earth bending - water bending - fire bending - wind bending

2.26.2009

Filsafat Ilmu

. 2.26.2009


Perubahan dari pola pikir mitosentris ke logosentris membawa implikasi yang tidak kecil. Alam dengan segala gejalanya, yang selama ini ditakuti kemudian didekati dan
bahkan dieksploitasi. Perubahan yang mendasar adalah ditemukannya hukum-hukum alam dan teori-teori ilmiah yang menjelaskan perubahan yang terjadi, baik di alam jagad raya (makrokosmos) maupun alam manusia (mikrokosmos). Dari penelitian alam jagad raya bermunculan ilmu astronomi, kosmologi, fisika, kimia, dan sebagainya, sedangkan dari manusia muncul ilmu biologi, psikologi, sosiologi, dan sebagainya. Ilmu-ilmu tersebut kemudian menjdi lebih terspesialisasi dalam bentuk yang lebih kecil dan sekaligus semakin aplikatif dan terasa manfaatnya.
Pada perkembangan selanjutnya, ilmu terbagi dalam beberapa disiplin, yang membutuhkan pendekatan, sifat, objek, tujuan, dan ukuran yang berbeda antara disiplin ilmu yang satu dengan yang lainnya. Pada gilirannya, cabang ilmu semakin subur dengan segala variasinya. Namun, tidak dapat juga dipungkiri bahwa ilmu yang terspesialisasi itu semakin menambah sekat-sekat antara satu disiplin ilmu dengan disiplin ilmu yang lain, sehingga muncul arogansi ilmu yang sate terhadap ilmu yang lain. Tidak hanya sekadar sekat-sekat antardisiplin ilmu dan arogansi ilmu, tetapi yang terjadi adalah terpisahnya ilmu itu dengan nilai luhur ilmu, yaitu untuk menyejahterakan umat manusia. Bahkan tidak mustahil terjadi, ilmu menjadi bencana bagi kehidupan umat manusia, seperti pemanasan global dan dehumanisasi.
Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa satu sisi ilmu berkembang dengan pesat, di sisi lain, timbul kekhawatiran yang sangat besar terhadap perkembangan ilmu itu karena tidak ada seorang pun atau lembaga yang memiliki otoritas untuk menghambat implikasi negatif dari ilmu. John Naisbitt mengatakan bahwa era informasi menimbulkan gejala mabuk
teknologi, yang ditandai dengan beberapa indikator, yaitu: (1) Masyarakat lebih menyukai penyelesaian masalah secara kilat, dari masalah agama sampai masalah gizi. (2) Masyarakat takut dan sekaligus memuja teknologi. (3) Masyarakat mengaburkan perbedaan antara yang nyata dan yang semu. (4) Masyarakat menerima kekerasan sebagai sesuatu yang wajar. (5) Masyarakat mencintai teknologi dalam bentuk mainan. (6) Masyarakat menjalani kehidupan yang berjarak dan terenggut.'
Ilmu dan teknologi dalam konteks itu kehilangan ruhnya yang fundamental karena ilmu kemudian mengeliminir peran manusia dan bahkan manusia tanpa sadar menjadi budak ilmu dan teknologi. Karma itu, filsafat ilmu berusaha mengembalikan ruh dan tujuan luhur ilmu agar ilmu tidak menjadi bumerang bagi kehidupan umat manusia. Di samping itu, salah satu tujuan filsafat ilmu „adalah untuk mempertegas bahwa ilmu dan teknologi adalah instrumen bukan tujuan.
Dalam konteks yang demikian diperlukan suatu pandangan yang komprehensif tentang ilmu dan nilai-nilai yang berkembang di tengah masyarakat. Dalam masyarakat beragama, ilmu adalah bagian yang tidak terpisahkan dari nilai-nilai ketuhanan karena sumber ilmu yang hakiki adalah dari Tuhan, manusia hanya menemukan sumber itu dan kemudian merekayasanya untuk dijadikan instrumen kehidupan. Manusia adalah ciptaan Tuhan yang paling tinggi derajatnya dibandingkan dengan makhluk yang lain karena manusia diberikan daya berpikir. Daya pikir inilah yang menemukan teori-teori ilmiah dan teknologi.

'John Naisbitt et.all., High Tech High Touch. (terj.), (Jakarta: Pustaka Mizan), 2002. hlm. 23-24.
XIV Filsafat Ilmu
Pada waktu yang bersamaan, daya pikir tersebut menjadi bagian yang tidak dapat dipisahkan dari keberadaan manusia sebagai makhluk Tuhan, sehingga dia tidak hanya bertanggung jawab kepada sesama manusia, tetapi juga kepada Penciptanya.
Namun, perlu juga diingat bahwa ikatan agama yang terlalu kaku dan terstruktur kadangkala dapat menghambat perkembangan ilmu. Karma itu, perlu kejelian dan kecerdasan memperhatikan sisi kebebasan dalam ilmu dan sistem nilai dalam agama agar keduanya tidak sating bertolak belakang. Di sinilah perlu rumusan yang jelas tentang ilmu secara filosofis dan akademik serta agama agar ilmu dan teknologi tidak menjadi bagian yang lepas dari nilai-nilai agama dan kemanusiaan serta lingkungan. Karma itu, penulisan buku filsafat ilmu di perguruan tinggi dirasakan sangat penting karma memiliki beragam manfaat, di antaranya, membantu mahasiswa dalam membedakan antara persoalan-p8rsoalan yang ilmiah dan nonilmiah; memberikan landasan historis-filosofis bagi setiap kajian disiplin ilmu yang ditekuni, dan memberikan nilai dan orientasi yang As bagi setiap disiplin ilmu.
Fariduddin Attar bangunlah pada malam hari T)an dia memikirkan tcntang dunia ini
Ternyata dunia tm Adalah sebuah peti
tiebuah peti yang besar dan tertutup di atasnya !)an kita manusia berputar-putar di dalamnya
Uunia sebuah peti yang besar Dan tertutup di atasnya
Uan kita tcrkurung di dalamnya Dan kita berjalan-jalan di dalamnya Dan kita bcrmcnwng di dalamnya Dan kita beranak di dalamnya Dan kita mcmbuat peti di dalamnya
Dan kita membuat peti Di dalam peti ini ....
1)rnrikianlah manusia, terutama para pemikirnya seperti Fariduddin AIlai dulam sajak Taufiq Ismail ini,l) tak henti-hentinya terpesona menalap dunia: nrcnjangkau jauh-jauh ke dalamnya: apakah hakikat ken ralurm irri •sebenar-benarnya? Bidang telaah filsafati yang disebut metal i.IL,x ini nrcrupakan tempat berpijak dari setiap pemikiran filsafati terui;i~,rlk pcmikiran ilrniah. Diibaratkan pikiran adalah roket yang melun
u/ Iint:urn,-bintang, menembus galaksi dan awan gemawan, maka
I l~ri•(ur Icrrroil Alrrrrburu Yuisi, Tanujn Is mail Manuki, 30-i1 Januari 1980, I1Im..'1
Metafisika adalah landasan peluncurannya. Dunia yang sepintas !=?~. kclihatan sangat nyata ini, ternyata menimbulkan berbagai sp • ?slasi filsafati tentang hakikatnya.
Tafsiran yang paling pertama yang diberikan oleh manusia terhadap alam ini adalah bahwa terdapat ujud-ujud yang bersifat gaib (supernatural) dan ujud-ujud ini bersifat lebih tinggi atau lebih kuasa dibandingkan dengan alam yang nyata. Animisme merupakan kepercayaan yang berdasarkan pemikiran supernaturalisrne ini; di mana manusia percaya bahwa terdapat roh-roh yang bersifat gaib yang terdapat dalarn bendabenda seperti batu, pohon dan air terjun. Animisme ini merupakan kcpercayaan yang paling tua umurnya dalam sejarah perkembangan kebudayaan manusia dan masih dipeluk oleh beberapa masyarakat di nnrka bumi.
Sebagai lawan dari supernaturalisme maka terdapat paham naturalisme yang menolak pendapat bahwa terdapat ujud-ujud yang bcr sifat supernatural ini. Materialisme, yang merupakan paham berdasarkan naturalisme ini, berpendapat bahwa gejala-gejala aiarn tidak discbabkan oleh pengaruh kekuatan yang bersifat gaib, nielainkan oleh kekuatan yang terdapat dalam alam itu sendiri, yang dapat dipela}ari dan dengan demikian dapat kita ketahui.
IU ~ l merupakan salah satu di antara lapangan penyelidikan kefilsafatan yang paling kuno. Awal mula alam pikiran Yunani -telah menunjukkan munculnya perenungan di bidang ontologi. Yang `tertua di antara segenap filsafat Yunani yang kita kenal adalah Thales. Atas perenungannya terhadap air merupakan substansi terdalam yang merupakan asal mula dari segala sesuatu.
Dalam persoalan ontologi orang menghadapi persoalan bagaimanakah kita menerangkan hakikat dari segala yang ada ini? Pertama kali orang dihadapkan pada adanya dua macam kenyataan. Yang pertama, kenyataan yang berupa materi (kebenaran) dan kedua, kenyataan yang berupa rohani (kejiwaan).
Pembicaraan tentang hakikat sangatlah luas sekali, yaitu segala yang ada dan yang rnungkin ada. Hakikat adalah realitas; realita adalah ke-real-an, Riil artinya kenyataan yang sebenarnya. Jadi hakikat adalah kenyataan sebenarnya sesuatu, bukan kenyataan sementara atau keadaan yang menipu, juga bukan kenyataan yang berubah.

Filsafat Ilmu
Dasar-dasar Ilmu
Tafsir mencontohkan tentang hakikat makna
olcrasi dan fatamorgana. Pada hakikatnya pemerintahan demokratis menghargai pendapat rakyat. Mungkin orang pernah menyaksikan pemerintahan itu melakukan tindakan sewenang-wenang, tidak menghargai pendapat rakyat. Itu hanyalah keadaan sementara, bukan hakiki, yang hakiki pemerintahan itu demokratis. Tentang hakikat fatamorgana dicontohkan, kita melihat suatu objek fatamorgana. Apakah real atau tidak? Tidak, fatamorgana itu bukan hakikat, hakikat fatamorgana itu ialah tidak ada.l
Pembahasan tentang ontologi sebagai dasar ilmu berusaha amok menjawab "apa" yang menurut Aristoteles merupakan Ac First Philosophy dan merupakan ilmu mengenai esensi benda. Untuk lebih jelasnya penulis mengemukakan pengertian dan aliran pemikiran dalam ontologi ini.
Kata ontologi berasal dari perkataan Yunani: On = being, dan Logos = logic. Jadi Ontologi adalah The theory of being qua being (teori tentang keberadaan sebagai keberadaan).3 Louis O.Kattsoff dalam Elements of Filosophy mengatakan, Ontologi itu mencari ultimate reality dan menceritakan bahwa di antara contoh pemikiran ontologi adalah pemikiran Thales, yang berpendapat bahwa airlah yang menjadi ultimate subtance yang mengeluarkan-semua benda. Jadi asal semua benda hanya
'Ahmad Tafsir, Filsafat Umum, (Bandung: Rosdakarya, 2002), him. 24. 2Romdon, Ajaran On(ologi Aliran Kebatinan, (Jakarta: Rajawali Press, ed. I, cet. 1, 1996), h1m.X.
3Lih. James K. Feibleman, Ontologi dalam Dagobert D. Runes (ed), Dictinary Philoshopy, (Totowa New Jersey: Little Adam & Co., 1976), him. 219.
satu saja yaitu air".4
Noeng Muhadjir dalam bukunya Filsafat Ilmu mengatakan, ontologi membahas tentang yang ada, yang tidak terikat oleh satu perwujudan tertentu. Ontologi membahas tentang yang ada yang universal, menampilkan pemikiran semesta universal. Ontologi berusaha mencari inti yang termuat dalam setiap kenyataan, atau dalam rumusan Lorens Bagus, menjelaskan yang ada yang meliputi semua realitas dalam semua bentuknya.5 Sedangkan menurut Jujun S. Suriasumantri dalam Pengantar Ilmu dalam Perspektif mengatakan, ontologi membahas apa yang ingin kita ketahui, seberapa jauh kita ingin tahu, atau dengan perkataan lain, suatu pengkajian mengenai teori tentang "ada".6
Sementara itu, A. Dardiri dalam bukunya Humaniora, Filsafat, dan Logika mengatakan, ontologi adalah menyelidiki sifat dasar dari apa yang nyata secara fundamental dan cara yang berbeda di mana entitas dari kategori-kategori yang logis yang berlainan (objek-objek fisis, hal universal, abstraksi) dapat dikatakan ada; dalam kerangka tradisional ontologi dianggap sebagai teori mengenai prinsip-prinsip umum dari hal ada, sedangkan dalam hal pemakaiannya akhir-akhir ini ontologi dipandang sebagai teori mengenai apa yang ada.'
4Louis 0 Katsoff, Element of Philosophy, (New York: The Roland Press
Company, 1953), him. 178.
SNoeng Muhadjir,Filsafat llmu, Positivisme, Post Positivisme, dan Post
Modernisme, (Yogyakarta: Rake sarin,ed.Il., cet.l, 2001), hlm. 57.
'Jujun S. Suriasumantri, Tentang Hakikat llmu, dalam Ilmu dalam
Perspektif, (Jakarta: Gramedia, cet. VI, 1985), him. 5.
'A. Dardiri, Humaniora, Filsafat, dan Logika, (Jakarta: Rajawali, ed. 1,
cet. 1, 1986), him. 17.


Filsafat Ilmu
Dasar-dasar Ilm
Sidi Gazalba dalam bukunya Sistematika Filsafat mengatakan, ontologi mempersoalkan sifat dan keadaan terakhir dari kenyataan. Karena itu is disebut ilmu hakikat, hakikat yang bergantung pada pengetahuan. Dalam agama ontologi memikirkan tentang Tuhan.s
Amsal Bakhtiar dalam bukunya Filsafat Agama I mengatakan, ontologi berasal dari kata ontos = sesuatu yang berwujud. Ontologi adalah teori/ilmu tentang wujud, tentang hakikat yang ada. Ontologi tidak banyak berdasar pada alam nyata, tetapi berdasar pada logika semata-mata.1
Dari beberapa pengetahuan di atas dapat disimpulkan
bahwa:
1. Menurut bahasa, ontologi ialah berasal dari bahasa Yunani yaitu, On/Ontos = ada, dan Logos = ilmu. Jadi, ontologi adalah ilmu tentang yang ada.
2. Menurut istilah, ontologi ialah ilmu yang membahas tentang hakikat yang ada, yang merupakan ultimate reality baik yang berbentuk jasmani/konkret maupun rohani/abstrak.

Term ontologi pertama kali diperkenalkan oleh Rudolf Goclenius pada tahun 1636 M. Untuk menamai teori tentang hakikat yang ada yang bersifat metafisis. `Dalam perkembangannya Christian Wolff (1679-1754 M) membagi metafisika menjadi dua, yaitu metafisika umum dan metafisika khusus. Metafisika umum dimalcsudkan sebagai istilah lain dari ontologi.
"Sidi Gazalba, Sistematika Filsafat, Pengantar kepada Teori Pengetahuan, l3uku ll, (Jakarta: Bulan Bintang, cet. 1, 1973), him. 106.
"Amsal Bakhtiar, Filsafat Agama 1, (Jakarta: Logos Wacana Ilmu, CO. I, 1997), him.
Dengan demikian, metafisika umum atau ontologi adalah cabang filsafat yang membicarakan prinsip yang paling dasar atau paling dalam dari segala sesuatu yang ada. Sedang metafisika khusus masih dibagi lagi menjadi kosmologi, psikologi, dan teologi.
Kosmologi adalah cabang filsafat yang secara khusus membicarakan tentang alam semesta. Psikologi adalah cabang filsafat yang secara khusus membicarakan tentang jiwa manusia. Teologi adalah cabang filsafat yang secara khusus membicarakan Tuhan.lo
Di dalam pemahaman ontologi dapat diketemukan pandangan-pandangan pokok pemikiran sebagai berikut:

1. Monoisme
Paham ini menganggap bahwa hakikat yang asal dari seluruh kenyataan itu hanyalah satu saja, tidak mungkin dua. Haruslah satu hakikat saja sebagai sumber yang asal, baik yang asal berupa materi ataupun berupa rohani. Tidak mungkin ada hakikat masing-masing bebas dan berdiri sendiri. Haruslah salah satunya merupakan sumber yang pokok dan dominan menentukan perkembangan yang lainnya. Istilah monisme oleh Thomas Davidson disebut dengan Block Universe." Paham ini kemudian terbagi ke dalam dua aliran:

a. Materialisme
Aliran ini menganggap bahwa sumber yang asal itu adalah

"Paul Edwards, (Ed), The Encyclopedia of Philosophy, (New York: Mac Millan Publishing Co., ed. II, 1972), him. 542. "Ibid, him. 363.
materi, bukan rohani. Aliran ini sering juga disebut dengan naturalisme. Menurutnya bahwa zat mati merupakan kenyataan dan satu-satunya fakta.12 Yang ada hanyalah materi, yang lainnya jiwa atau ruh tidaklah merupakan suatu kenyataan yang berdiri sendiri. Jiwa atau ruh itu hanyalah merupakan akibat saja dari proses gerakan kebenaran dengan salah satu cara tertentu.
Kalau dikatakarr bahwa materialisme sering disebut naturalisme, sebenarnya ada sedikit perbedaan di antara dua paham itu. Namun begitu, materialisme dapat dianggap suatu penampakan diri dari naturalisme.13 Naturalisme berpendapat bahwa alam saja yang ada, yang lainnya di luar alam tidak ada.'`' Yang dimaksud alam di sini ialah segala-galanya, meliputi benda dan ruh. Jadi benda dan ruh sama nilainya dianggap sebagai alam yang satu. Sebaliknya, materialisme menganggap ruh adalah kejadian dari benda. Jadi tidak sama nilai benda dan ruh seperti dalam naturalisme.
Dari segi dimensinya, paham ini sering dikaitkan dengan

teori Atomisme. Menurut teori ini semua materi tersusun dari sejumlah bahan yang disebut unsur. Unsur-unsur itu bersifat tetap, tak dapat dirusakkan. Bagian-bagian yang terkecil dari unsur itulah yang dinamakan atom-atom. Atom dari unsur sama rupanya sama pula, dan sebaliknya. Namun perbedaan hanya mengenai berat dan besarnya. Mereka bisa bersatu menjadi molekul yang terkecil dari atom-atom itu. Selanjutnya atom
12Sunarto, Pemikir,n Tentang Kefilsafatan Indonesia, (Yogyakarta: Andi Offset, 1983), him. 70.
laHasbullah Bakry, op.cit., him. 52.
14Louis 0. Kattsoff, Element of Philosophy, terj. Soejono Soemargono, Pengantar Filsafat, (Yogyakarta: Tiara Wacana, cet. VII, 1996), him. 216.
atom dengan kesatuannya molekul-molekul itu bergerak terus menuruti undang-undang tertentu.15 Jadi materialisme menganggap bahwa kenyataan ini merupakan suatu mekanis seperti suatu mesin yang besar.
Aliran pemikiran ini dipelopori oleh bapak filsafat yaitu Thales (624-546 SM). la berpendapat bahwa unsur asal adalah air karena pentingnya bagi kehidupan.16 Anaximander (585-528 SM) berpendapat bahwa unsur asal itu adalah udara dengan alasan bahwa udara adalah merupakan sumber dari segala kehidupan.i' Demokritos (460-370 SM) berpendapat bahwa hakikat alam ini merupakan atom-atom yang banyak jumlahnya, tak dapat dihitung dan amat halus. Atom-atom inilah yang merupakan asal kejadian alam.'$
Dalam perkembangannya, sebagai aliran yang paling tua, paham ini timbul dan tenggelam seiring roda kehidupan manusia yang selalu diwarnai dengan filsafat dan agama. Alasan mengapa aliran ini berkembang sehingga memperkuat dugaan bahwa yang merupakan hakikat adalah:19
a. Pada pikiran yang masih sederhana, apa yang kelihatan yang dapat diraba, biasanya dijadikan kebenaran terakhir. Pikiran sederhana tidak mampu memikirkan sesuatu di luar ruang yang abstrak.
'sHasbullah Bakry, op.cit., him. 53.
"Ahmad Tafsir, op.cit., him. 29. "Ibid.
'aJujun S. Suriasumantri, Filsafat Ilmu, Sebuah Pengantar Populer,
(Jakarta: Pustaka Sinar Harapan, 1996), h1m.64. 19Ahmad Tafsir, op.cit., him. 29.
b. Penemuan-penemuan menunjukkan betapa bergantungnya jiwa pada badan. Oleh sebab itu, peristiwa jiwa selalu dilihat sebagai peristiwa jasmani. Jasmani lebih menonjol dalam peristiwa ini.
c. Dalam sejarahnya manusia memang bergantung pada benda seperti pada padi. Dewi Sri dan Tuhan muncul dari situ. Kesemuanya ini memperkuat dugaan bahwa yang merupakan hakikat adalah benda.
b. Idealisme
Sebagai lawan materialisme adalah aliran idealisme yang dinamakan juga dengan spiritualisme. Idealisme berarti serba cita, sedang spiritualisme berarti serba ruh.
Idealisme diambil dari kata "Idea", yaitu sesuatu yang Nadir dalam jiwa. Aliran ini beranggapan bahwa hakikat kenyataan yang beraneka ragam itu semua berasal dari ruh (sukma) atau sejenis dengannya, yaitu sesuatu yang tidak berbentuk dan menempati ruang. Materi atau zat itu hanyalah suatu jenis dari pada penjelmaan ruhani.20
Alasan aliran ini yang menyatakan bahwa hakikat benda adalah ruhani, spirit atau sebangsanya adalah:
a. Nilai ruh lebih tinggi daripada badan, 4ebih tinggi nilainya dari materi bagi kehidupan manusia. Ruh itu dianggap sebagai hakikat yang sebenarnya. Sehingga materi hanyalah badannya, bayangan atau penjelmaan saja.
20Hasbullah Bakry, op.cit., him. 56. Lih. juga Sunoto, op.cit., him. 70.
b. Manusia lebih dapat memahami dirinya daripada dunia luar dirinya.
c. Materi ialah kumpulan energi yang menempati ruang. Benda tidak ada, yang ada energi itu saja.21
Materi bagi penganut idealisme sebenarnya tidak ada. Segala kenyataan ini termasuk kenyataan manusia adalah sebagai ruh. Ruh itu tidak hanya menguasai manusia perorangan, tetapi juga kebudayaan. Jadi kebudayaan adalah perwujudan dari alam cita-cita dan cita-cita itu adalah ruhani. Karenanya aliran ini dapat disebut idealisme dan dapat disebut spiritualisme.
Dalam perkembangannya, aliran ini ditemui pada ajaran Plato (428-348 SM) dengan teori idenya. Menurutnya, tiaptiap yang ada di alam mesti ada Idenya, yaitu kcnsep universal dari tiap sesttatulz Alam nyata yang menempati ruangan ini hanyalah berupa bayangan saja dari alam ide itu. Jadi idelah yang menjadi hakikat sesuatu, menjadi dasar wujud sesuatu.2s Dalam menjelaskan hakikat ide tersebut Plato mengarang mitos penunggu gua yang dimuatnya di dalam dialog politea yang dikutipkan sebagai berikut ini: ,
Manusia dapat dibandingkan dengan orang-orang tahanan yang sejak lahirnya terkurung dan terbelenggu di dalam gua. Di belakang mereka ada api menyala sementara mereka hanya dapat menghadap ke Binding gua. Beberapa orang budak belian berjalan-jalan di
21Ahmad Tafsir, op.cit., him. 30.
zzAmsal Bakhtiar, op.cit., him. 169.
zsHarun Nasution, FalsafatAgama, (Jakarta: Bulan Bintang, 1982), him.
53
depan api itu sambil memikul bermacam-macam benda. Hal itu mengakibatkan bermacam-macam bayangan yang jatuh pada dinding gua. Karena orang-orang tahanan itu tidak dapat melihat ke belakang, mereka hanya menyaksikan bayangan, dan bayangan itu disangka mereka sebagai realitas yang sebenarnya dan tidak ada lagi realitas. Namun, setelah beberapa waktu seorang tahanan dilepaskan. la melihat di belakang mereka, yaitu di mulct gua, ada api yang menyala. la mulai memperkirakan, bahwa bayangan-bayangan yang disaksikan mereka tadi bukanlah realitas yang sebenarnya. Lalu is diantar keluar gua, dan is melihat matahari yang menyilaukan matanya. Mula-mula is berpikir, bahwa is sudah meninggalkan realitas. Namun berangsur-angsur is pun menginsafi bahwa justru itulah realitas yang sebenarnya, dan is menyadari bahwa dulu is belum pernah menyalcsikannya. Lalu is kembali ke dalam gua, ya, ke tempat kawan-kawannya yang masih diikat di situ. la bercerita kepada teman-temannya bahwa yang dilihat mereka pada dinding gua itu bukanlah realitas yang sebenarnya, melainkan hanyalah bayangan. Namun, kawan-kawannya tidak mempercayai perkataannya, dan seandainya mereka tidak terbelenggu, pasti is akan membunuh siapa saja yang mencoba melepaskan mereka dari belenggunya. Kalimat terakhir ini mengiyaskan kematian Socrates."
24Ahmad Tafsir, op.cit., hlm. 56-57.
Penjelasan mitos ini adalah bahwa gua adalah dunia yang dapat ditangkap oleh indera. Kebanyakan orang dapat diumpamakan orang tahanan yang terbelenggu, mereka menerima pengalaman spontan begitu saja. Namun ada beberapa orang yang mulai memperkirakan bahwa realitas inderawi adalah bayangan, mereka adalah filosof. Mula-mula mereka merasa heran sekali, tetapi berangsur-angsur mereka menemukan ide "yang baik" (matahari) sebagai realitas tertinggi. Untuk mencapai kebenaran yang sebenarnya itu manusia harus mampu melepaskan diri dari pengaruh indera yang menyesatkan itu.
Aristoteles (384-322 SM) memberikan sifat keruhanian dengan ajarannya yang menggambarkan alam ide itu sebagai sesuatu tenaga yang berada dalam benda-benda itu sendiri dan menjalankan pengaruhnya dari dalam benda itu.2S
Pada filsafat modern, pandangan ini mula-mula kelihatan pada George Barkeley (1685-1753 M) yang menyatakan objekobjek fisis adalah ide-ide. Kemudian Immanuel Kant (17241804 M), Fichte (1762-1814 M), Hegel (1770-1831 M), dan Schelling (1775-1854 M).zb
2. Dualisme
Setelah kita memahami bahwa hakikat itu satu (monisme) baik materi ataupun ruhani, ada juga pandangan yang mengatakan bahwa hakikat itu ada dua. Aliran ini disebut dualisme.
zsHasbullah Bakry, hlm. 57.
26Keterangan lebih lengkap tentang pandangan idealisme mereka dapat dilihat pada A. Tafsir, hlm. 144-172.
nliran ini berpendapat bahwa benda terdiri dari dua macam f iakikat sebagai asal sumbernya, yaitu hakikat materi dan hakikat ruhani, benda dan ruh, jasad dan spirit. Materi bukan muncul dari ruh, dan ruh bukan muncul dari benda. Sama-sama hakikat. Kedua macam hakikat itu masing-masing bebas dan berdiri sendiri, sama-sama azali dan abadi. Hubungan keduanya menciptakan kehidupan dalam clam ini. Contoh yang paling jelas tentang adanya kerja sama kedua hakikat ini ialah dalam
diri manusia.27
Tokoh paham ini adalah Descartes (1596-1650 M) yang dianggap sebagai bapak filsafat modern. la menamakan kedua hakikat itu dengan istilah dunia kesadaran (ruhani) dan dunia ruang (kebendaan). Ini tercantum dalam bukunya Discours de la methode (1637) dan Meditations de Prima Philosophic (1641). Dalam bukunya ini pula is menuangkan metodenya yang terkenal dengan Cogito Descartes (metode keraguan Descartes/ Cartesian Doubt). Di samping Descartes, ada juga Benedictus De Spinoza (1632-1677 M), dan Gitifried Wilhelm Von Leibniz
(1646-1716 M).28
Descartes meragukan segala sesuatu yang dapat diragukan. Mula-mula is mencoba meragukan semua yang dapat diindera, objek yang sebenarnya tidak mungkin diragukan. Dia meragukan badannya sendiri. Keraguan itu menjadi mungkin karena pada pengalaman n-limpi, halusinasi, ilusi, dan juga pada pengalaman dengan ruh halus ada yang sebenarnya itu tidak jelas. Pada
Z7Ibid, him. 51, lih juga A. Tafsir, op.cit., him. 30.
LBPenjelasan lebih mendetail lihat Harun Hadiwijono, Sari Sejarah Filsafat Karat 2, (Yogyakarta: Kanisius, cet. 18, 2002), him. 18.
empat keadaan seseorang dapat mengalami sesuatu seolaholah dalam keadaan yang sesungguhnya. Di dalam mimpi seolaholah seseorang mengalami sesuatu yang sungguh-sungguh terjadi persis seperti tidak mimpi (jaga), begitu pula pada pengalaman halusinasi, ilusi, dan kenyataan gaib. Tidak ada batas yang tegas antara mimpi dan jaga. Akibatnya is menyatakan bahwa ada satu yang tidak dapat diragukan, yaitu saya sedang ragu. Boleh saja badan saya ini saya ragukan adanya, hanya bayangan, misalnya atau hanya seperti dalam mimpi, tetapi mengenai saya sedang ragu benar-benar tidak dapat diragukan adanya.
Aku yang sedang ragu ini disebabkan oleh aku berpikir. Kalau begitu aku berpikir pasti ada dan benar. Jika berpikir ada, berarti aku ada sebab yang berpikir itu aku. Cogito ergo sum, aku berpikir jadi aku ada. Paham ini kemudian terkenal dengan rasionalisme, yaitu paham filsafat yang mengatakan bahwa akal (reason) adalah alat terpenting dalam memperoleh pengetahuan dan mengetes pengetahuan.29
Umumnya manusia tidak akan mengalami kesulitan untuk menerima prinsip dualisme ini, karena setiap kenyataan lahir dapat segera ditangkap oleh pancaindera kita, sedang kenyataan batin dapat segera diakui adanya oleh akal dan perasaan hidup.

Pluralisme
Paham ini berpandangan bahwa segenap macam bentuk merupakan kenyataan. Pluralisme bertolak dari keseluruhan dan
zylbid, lih. juga K. Bertens, Ringkasan Sejarah Filsafat, (Yogyakarta: Kanisius, cet. 18, 2001), him. 45.
rnengakui bahwa segenap macam bentuk itu semuanya
nyata.30 Pluralisme dalam Dictionary of Philosophy and Religion
dikatakan sebagai paham yang menyatakan bahwa kenyataan clam ini tersusun dari banyak unsur, lebih dari satu atau dua entitas. Tokoh aliran ini pada masa Yunani Kuno adalah Anaxagoras dan Empedocles yang menyatakan bahwa substansi yang ada itu terbentuk dan terdiri dari 4 unsur, yaitu tanah, air,
api, dan udara.31
Tokoh modern aliran ini adalah William James (1842-1910 M). kelahiran New York dan terkenal sebagai seorang psikolog dan filosof Amerika. Dalam bukunya The Meaning of Truth James mengemukakan, tiada kebenaran yang mutlak, yang berlaku umum, yang bersifat tetap, yang berdiri sendiri, lepas dari akal yang mengenal. Sebab pengalaman kita berjalan terns, dan segala yang kita anggap benar dalam perkembangan pengalaman itu senantiasa berubah, karma dalam praktiknya apa yang kita anggap benar dapat dikoreksi oleh pengalaman berikutnya. Oleh karma itu, tiada kebenaran yang mutlak, yang ada adalah kebenaran-kebenaran, yaitu apa yang benar dalam pengalaman-pengalaman yang khusus, yang setiap kali dapat diubah oleh pengalaman berikutnya.32 Kenyataan terdiri dari banyak kawasan yang berdiri sendiri. Dunia bukanlah suatu universum, melainkan suatu mu]ti-versum.33 Dunia adalah suatu
soSunarto, op.cit., hlm. 71.
31William L. Reese, Dictionary of Philosophy and Religion, Eastern and Western Thought, (New York: Humanity Books, 1996), hlm. 591. szHarun Hadiwijono, op.cit., hlm. 132.
3316id, h1m. 133.
dunia yang terdiri dari banyak hal yang beraneka ragam atau pluralis.
4. Nihilisme
Nihilisme berasal dari Bahasa Latin yang berarti nothing atau tidak ada. Sebuah doktrin yang tidak mengakui validitas alternatif yang positif. Istilah nihilisme diperkenalkan oleh Ivan Turgeniev dalam novelnya Fathers and Childern yang ditulisnya pada tahun 1862 di Rusia. Dalam novel itu Bazarov sebagai tokoh sentral mengatakan lemahnya kutukan ketika is menerima ide nihilisme.34
Doktrin tentang nihilisme sebenarnya sudah ada semenjak zaman Yunani Kuno, yaitu pada pandangan Gorgias (483-360 SM) yang mei tberikan tiga proposisi tentang realitas. Pertama, tidak ada sesuatu pun yang eksis. Realitas itu sebenarnya tidak ada. Bukankah Zeno juga pernah sampai pada kesimpulan bahwa hasil pemikiran itu selalu tiba pada paradoks. Kita harus menyatakan bahwa realitas itu tunggal dan banyak, terbatas dan tak terbatas, dicipta dan tak dicipta. Karma kontradiksi tidak dapat diterima, maka pemikiran lebih baik tidak menyatakan apa-apa tentang realitas. Kedua, bila sesuatu itu ada, is tidak dapat diketahui. Ini disebabkan oleh penginderaan itu tidak dapat dipercaya, penginderaan itu sumber ilusi. Akal juga tidak mampu meyakinkan kita tentang bahan alam semesta ini karma kita telah dikungkung oleh dilema subjektif. Kita berpikir sesuai dengan kemauan, ide kita, yang kita terapkan pada fenomena.
31 Paul EduTards (ed.), op.cit., hlm. 515.
Ketiga, sekalipun realitas itu dapat kita ketahui, is tidak akan dapat kita beritahukan kepada orang lain."
Tokoh lain aliran ini adalah Friedrich Nietzsche (18441900 M). Dilahirkan di Rocken di Prusia, dari keluarga pendeta. Dalam pandangannya bahwa "Allah sudah mati", Allah Kristiani dengan segala perintah dan larangannya sudah tidak merupakan rintangan lagi. Dunia terbuka untuk kebebasan dan kreativitas manusia. Mata manusia tidak lagi diarahkan pada suatu dunia di belakang atau di atas dunia di mana is hidup. Nietsche mengakui bahwa pada kenyataannya moral di Eropa sebagian besar masih bersandar pada nilai-nilai kristiani. Tetapi tidak dapat dihindarkan bahwa nilai-nilai itu akan lenyap. Dengan sendirinya itu manusia modern terancam nihilisme. Dengan demikian is sendiri hares mengatasi bahaya itu dengan menciptakan nilai-nilai barn, dengan transvaluasi semua nilai.s6
5. Agnostisisme
Paham ini mengingkari kesanggupan manusia untuk mengetahui hakikat benda. Baik hakikat materi maupun hakikat ruhani. Kata Agnosticisme berasal dari bahasa Grik Agnostos yang berarti unknown. A artinya not, Gno artinya know.37
Timbulnya aliran ini dikarenakan belum dapatnya orang mengenal dan mampu menerangkan secara kbnkret akan adanya kenyataan yang berdiri sendiri dan dapat kita kenal. Aliran ini dengan tegas selalu menyangkal adanya suatu kenyataan
35A. Tafsir, oi-).cit. him. 515. 36K. Bertens, op.cit. him. 89. 37A. Tafsir,'op.cit. him. 30.
mutlak yang bersifat trancendent.38
Aliran ini dapat kita temui dalam filsafat eksistensi dengan tokoh-tokohnya seperti, Soren Kierkegaar, Heidegger, Sartre, dan Jaspers.Soren Kierkegaard (1813-1855 M) yang terkenal dengan julukan sebagai Bapak Filsafat Eksistensialisme menyatakan, manusia tidak pernah hidup sebagai suatu aku umum, tetapi sebagai aku individual yang sama sekali unik dan tidak dapat dijabarkan ke dalam sesuatu yang lain .39
Sementara itu, Martin Heidegger (1889-1976 M), seorang filosof Jerman mengatakan, satu-satunya yang ada itu ialah manusia, karena hanya manusialah yang dapat memahami dirinya sendiri. Jadi dunia ini adalah bagi manusia, tidak ada persoalan bagi alam metafisika.ao
Pada pemahaman lainnya, Jean Paul Sartre (19051980 M), seorang filosof dan sastrawan Perancis yang ateis sangat terpengaruh dengan pikiran ateisnya mengatakan bahwa manusia selalu menyangkal. Hakikat beradanya manusia bukan etre (ada) melainkan a etre (akan atau sedang). Segala perbuatan manusia tanpa tujuan karena tidak ada yang tetap (selalu disangkal).4' Segala sesuatu mengalami kegagalan. Das sein (ada/berada) dalam cakrawala gagal. Ternyata segala macam nilai hanya terbatas saja. Manusia tidak boleh mencari dan mengusahakan kegagalan dan keruntuhan. Sebab hal itu bukanlah hal yang asli. Kegagalan dan keruntuhan itu mewujudkan tulisan sandi (chiffre) sempurna dari "ada". Di dalam kegagalan dan
38Hasbullah Bakry, op.cit., him. 60. s9A. Tafsir, op.cit., him. 222. 40Hasbullah Bakry, op.cit., him. 60~*i 41A. Tafsir, op.cit., him. 229.

keruntuhan itu prang mengalami "ada", mengalami yang
transenden.42
Karl Jaspers (1883-1969 M) menyangkal adanya suatu kenyataan yang transenden. Yang mungkin itu hanyalah manusia berusaha mengatasi dirinya sendiri dengan membawakan dirinya yang belum sadar kepada kesadaran yang sejati, namun suatu yang mutlak (trancendent) itu tidak ada sama sekali.43
Jadi agnostisisme adalah paham pengingkaran atau penyangkalan terhadap kemampuan manusia mengetahui hakikat benda baik materi maupun ruhani. Aliran ini mirip dengan skeptisisme yang berpendapat bahwa manusia diragukan kemampuannya mengetahui hakikat.a4 Namun tampaknya agnostisisme lebih dari itu karma menyerah sama colrali.

Filsafat dan ilmu adalah dua kata yang Baling terkait, baik secara substansial maupun historis karma kelahiran ilmu tidak lepas dari peranan filsafat, sebaliknya perkembangan ilmu memperkuat keberadaan filsafat. Filsafat telah berhasil mengubah pola pemikiran;bangsa Yunani dan umat manusia dari pandangan mitosentris menjadi logosentris. Awalnya bangsa Yunani dan bangsa lain di dunia beranggapan bahwa semua kejadian di alam ini dipengaruhi oleh para dewa. Karenanya para dewa harus dihormati dan sekaligus ditakuti kemudian disembah. Dengan filsafat, pola pikir yang selalu tergantung pada dewa diubah menjadi pola pikir yang tergantung pada rasio. Kejadian alam, seperti gerhana tidak lagi dianggap sebagai kegiatan dewa yang tertidur, tetapi merupakan kejadian alam yang disebabkan oleh matahari, bulan, dan bumf berada pada garis yang sejajar, sehingga bayang-bayang bulan menimpa sebagian permukaan bumi....

0 komentar:

 
Namablogkamu is proudly powered by Blogger.com | Template by o-om.com | Distributed by Blogger Templates