earth bending - water bending - fire bending - wind bending

7.25.2008

gunung

. 7.25.2008

ALQURAN DAN IPTEK
(Rujukan mengenai gunung dalam Al-Quran)
Oleh
Muhammad
340602243
Fak/Jur :Ushuluddin/UTH





A. Penyebutan Kata Gunung Dalam Alquran
Kata gunung dalam bentuk tunggal maupun jamak, disebut secara eksplisit (tersirat) dalam kitab suci Al-Qu’ran sebanyak 39 kali (6 dalam bentuk tunggal dan 33 dalam bentuk jamak) dan secara jelas diartikan sebagai stabilisator lapisan kulit bumi dalam 10 pernyataan lainnya. Ke 49 ayat Qur’an tersebut dapat diklasifikasikan ke dala 9 pembagian nyata sebagai berikut:
1. Ayat-ayat yang merujuk kepada suatu tanah yang terangkat secara tinggi (misalnya QS. 2:260 dan 11:43)
2. Ayat-ayat yang secara metaforis (kiasan) menekankan pada massa gunung, ketinggiannya atau sifatnya yang pasif serta padat (misalnya QS 14:46, 17:37, 19:30, 33:72, dan 59:21)
3. Ayat-ayat yang menyebut kata gunung dalam konteks sebuah pengkiasan (misalnya QS 11:42, dan 24:43)
4. Ayat-ayat yang menunjukkan gunung-gunung sebagai sesuatu kaum berdiam (misalnya QS 7:74, 15:82, dan 26:149)
5. Ayat-ayat yang menunjukkan gunung-gunung sebagai tempat terjadinya kemukjizatan seperti nabi Ibrahim dan Musa (misalnya QS 2:260, 7:143&171)
6. Ayat-ayat yang menyebutkan gunung-gunung tempat berlindung baik manusia maupun hewan dan sebagai sumber mata air (misalnya 16:68&81, 13:3, 16:15, 27:61 dan 77:27)
7. Ayat-ayat yang menyatakan Al-Qur’an sebagai pasak bumi (pengokohan), stabilisator kulit bumi, tersusunnya pegunungan dari luar, aspek-aspek fisik gunung seperti komposisi bebatuan dan aneka warna dan asal usulnya, mengikuti gerak bumi/tidak diam (misalnya QS. 78:7, 13:3, 15:19, 16:15, 21:31, 27:61, 31:10, 50:7, 77:27 dan 79:32, 88:19, 35:27, 27:88)
8. Ayat-ayat yang menunjukkan kepada gunung dalam bentuk supranatural, spritualistik dan tidak dapat diraba (misalnya QS. 21:79, 22:18, 34:10, 38:18)
9. Ayat-ayat yang menunjukkan nasib gunung di hari kiamat dan kehancuran totalnya (misalnya QS. 18:47, 20:105, 52:10, 56:5, 69:14, 73:14,77:10, 78:20, 81:3,dan 101:5







B. RENUNGAN













“Kalau sekiranya Kami turunkan Qur’an ini kepada gunung, niscaya engkau lihat gunung itu tunduk dan terpecah belah karena takut kepada Allah. Itulah contoh yang Kami berikan untuk manusia,mudah-mudahan mereka memikirkannya.
(Al-Hasyr, 59:21)”


1. Indikator bumi berputar pada porosnya; Apabila dibaca surat An-Naml (27) ayat 88 disitu disebutkan:
















“Dalam sebaris ayat kita telah dimaklumkan bahawa gunung-gunung bukanlah kaku yang seperti kita lihat, tetapi adalah dalam pergerakan secara berterusan, Di sana harus dinyatakan beberapa fakta penting; Tuhan merujuk pergerakan gunung-gunung sebagai satu gerakan 'penghanyutan' dalam ayat tersebut. Hari ini saintis modern juga menggunakan istilah 'hanyutan benua'
untuk fenomena ini.Suatu yang tidak diragui ialah satu dari keajaiban al Qur'an ialah fakta saintifik ini yang baru diketahui baru-baru ini melalui bidang sains, telah pun dikhabarkan dalam al Qur'an”
Lalu apakah pendapat tersebut benar !?
Syaikh Muhammad bin Shalih al Utsaimin berkata, “Coba perhatikan secara sempurna,
“ Dan (ingatlah) hari (ketika) ditiup sangkakala, maka terkejutlah segala
yang di langit dan segala yang di bumi, kecuali siapa yang dikehendaki Allah.
Dan semua mereka datang menghadap-Nya dengan merendahkan diri”.
Ayat ini secara jelas menunjukkan bahwa kejadian tersebut adalah ketika
Hari Kiamat” (Kitab Tafsir al Kahfi halaman 81)
Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz juga berkata berkaitan dengan masalah ini,“Ayat sebelum dan sesudahnya menunjukkan bahwasannya berjalannya gunung seperti berjalannya awan itu terjadi pada hari kiamat, karena ayat ini terjadi. Thaba’thaba’I juga memahami ayat ini berbicara tentang hari kemudian dengan alas an ayat ini berada diantara ayat-ayat yang berbicara tentang hari kemudian.
Mayoritas ulama berpendapat ayat ini berbicara tentang peristiwa peniupan sangkakala. Ayat ini serupa dengan “dan menjadilah gugnung-gunung seperti yang dihambur-hamburkan”.[ ]
Pendapat pribadi ibn ‘Asyur dan segelintir ulama lain menyatakan bahwa ayat ini tentang keadaan gunung dalam kehidupan dunia. Dahulu orang menduga matahari yang mengelilingi bumi mereka menduga bahwa bumi tidak beredar. Uraan tentang beredarnya bumi mengelilingi matahari diuraikan al-Quran di dalam sekian banyak argumentasinya dalam bentuk isyarat. Karena itu, para ulama tafsir dahulu tidak menjelaskan atau membicarakannya.

2. Gunung sebagai pasak bumi.- “bukan kah kami telah menjadikan bumi sebagai hampparan dan gunung-gunung sebagai pasak”(QS.78:6-7)
3. Indikator kesuburan tanah.- Tidak dapat disangkal bahwa adanya gunung-gunung berapi (apalagi aktif) menjadi indikasi bahwa daerah tersebut memiliki kesburan tanah yang baik. Pada daerah demikian dapat kita lihat selalu dienuhi dengan hutan-hutan yang lebat dan daerah pertanian yang menghijau sebagi tanda suburnya tumbuh tanaman. Bahkan tidak jarang didapat pula hutan “perawan” yang belum tereksplorasi bahan kandungan di dalamnya. Qur’an memberikan indikasi kesuburan ini dengan kalimat sebagai berikut: “Dia adakan di bumi gunung-gunung di atasnya dan memberi berkat kepadanya (dengan menumbuhkan tumbuh-tumbuhan dan sebagainya) dan mengatur makanan-makanannya dalam empat masa” (As-Sajdah, 41:11).
4. Gunung sebagai lahirnya teori isostasi
Dengan kata lain, gunung-gunung menggenggam lempengan-lempengan kerak bumi dengan memanjang ke atas dan ke bawah permukaan bumi pada titik-titik pertemuan lempengan-lempengan ini. Dengan cara ini, mereka memancangkan kerak bumi dan mencegahnya dari terombang-ambing di atas lapisan magma atau di antara lempengan-lempengannya.
Singkatnya, kita dapat menyamakan gunung dengan paku yang menjadikan lembaran-lembaran kayu tetap menyatu. Fungsi pemancangan dari gunung dijelaskan dalam tulisan ilmiah dengan istilah “isostasi”.
Isostasi bermakna sebagai berikut:
sostasi: kesetimbangan dalam kerak bumi yang terjaga oleh aliran materi bebatuan di bawah permukaan akibat tekanan gravitasi. Peran penting gunung yang ditemukan oleh ilmu geologi modern dan penelitian gempa, telah dinyatakan dalam Al Qur’an berabad-abad lampau sebagai suatu bukti Hikmah Maha Agung dalam ciptaan Allah
“Dan telah Kami jadikan di bumi ini gunung-gunung yang kokoh supaya bumi itu (tidak) goncang bersama mereka…” (Al Qur’an, 21:31)
5. Pentasbihan kenabian. Memang tidak semua derajat kenabian ditasbihkan di atas gunung atau gunung punya peranan, namun didapat nabi-nabi besar (‘Uulil Azmi) yang ditasbihkan dengan gunung sebagai lokasinya. Disini kita dapat melihat dua contoh yakni Musa a.s. dan Muhammad s.a.w. Musa ditasbihkan di sebuah lembah “Thuwa” bagian landai di atas gunung Thur (lihat surat Maryam, 19: 52), sedangkan Muhammad ditasbihkan digunung Nur (jabal Nur) yang dapat dibaca dalam riwayat kenabian (sirah nabi).
6. Simbol meditasi. Seseorang yang melakukan i’tikaf atau meditasi sebagai bagian dari kebuTuhan bioritmenya, tentu akan merasakan padanan yang identik antara “diamnya” diri dengan “tegaknya” sebuah gunung. Dalam kondisi tersebut kita dilatih untuk menahan atau mengendalikan “gemuruhnya lahar panas” dalam “kawah” batinnya yang ada di rongga dada. Bukankah lahar panas sebagai gambaran dari hawa nafsunya yang selalu meledak-ledak ingin ditumpahkan ke luar dari dirinya. Dapat dibayangkan betapa sengsaranya orang yang menerima tumpahan lahar panas berupa caci maki atau tutur kata yang membakar hati dan terbakarnya telinga orang yang mendengar, apabila tidak dibiasakan melakukan meditasi yang rutin seperti halnya gunung yang tak bergoyang. Betapa gelapnya wajah manusia yang selalu memuntahkan abu amarahnya sehingga membuat tak sedap dipandang mata siapapun yang melihatnya apabila ia tak segera menahan terjadinya erupsi kabut debu kewajahnya lewat meditasi tersebut. Dengan demikian meditasi seperti halnya gunung berapi akan mampu menahan tumpahan hawa nafsu tanpa kontrol. Hawa nafsu terkontrol adalah dikelurkan apabila perlu dengan dosis yang setara dengan kebuTuhan (tidak over dosis) sehingga akan menjadi pupuk mujarab bagi kesuburan alam sekitar (orang lain), sebab bila berlebihan dan tak tepat sasaran bukan hanya alam sekitar yang binasa namun dirinya sendiri akan tercabik-cabik tanpa bentuk lagi. Kala ilmu gunung dalam menundukan lahar bergelora tadi dapat dikuasai manusia maka siapapun yang berada didekatnya akan mendapatkan kesejukan, keamanan diri dan keindahan panorama, serta tempat kemana mereka hendak mencari jawab dalam menentramkan letusan – letusan lahar panas dalam dirinya. Itulah sebabnya Allah menurunkan ayat yang menyinggung masalah ini melalui keterangan sebagai berikut: “Yaitu orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri, duduk, dan berbaring; dan mereka memikirkan kejadian langit dan bumi, seraya berkata: Ya Tuhan kami, tidaklah Engkau jadikan semua ini dengan sia-sia; Mahasuci Engkau maka peliharkanlah kami dari siksa neraka” (Ali Imran, 3: 191). Dari sindiran ayat ini dalam hubungannya dengan gunung nampaknya mewakili statement mengenai bagaimana contoh makhluk Tuhan di alam yang selalu mengingat Allah (dzikrullah) sambil duduk tanpa lelah sedikitpun. Lalu bagaimana terhadap contoh-contoh makhluk lain sebagai pewakil dari mengingat Tuhannya sambil berdiri dan berbaring? Sungguh luar biasa bahwa dialam bukan secara kebetulan atau hanya dihubung-hubungkan bahwa jenis tanam-tanaman khususnya pohon-pohonan dengan tegakannya mewakili kelompok mereka yang berdzikir sambil berdiri, akarnya jauh menembus perut bumi sedangkan ranting dan dahannya menggapai langit kebebasan, daun dan buahnya menjadi penyejuk makhluk lain yang berlndung di bawahnya serta menambah tenaga serta kenikmatan si pemakannya. Sungguh luar biasa buah sebuah dzikir yang dilakukan sambil berdiri! Dipihak lain kita dipaparkan makhluk Tuhan yang juga mengingatnya sambil berbaring yang hal ini diwakili oleh kelompok jenis binatang melata (buaya, ular, cecak, kadal, dsb) dn sungai, mereka ternyata mampu hidup dan berkembang biak dalam ketidak berdayaannya karena ketaatannya terhadap kaedah sunatullah yang berlaku padanya. Kita masih pula dipertontonkan Allah dalam bentuk antara dari ketiga cara mengingat diri-Nya, yakni: sambil rukuk atau berjongkok (sapi, kuda, unta, gajah, kancil, dsb), sambil terbang (burung-burungan), sambil menangis (hujan), sambil marah (petir), sambil ketawa (guntur), sambil bernyanyi (angin), sambil berlari (angin ribut), sambil berjalan (suhu udara), sambil menyelam (ikan), dan lain-lain perumpamaan yang dipaparkan dihadapan kita. Tuhan menginformasikan hal ini dalam surat Al-Hajji (22) ayat 18 sebagai berikut: “Tiadakkah engkau tahu, bahwa kepada Allah sujud (tunduk) siapa yang di langit dan di bumi, matahari, bulan, bintang-bintang, gunung-gunung, pohon-pohon, binatang-binatang melata dan kebanyakan manusia”. Sayangnya semua fenomena alam tersebut hanya jadi bahan kajian dari sisi fisik semata sehingga sulit untuk memahami fenomena lain yang tersembunyi di dalamnya. Bukankah dengan memahami fenomena tersebut orang mampu mengambil azaz manfaatnya? Tidakah Sulaiman mampu berpergian hanya menggunakan kendaraan angin? Dengan mengetahui rahasia sesungguhnya dari seisi alam tadi maka bukankah seseorang akan semakin wisdom (bijak) dalam bertindak terhadap alam sekitarnya. Ia tidak akan gampang menebang pohon, ia tidak akan mudah melempar anjing apalagi membunuhnya, orang tidak akan seenaknya menguliti kulit buaya hanya untuk bahan sepatu, dan seterusnya; mereka takut karena tahu bahwa semua makhluk itu sedang sujud pada Tuhannya! Betapa hinanya seseorang apabila menyakiti makhluk lain yang sedang mengagungkan zat-Nya hanya karena makhluk tersebut tidak berdaya melawan. Itulah sebabnya dalam riwayat disebutkan mengapa Aisyah r.a. istri terkasih nabi terkena hukum kafarat dengan harus berpuasa selama dua bulan karena hanya membunuh ular yang secara syar’i diperkenankan namun secara hakiki ia tak tahu bahwa ular tersebut adalah makhluk Tuhan yang sedang mendengarkan pengajaran keagamaan dari sang nabi (Muhammad s.a.w)..


Daftar Pustaka

Ahmad as Shouwy, Mustofa al Azami, Umar Anggara Jenie, Deliar Noer, Ismail Suny, Zaghlul Raghib, Allison R.Palmer,ABD.Madjid Bin Aziz AzZindani, ABD. Al Mun’im, AD. Al Jawad, Udin, Ahmad Baiquni, Maurice Bucaille. Mukjizat Al-Quran dan Assunnah tentang IPTEK, Jakarta;Gema Insani Press, 1995
M.Quraish Shihab, Mukjizat Al-Qur’an ditinjau dari aspek kebahasaan isyarat ilmiah dan pemberitaan gaib, Bandung;Mizan, 2006
M.Quraish Shihab, Tafsir Al-Misbah, Pesan, Kesan dan Keserasian Al-Qur’an Jakarta;Lentera Hati, 2002
Ika Rochdjatun Sastrahidayat PUSAT KAJIAN AL-ISLAM DAN SAINS “BHIMA SAKTI” (The Al-Islam and Sciences Research Centre of “Bhima Sakti”)

0 komentar:

 
Namablogkamu is proudly powered by Blogger.com | Template by o-om.com | Distributed by Blogger Templates