earth bending - water bending - fire bending - wind bending

2.26.2009

sunnah dan pengingkarannya

. 2.26.2009


PENDAHULUAN

: Sesuatu yang didapatkan dari Nabi s.a.w., yang terdiri dari sabda, perbuatan, persetujuan, sifat fisik atau budi, atau biografi, baik dari masa sebelum kenabian dan sesudahnya. Sunnah dalam pengertian ini sinonim dengan hadits menurut sebagian dari mereka itu.

Menurut istilah para ahli pokok agama (al-ushuliyyun), sunnah ialah sesuatu yang diambil dari Nabi s.a.w., yang terdiri dari sabda, perbuatan, dan persetujuan saja.
Misal sabda Nabi ialah yang dibicarakan beliau dalam berbagai kesempatan, yang berkaitan dengan penetapan hukum-hukum, seperti sabda beliaul, “Sesungguhnya semua amal itu dengan niat”. Dan seperti sabda beliau, “Tidak boleh ada wasiat untuk pewaris”.

Contoh perbuatan Nabi ialah yang ditirukan para Sahabat dari berbagai tindakan Nabi s.a.w. mengenai berbagai perkara ibadat dan yang lainnya, seperti penunaian shalat, manasik haji, adab berpuasa, serta pembuatan keputusan berdasarkan adanya saksi dan sumpah.

Contoh persetujuan ialah yang dilakukan Rasulullah s.a.w terhadap berbagai perbuatan sebagian para Sahabat dengan mendiamkannya disertai indikasi kerelaan, atau dengan memperlihatkan pujian dan dukungan.
Dalam istilah para ahli fiqh, sunnah ialah suatu hukum yang jelas berasal dari Nabi s.a.w yang tidak termasuk fardlu atau pun wajib, dan sunnah itu ada bersama wajib dan lain-lain dalam hukum yang lima. Bagi sebagian lagi, sunnah digunakan sebagai lawan bid’ah, seperti jika mereka menyatakan, “Talak menurut sunnah adalah demikian, dan talak menurut bid’ah adalah demikian”.

B. Fungsi Sunnah

Para Sahabat di masa Rasulullah memahami hukum-hukum syara’ dari al-Qur’an al-Karim yang mereka terima langsung dari Rasulullah s.a.w. Kebanyakan ayat-ayat al-Qur’an itu turun dalam garis besar, tidak dirinci, atau umum, tidak diberi batasan. Seperti perintah shalat yang datang secara garis besar, tanpa ada keterangan dalam al-Qur’an jumlah rakaatnya, cara mengerjakannya, dan waktunya. Dan seperti perintah zakat, yang datang secara umum tanpa batasan jumlah minimal harta yang wajib dizakati, dan tidak pula dijelaskan ukuran dan syarat-syaratnya. Begitu juga banyak hukum-hukum yang tidak mungkin dilaksanakan tanpa diketahui kejelasan mengenainya yang terdiri dari syarat-syarat, rukun-rukun, serta hal-hal yang membatalkannya. Maka tidak ada jalan lain kecuali mesti kembali kepada Rasulullah s.a.w. untuk mengetahui hukum-hukum itu secara rinci dan jelas.

Seterusnya banyak kejadian yang mereka alami yang tidak ada nasnya dalam al-Qur’an. Maka tidak bisa lain daripada mendapatkan kejelasan hukumnya dengan perantaraan Nabi s.a.w., sebab beliau adalah pembawa berita dari Tuhan, dan adalah yang paling tahu dari seluruh makhluk tentang maksud syari’at Allah, begitu pula batasan, metode dan tujuannya.

Allah memberitakan dalam Kitab Suci tugas Rasul dalam hubungannya dengan al-Qur’an, bahwa beliau adalah penerang dan penjelas tentang tujuan-tujuan dan ayat-ayatnya, sebagaimana difirmankan, “Dan Kami (Tuhan) turunkan kepada engkau (Muhammad) peringatan (al-Qur’an), agar engkau menerangkan kepada umat manusia apa (maksud) yang diturunkan kepada mereka itu, dan agar supaya mereka itu berpikir. Allah juga menjelaskan bahwa tugas Rasul itu ialah menunjukkan mana yang benar ketika orang berselisih mengenai suatu hal. “Dan Kami tidaklah menurunkan kepada engkau Kitab kecuali agar engkau menjelaskan kepada mereka hal-hal yang mereka perselisihkan, serta sebagai petunjuk dan rahmat bagi mereka yang beriman.” Allah juga mewajibkan manusia harus menerima keputusan Nabi segala perselisihan: “Maka demi Tuhanmu, mereka tidaklah beriman sehingga mereka mengangkat engkau (Nabi) sebagai pemutus perkara berkenaan dengan hal-hal yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak mendapatkan dalam diri mereka keberatan terhadap apa yang telah kau putuskan itu”. Juga disebutkan bahwa Nabi itu menerima al-Qur’an dan hikmah agar beliau mengajar manusia hukum-hukum agama mereka: “Sungguh Allah telah memberi karunia kepada mereka yang beriman, ketika Dia mengutus untuk mereka seorang Rasul yang membacakan untuk mereka itu ayat-ayat-Nya dan membersihkan mereka serta mengajarkan kepada mereka Kitab dan hikmah, padahal sebelumnya mereka itu sungguh berada dalam kesesatan yang nyata”.

BAB II
PEMBAHASAN


A. Sunnah dan Pengingkaran Kehujjahannya sebagai Sumber Argumen di Masa Sekarang

Di zaman sekarang ada sementara orang yang tidak begitu mendalam pengetahuannya tentang cabang ilmu ini yang tampil dengan mengingkari kedudukan Sunnah sebagai sumber argumen. Majalah al-Manar pimpinan Sayyid Rasyid Ridla Shidqi yang menyatakan pendapatnya di bawah judul “Islam Hanyalah al-Qur’an Semata”. Keraguannya (terhadap Sunnah) ringkasnya adalah demikian:

Pertama, firman Allah s.w.t., “Kami tidak meninggalkan sesuatu apapun dalam Kitab Suci.” Dan Firman-Nya, “Dan telah Kami turunkan kepadamu (Muhammad) Kitab sebagai keterangan atas segala sesuatu”. Kedua firman itu menunjukkan bahwa Kitab Suci telah memuat segala sesuatu mengenai agama beserta hukum-hukumnya, dan bahwa ia telah menjelaskan dan merincinya sehingga tidak lagi ada keperluan kepada yang lain semisal Sunnah. Kalau tidak begitu, maka berarti Kitab Suci telah meninggalkan sesuatu, dan berarti pula tidak menjadi keterangan atas segala perkara, sehingga berlainan dari keterangan Allah s.w.t., dan ini tentunya adalah mustahil.

Kedua, firman Allah s.w.t., “Sesungguhnya Kami telah menurunkan peringatan, dan sesungguhnya Kamilah Penjaganya,” yang menunjukkan bahwa Allah telah menjamin untuk terpeliharanya al-Qur’an, bukan Sunnah. Kalau seandainya Sunnah itu merupakan sumber petunjuk al-Qur’an maka tentulah Tuhan akan menanggung pula untuk keterpeliharaannya.

Ketiga, kalau seandainya Sunnah itu sumber argumen maka tentu Nabi s.a.w. memerintahkan untuk mencatanya, dan tentulah para Sahabat dan Tabi’in sesudahnya berusaha untuk mengumpulkan dan membukukannya. Sebab dalam usaha serupa itu terdapat usaha memeliharanya dari kemusnahan, perubahan, kesalahan dan keterlupaan. Dan dalam keterpeliharaan Sunnah itu dari hal-hal yang tak diharapkan tersebut terdapat jaminan untuk sampainya kepada kaum Muslimin dengan kepastian keotentikannya, mengingat bahwa sesuatu yang diwujudkan hanya berdasarkan dugaan tidak sah sebagai sumber argumen (hujjah). Allah pun telah berfirman, “Dan janganlah kamu mengikuti sesuatu yang tidak ada padamu pengetahua mengenainya,” yang dikaitkan dengan firman-Nya, “Kamu ini hanyalah mengikuti dugaan semata.” Sedangkan kepastian adanya Sunnah itu tidak lain diperoleh dengan mencatatnya sebagaimana halnya al-Qur’an. Tetapi justru yang ada ialah bahwa Nabi s.a.w. melarang menuliskan Sunnah itu. Begitu pulalah yang dilakukan oleh para Sahabat dan Tabi’in.

Begitulah ringkasan apa yang dikemukakan Dr. Shidqi, berupa skeptisisme tentang kedudukan Sunnah sebagai sumber argumen. Seorang peneliti tentu tidak sulit memastikan keracunan dan kelemahan makalah itu. Tapi kami masih ingin mengemukakan sesuatu yang membuat masalah ini lebih jelas lagi, insya’ Allah.

 Jawaban Terhadap Keraguan Pertama

Sesungguhnya al-Qur’an telah memuat pokok-pokok agama (ushulal-din), disertai nas yang jelas untuk sebagiannya, namun menyerahkannya sebagian yang lain kepada Rasulullah s.a.w. untuk menerangkannya. Dan selama Allah mengutus Utusan-Nya untuk menjelaskan kepada ummat manusia apa yang diturunkan kepada mereka berkenaan dengan hukum-hukum agama dan mewajibkan mereka menaatinya, maka keterangan apa pun yang diberikan Utusan itu adalah keterangan atas al-Qur’an. Dari sini berarti bahwa hukum qiyas yang terkait padanya dan menjadi pencabangannya, adalah sebenarnya hukum-hukum yang langsung berasal dari Kitab Allah Ta’ala, baik melalui bukti tekstual (nas) maupun bukti penyimpulan. Jadi dengan kedudukan al-Qur’an yang turun sebagai keterangan atas segala perkara. Al-Syafi’I, rahimahu-‘llah berkata, :jafdi tidak ada sesuatu apaun yang terjadi pada seseorang berkenaan dengan agama Allah melainkan mesti terdapat petunjuk dalam Kitab Allah ke arah jalan kebenaran mengenainya. Allah Yang Maha Agung dan Maha Tinggi berfirman: “Sebuah Kitab telah Kami turunkan kepadamu (Muhammad) agar engkau dapat membimbing ummat manusia keluar dari kegelapan menuju cahaya benderang dengan perkenan Tuhan mereka, yaitu ke arah jalan Dia Yang Maha Mulia dan Maha Terpuji.” Dan firman-Nya pula, “Kami telah turunkan kepadamu (Muhammad) peringatan (al-dzikir) agar engkau dapat menerangkan kepada ummat manusia (makna) apa yang telah diturunkan kepada mereka, dan agar semua merenungkan.” Lalu firman-Nya lagi, “Dan telah Kami turunkan kepada Engkau (Muhammad) Kitab sebagai keterangan (Tibyan) untuk segala sesuatu.

Al-Syafi’i juga mengatakan, “Maka setiap orang yang bersedia menerima sesuatu dari Allah dalam Kitab-Nya, ia juga harus bersedia menerima dari Sunnah Rasulullah, disebabkan oleh adanya perintah Allah kepada ummat manusia untuk mentaati Rasul-Nya itu. Mereka juga wajib menurut segala hukum Rasul, sebab sesuatu yang diterima dari Rasulullah maka juga berarti diterima dari Allah, karena adanya perintah Allah untuk mentaatinya tadi. Jadi sikap menerima sesuatu yang ada dalam Kitab Allah dan Sunnah Rasulullah mencakup penerimaan masing-masing dari keduanya itu, sekalipun terdapat perbedaan berbagai sebab penerimaannya dari masing-masing Kitab dan Sunnah tersebut.

 Jawaban Terhadap Keraguan Kedua

Sesungguhnya jaminan Allah untuk memelihara “peringatan” (al-dzikir) tidak terbatas hanya berkenaan dengan al-Qur’an saja. Melainkan, yang dimaksudkan dengan “Peringatan” itu ialah hukum Allah dan agama-Nya yang dibawa oleh Rasul yang diutus oleh-Nya. Jadi pengertiannya lebih luas daripada hanya al-Qur’an dan Sunnah saja. Ini dibuktikan oleh firman Allah Ta’ala, “Bertanyalah kamu semua kepada yang ahli tentang peringatan itu (al-dzikir) jika kamu tidak mengetahui.” Yakni ahli ilmu tentang agama Allah dan Syari’ah-Nya. Tidak diragukan lagi bahwa Allah, sebagaimana Dia itu memelihara Kitab-Nya, juga memelihara Sunnah, yaitu dengan menampilkan para pelopor ilmu yang memelihara, mengkomunikasikan, mempelajari dan meneliti mana yang otentik dan mana yang palsu dari Sunnah itu.mereka ini telah menghabiskan umur mereka dalam usaha tersebut, dan telah bekerja keras sebagaimana telah kami kemukakan dalam fasal ketiga bab pertama di muka. Dengan demikian jadilah Sunnah Rasul itu terus dipelajari, dipelihara dan direkam dari sumber-sumbernya, tidak ada satu pun yang luput.

 Jawaban Terhadap Keraguan Ketiga

Tidak adanya perintah Nabi s.a.w. untuk menuliskan Sunnah, bahkan larangan beliau untuk melakukan hal itu, sebagaimana dikemukakan dalam beberapa hadits yang shahih, tidaklah menunjukkan bahwa Sunnah itu tidak dapat dijadikan sumber hujjah. Tetapi hal itu ialah, sebagaimana telah kami kemukakan ketika membahas sejarah pencatatan Sunnah, karena kepentingan umum (al-mashlahah) waktu itu mengharuskan pemusatan kemampuan para penulis dikalangan Sahabat – melihat jumlah mereka yang cukup sedikit – untuk hanya menuliskan al-Qur’an dan merekamny, serta pemusatan perhatian kaum Musilimin kepada usaha memelihara Kitab Allah, karena ditakutkan akan hilang atau tercampur dengan sesuatu yang lain. Telah kita buktikan bahwa larangan yang datang dari Nabi itu ialah berkenaan hanya dengan pembukuan hadits dan perekamannya secara resmi seperti al-Qur’an. Tetapi jika seseorang menulisnya untuk dirinya sendiri, maka hal itu telah terjadi pada masa hidup Rasulullah s.a.w.

Sumber hujjah tidaklah terbatas hanya kepada al-Qur’an sehingga dapat dikatakan: “Seandainya Sunnah sebagai sumber hujjah itu memang dimaksudkan oleh Nabi, tentulah beliau memerintahkan menulisnya.” Sebab kehujjahan dapat terjadi dapat beberapa hal, antara lain ialah tawatur (penuturan dan persaksian oleh orang banyak), atau penuturan oleh tokoh-tokoh yang jujur yang dapat dipercaya, atau tulisan. Al-Qur’an sendiri tidak dibukukan di zaman Abu Bakar itu hanya berdasarkan kepada lembaran-lembaran tertulis saja, bahkan catatan tertulis saja tidak dianggap cukup sampai terbukti adanya tawatur pada hafalan para Sahabat untuk setiap ayat daripadanya. Kemudian penuturan lewat catatan tertulis, lebih-lebih lagi bagi kalangan bangsa Arab yang terkenal kuat menghafal dan dalam hal itu tampil dengan berbagai hal menakjubkan.

Kalau hal tersebut ditambah lagi dengan unsur kehati-hatian sehingga jangan ada seseorang diantara mereka yang mencatat hadits yang mengadung keraguan, apalagi kekeliruan, kita dapat mengerti cerita tentang Abu Bakar, ia membakar lembara hadits-hadits. Ini pun kalau memang penuturan itu benar. Kalau tidak, maka yang benar ialah yang dikatakan oleh al-Dzahabi bahwa cerita itu tidak otentik, dan inilah yang lebih menentramkan hati

Adapun pendapat bahwa Sunnah itu terlambat untuk dicatat sehingga lenyaplah unsur-unsur kehandalan tentang keontentikannya dan menjadi bernilai dugaan semata, padahal hal yang bernilai dugaan tidak bisa dijadikan sumber pemahaman agama Allah, maka itu adalah pendapat orang yang tidak mengerti perjuangan para “ulama” melawan usaha penyelewengan dan pemalsuan hadits. Karena Sunnah telah dikomunikasikan melalui ingatan dan hafalan, kadang kala juga tulisan, sejak dari masa para Sahabat sampai penghujung abad pertama ketika al-Zuhri memulai usaha pencatatan Sunnah atas perintah “Umar Ibn ‘Abd al-Aziz”. Ini berarti bahwa mata rantai pemeliharaan dan pelestarian hadits itu berkesinambungan tanpa terputus-putus, sehingga tidak mengizinkan adanya keraguan lagi.

Adapun kebohongan yang sempat mencemarkan Sunnah, maka hal itu telah dialawan oleh para “ulama”. Dan telah pula mereka jelaskan duduk persoalannya, sehingga tidak ada lagi alasan untuk meraguka.

BAB III
KESIMPULAN

Ringkasnya, mengingkari kedudukan Sunnah sebagai sumber hujjah dan klaim bahwa Islam adalah al-Qur’an semata tidak pernah dianut oleh seorang muslim yang mengetahui benar-benar agama Allah dan hukum-hukum Syari’ah-Nya. Pendapat serupa itu bertentangan dengan kenyataan, sebab sebagian besar hukum syari’ah ditetapkan dengan Sunnah, sedangkan hukum-hukum yang ada dalam al-Qur’an biasanya berupa garis besar dan berupa kaidah-kaidah umum. Jika tidak demikian, lalu dimana al-Qur’an kita dapatkan bahwa shalat itu ada lima, dan dimana kita temukan jumlah rakaat shalat, takaran-takaran zakat, rincian ibadah haji, dan hukum-hukum mu’amalat dan ibadat yang lain? Ibn Hazm, rahimahu’llah, berkata, “Dibagian mana dalam al-Qur’an bisa diketemukan keterangan bahwa shalat zhuhur empat rakaat, shalat magrib tiga rakaat, ruku’ harus dilakukan dengan cara tertentu, sujud harus dilakukan dengan cara tertentu pula, sifat bacaan dan salam di dalamnya; juga keterangan tentang apa yang harus dijauhi pada waktu berpuasa, keterangan tentang cara zakat emas, perak, kambing, onta, sapi, serta seberapa ukuran harta yang bisa diambil zakatnya, dan berapa ukuran zakat yang diambil itu; begitu pula penjelasan tentang berbagai amalan haji diwaktu wukuf di Arafah serta cara shalat di sana dan di Muzdalifah, lalu pelemparan jumrah-jumrah, cara ihram dan yang harus dijauhi selama ihram itu. Begitu pula masalah bagaimana melaksanakan hukum potong tangan seorang pencuri, hukum saudara susu yang muhrim, makanan yang haram dan cara menyembelih hewan dan mengorbankannya, hukum-hukum hadd, masalah talak, hukum jual beli, kejelasan tentang riba, pembalasan dan tuduhan, sumpah, penimbunan harta, sedekah, dan berbagai hukum fiqh yang lain yang ada dalam al-Qur’an hanyalah garis-garis besar, yang jika biarkan seperti apa adanya maka kita tidak akan tahu bagaimanan melaksanakannya. Acuan untuk itu semua tidak lain ialah penuturan dari Nabi s.a.w bahkan ijma’ pun hanya berkenaan dengan masalah-masalah yang ringan. Maka tidak boleh tidak mesti mengacu kepada hadits. Seandainya ada yang berkata, “Kami tidak mengikuti kecuali yang ada dalam al-Qur’an” maka ia secara ijmak “Adalah kafir dan tentulah ia tidak berkewajiban selain dari shalat satu rakaat antara terbenamnya matahari dan gelapnya malam, dan satu rakaat lagi di waktu fajar. Karena, itulah pengertian minimal apa yang dinamakan shalat, dan tidak ada batas untuk pengertian maksimalnya. Orang yang berpendapat serupa itu adalah kafir dan musyrik, yang halal darah dan hartanya. Yang menganut pandangan seseorang tidak mau mengambil hukum kecuali yang disepakati oleh ummat saja, dan meninggalkan sesuatu yang mereka perselisihkan tentang nas-nas yang ada mengenai perkara itu, maka ia adalah fasik menurut kesepakatan ummat. Jadi dua pengantar ini secara pasti membawa kepada kesimpulan tentang wajibnya berpegang kepada naql (Kitab dan Sunnah).

A. Arti Sunnah dan Definisinya

Sunnah dalam pengertian kebahasaan; jalan, baik yang terpuji atau pun yang tercela. Dalam pengertian ini ialah sabda Nabi s.a.w. “Barang siapa membuat sunnah yang terpuji maka baginnya pahala sunnah itu dan pahala orang lain yang mengamalkannya, dan barang siapa menciptakan sunnah yang buruk maka padanya dosa sunnah buruk itu dan dosa orang yang mengamalkannya sampai hari kiamat”. Juga sebuah hadits, “Kamu semua pasti akan mengikuti sunnah-sunnah mereka sebelum kamu sejengkal demi sejengkal dan sehasta demi sehasta.”

Dan sunnah itu dalam pengertian para ahli hadits ialah ...

1 komentar:

tukang nggame mengatakan...

Terima kasih mas, tuk pencerahannya.
Sangat bermanfaat buat saya

 
Namablogkamu is proudly powered by Blogger.com | Template by o-om.com | Distributed by Blogger Templates