earth bending - water bending - fire bending - wind bending

8.11.2008

the world

. 8.11.2008

SELAYANG PANDANG TENTANG PLANET BUMI KITA

Dalam al- Quran terdapat banyak ayat- ayat yang bercerita tentang langit, bumi, bintang- bintang, matahari, rembulan, tentang fenomena pergantian siang dan malam, perjalanan matahari, pembentukan awan dan turunnya hujan,demikian pula ayat- ayat yang menyebutkan gunung, sungai, tumbuhan, pepohonan, serangga, penciptaan manusia, hal- hal yang berhubungan dengan kehidupan, perjuangan, kebahagiaan atau kesengsaraannya. Demikiaan pula banyak jenis- jenis makhluk yang telah diciptakan oleh Allah didalam kerajaan-Nya dan Dia menganjurkan kepada kita agar menyaksikan dan memperhatikan keajaiban- keajaibannya.
Manusia tertuntun dengan bakat dan kesiapan rasional yang telah diberikan oleh Allah agar dia banyak mengetahui tentang alam dan alam itu mampu menyingkap kita tentang bola dunia yang telah ada sekitar duapuluh juta tahun tanpa ada kehidupan dan tak ada makhluk yangt berjalan diatasnya.
Dipermukaan bumi pada waktu itu belum ada apa- apa kecuali batu- batu karang dan air. Pada zaman- zaman hujan yang melarutkan apasaja dimulailah factor- factor atmosfirtif dan karena gerakan- gerakan dan gempa indogen maka batu- batu karang mulai remuk yang kemudian terhempas dalam bentuk lapisan- lapisan yang mengendap yang sebagian menetap diatas bagian bagian yang lain didasar laut dan samudra sebagaimana lembaran didalam buku menyusun suatu lembaran diatas lembaran lain.
LEMPENG TEKTONIK
Kira- kira 20 tahun yang lalu, ahli geofisika berhadapan dengan bukti yang menunjukkan bahwa kerak bumi berubah terus, sebelum, setelah sebagian ilmuan telah mengetahui bahwa kontinen bumi tampak seolahg bergabung satu sama lain sepereti potongan jigsaw puzzle besar. Francois Bacon merupakan salah satu ilmuan pertama yang tercatat melakukan pengamatan ini pada tahun 1620, tahun 1628 R.P.F.Placet mengklaim bahwa Amerika Utara dan selatan pernah bergabung dengan Eropa dan Afrika. Pada tahun 1858 Antonio Snider menggambarkan continental drift (mengambangnya benua) pada peta yang ia terbitkan di Prancis, dan jelangf akhir abad 19, Eduard Suess ahli geologi Austria mengusulkan bahwa semua benua sebelumnya pernah membentuk benua besar yang ia namakan Godwanaland.
Teori yang lebih berkembang lagi mengenai continental drift diusulkan tahun 1912 oleh ilmuan jerman Alfred Wegener yang juga mengusulkan bahwa benua- benua sebelumnya pernah bergabung menjadi satu massa besar yang dinamakan pangea. Sebagai bukti dia menunjukkan kesamaan geologis, seperti antara sisa- sisa fosil purba, antara Amerika Selatan bagian Timur dan Afrika Barat. Tetapi teorinya tidak mendapatkan banyak kredibilitas (tidak dipercaya/ tidak diakui) sampai tahun 1960-an ketika bukti baru muncul yang menunjukkan bahwa benua bergerak.
Pada tahun 1928, Arthur Holmes telah mengusulkan bahwa konveksi thermal pada mantel bumi merupakan daya dorongan dari continental drift. Dia menggambarkan satu sisi dari kontinen yang muncul sementara sisi lain turun, tetapi pada waktu yang sama teorinya didasarkan atas spekulasi. Kemudian pemetaan dasar laut selama perang Dunia II membawa kepemahaman yang lebih baik ridge (punggung) Atlantik Tengah dan hubungannya dengan system ridge yang lebih besar dan kontinu yang meluas melalui semua lautan. Pada tahun 1960-an, Harry Hess dari University Princeton menyarankan bahwa ridge Atlantik Tengah bisa merupakan sebuah situs hamparan lateral dari dasar lautan.
Menjelang tahun 1965, telah ditunjukkan bahwa anomaly magnetic didasar lautan pada satu sisi dari rift merupakan bayangan kaca satu sama lain, sehigga kebanyakan ilmuan diyakinkan bahwa informasi ini merupakan bukti dari continental drift. Pada tahun 1967, Hess dan J.T.wilson dari Kanada mengidentifikasi lempeng litosferis terpisah bumi dan membahas gerak relatifnya, dan dari konsep ini teori lempeng tektonik mberkembag dan diterima.
Permukaan kerak bumi hanya beberapa kilometer tebalnya, terletak pada daerah yang lebih dalam yang setengah meleleh disebut mantel yang tebalnya kira- kira 3000 kilometer. Bahan mantel ini bergerak secara perlahan dan dengan cara yang masih diselidiki, turbulensi yang dipercaya mengambil bentuk sel- sel konveksi vertical, yang memecah kerak tipis menjadi lempeng besar yang meliputi seluruhkontinen (Afrika, Amerika Selatan, Australia) dan dasar lautan yang berdekatan.
Kontinen hanya merupakan sebuah bagian dari lempeng. Apabila dua kontinen yang terletak pada dua lempeng yang berbeda bertumbukan, seperti India dan Asia, maka akan terjadi beberapa peristiwa penting, disamping membentuk gunung- gunung yang tinggi, tekanan pada kerak bumi yang dihasilkan oleh tumbukan ini akan mengakibatkan gempa bumi.
Informasi Al- Quran yang menunjukkan rincian baik mengenai struktur bumi maupnu mengenai gerakan lempeng kontinen yaitu QS. Al- Ankabut ayat 20:



“Katakanlah: “Berjalanlah di (muka) bumi, maka perhatikanlah bagaimanaAllah menciptakan (manusia) dari permulaannya, kemudian Allah menjadikannya sekali lagi. Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu”.

ZAMAN ES
Pada skala waktu yang berbeda, sekitar dua milyar tahun yang lalu konfigurasi yang berubah dari benua dan lautan membawa kepada pencairan sebagian besar belahan bumi Utara. Alasannya berkaitan dengan planet. Penurunan sedikit saja radiasi atau sinar matahari yang sampai kebumi disebabkan oleh sedikit perubahan dalam tiga parameter orbit bumi yang berubah pada kecepatan yang berbeda, tetapi dalam skala waktu ribuan sampai puluh ribuan tahun. Sekitar 90.000 tahun, factor- factor ini semuanya negative pada saat yang sama. Akibatnya terdapat kenaikan akumulasi salju pada benua- benua yang berbatasan dengan Laut Atlantik Utara. Kenaikan yang lambat tetapi tetap didaerah bersalju diabad abad yang akan datang menyebabkan terbentuknya benua es yang sangat besar sepanjang Amerika Utara bagian utara dan Tengah dan Eurasia. Palin tidak empat kali Dario dua juta tahun lalu, glasier atau gunung es yang telah maju kearah selatan Amerika Utara sampai kota New York, dan di Eropa sampai London. Demikian banyak air yang terikat dengan daratan es sehingga permukaan laut turun setinggi 200 meter.
Ketika glasier bertambah dan maju kearah selatan, sabuk iklim juga berubah. Dalamn jangka waktu 1000 tahun lalu gurun- gurun Amerika Utara dan Timur Tengah mempunyai iklim yang lebih basah, dan pertanian dan habitasi adalah mungkin. Catatan tumbuh- tumbuhan dan hewan yang terdapat didaerah itu sekarang berada diluar habitat normal mereka merupakan indikasi dari perubahan iklim ini. Juga bukti adanya system sungai purba yang baru- baru ini ditemukan dibawah pasir Mesir oleh bayangan radar yang diambil dari pesawat luar angkasa yang mengorbit. Bukti lain bahwa iklim sebelumnya lebih basah di utara gurun Sahara ini dimana terdapat mamalia yang sekarang terbatas pada hutan tropis dan daerah berumput di Afrika Tengah.
Bukti- bukti perubahan iklim ini dalam sejarah geologis yang relative akhir, tetapi sebelum adanya sejarah manusia yang tertulis, diperoleh melalui analisis sampel es glasial dan mengenai sampel yang dibor dari pohan yang berumur panjang. Inti es yang dibor dari lapisan es Greenland dan Antartika memberikan catatan- catatan perubahan suhu pada permukaan glasial melalui analisis radio dua isotop oksigen.
Geografi dunia secara perlahan berubah pada skala jutaan tahun, tetapi siklus planet yang menggerakkan terjadinya daratan es (glasisiasi) terjadi dalam skala puluh ribuan tahun. Sehingga, karena geografi berubah demikian lambat dibandingkan dengan siklus yang menghasilkan glasisiasi, kita dapat meramalkan dengan keyakinan yang sangat besar bahwa glasier akan kembali dan Amerika Utara dan Timur Tengah sekali lagi akan menjadi subur dan hijau. Spesialis yang paling mengetahiu hal tersebut belum sepakat kapan hal tersebut akan terjadi, tetapi kebanyakan sepakat bahwa semakin dekat dan bahwa siklus glasial baru akan mulai antara 500- 5000 tahun dimasa akan datang. Ini adalah jangka panjang tetapi permasalahan yang sangat nyata bagi kemanusiaan jika kita survei dari problema- problema kita.
Sekarang kita terangsang untuk merenungkan sebuah hadis dalam Shahih Muslim yang menyatakan sebagai datangnya Hari Perhitungan:
“Hari Perhitungan tidak kan datang sebelum daerah Arab kembali menjadi subur, hijau dengan sungai- sungai”.
Hadis ini mengacu pada iklim yang akan datang dari bukti geologis bahwa daerah ini pernah hijau dan akan menjadi hijau lagi.

KOSMOS ADALAH KITAB YANG TERBUKA BAGI SETIAP YANG MEMBACA DAN MENGANALISANYA
Irodah Allah telah berkehendak untuk menciptakan kosmos yang ajaib ini sebagai suatu kitab yang terbuka bagi setiap yang membaca, memperhatikan dan menganalisanya dengan mata rasio, pikiran, suara hati agar nampak didepan matanya kecantikan, keindahan, keelokan yang terdapat didalamnya serta aturan- aturan yang kokoh dan teratur yang disimpan oleh Allah didalam undang- undang-Nya yang rapi.
Didalam banyak ayat- ayat al- Quran terdapat banyak petunjuk kepada ilmu- ilmu pengetahuan dan kosmos dan ilmu laimya sebagai perantara manusia bias sampai kepada pegetahuan tentang undang- undang, rumusan- rumusan dan teori- teorinya setelah turunnya al- Quran sejak berabad- abad silam. Diantara anugerah Allah kepada manusia dihadapkan pandangan mereka pada kosmos itu ialah agar mereka mau mempelajari dan mengenal (mengetahui) realitas- realitas yang disebutkan dalam al- Quran, disamping ulama dapat menyentuh kolerasi yang kuat antara kebenaran yang telah diwahyukan oleh al- Quran pada masa sebelumnya dengan kebenaran yang berhasil disingkap oleh ilmu pengetahuan pada masa selanjutnya.
Dalam pembahasan berikut adalah pemaparan sebagian kecil ayat- ayat kauniyah (ayat- ayat tentang kosmos) yang ditafsirkan dengan suatu interpretasi modern yang sejalan dengan teri- teori ilmiah yang validitasnya telah diakui.

AYAT- AYAT KAUNIYAH
Allah SWT berfirman dalam surat al- Anbiya’ayat 30:


“Dan apakah kamu yang kafir tidak mengetahui bahwasanya langit dan bumi itu keduanya dahulu adalah suatu yang padu, kemudian Kami pisahkan antara keduanya”.
Teori Big Bang
Alam semesta ini berasal dari sebuah ledakan yang sangat dahsyat, ledakan ini disebut Big Bang (Dentuman Besar). Dahulu ilmu yang mempelajari asal-usul alam semsta disebut Kosmogoni. Namun dewasa ini, Kosmogoni telah diperluas, tidak hanya mempelajari tentang asal-usul alam semesta dan evolusinya tetapi juga meliputi isi alam semesta dan organisasinya sehingga disebut Kosmologi.
Ø Menurut prinsip Kosmologi modern, dasar terbentuknya alam semesta dapat dikelompokkan ke dalam tiga teori :
1. Teori Keadaan Tetap
“Alam semesta sama di manapun atau bilamanapun atau dengan kata lain alam semesta sama di mana-mana setiap saat.”
Hipotesis ini disebut Kosmologi Keadaan Tetap (Steady-State Cosmology). Namun teori ini tergoyahkan karena alam semesta cenderung mengembang dan tidak tetap.
2. Teori Osilasi
“Materi alam semesta bergerak saling menjauhi kemudian akan berhenti, lalu akan mengalami pemampatan demikian seterusnya secara periodik.”
Teori ini mengemukakan bahwa alam semesta sekarang sedang mengembang karena sebelumnya telah terjadi penyusutan. Dalam proses ini tidak ada materi yang rusak atau hilang ataupun tercipta, hanya mampat atau merenggang.
3. Teori Dentuman Besar / Big Bang
“ Seluruh materi dan energi dalam alam semesta pernah bersatu membentuk sebuah bola raksasa. Kemudian bola raksasa ini meledak sehingga seluruh materi mengembang karena pengaruh energi ledakan yang sangat besar.”
Tahapan terjadinya Dentuman Besar :
1) Segera setelah terjadi dentuman besar, alam semesta mengembang dengan cepat hingga kira-kira 2000 kali matahari.
2) Sebelum berusia satu detik, semua partikel hadir dalam keseimbangan. Satu detik setelah dentuman, alam semesta membentuk partikel-partikel dasar, yaitu elektron, proton, neutron, dan neutrino pada suhu 10 miliar kelvin.
3) Kira-kira 500 ribu tahun setelah terjadi ledakan, lambat laun alam semesta menjadi dingin hingga mencapai suhu 3000K. Partikel-partikel dasar membentuk benih kehidupan alam semesta.
4) Gas hidrogen dan helium membentuk kelompok-kelompok gas rapat yang tak teratur. Dalam kelompok-kelompok tersebut mulai terbentuk protogalaksi.
5) Antar satu dan dua miliar tahun setelah terjadinya dentuman besar, protogalaksi-protogalaksi melahirkan bintang-bintang yang lambat laun berkembang menjadi raksasa merah dan supernova yang merupakan bahan baku kelahiran bintang-bintang baru dalam galaksi.
6) Satu di antara miliaran galaksi yang terbentuk adalah galaksi Bimasakti. Di dalam galaksi ini terdapat tata surya kita, dengan matahari adalah bintang yang terdekat dengan bumi.
Radiasi Isotropis 3K
Radiasi isotropik sinar kosmik yang redup dari radiasi gelombang mikro yang bersuhu sangat rendah yaitu sekitar tiga derajat kelvin (3K) atau 270oC sekarang dapat dilihat di seluruh alam semesta, menurut ahli astronomi, merupakan sisa-sisa dentuman besar yang disebut radiasi isotropis 3K. Arno Penzias dan Robert Wilson dari New Jersey, Amerika Serikat, pada tahun 1965 ternya menangkap radiasi dari gelombang mikro tersebut dari segala arah. Dari arah datangnya radiasi para ahli astronomi mengharapkan dapat menemukan pusat alam semesta. Karena radiasi ditangkap dari segala arah maka dapat disimpulkan bahwa pusat alam semesta maupun asal mulanya ada di sekeliling kita. Sumber radiasi isotropik 3K yang identik dengan benda hitam seharusnya berasal dari pusat dentuman besar, karena pusat dentuman menjadi kosong atau disebut Black Hole. (PND X ‘2005)
Quran surat al- Baqarah ayat 29:



“Dialah Allah yang menjadikan segala yang ada dibumi untuk kamu dan Dia berkehendak (menciptakan) langit, lalu dijadikan-Nya tujuh langit, dan Dia maha Mengetahui segala sesuatu”.
Sab'a Samawat" berarti bahwa Allah membentangkan langit yang berlapis tujuh, berdasarkan pengelolaan dan pengaturan yang sangat cermat, yang Dia ciptakan untuk kepentingan manusia. Tujuh langit, yang berdasarkan ayat-ayat lain, langit yang dapat disaksikan oleh mata manusia ini disebut sebagai Sama' ud-dunya, artinya langit yang terendah. Sedangkan langit yang enam lapis lainnya berada di luar jangkauan penglihatan dan pengetahuan manusia.

Sab’a Samaawat: Tujuh Langit Tidak Berarti Tujuh Lapis
Menarik menyimak argumentasi para peminat astronomi tentang makna sab'a samaawaat (tujuh langit). Namun ada kesan pemaksaan fenomena astronomis untuk dicocokkan dengan eksistensi lapisan-lapisan langit.
Di kalangan mufasirin lama pernah juga berkembang penafsiran lapisan-lapisan langit itu berdasarkan konsep geosentris. Bulan pada langit pertama, kemudian disusul Merkurius, Venus, Matahari, Mars, Jupiter, dan Saturnus pada langit ke dua sampai ke tujuh.

Konsep geosentris tersebut yang dipadukan dengan astrologi (suatu hal yang tidak terpisahkan dengan astronomi pada masa itu) sejak sebelum zaman Islam telah dikenal dan melahirkan konsep tujuh hari dalam sepekan. Benda-benda langit itu dianggap mempengaruhi kehidupan manusia dari jam ke jam secara bergantian dari yang terjauh ke yang terdekat.

Bukanlah suatu kebetulan 1 Januari tahun 1 ditetapkan sebagai hari Sabtu (Saturday -- hari Saturnus -- atau Doyobi dalam bahasa Jepang yang secara jelas menyebut nama hari dengan nama benda langitnya). Pada jam 00.00 itu Saturnus yang dianggap berpengaruh pada kehidupan manusia. Bila diurut selama 24 jam, pada jam 00.00 berikutnya jatuh pada matahari. Jadilah hari berikutnya sebagai hari matahari (Sunday, Nichyobi). Dan seterusnya.

Hari-hari yang lain dipengaruhi oleh benda-benda langit yang lain. Secara berurutan hari-hari itu menjadi hari Bulan (Monday, getsuyobi, Senin), hari Mars (Kayobi, Selasa), hari Merkurius (Suiyobi, Rabu), hari Jupiter (Mokuyobi, Kamis), dan hari Venus (Kinyobi, Jum'at). Itulah asal mula satu pekan menjadi tujuh hari.

Pemahaman tentang tujuh langit sebagai tujuh lapis langit dalam konsep keislaman mungkin bukan sekadar pengaruh konsep geosentris lama, tetapi juga diambil dari kisah mi'raj Rasulullah SAW. Mi'raj adalah perjalanan dari masjidil Aqsha ke Sidratul Muntaha yang secara harfiah berarti 'tumbuhan sidrah yang tak terlampaui', suatu perlambang batas yang tak ada manusia atau makhluk lainnya bisa mengetahui lebih jauh lagi. Hanya Allah yang tahu hal-hal yang lebih jauh dari batas itu. Sedikit sekali penjelasan dalam Al-Qur'an dan hadits yang menerangkan apa, di mana, dan bagaimana sidratul muntaha itu.
Secara sekilas kisah mi'raj di dalam hadits shahih sebagai berikut:

1) Mula-mula Rasulullah SAW memasuki langit dunia. Di sana dijumpainya Nabi Adam yang dikanannya berjejer para ruh ahli surga dan di kirinya para ruh ahli neraka.
2) Perjalanan diteruskan ke langit ke dua sampai ke tujuh. Di langit ke dua dijumpainya Nabi Isa dan Nabi Yahya.
3)Di langit ke tiga ada Nabi Yusuf.
4) Nabi Idris dijumpai di langit ke empat.
5) Lalu Nabi SAW bertemu dengan Nabi Harun di langit ke lima,
6) Nabi Musa di langit ke enam,
7) dan Nabi Ibrahim di langit ke tujuh. Di langit ke tujuh dilihatnya baitul Ma'mur, tempat 70.000 malaikat shalat tiap harinya, setiap malaikat hanya sekali memasukinya dan tak akan pernah masuk lagi.

Perjalanan dilanjutkan ke Sidratul Muntaha. Dari Sidratul Muntaha didengarnya kalam-kalam ('pena'). Dari sidratul muntaha dilihatnya pula empat sungai, dua sungai non-fisik (bathin) di surga, dua sungai fisik (dhahir) di dunia: sungai Efrat di Iraq dan sungai Nil di Mesir.

Jibril juga mengajak Rasulullah SAW melihat surga yang indah. Inilah yang dijelaskan pula dalam Al-Qur'an surat An-Najm. Di Sidratul Muntaha itu pula Nabi melihat wujud Jibril yang sebenarnya. Puncak dari perjalanan itu adalah diterimanya perintah shalat wajib.
Lapisan Langit?
`Langit (samaa' atau samawat) di dalam Al-Qur'an berarti segala yang ada di atas kita, yang berarti pula angkasa luar, yang berisi galaksi, bintang, planet, batuan, debu, dan gas yang bertebaran. Dan lapisan-lapisan yang melukiskan tempat kedudukan benda-benda langit sama sekali tidak dikenal dalam astronomi.

Ada yang berpendapat lapisan itu ada dengan berdalil pada QS 67:3 dan 71:15 sab'a samaawaatin thibaqaa. Tafsir Depag menyebutkan "tujuh langit berlapis-lapis" atau "tujuh langit bertingkat-tingkat". Walaupun demikian, itu tidak bermakna tujuh lapis langit. Makna thibaqaa, bukan berarti berlapis-lapis seperti kulit bawang, tetapi (berdasarkan tafsir/terjemah Yusuf Ali, A. Hassan, Hasbi Ash-Shidiq, dan lain-lain) bermakna bertingkat-tingkat, bertumpuk, satu di atas yang lain.

"Bertingkat-tingkat" berarti jaraknya berbeda-beda. Walaupun kita melihat benda-benda langit seperti menempel pada bola langit, sesungguhnya jaraknya tidak sama. Rasi-rasi bintang yang dilukiskan mirip kalajengking, mirip layang-layang, dan sebagainya sebenarnya jaraknya berjauhan, tidak sebidang seperti titik-titik pada gambar di kertas.

Lalu apa makna tujuh langit bila bukan berarti tujuh lapis langit? Di dalam Al-Qur'an ungkapan 'tujuh' atau 'tujuh puluh' sering mengacu pada jumlah yang tak terhitung banyaknya. Dalam matematika kita mengenal istilah "tak berhingga" dalam suatu pendekatan limit, yang berarti bilangan yang sedemikian besarnya yang lebih besar dari yang kita bayangkan. Kira-kira seperti itu pula, makna ungkapan "tujuh" dalam beberapa ayat Al-Qur'an.

Misalnya, di dalam Q.S. Luqman:27 diungkapkan, "Jika seandainya semua pohon di bumi dijadikan sebagai pena dan lautan menjadi tintanya dan ditambahkan tujuh lautan lagi, maka tak akan habis Kalimat Allah." Tujuh lautan bukan berarti jumlah eksak, karena dengan delapan lautan lagi atau lebih kalimat Allah tak akan ada habisnya.

Sama halnya dalam Q. S. 9:80: "...Walaupun kamu mohonkan ampun bagi mereka (kaum munafik) tujuh puluh kali, Allah tidak akan memberi ampun...." Jelas, ungkapan "tujuh puluh" bukan berarti bilangan eksak. Allah tidak mungkin mengampuni mereka bila kita mohonkan ampunan lebih dari tujuh puluh kali.
Jadi, 'tujuh langit' semestinya difahami pula sebagai benda-benda langit yang tak terhitung banyaknya, bukan sebagai lapisan-lapisan langit.

Lalu apa makna langit pertama, ke dua, sampai ke tujuh dalam kisah mi'raj Rasulullah SAW? Muhammad Al Banna dari Mesir menyatakan bahwa beberapa ahli tafsir berpendapat Sidratul Muntaha itu adalah Bintang Syi'ra, yang berarti menafsirkan tujuh langit dalam makna fisik. Tetapi sebagian lainnya, seperti Muhammad Rasyid Ridha juga dari Mesir, berpendapat bahwa tujuh langit dalam kisah isra' mi'raj adalah langit ghaib.
Dalam kisah mi'raj itu peristiwa fisik bercampur dengan peristiwa ghaib. Misalnya pertemuan dengan ruh para Nabi, melihat dua sungai di surga dan dua sungai di bumi, serta melihat Baitur Makmur, tempat ibadah para malaikat. Jadi, saya sependapat dengan Muhammad Rasyid Ridha dan lainnya bahwa pengertian langit dalam kisah mi'raj itu memang bukan langit fisik yang berisi bintang- bintang, tetapi langit ghaib.

Disebutkan dalam interpretasi para astronomi terhadap ayat ini bahwasanya benar yang dimaksud dengan tujuh langit adalah garis- garis edar system tatasurya yang mengitari natahari dan benar jika yang dimaksud dengan tujuh langit adalah lapisan- lapisan yang beranekaragam bagi sesuatu yang meliputi bumi. Hal tersebut karena Allah telah menyempurnakan pembentukan bumi dan menjadikan disekelilingnya lapisan- lapisan udara maka dia menyimpan didalamnya sarana- sarana untuk menyelamatkan dari ancaman- ancaman ruang angkasa yang mengirimkan sinar- sinar yang menghancurkan serta abu dan bintang yang berekor yang berjatuhan didalamnya.
Selanjutnya dalam surat al- Waqiah ayat 75- 76 Allah berfirman:


“Maka Aku bersumpah dengan masa turunya bagian- bagian al- Quran, sesungguhnya sumpah itu adalah sumpah yang besar kalau kamu mengetahui”.
Penafsiran ulama:
Sungguh Aku bersumpah dengan tempat turunnya bintang- bintang ketika terbenam diakhir malam sebagai waktu- waktu tahajjud dan istighfar dan sesungguhnya sumpah ini merupakan suatu sumpah jika anda sekalian memikirkan kandungan artinya yang besar resiko lagi jauh pengaruhnya.
Teori Ilmiah:
Al- Maula Tabaroka Wa Ta’ala (Allah SWT) bersumpah dengan tempat- tempat turunnya bintang karena itu mengarahkan perhatian kita bahwa jarak antara bintang- bintang itu mencapai batas- batas yang tidak bias digambarkan oleh imajinasi, sebagai contoh bahwa bintang yang paling dekat dengan bumi adalah matahari yang jauhnya sekitar 500 detik cahaya sementara bintang yang dekay berikutnya jauhnya kira- kira 4 tahun cahaya. Tahun cahaya menunjukkan batas jarak yang ditempuh cahaya dalam setahun sempurna yang secara ilmiah bahwa kecepatan cahaya itu menyamai 300.000 meter dalam sedetik. Kemudian ada indikasi ilmiah lain mengenai tempat- tempat turunnya bintang- bintang, yaitu bahwasanya tempat turun yang amat tepat ditempatnya agar bersama matahari kehidupan berlangsung diplanet kita, karena jika matahari maju dari tempatnya sekarang niscaya bumi pasti terbakar, tetapi jika matahari amat lambat dari tempatnya maka bumi akan dingin dan karenanya lautan dan samudra akan membeku sehingga menjadi tidak baik bagi kehidupan manusia.
Quran surat Yaasin ayat 38:

“Dan matahari berjalan ditempat peredarannya. Demikianlah ketetapan Yang Maha Perkasa lagi Naha Nengetahui”.
Ilmu falak telah menetarpkan bahwa matahari mempunyai sekumpulan planet- planet, rembulan dan komet yang selalu mengiringinya dan tunduk kepada daya gravitasinya sehingga menyebabkannya berputar disekitarnya dalam poros- poros satelit yang berbentuk bulat telur. Masing- masing kumpulan galaksi itu berpindah bersama mengelilingi matahariselama gerakannya yang bersifat esensial. Ringkasnya bahwa system tatasurya berjalan diangkasa dengan kecepatan tertentu dan pada garis edar tertentu, keceratan ini mencarai 700 kilometer perdetik, ketinggiannya memuncak disekitar markas dalam jangka 200 juta tahun cahaya.
Galaksi Bima Sakti
Galaksi Bima Sakti, tempat di mana Tata Surya berada ternyata terus bergolak. Terdapat banyak misteri menyangkut sifat materi di galaksi berbentuk cakramini. Semakin banyak data dikumpulkan maka semakin kompleks teori yang dikembangkan. Sekali lagi terlihat, apa yang disebut "materi gelap" menjadi jawaban manjur bagi hampir semua persoalan astronomi.Manusia di Bumi, selalu ingin tahu, bagaimana situasialam semesta tempat mereka tinggal. Sampai dengan awalabad ke 20, masih belum diketahui, seberapa besar sebetulnya galaksi Bima Sakti, tempat dimana Matahari,sebuah bintang yang ukurannya tidak terlalu besar,yang merupakan sumber kehidupan bagi Bumi berada dipinggirannya.
Tahun 60-an diketahui, galaksi BimaSakti berbentuk cakram dengan lebar sekitar 100.000 tahun cahaya, dan ketebalan sekitar 3.000 tahun cahaya. Di dalamnya terkandung sekitar 100 milyar bintang. Jadi memang benar, jika kitab suci mengatakan, manusia ibaratnya hanya setitik debu dialam semesta ini.Mula-mula para ahli astronomi menduga, semua sistem galaksi terbentuk di awal sejarah di alam semesta,sekitar 13 milyar tahun lalu, dan setelah itukondisinya relatif stabil. Namun seiring dengansemakin majunya teknologi pengamatan alam semesta,baik dengan menggunakan teleskop terestrial, maupun teleskop ruang angkasa semacam Hubble, diketahui bahwa galaksi-galaksi di alam semesta tetap bergolak.Galaksi Bima Sakti misalnya, diamati memiliki lapisan terluar, yang kondisinya mirip dengan saat terciptanya alam semesta setelah Dentuman Besar (Big Bang). Kawasan luar Bima Sakti ternyata diselubungi awan gas yang amat panas yang bergerak dengan kecepatan amat tinggi. Matahari dan semua bintang di dalam Bima Sakti, melakukan rotasi terhadap pusat galaksi, dengan kecepatan sekitar 200 kilometer per detik. Sementara awan gas amat panas di selubung luar Bima Sakti, melakukan rotasi dengan kecepatan sampai 400 kilometer per detik. Penelitian selanjutnya, juga menemukan selaput awan gas, diantara kawasan Bima Sakti dan lapisan awan gas berkecepatan tinggi, yang memiliki kecepatan lebih rendah dan relatif lebih dingin. Pertanyaan para ahli astronomi adalah, apa arti dari keberadaan dua lapisan awan gas panas, yang volumenya amat besar tsb?
Sistem tidak terisolasi
Pada tahun 1963, ahli astronomi Jan Oort dari Universitas Leiden di Belanda mengajukan hipotesa, pada fase akhir pembentukan galaksi, tersisa massa gas di perbatasan gaya gravitasi galaksi. Baru setelah 10 milyar tahun, gas ini mencapai cakram galaksi Bima Sakti, berupa awan gas panas berkecepatan amat tinggi. Hipotesa Oort tsb memenuhi kebutuhan para ahli astronomi, untuk membuat model matematis untuk menerangkan komposisi gas di berbagai galaksi. Diyakini, pada bagian inti bintang diproduksi elemen-elemen berat dan ketika bintang meledak, disebarkannya ke seluruh alam semesta. Bintang yang baru lahir, menangkap elemen berat ini, dan di sisi lainnya juga memproduksi elemen serupa, hingga volumenya bertambah besar. Jadi, jika sebuah galaksi berkembang dalam sistem tertutup, dipastikan galaksinya mengandung bintang-bintang generasi baru, yang memiliki elemen berat dalam jumlah lebih besar. Namun kenyataannya, penelitian para ahli astronomi menunjukan, hampir semua bintang di sekitar Matahari, tidak tergantung dari umurnya, memiliki elemen berat yang volumenya relatif sama. Kesimpulannya, galaksi Bima Sakti berkembang tidak dalam situasi terisolasi., melainkan ada gas inter-galaksi yang terus memasok materi baru dari luar.
Pada tahun 70-an ahli astronomi Paul Saphiro dan George Field dari pusat penelitian Astrofisika Harvard-Smithsonian di Cambridge AS, mengeluarkan hipotesis, awan gas berkecepatan tinggi tsb, merupakan semacam sumber elemen awet muda bagi galaksi. Menurut hipotesa Saphiro dan Field, gas yang terpanaskan dan terionisasi oleh bintang-bintang raksasa, membentuk semacam atmosfir galaksi pada korona Bima Sakti. Di atmosfir, gas yang terionisasi mendingin, dan melakukan rekombinasi, selanjutnya gas tidak bermuatan kembali jatuh ke permukaan galaksi. Dengan cara itu, terbentuk semacam sirkulasi gas secara permanen antara cakram dan korona di galaksi Bima Sakti.
Arus Magellan dan materi gelap
Akan tetapi, hipotesa Oort atau model sumber elemen awet muda bagi galaksi dari Saphiro dan Field, tidak mampu menerangkan sifat dari awan gas berkecepatan amat tinggi tsb. Teka-teki awan gas berkecepatan tinggi, semakin rumit ketika pada tahun 70-an ditemukan apa yang disebut arus Magellan. Arus Magellan adalah struktur gas seperti busur yang melewati galaksi Bima Sakti. Arusnya mengikuti jalur rotasi awan Magellan besar dan kecil, yakni dua galaksi dekat Bima Sakti yang bersifat seperti satelitnya Bima sakti.
Pada tahun 1996 lalu, Leo Blitz ahli astronomi dari Universitas California di Berkeley mengajukan teori baru. Dengan menganalisis sifat awan berkecepatan tinggi maupun arus Magellan, diperkirakan keduanya berasal dari galaksi-galaksi lokal yang lebih kecil, yang ditarik oleh gaya gravitasi Bima Sakti. Sisa gas itulah yang kemudian membentuk awan gas berkecepatan tinggi yang amat panas. Sekitar 30 tahun lalu memang ada teori seperti itu, namun dipatahkan karena diduga awan gas sebesar itu, pastilah tidak stabil. Namun Blitz mengukuhkan kembali teori lama itu dengan unsur baru yakni materi gelap (black matter).
Leo Blitz menyebutkan, sebagian besar massa awan gas itu adalah materi gelap. Kandungan gasnya relatif kecil. Dengan teori itu hendak diterangkan bahwa awan gas berkecepatan tinggi, sebetulnya memiliki kerapatan sekitar 10 kali lipat yang lebih besar dari perhitungan selama ini. Itulah sebabnya awan gas itu tetap stabil karena dapat bertahan akibat gaya tariknya sendiri. Dengan hipotesa tsb, juga beberapa masalah astronomi dapat terpecahkan. Misalnya saja, hipotesa mengenai terbentuknya galaksi, yang kini diduga mengandung lebih banyak materi gelap, ketimbang materi kasat mata. Kini pertanyaannya, hipotesa manayang benar?
Sifat lebih kompleks
Ternyata penelitian lebih lanjut di sepanjang tahun 90-an memberikan lebih banyak data baru, mengenai awan gas misterius di sekitar galaksi Bima Sakti ini. Ternyata, sifat gas berkecepatan tinggi jauh lebih kompleks dari perkiraan semula. Artinya, semua hipotesa mungkin tepat karena masing-masing berkaitan dengan fenomena yang ada dalam kompleksitas tsb. Sebagian gas, mungkin memang berasal dari waktu pembentukan galaksi, sesaat setelah dentuman besar. Atau juga memang berasal dari sirkulasi sumber elemen panjang umur. Juga teori pertukaran energi dan gas dengan arus Magellan, juga tidak keliru. Sebab galaksi bukan benda langit yang stabil seperti yang diduga setengah abad lalu. Galaksi merupakan kawasan yang terus bergolak, yang mempengaruhi dan dipengaruhi galaksi lainnya. Galaksi kecil bisa hilang ditarik gravitasi galaksi lebih besar atau sejumlah galaksi kecil bergabung menjadi galaksi raksasa.
Disinilah kesulitannya untuk menarik kesimpulan. Para ahli terus meneliti komposisi gas di galaksi Bima Sakti dan galaksi lainnya, untuk dapat mengetahui asal-usul alam semesta kemudian meramalkan siklus hidupnya dan bagaimana nanti akhir dari alam semesta ini. Sebuah gambaran yang amat abstrak, karena yang dibicarakan di sini adalah rentang waktu milyaran tahun atau jarak ratusan ribu sampai jutaan tahun cahaya. Pengamatan galaksi tetangga Bima Sakti menunjukkan, banyak diantaranya dikelilingi galaksi lebih kecil yang terdiri dari elemen gas dan materi gelap yang masih misterius. Awan gas berkecepatan tinggi di galaksi Bima Sakti mengingatkan, bahwa kita hidup dalam sistem bintang yang sangat aktif, yang dalam sekejap dapat memusnahkan seluruh penghuni Bumi dengan planetnya sekaligus


Berikut Gambaran Umumnya:


KESIMPULAN
Secara ringkas ajaran- ajaran islam yang berhubungan dengan kejadian alam semesta telah menyebutkan segala kejadian tersebut secara tidak langsung dalam beberapa ayat al- Quran. Allah menyampaikan sedikit ilmu-Nya yang baru saja kita temukan pada waktu belakangan ini. Sebagaimana dinyatakan dalam al- Quran:


“…tetapi Allah mengakui al- Quran yang diturunkan-Nya kepadamu. Allah menurunkannya dengan ilmu-Nya…”. (QS 4:166)
Orang- orang yang berilmu tidak dapat membantah kebenaran al- Quran, sebagaimana ditunjukkan oleh ayat berikut ini:



“Dan orang- orang yang diberi ilmu (ahli kitab) berpendarat bahwa wahyu yang diturunkan kepadamu dari Rabbmu itulah yang benar dan menunjuki (manusia) kepada jalan Rabb yang Maha Perkasa lagi Maha Terpuji”. (QS 34:6)

Maha Suci Allah Dengan Segala Firman-Nya…


REFERENSI
Shihab, M. Quraish. 2006. Mukjizat Al- Quran Ditinjau Dari Aspek Kebahasaan, Isyarat Ilmiah dan Pemberitahuan Gaib. Bandung: Penerbit Mizan.
As Shouwy, Ahmad. 1995. Mukjizat al- Quran dan As- Sunnah Tentang IPTEK. Jakarta: Gema Insani.
Ibrahim, Muhammad Ismail. 1986. Sisi Mulia Al- Quran, Agama dan Ilmu. Jakarta: CV. Rajawali.
sWww.wikipedian.org/wiki/surah_al-ankabut.
Http//www.swaramuslim.com.
Http//www.irib.ir/worldservice/melayuRADIO/tafsir/albaqarah 29.htm
Http.Fathananiq.worpress.com
Www.adilla.multiply.com/jurnal/item/38/Tujuh_langit.

0 komentar:

 
Namablogkamu is proudly powered by Blogger.com | Template by o-om.com | Distributed by Blogger Templates