hexapoda dibagi menjadi 12 ordo, antara lain ordo yang perlu

diperhatikan dalam pengendalian adalah :

a. Ordo Dipthera yaitu nyamuk, lalat

-Nyamuk anopheles sebagai vektor malaria

-Nyamuk aedes sebagai vektor penyakit demam berdarah

-Lalat tse-tse sebagai vektor penyakit tidur

-Lalat kuda sebagai vektor penyakit Anthrax

b. Ordo Siphonaptera yaitu pinjal

- Pinjal tikus sebagai vektor penyakit pes

c. Ordo Anophera yaitu kutu kepala

- Kutu kepala sebagai vektor penyakit demam bolak-balik dan typhus

exantyematicus.

Selain vektor diatas, terdapat ordo dari kelas hexapoda yang bertindak sebagai

binatang pengganggu antara lain:

-Ordo hemiptera, contoh kutu busuk

-Ordo isoptera, contoh rayap

-Ordo orthoptera, contoh belalang

-Ordo coleoptera, contoh kecoak

Sedangkan dari phylum chordata yaitu tikus yang dapat sebagai sebagai binatang

pengganggu, dapat dibagi menjadi 2 golongan :

1. Tikus besar (Rat)

Contoh :-Rattus norvigicus (tikus riol )

-Rattus-rattus diardiil (tikus atap)

-Rattus-rattus frugivorus (tikus buah-buahan)

2. Tikus kecil (mice)

Contoh:Mussculus (tikus rumah)

2.Identifikasi, Sifat dan Perilaku Vektor dan Binatang Pengganggu

2.1. Siklus hidup nyamuk

Nyamuk sejak telur hingga menjadi nyamuk dewasa, sama dengan serangga

yang mengalami tingkatan (stadia) yang berbeda-beda. Dalam siklus hidup nyarnuk

terdapat 4 stadia dengan 3 stadium berkembang di dalam air dari satu stadium

hidup dialam bebas :

1.Nyamuk dewasa:

Nyamuk jantan dan betina dewasa perbandingan 1 : 1, nyamuk jantan keluar

terlebih dahulu dari kepompong, baru disusul nyarnuk betina, dan nyamuk jantan

tersebut akan tetap tinggal di dekat sarang, sampai nyamuk betina keluar dari

©2003 Digitized by USU digital library 3

kepompong, setelah jenis betina keluar, maka nyamuk jantan akan langsung

mengawini betina sebelum mencari darah. Selama hidupnya nyamuk betina hanya

sekali kawin. Dalam perkembangan telur tergantung kepada beberapa faktor

antara lain temperatur dan kelembaban serta species dari nyamuk.

2.Telur nyamuk.

Nyamuk biasanya meletakkan telur di tempat yang berair, pada tempat yang

keberadanya kering telur akan rusak dan mati. Kebiasaan meletakkan telur dari

nyamuk berbeda -beda tergantung dari jenisnya.

-Nyamuk anopeles akan meletakkan telurnya dipermukaan air satu persatu

ataubergerombolan tetapi saling lepas, telur anopeles mempunyai alat pengapung.

-Nyamuk culex akan meletakkan telur diatas pemlukaan air secara bergerombolan

dan bersatu berbentuk rakit sehingga mampu untuk mengapung.

-Nyamuk Aedes meletakkan telur dan menempel pada yang terapung diatas air atau

menempel pada pemlukaan benda yang merupakan tempat air pada batas

pemlukaan air dan tempatnya. Sedangkan nyamuk mansonia meletakkkan telurnya

menempel pada tumbuhan-tumbuhan air, dan diletakkan secara bergerombol

berbentuk karangan bungan. Stadium telur ini memakan waktu 1 -2 hari.

2. Jentik nyamuk

Pada perkembangan stadium jentik, adalah pertumbuhan dan melengkapi bulubulunya,

stadium jentik mermerlukan waktu 1 minggu. Pertumbuhan jentik

dipengaruhi faktor temperatur, nutrien, ada tidaknya binatang predator.

3. Kepompong

Merupakan stadium terakhir dari nyamuk yang berada di dalam air, pada staidum

ini memerlukan makanan dan terjadi pembentukan sayap hingga dapat terbang,

stadium kepompong memakan waktu lebih kurang 1 -2 hari.

2.2. Tempat Berkembang Biak (Breeding Places)

Dalam perkembang biakan nyamuk selalu memerlukan tiga macam tempat

yaitu tempat berkembang biak (breeding places), tempat untuk mendapatkan

unpan/darah (feeding places) dan tempat untuk beristirahat (reesting palces).

Nyamuk mempunyai tipe breeding palces yang berlainan seperti culex dapat

berkembang di sembarangan tempat air, sedangkan Aedes hanya dapat berkembang

biak di air yang cukup bersih dan tidak beralaskan tanah langsung, mansonia senang

berkembang biak di kolam-kolam, rawa-rawa danau yang banyak tanaman airya dan

Anopeheles bermacam breeding placec, sesuai dengan jenis anophelesnya sebagai

berikut :

1. Anopheles Sundaicus, Anopheles subpictus clan anopheles vagus senang

berkembang biak di air payau.

2. Tempat yang langsung mendapat sinar matahari disenangi nyamuk anopheles

sundaicus, anopheles mucaltus dalam berkembang biak.

3. Breeding palces yang terlindung daTi sinar matahari disenangi anopheles vagus,

anopheles barbumrosis untuk berkembang biak.

©2003 Digitized by USU digital library 4

4. Air yang tidak mengalir sangat disenangi oleh nyamuk anopheles vagus,

indefinitus, leucosphirus untuk tempat berkembang biak.

5. Air yang tenang atau sedikit mengalir seperti sawah sangat disenangi anopheles

acunitus, vagus, barbirotus, anullaris untuk berkembang biak.

2.3. Kebiasaan menggigit

Waktu keaktifan mencari darah dari masing -masing nyamuk berbeda –beda,

nyamuk yang aktif pada malam hari menggigit, adalah anopheles dan colex

sedangkan nyamuk yang aktif pada siang hari menggigit yaitu Aedes. Khusus untuk

anopheles, nyamuk ini bila menggigit mempunyai perilaku bila siap menggigit

langsung keluar rumah. Pada umumnya nyamuk yang menghisap darah adalah

nyamuk betina.

2.4. Tempat beristirahat (resting places)

Biasanya setelah nyamuk betina menggigit orang/hewan, nyamuk tersebut

akan beristirahat selama 2 -3 hari, misalnya pada bagian dalam rumah sedangkan

diluar rumah seperti gua, lubang lembab, tempat yang berwarna gelap dan lain lain

merupakan tempat yang disenangi nyamuk untuk berisitirahat.

2.5. Bionomik nyamuk (kebiasaan hidup)

Bionomik sangat penting diketahui dalam kegiatan tindakan pemberantasan

misalnya dalam pemberantasan nyamluk dengan insectisida kita tidak mungkin

melaksanakannya, bilamana kita belum mengetahui kebiasaan hidup dari nyamuk,

terutama yang menjadi vektor dari satu penyakit. Pada hakekatnya serangga

sebagai mahluk hidup mempunyai bermacam-macam kebiasaan, adapun yang perlu

diketahui untuk pemberantasan/pengendalian misalnya :

a. Kebiasaan yang berhubungan dengan perkawinan/mencari makan, dan

lamanyan hidup.

b. Kebiasaan kegiatan diwaktu malam, dan perputaran menggigitnya.

c. Kebiasaan berlindung diluar rumah dan di dalam rumah.

d. Kebiasaan memilih mangsa

e. Kebiasaan yang berhubungan dengan iklim, suhu, kelembaban dll.

f. Kebiasaan di dalam rumah atau di luar rumah yang berhubungan dengan

penggunaan.

3. L a l a t

Lalat merupakan kelas insekta dari diptera, yang terpenting adalah golongan

Clyptrata muscodiae bagian dari super family muscodiae.

3.1. Genus Musca

Genus musca yang penting diketahui adalah spesies yang sering terdapat di

sekitar rumah dan di dalam rumah adapun tanda-tanda dari lalat rumah

(muscadomestica) tubuh berwarna coklat dan kehitam-hitaman pada thorax terdapat

4 garis hitam dan 1 garis hitam medial pada abdomen punggung, vein ke empat dari

sayap berbentuk sudut, antena mempunyai 3 segmen, mata terpisah,

methamorphosenya sempurna serta tubuh lalat jantan lebih kecil dari tubuh lalat

betina.

©2003 Digitized by USU digital library 5

3.2. Siklus hidup

Lalat memiliki bentuk telur lonjong berwarna putih, lalat betina sekali bertelur

100 -200 telur, stadium lamanyan menetas 12 -24 jam dipengaruhi suhu lingkungan.

Dari stadium telur sampai dewasa lamanya sampai 8 -20 hari temperatur optimum

untuk kehidupan lalat 24 ° C -32 ° C. Tanpa air lalat akan dapat bertahan hidup

sampai ±48 jam .

3.3. Tempat berkembang biak

Tempat Yang disenangi lalat untuk berkembang biak umumnya pada sampah

sampah basah, kotoran manusia, binatang dan tumbuh -tumbuhan yang membusuk.

3.4. Cara terbang

Lalat suka terbang terus-menerus, dari hasil penyelidikan jarak terbang lalat

pada daerah yang padat penduduknya tidak lebih dari 0,5 km.

3.5. Cara bertelur

Lalat masa bertelurnya 4 -20 hari dan setiap betina dapat bertelur 4 -5 kali

semur hidupnya, dengan jumlah sekali bertelur 100 -150 butir.

4. Tikus

Untuk dapat mengenal tikus dalam arti sesunggunya (family muridae) dapat

dilakukan dengan indentifikasi morfologi yang menyolok pada jenis tikus)

memperhatikan lingkungan hidupnya serta penelusuran secara deskripsi.

4.1. Kebiasaan -kebiasaan tikus.

Tikus mempunyai penglihatan yang buruk tetapi mempunyai panca indera

seperti pencium yang tajam, meraba, mendengar. Pada malam hari tikus bergerak di

pandu oleh rambut, kumis yang panjang peka terhadap sentuhan.

Tikus senang dengan bau harum, khususnya Yang berasal dari makanan

manusia. Kebiasaan waktu makan adalah pada malam hari, tikus tidak senang

ditempat-tempat yang ramai misalnya gaduh oleh suara mesin melainkan senang

ditempat-tempat penyimpanan makanan. Kesukaan mencari makan adalah seperti

ditempat sampah, lemari, selokan dan dapur. Umur hidup seekor tikus rata–rata

mencapai 1 tahun dan pembiakan cepat terjadi selama musim hujan, apabila

terdapat banyak makanan dan tempat untuk berlindung.

4.2. Tanda ada atau tidaknya tikus.

a. Ada dijumpai bekas gigitan yang ditinggalkan tikus misalnya pada pintu

jendela, dll.

b. Alur jalan tikus pada umumnya kotor dan berminyak.

c. Di jumpai kotoran tikus, kotoran yang masih lembek, mengkilap berwarna

gelap adalah ciri-ciri kotoran yang masih baru, sedangkan kotoran yang

sudah lama, keras, kering dan umumnya bewarna abu -abu.

d. Terdengar adanya suara tikus pada saat hari sudah muali gelap.

Sarang tikus dijurnpai pada dinding, pada pohon-pohon, tanam-tanaman

dan di sela -sela pada rumah, dll.

©2003 Digitized by USU digital library 6

III. METODOLOGI PENGENDALIAN

Dalarn pengendalian vektor tidaklah mungkin dapat dilakukan pembasmian

sampai tuntas, yang mungkin dan dapat dilakukan adalah usaha mengurangi dan

menurunkan populasi kesatu tingkat yang tidak membahayakan kehidupan manusia.

Namun hendaknya dapat diusahakan agar segala kegiatan dalam rangka

memurunkan populasi vektor dapat mencapai hasil yang baik. Untuk itu perlu

diterapkan teknologi yang sesuai, bahkan teknologi sederhanapun, yang penting di

dasarkan prinsip dan konsep yang benar.

Adapun prinsip dasar dalam pengendalian vektor yang dapat dijadikan

sebagai pegangan sebagai berikut :

1. Pengendalian vektor harus menerapkan bermacam-macam cara pengendalian

agar vektor tetap berada di bawah garis batas yang tidak merugikan/

membahayakan.

2. Pengendalian vektor tidak menimbulkan kerusakan atau gangguan ekologis

terhadap tata lingkungan hidup.

Sesuai dengan hal tulisan di atas, penulis mencoba menyampaikan suatu

metode pengendalian/pemberantasan nyamuk malaria secara sederhana.

1. Pemberantasan Vektor Malaria dengan cara Sederhana.

Pemberantasan secara sederhana ini adalah dilakukan untuk anopheles aconitus

dan Anopheles sundaicus yang merupakan vektor malaria.

Dalam pemberantasan ini terlebih dahulu dilakukan pengamatan dengan melihat

umur tanaman padi, khususnya tanaman padi rata-rata 4 minggu setelah tanam,

karena hal ini menerangkan densitas aconitus mulai meninggi. Tempat perindukan

nyamuk anopheles aconitus adalah tempat yang tertutup oleh tanaman air,

sedangkan bila permukaan airnya bersih densitasnya rendah, pada hakekatnya

tinggi rendahnya densitas anopheles aconitus sulit di ramalkan.

Dari hasil suatu penelitian dan pengamatan, untuk menanggulangi nyamuk

aconitus dapat dilakukan dengan pengendalian yang sederhana yaitu dengan cara

non kimiawi yang tidak mempunyai efek pencemaran lingkungan. Cara ini dapat

dilakukan secara gotong-royong maupun perorangan oleh masyarakat.

1.1. Pengamatan Vektor

Pengamatan vektor sangat penting karena dari kegiatan ini akan terkumpul

data yang menerangkan keadaan dan perilaku vektor (nyamuk aconitus) pada

suatu waktu.

Cara pemberantasan sederhana ini dilakukan terlebih dahulu meninjau

lapangan dan menganalisa keadaan lingkungan, khusus tempat peridukan

vektor. Nyamuk anopheles aconitus tempat perindukan sering di jmnpai di

sawah dan saluran irigasi, dan daerah yang petaninya tidak menanam padi

dengan serentak, pada daerah seperti ini densitas anopheles aconitus tinggi.

Bila penanaman padi oleh petani dilakukan dengan serentak maka densitas

nymuk tersebut anopheles aconitus menyenangi darah hewan binatang akan

tetapi banyak di jumpai menggigit orang diluar rumah, tempat istirahat

utama adalah tebing parit, Sungai yaitu di bagian dekat air yang lembab,

©2003 Digitized by USU digital library 7

nyamuk ini di dalam rumah akan hinggap di bagian bawah dinding setinggi +

80 cm dari lantai.

1.2. Pemberantasan

Penyebaran anopheles aconitus terutama dijumpai pada daerah persawahan,

sebenarnya upaya pemberantasan vektor utama yang dapat dilakukan adalah

penyemprotan runah serta bangunan-bangunan lainnya, seperti dengan

menggunakan fenitrothion, namun pemberantasan ini membutuhkan biaya

berlipat ganda, dan harus di sadari bahwa dengan penyemprotan adalah

suatu kebijaksanaan jangka pendek sedangkan jangka panjang adalah

pengelolaan lingkungan. Cara sederhana diharapkan, yang memungkinkan

dapat dilakukan oleh masyarakat dan mampu mengerjakannya.

1.2.1. Untuk mengurangi densitas anopheles aconitus petani diharapkan merawat

saluran irigasi, bagian tepi saluran tidak ada kantong-kantong air hingga air

mengalir lancar, dan menanam padi harus serentak sehingga densitas

anopheles aconitus terbatas pada periode pendek yaitu pada minggu ke 4

hingga minggu ke 6 setelah musim tanam.

1.2.2. Pengendalian Jentik

Perkembangan jentik hingga dewasa membutuhkan air jika tidak ada air akan

mati, maka pengeringan berkala sawah hingga kering betul, merupakan cara

pengendalian jentik anopheles aconitus yang dapat dilakukan oleh masyarakat

petani.

Perkembangan dari telur hingga menjadi nyamuk diperlukan waktu 13-16 hari,

karenanya pengeringan cukup dilakukan dipersawahan, yang dilakukan setiap

10 kali selama 2 hari.

Cara lain yaitu petani diharapkan membudayakan tanaman selang-seling

antara tanaman berair dengan tanaman tanpa air misalnya palawija,

penebaran ikan pemakan jentik. ikan yang di tebarkan tidak mesti ikan kecil

tetapi dapat ikan yang mempunyai nilai ekonomi misalnya ikan mujahir,

semua keterangan diatas adalah untuk pengendalian jentik.

1.2.3. Pengendalianyamuk dewasa dengan hewan ternak

Pengendalian nyamuk dewasa dapat dilakukan oleh masyarakat yang

memiliki temak lembu, kerbau, babi. Karena nyamuk anopheles aconitus

adalah nyamuk yang senangi menyukai darah binatang (ternak) sebagai

sumber mendapatkan darah, untuk itu ternak dapat digunakan sebagai

tameng untuk melindungi orang dari serangan anopheles aconitus yaitu

dengan menempatkan kandang ternak diluar rumah (bukan dibawah kolong

dekat dengan rumah).

Perlu diketahui bahwa nyamuk anopheles aconitus ini memiliki ciri-cirinya berwarna

agak kehitam-hitaman dan rusuk ke 6 mempunyai 3 noda hitam, jumpai pada ujung

rusuk ke 6 putih serta moncong (promboces) separuh bagian ke ujungnya coklat ke

kuning-kuningan. Nyamuk anopheles aconitus banyak dijumpai didaerah pulau jawa

sedangkan di Sumatera Utara banyak dijumpai didaerah Tapanuli.

IV.KESIMPULAN

1. Pengendalian anopheles aconitus dengan metode sedarhana ini dapat mengajak,

khususnya masyarakat petani dalam pemberantasan tanpa menggunakan biaya.

©2003 Digitized by USU digital library 8

2. Masyarakat petani diharapkan agar tetap memelihara kondisi saluran pengairan

sehingga aliran air di persawahan tetap lancar tanpa ada kantong-kantong di

pinggir saluran.

3. Petani harus menanam padinya serentak dan mengeringkan sawahnya tiap 10

hari selama 2 hari.

d. Petani diharapkan membudayakan pola tanam selang-seling yaitu

tanaman basah dan tanaman kering.

5. Ternak agar ditempatkan kandangnya di dekat perindukan diluar rumah, dan

tidak menyatu dengan rumah, serta penebaran ikan pemakan jentik di sawah.

6. Pemberantasan vektor malaria secara sederhmla ini sangat bermanfaat di daerahdaerah

pedesaan/pedalaman yang mempunyai areal persawahan yang luas dan

metode pemberantasan sederhana ini tidak menimbulkan pencemaran

lingkungan.

DAFTARPUSTAKA

1.Santio Kirniwardoyo (1992), Pengamatan dan pemberatasan vektor malaria,

sanitas. Puslitbang Kesehatan Depkes Rl Jakarta

2.Adang Iskandar, Pemberantasan serangga dan binatang pengganggu, APKTS

Pusdiknakes. Depkes RI. Jakarta

0 komentar:

 
Namablogkamu is proudly powered by Blogger.com | Template by o-om.com | Distributed by Blogger Templates