earth bending - water bending - fire bending - wind bending

8.27.2009

Puasa Tetapi Tidak Shalat

. 8.27.2009
0 komentar


Al Lajnah Ad Da’imah lil Buhuts Ilmiyyah wal Ifta’ (Komisi Fatwa di Saudi Arabia) pernah ditanya:
“Apabila seseorang hanya semangat melakukan puasa dan shalat di bulan Ramadhan, namun setelah Ramadhan berakhir dia meninggalkan shalat, apakah puasanya di bulan Ramadhan diterima?”


Jawab:

“Shalat merupakan salah satu rukun Islam. Shalat merupakan rukun Islam terpenting setelah dua kalimat syahadat. Dan hukum shalat adalah wajib bagi setiap individu. Barangsiapa meninggalkan shalat karena menentang kewajibannya atau meninggalkannya karena menganggap remeh dan malas-malasan, maka dia telah kafir. Adapun orang yang melakukan puasa Ramadhan dan mengerjakan shalat hanya di bulan Ramadhan saja, maka orang seperti ini berarti telah melecehkan agama Allah. (Sebagian salaf mengatakan), “Sejelek-jelek kaum adalah yang mengenal Allah (rajin ibadah, pen) hanya pada bulan Ramadhan saja.”

Oleh karena itu, tidak sah puasa seseorang yang tidak melaksanakan shalat di luar bulan Ramadhan. Bahkan orang seperti ini (yang meninggalkan shalat) dinilai kafir dan telah melakukan kufur akbar, walaupun orang ini tidak menentang kewajiban shalat. Orang seperti ini tetap dianggap kafir menurut pendapat ulama yang paling kuat. Karena Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sendiri telah bersabda,

الْعَهْدُ الَّذِى بَيْنَنَا وَبَيْنَهُمُ الصَّلاَةُ فَمَنْ تَرَكَهَا فَقَدْ كَفَرَ

“Perjanjian antara kami dan mereka (orang kafir) adalah mengenai shalat, barangsiapa meninggalkannya maka dia telah kafir.” (HR. Ahmad, Abu Daud, At Tirmidzi, An Nasa’i, Ibnu Majah dengan sanad yang shahih dari Buraidah Al Aslamiy)

Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda,

رَأْسُ الأَمْرِ الإِسْلاَمُ وَعَمُودُهُ الصَّلاَةُ وَذِرْوَةُ سَنَامِهِ الْجِهَادُ فِي سَبِيْلِ اللهِ

“Inti (pokok) segala perkara adalah Islam, tiangnya (penopangnya) adalah shalat, dan puncaknya adalah jihad di jalan Allah.” (HR. Tirmidzi dengan sanad shahih dari Mu’adz bin Jabal radhiyallahu ‘anhu)

بَيْنَ الرَّجُلِ وَبَيْنَ الْكُفْرِ وَ الشِّرْكِ تَرْكُ الصَّلاَةِ

“Pembatas antara seorang muslim dengan kekafiran dan kesyirikan adalah meninggalkan shalat.” (HR. Muslim dari Jabir bin ‘Abdillah Al Anshoriy)

Dan banyak hadits yang semakna dengan hadits-hadits di atas.

Wa billahit taufiq, wa shallallahu ‘ala Nabiyyina Muhammad wa alihi wa shohbihi wa sallam.

Al Lajnah Ad-Daimah Lil Buhuts Al ‘Ilmiyyah wal Ifta’
Ditandatangani oleh ‘Abdullah bin Mani’ dan ‘Abdullah bin Ghodyan selaku anggota, ‘Abdur Rozaq ‘Afifi selaku Wakil Ketua dan ‘Abdul ‘Aziz bin ‘Abdillah bin Baz selaku Ketua.

[Sumber: Fatawa Al Lajnah Ad Da-imah Lil Buhuts Ilmiyyah wal Ifta', pertanyaan ke-3, Fatawa no. 102, 10/139-141]

***

Setelah kita menyimak tulisan di atas, sudah selayaknya seorang muslim menjaga amalan shalat agar amalan lainnnya pun menjadi teranggap dan bernilai di sisi Allah. Kadar Islam seseorang akan dinilai dari penjagaan dirinya terhadap shalat. Imam Ahmad –rahimahullah- mengatakan, “Setiap orang yang meremehkan perkara shalat, berarti telah meremehkan agama. Seseorang memiliki bagian dalam Islam sebanding dengan penjagaannya terhadap shalat lima waktu. Seseorang yang dikatakan semangat dalam Islam adalah orang yang betul-betul memperhatikan shalat lima waktu. Kenalilah dirimu, wahai hamba Allah. Waspadalah! Janganlah engkau menemui Allah, sedangkan engkau tidak memiliki bagian dalam Islam. Kadar Islam dalam hatimu, sesuai dengan kadar shalat dalam hatimu.” (Lihat Ash Sholah, hal. 12)

Oleh karena itu, sudah saatnya seorang hamba yang sering melalaikan shalat untuk bertaubat sebenar-benarnya dengan ikhlas karen Allah, menyesali dosa yang telah dia lakukan, kembali rutin mengerjakan shalat dan bertekad untuk tidak meninggalkannya lagi. Semoga Allah memudahkan kita dalam melakukan ketaatan kepada-Nya dan menerima setiap taubat kita. Amin Yaa Mujibas Sa’ilin. [Muhammad Abduh Tuasikal]

***

Penerjemah: Muhammad Abduh Tuasikal
Artikel www.muslim.or.id


Syaikh Muhammad bin Sholih Al ‘Utsaimin -rahimahullah- pernah ditanya: “Apa hukum orang yang berpuasa namun meninggalkan shalat?”


Beliau rahimahullah menjawab:

“Puasa yang dilakukan oleh orang yang meninggalkan shalat tidaklah diterima karena orang yang meninggalkan shalat adalah kafir dan murtad. Dalil bahwa meninggalkan shalat termasuk bentuk kekafiran adalah firman Allah Ta’ala,

فَإِنْ تَابُوا وَأَقَامُوا الصَّلَاةَ وَآَتَوُا الزَّكَاةَ فَإِخْوَانُكُمْ فِي الدِّينِ وَنُفَصِّلُ الْآَيَاتِ لِقَوْمٍ يَعْلَمُونَ

“Jika mereka bertaubat, mendirikan sholat dan menunaikan zakat, maka (mereka itu) adalah saudara-saudaramu seagama. Dan Kami menjelaskan ayat-ayat itu bagi kaum yang mengetahui.” (Qs. At Taubah [9]: 11)

Alasan lain adalah sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,

بَيْنَ الرَّجُلِ وَبَيْنَ الشِّرْكِ وَالْكُفْرِ تَرْكُ الصَّلاَةِ

“Pembatas antara seorang muslim dengan kesyirikan dan kekafiran adalah meninggalkan shalat.” (HR. Muslim no. 82)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda,

الْعَهْدُ الَّذِى بَيْنَنَا وَبَيْنَهُمُ الصَّلاَةُ فَمَنْ تَرَكَهَا فَقَدْ كَفَرَ

“Perjanjian antara kami dan mereka (orang kafir) adalah mengenai shalat. Barangsiapa meninggalkannya maka dia telah kafir.” (HR. Ahmad, At Tirmidzi, An Nasa’i, Ibnu Majah. Dikatakan shahih oleh Syaikh Al Albani)

Pendapat yang mengatakan bahwa meninggalkan shalat merupakan suatu kekafiran adalah pendapat mayoritas sahabat Nabi bahkan dapat dikatakan pendapat tersebut adalah ijma’ (kesepakatan) para sahabat.

‘Abdullah bin Syaqiq –rahimahullah- (seorang tabi’in yang sudah masyhur) mengatakan, “Para sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidaklah pernah menganggap suatu amalan yang apabila seseorang meninggalkannya akan menyebabkan dia kafir selain perkara shalat.” [Perkataan ini diriwayatkan oleh At Tirmidzi dari 'Abdullah bin Syaqiq Al 'Aqliy; seorang tabi'in. Hakim mengatakan bahwa hadits ini bersambung dengan menyebut Abu Hurairah di dalamnya. Dan sanad (periwayat) hadits ini adalah shohih. Lihat Ats Tsamar Al Mustathob fi Fiqhis Sunnah wal Kitab, hal. 52, -pen]

Oleh karena itu, apabila seseorang berpuasa namun dia meninggalkan shalat, puasa yang dia lakukan tidaklah sah (tidak diterima). Amalan puasa yang dia lakukan tidaklah bermanfaat pada hari kiamat nanti.



***

Penerjemah: Muhammad Abduh Tuasikal
Artikel www.muslim.or.id

Oleh sebab itu, kami katakan, “Shalatlah kemudian tunaikanlah puasa.” Adapun jika engkau puasa namun tidak shalat, amalan puasamu akan tertolak karena orang kafir (karena sebab meninggalkan shalat) tidak diterima ibadah dari dirinya.

[Sumber: Majmu' Fatawa wa Rosa-il Ibnu 'Utsaimin, 17/62, Asy Syamilah]

Klik disini untuk melanjutkan »»

Dzikir-Dzikir di Bulan Ramadhan

.
0 komentar


Dzikir-Dzikir di Bulan Ramadhan

Dzikir Ketika Melihat Hilal

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika melihat hilal beliau membaca,

اللَّهُمَّ أَهِلَّهُ عَلَيْنَا بِالْيُمْنِ وَالإِِيمَانِ ، وَالسَّلامَةِ وَالإِِسْلامِ ، رَبِّي وَرَبُّكَ اللَّهُ

“Allahumma ahillahu ‘alayna bilyumni wal iimaani was salaamati wal islaami. Robbii wa Robbukallah. [Ya Allah, tampakkan bulan itu kepada kami dengan membawa keberkahan dan keimanan, keselamatan dan Islam. Rabbku dan Rabbmu (wahai bulan sabit) adalah Allah]” (HR. Ahmad, Tirmidzi, dan Ad Darimi. Syaikh Syu’aib Al Arnauth mengatakan bahwa hadits ini hasan karena memiliki penguat dari hadits lainnya)

Ucapan Ketika Dicela atau Diganggu (Diusilin) Orang Lain

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

فَإِنْ سَابَّكَ أَحَدٌ أَوْ جَهُلَ عَلَيْكَ فَلْتَقُلْ : إِنِّي صَائِمٌ ، إِنِّي صَائِمٌ

“Apabila ada seseorang yang mencelamu atau berbuat usil padamu, katakanlah padanya, “Inni shoo-imun, inni shoo-imun [Aku sedang puasa, aku sedang puasa]“.” (HR. Ibnu Majah dan Hakim. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shohih). An Nawawi mengatakan, “Termasuk yang dianjurkan adalah jika seseorang dicela oleh orang lain atau diajak berkelahi ketika dia sedang berpuasa, maka katakanlah “Inni shoo-imun, inni shoo-imun [Aku sedang puasa, aku sedang puasa]“, sebanyak dua kali atau lebih. (Al Adzkar, 183)

Do’a Ketika Berbuka

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika berbuka membaca,

ذَهَبَ الظَّمَأُ وَابْتَلَّتِ الْعُرُوقُ وَثَبَتَ الأَجْرُ إِنْ شَاءَ اللَّهُ

“Dzahabazh zhoma-u wabtallatil ‘uruqu wa tsabatal ajru insya Allah [Rasa haus telah hilang dan urat-urat telah basah, dan pahala telah ditetapkan insya Allah]” (HR. Abu Daud. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini hasan)

Adapun mengenai do’a berbuka yang biasa tersebar di tengah-tengah kaum muslimin: “Allahumma laka shumtu wa bika aamantu wa ‘ala rizqika afthortu….”, perlu diketahui bahwa ada beberapa riwayat yang membicarakan do’a ketika berbuka semacam ini. Di antaranya adalah dalam Sunan Abu Daud no. 2357, Ibnus Sunni dalam ‘Amalul Yaum wal Lailah no. 481 dan no. 482. Namun hadits-hadits yang membicarakan hal ini adalah hadits-hadits yang lemah. Di antara hadits tersebut ada yang mursal yang dinilai lemah oleh para ulama pakar hadits. Juga ada perowi yang meriwayatkan hadits tersebut yang dinilai lemah dan pendusta oleh para ulama pakar hadits. (Lihat Dho’if Abu Daud no. 2011 dan catatan kaki Al Adzkar yang ditakhrij oleh ‘Ishomuddin Ash Shobaabtiy)

Do’a Kepada Orang yang Memberi Makan dan Minum

Ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam diberi minum, beliau pun mengangkat kepalanya ke langit dan mengucapkan,

أَللَّهُمَّ أَطْعِمْ مَنْ أَطْعَمَنِى وَأَسْقِ مَنْ سْقَانِى

“Allahumma ath’im man ath’amanii wasqi man saqoonii” [Ya Allah, berilah ganti makanan kepada orang yang memberi makan kepadaku dan berilah minuman kepada orang yang memberi minuman kepadaku] (HR. Muslim no. 2055)

Do’a Ketika Berbuka Puasa di Rumah Orang Lain

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika disuguhkan makanan oleh Sa’ad bin ‘Ubadah, beliau mengucapkan,

أَفْطَرَ عِنْدَكُمُ الصَّائِمُونَ وَأَكَلَ طَعَامَكُمُ الأَبْرَارُ وَصَلَّتْ عَلَيْكُمُ الْمَلاَئِكَةُ

“Afthoro ‘indakumush shoo-imuuna wa akala tho’amakumul abroor wa shollat ‘alaikumul malaa-ikah [Orang-orang yang berpuasa berbuka di tempat kalian, orang-orang yang baik menyantap makanan kalian dan malaikat pun mendo'akan agar kalian mendapat rahmat].” (HR. Abu Daud dan Ibnu Majah. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih)

Do’a Setelah Shalat Witir

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa pada saat witir membaca surat “Sabbihisma Robbikal a’laa” (surat Al A’laa), “Qul yaa ayyuhal kaafiruun” (surat Al Kafirun), dan “Qul huwallahu ahad” (surat Al Ikhlas). Kemudian setelah salam beliau mengucapkan

سُبْحَانَ الْمَلِكِ الْقُدُّوسِ

“Subhaanal malikil qudduus”, sebanyak tiga kali dan beliau mengeraskan suara pada bacaan ketiga. (HR. Abu Daud dan An Nasa-i. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih)

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam juga mengucapkan di akhir witirnya,

اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِرِضَاكَ مِنْ سَخَطِكَ وَبِمُعَافَاتِكَ مِنْ عُقُوبَتِكَ وَأَعُوذُ بِكَ مِنْكَ لاَ أُحْصِى ثَنَاءً عَلَيْكَ أَنْتَ كَمَا أَثْنَيْتَ عَلَى نَفْسِكَ

“Allahumma inni a’udzu bika bi ridhooka min sakhotik wa bi mu’afaatika min ‘uqubatik, wa a’udzu bika minka laa uh-shi tsanaa-an ‘alaik, anta kamaa atsnaita ‘ala nafsik” [Ya Allah, aku berlindung dengan keridhoan-Mu dari kemarahan-Mu, dan dengan kesalamatan-Mu dari hukuman-Mu dan aku berlindung kepada-Mu dari siksa-Mu. Aku tidak mampu menghitung pujian dan sanjungan kepada-Mu, Engkau adalah sebagaimana yang Engkau sanjukan kepada diri-Mu sendiri]. (HR. Abu Daud, Tirmidzi, An Nasa-i dan Ibnu Majah. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih)

Do’a di Malam Lailatul Qadar

Sangat dianjurkan untuk memperbanyak do’a pada lailatul qadar, lebih-lebih do’a yang dianjurkan oleh suri tauladan kita –Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam- sebagaimana terdapat dalam hadits dari Aisyah. Beliau radhiyallahu ‘anha berkata, “Katakan padaku wahai Rasulullah, apa pendapatmu, jika aku mengetahui suatu malam adalah lailatul qadar. Apa yang aku katakan di dalamnya?” Beliau menjawab, “Katakanlah:

اللَّهُمَّ إِنَّكَ عَفُوٌّ كَرِيمٌ تُحِبُّ الْعَفْوَ فَاعْفُ عَنِّى

‘Allahumma innaka ‘afuwwun tuhibbul ‘afwa fa’fu anni’ [Ya Allah sesungguhnya Engkau Maha Pemaaf lagi Maha Mulia yang menyukai permintaan maaf, maafkanlah aku].” (HR. Tirmidzi dan Ibnu Majah. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih)

***

Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal (http://rumaysho.com)
Dipublikasikan oleh muslim.or.id
Shalat ini dinamakan tarawih yang artinya istirahat karena orang yang melakukan shalat tarawih beristirahat setelah melaksanakan shalat empat raka’at. Shalat tarawih termasuk qiyamul lail atau shalat malam. Akan tetapi shalat tarawih ini dikhususkan di bulan Ramadhan. Jadi, shalat tarawih ini adalah shalat malam yang dilakukan di bulan Ramadhan. (Lihat Al Jaami’ li Ahkamish Sholah, 3/63 dan Al Mawsu’ah Al Fiqhiyyah Al Kuwaitiyyah, 2/9630)


Adapun shalat tarawih tidak disyariatkan untuk tidur terlebih dahulu dan shalat tarawih hanya khusus dikerjakan di bulan Ramadhan. Sedangkan shalat tahajjud menurut mayoritas pakar fiqih adalah shalat sunnah yang dilakukan setelah bangun tidur dan dilakukan di malam mana saja. (Al Mawsu’ah Al Fiqhiyyah Al Kuwaitiyyah, 2/9630)

Para ulama sepakat bahwa shalat tarawih hukumnya adalah sunnah (dianjurkan). Bahkan menurut Ahnaf, Hanabilah, dan Malikiyyah, hukum shalat tarawih adalah sunnah mu’akkad (sangat dianjurkan). Shalat ini dianjurkan bagi laki-laki dan perempuan. Shalat tarawih merupakan salah satu syi’ar Islam. (Al Mawsu’ah Al Fiqhiyyah Al Kuwaitiyyah, 2/9631)

Keutamaan Shalat Tarawih

Pertama, akan mendapatkan ampunan dosa yang telah lalu.

Dari Abu Hurairah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ قَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ

“Barangsiapa melakukan qiyam Ramadhan karena iman dan mencari pahala, maka dosa-dosanya yang telah lalu akan diampuni.” (HR. Bukhari no. 37 dan Muslim no. 759). Yang dimaksud qiyam Ramadhan adalah shalat tarawih sebagaimana yang dituturkan oleh An Nawawi. (Syarh Muslim, 3/101)

Hadits ini memberitahukan bahwa shalat tarawih bisa menggugurkan dosa dengan syarat karena iman yaitu membenarkan pahala yang dijanjikan oleh Allah dan mencari pahala dari Allah, bukan karena riya’ atau alasan lainnya. (Fathul Bari, 6/290)

Yang dimaksud “pengampunan dosa” dalam hadits ini adalah bisa mencakup dosa besar dan dosa kecil berdasarkan tekstual hadits, sebagaimana ditegaskan oleh Ibnul Mundzir. Namun An Nawawi mengatakan bahwa yang dimaksudkan pengampunan dosa di sini adalah khusus untuk dosa kecil. (Lihat Fathul Bari, 6/290)

Kedua, shalat tarawih bersama imam seperti shalat semalam penuh.

Dari Abu Dzar, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah mengumpulkan keluarga dan para sahabatnya. Lalu beliau bersabda,

إِنَّهُ مَنْ قَامَ مَعَ الإِمَامِ حَتَّى يَنْصَرِفَ كُتِبَ لَهُ قِيَامُ لَيْلَةً

“Siapa yang shalat bersama imam sampai ia selesai, maka ditulis untuknya pahala qiyam satu malam penuh.” (HR. Ahmad dan Tirmidzi. Syaikh Al Albani dalam Al Irwa’ 447 mengatakan bahwa hadits ini shahih). Hal ini sekaligus merupakan anjuran agar kaum muslimin mengerjakan shalat tarawih secara berjama’ah dan mengikuti imam hingga selesai.

Ketiga, shalat tarawih adalah seutama-utamanya shalat.

Ulama-ulama Hanabilah (madzhab Hambali) mengatakan bahwa seutama-utamanya shalat sunnah adalah shalat yang dianjurkan dilakukan secara berjama’ah. Karena shalat seperti ini hampir serupa dengan shalat fardhu. Kemudian shalat yang lebih utama lagi adalah shalat rawatib (shalat yang mengiringi shalat fardhu, sebelum atau sesudahnya). Shalat yang paling ditekankan dilakukan secara berjama’ah adalah shalat kusuf (shalat gerhana) kemudian shalat tarawih. (Al Mawsu’ah Al Fiqhiyyah Al Quwaitiyyah, 2/9633)

Tarawih Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam

Dari Abu Salamah bin ‘Abdirrahman, dia mengabarkan bahwa dia pernah bertanya pada ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, “Bagaimana shalat malam Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam di bulan Ramadhan?” ‘Aisyah mengatakan,

مَا كَانَ رَسُولُ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – يَزِيدُ فِى رَمَضَانَ وَلاَ فِى غَيْرِهِ عَلَى إِحْدَى عَشْرَةَ رَكْعَةً

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak pernah menambah jumlah raka’at dalam shalat malam di bulan Ramadhan dan tidak pula dalam shalat lainnya lebih dari 11 raka’at.” (HR. Bukhari no. 1147 dan Muslim no. 738)

Dari Jabir bin ‘Abdillah radhiyallahu ‘anhu, beliau menuturkan, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah shalat bersama kami di bulan Ramadhan sebanyak 8 raka’at lalu beliau berwitir. Pada malam berikutnya, kami pun berkumpul di masjid sambil berharap beliau akan keluar. Kami terus menantikan beliau di situ hingga datang waktu fajar. Kemudian kami menemui beliau dan bertanya, “Wahai Rasulullah, sesungguhnya kami menunggumu tadi malam, dengan harapan engkau akan shalat bersama kami.” Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Sesungguhnya aku khawatir kalau akhirnya shalat tersebut menjadi wajib bagimu.” (HR. Ath Thabrani, Ibnu Hibban dan Ibnu Khuzaimah. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa derajat hadits ini hasan. Lihat Shalat At Tarawih, hal. 21)

As Suyuthi mengatakan, “Telah ada beberapa hadits shahih dan juga hasan mengenai perintah untuk melaksanakan qiyamul lail di bulan Ramadhan dan ada pula dorongan untuk melakukannya tanpa dibatasi dengan jumlah raka’at tertentu. Dan tidak ada hadits shahih yang mengatakan bahwa jumlah raka’at tarawih yang dilakukan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah 20 raka’at. Yang dilakukan oleh beliau adalah beliau shalat beberapa malam namun tidak disebutkan batasan jumlah raka’atnya. Kemudian beliau pada malam keempat tidak melakukannya agar orang-orang tidak menyangka bahwa shalat tarawih adalah wajib.”

Ibnu Hajar Al Haitsamiy mengatakan, “Tidak ada satu hadits shahih pun yang menjelaskan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melaksanakan shalat tarawih 20 raka’at. Adapun hadits yang mengatakan “Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa melaksanakan shalat (tarawih) 20 raka’at”, ini adalah hadits yang sangat-sangat lemah.” (Al Mawsu’ah Al Fiqhiyyah Al Quwaitiyyah, 2/9635)

Ibnu Hajar Al Asqolani mengatakan, “Adapun yang diriwayatkan oleh Ibnu Abi Syaibah dari hadits Ibnu ‘Abbas bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam shalat di bulan Ramadhan 20 raka’at ditambah witir, sanad hadits itu adalah dho’if. Hadits ‘Aisyah yang mengatakan bahwa shalat Nabi tidak lebih dari 11 raka’at juga bertentangan dengan hadits Ibnu Abi Syaibah ini. Padahal ‘Aisyah sendiri lebih mengetahui seluk-beluk kehidupan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pada waktu malam daripada yang lainnya. Wallahu a’lam.” (Fathul Bari, 6/295)

Jumlah Raka’at Shalat Tarawih yang Dianjurkan

Jumlah raka’at shalat tarawih yang dianjurkan adalah tidak lebih dari 11 atau 13 raka’at. Inilah yang dipilih oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagaimana disebutkan dalam hadits-hadits yang telah lewat.

‘Aisyah mengatakan, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak pernah menambah jumlah raka’at dalam shalat malam di bulan Ramadhan dan tidak pula dalam shalat lainnya lebih dari 11 raka’at.” (HR. Bukhari no. 1147 dan Muslim no. 738)

Dari Ibnu ‘Abbas, beliau berkata,

كَانَ صَلاَةُ النَّبِىِّ – صلى الله عليه وسلم – ثَلاَثَ عَشْرَةَ رَكْعَةً . يَعْنِى بِاللَّيْلِ

“Shalat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam di malam hari adalah 13 raka’at.” (HR. Bukhari no. 1138 dan Muslim no. 764). Sebagian ulama mengatakan bahwa shalat malam yang dilakukan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah 11 raka’at. Adapun dua raka’at lainnya adalah dua raka’at ringan yang dikerjakan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagai pembuka melaksanakan shalat malam, sebagaimana hal ini dikatakan oleh Ibnu Hajar dalam Fathul Bari (4/123, Asy Syamilah)

Bolehkah Menambah Raka’at Shalat Tarawih Lebih Dari 11 Raka’at?

Mayoritas ulama terdahulu dan ulama belakangan, mengatakan bahwa boleh menambah raka’at dari yang dilakukan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Ibnu ‘Abdil Barr mengatakan, “Sesungguhnya shalat malam tidak memiliki batasan jumlah raka’at tertentu. Shalat malam adalah shalat nafilah (yang dianjurkan), termasuk amalan dan perbuatan baik. Siapa saja boleh mengerjakan sedikit raka’at. Siapa yang mau juga boleh mengerjakan banyak.” (At Tamhid, 21/70)

Yang membenarkan pendapat ini adalah dalil-dalil berikut.

Pertama, sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,

صَلاَةُ اللَّيْلِ مَثْنَى مَثْنَى فَإِذَا خِفْتَ الصُّبْحَ فَأَوْتِرْ بِوَاحِدَةٍ

“Shalat malam adalah dua raka’at dua raka’at. Jika engkau khawatir masuk waktu shubuh, lakukanlah shalat witir satu raka’at.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Kedua, sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,

فَأَعِنِّى عَلَى نَفْسِكَ بِكَثْرَةِ السُّجُودِ

“Bantulah aku (untuk mewujudkan cita-citamu) dengan memperbanyak sujud (shalat).” (HR. Muslim no. 489)

Ketiga, sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,

فَإِنَّكَ لاَ تَسْجُدُ لِلَّهِ سَجْدَةً إِلاَّ رَفَعَكَ اللَّهُ بِهَا دَرَجَةً وَحَطَّ عَنْكَ بِهَا خَطِيئَةً

“Sesungguhnya engkau tidaklah melakukan sekali sujud kepada Allah melainkan Allah akan meninggikan satu derajat bagimu dan menghapus satu kesalahanmu.” (HR. Muslim no. 488)

Dari dalil-dalil di atas menunjukkan beberapa hal:

Keempat, Pilihan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang memilih shalat tarawih dengan 11 atau 13 raka’at ini bukanlah pengkhususan dari tiga dalil di atas.

Alasan pertama, perbuatan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidaklah mengkhususkan ucapan beliau sendiri, sebagaimana hal ini telah diketahui dalam ilmu ushul.

Alasan kedua, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidaklah melarang menambah lebih dari 11 raka’at. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah mengatakan, “Shalat malam di bulan Ramadhan tidaklah dibatasi oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan bilangan tertentu. Yang dilakukan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah beliau tidak menambah di bulan Ramadhan atau bulan lainnya lebih dari 13 raka’at, akan tetapi shalat tersebut dilakukan dengan raka’at yang panjang. …Barangsiapa yang mengira bahwa shalat malam di bulan Ramadhan memiliki bilangan raka’at tertentu yang ditetapkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, tidak boleh ditambahi atau dikurangi dari jumlah raka’at yang beliau lakukan, sungguh dia telah keliru.” (Majmu’ Al Fatawa, 22/272)

Alasan ketiga, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak memerintahkan para sahabat untuk melaksanakan shalat malam dengan 11 raka’at. Seandainya hal ini diperintahkan tentu saja beliau akan memerintahkan sahabat untuk melaksanakan shalat 11 raka’at, namun tidak ada satu orang pun yang mengatakan demikian. Oleh karena itu, tidaklah tepat mengkhususkan dalil yang bersifat umum yang telah disebutkan di atas. Dalam ushul telah diketahui bahwa dalil yang bersifat umum tidaklah dikhususkan dengan dalil yang bersifat khusus kecuali jika ada pertentangan.

Kelima, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa melakukan shalat malam dengan bacaan yang panjang dalam setiap raka’at. Di zaman setelah beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam, orang-orang begitu berat jika melakukan satu raka’at begitu lama. Akhirnya, ‘Umar memiliki inisiatif agar shalat tarawih dikerjakan dua puluh raka’at agar bisa lebih lama menghidupkan malam Ramadhan, namun dengan bacaan yang ringan.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah mengatakan, “Tatkala ‘Umar mengumpulkan manusia dan Ubay bin Ka’ab sebagai imam, dia melakukan shalat sebanyak 20 raka’at kemudian melaksanakan witir sebanyak tiga raka’at. Namun ketika itu bacaan setiap raka’at lebih ringan dengan diganti raka’at yang ditambah. Karena melakukan semacam ini lebih ringan bagi makmum daripada melakukan satu raka’at dengan bacaan yang begitu panjang.” (Majmu’ Al Fatawa, 22/272)

Keenam, telah terdapat dalil yang shahih bahwa ‘Umar bin Al Khottob pernah mengumpulkan manusia untuk melaksanakan shalat tarawih, Ubay bin Ka’ab dan Tamim Ad Daari ditunjuk sebagai imam. Ketika itu mereka melakukan shalat tarawih sebanyak 21 raka’at. Mereka membaca dalam shalat tersebut ratusan ayat dan shalatnya berakhir ketika mendekati waktu shubuh. (Diriwayatkan oleh ‘Abdur Razaq no. 7730, Ibnul Ja’di no. 2926, Al Baihaqi 2/496. Sanad hadits ini shahih. Lihat Shahih Fiqh Sunnah, 1/416)

Begitu juga terdapat dalil yang menunjukkan bahwa mereka melakukan shalat tarawih sebanyak 11 raka’at. Dari As Saa-ib bin Yazid, beliau mengatakan bahwa ‘Umar bin Al Khottob memerintah Ubay bin Ka’ab dan Tamim Ad Daariy untuk melaksanakan shalat tarawih sebanyak 11 raka’at. As Saa-ib mengatakan, “Imam membaca ratusan ayat, sampai-sampai kami bersandar pada tongkat karena saking lamanya. Kami selesai hampir shubuh.” (HR. Malik dalam Al Muqatho’, 1/137, no. 248. Sanadnya shahih. Lihat Shahih Fiqih Sunnah 1/418)

Berbagai Pendapat Mengenai Jumlah Raka’at Shalat Tarawih

Jadi, shalat tarawih 11 atau 13 raka’at yang dilakukan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bukanlah pembatasan. Sehingga para ulama dalam pembatasan jumlah raka’at shalat tarawih ada beberapa pendapat.

Pendapat pertama, yang membatasi hanya sebelas raka’at. Alasannya karena inilah yang dilakukan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Inilah pendapat Syaikh Al Albani dalam kitab beliau Shalatut Tarawaih.

Pendapat kedua, shalat tarawih adalah 20 raka’at (belum termasuk witir). Inilah pendapat mayoritas ulama semacam Ats Tsauri, Al Mubarok, Asy Syafi’i, Ash-haabur Ro’yi, juga diriwayatkan dari ‘Umar, ‘Ali dan sahabat lainnya. Bahkan pendapat ini adalah kesepakatan (ijma’) para sahabat.

Al Kasaani mengatakan, “‘Umar mengumpulkan para sahabat untuk melaksanakan qiyam Ramadhan lalu diimami oleh Ubay bin Ka’ab radhiyallahu Ta’ala ‘anhu. Lalu shalat tersebut dilaksanakan 20 raka’at. Tidak ada seorang pun yang mengingkarinya sehingga pendapat ini menjadi ijma’ atau kesepakatan para sahabat.”

Ad Dasuuqiy dan lainnya mengatakan, “Shalat tarawih dengan 20 raka’at inilah yang menjadi amalan para sahabat dan tabi’in.”

Ibnu ‘Abidin mengatakan, “Shalat tarawih dengan 20 raka’at inilah yang dilakukan di timur dan barat.”

‘Ali As Sanhuriy mengatakan, “Jumlah 20 raka’at inilah yang menjadi amalan manusia dan terus menerus dilakukan hingga sekarang ini di berbagai negeri.”

Al Hanabilah mengatakan, “Shalat tarawih 20 raka’at inilah yang dilakukan dan dihadiri banyak sahabat. Sehingga hal ini menjadi ijma’ atau kesepakatan sahabat. Dalil yang menunjukkan hal ini amatlah banyak.” (Lihat Al Mawsu’ah Al Fiqhiyyah Al Kuwaitiyyah, 2/9636)

Pendapat ketiga, shalat tarawih adalah 39 raka’at dan sudah termasuk witir. Inilah pendapat Imam Malik. Beliau memiliki dalil dari riwayat Daud bin Qois, dikeluarkan oleh Ibnu Abi Syaibah dan riwayatnya shahih. (Lihat Shahih Fiqh Sunnah, 1/419)

Pendapat keempat, shalat tarawih adalah 40 raka’at dan belum termasuk witir. Sebagaimana hal ini dilakukan oleh ‘Abdurrahman bin Al Aswad shalat malam sebanyak 40 raka’at dan beliau witir 7 raka’at. Bahkan Imam Ahmad bin Hambal melaksanakan shalat malam di bulan Ramadhan tanpa batasan bilangan sebagaimana dikatakan oleh ‘Abdullah. (Lihat Kasyaful Qona’ ‘an Matnil Iqna’, 3/267)

Kesimpulan dari pendapat-pendapat yang ada adalah sebagaimana dikatakan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, “Semua jumlah raka’at di atas boleh dilakukan. Melaksanakan shalat malam di bulan Ramadhan dengan berbagai macam cara tadi itu sangat bagus. Dan memang lebih utama adalah melaksanakan shalat malam sesuai dengan kondisi para jama’ah. Kalau jama’ah kemungkinan senang dengan raka’at-raka’at yang panjang, maka lebih bagus melakukan shalat malam dengan 10 raka’at ditambah dengan witir 3 raka’at, sebagaimana hal ini dipraktekkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sendiri di bulan Ramdhan dan bulan lainnya. Dalam kondisi seperti itu, demikianlah yang terbaik.

Namun apabila para jama’ah tidak mampu melaksanakan raka’at-raka’at yang panjang, maka melaksanakan shalat malam dengan 20 raka’at itulah yang lebih utama. Seperti inilah yang banyak dipraktekkan oleh banyak ulama. Shalat malam dengan 20 raka’at adalah jalan pertengahan antara jumlah raka’at shalat malam yang sepuluh dan yang empat puluh. Kalaupun seseorang melaksanakan shalat malam dengan 40 raka’at atau lebih, itu juga diperbolehkan dan tidak dikatakan makruh sedikitpun. Bahkan para ulama juga telah menegaskan dibolehkannya hal ini semisal Imam Ahmad dan ulama lainnya.

Oleh karena itu, barangsiapa yang menyangka bahwa shalat malam di bulan Ramadhan memiliki batasan bilangan tertentu dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sehingga tidak boleh lebih atau kurang dari 11 raka’at, maka sungguh dia telah keliru.” (Majmu’ Al Fatawa, 22/272)

Dari penjelasan di atas kami katakan, hendaknya setiap muslim bersikap arif dan bijak dalam menyikapi permasalahan ini. Sungguh tidak tepatlah kelakuan sebagian saudara kami yang berpisah dari jama’ah shalat tarawih setelah melaksanakan shalat 8 atau 10 raka’at karena mungkin dia tidak mau mengikuti imam yang melaksanakan shalat 23 raka’at atau dia sendiri ingin melaksanakan shalat 23 raka’at di rumah.

Orang yang keluar dari jama’ah sebelum imam menutup shalatnya dengan witir juga telah meninggalkan pahala yang sangat besar. Karena jama’ah yang mengerjakan shalat bersama imam hingga imam selesai –baik imam melaksanakan 11 atau 23 raka’at- akan memperoleh pahala shalat seperti shalat semalam penuh. “Siapa yang shalat bersama imam sampai ia selesai, maka ditulis untuknya pahala qiyam satu malam penuh.” (HR. Ahmad dan Tirmidzi. Syaikh Al Albani dalam Al Irwa’ 447 mengatakan bahwa hadits ini shahih). Semoga Allah memafkan kami dan juga mereka.

Yang Paling Bagus adalah yang Panjang Bacaannya

Setelah penjelasan di atas, tidak ada masalah untuk mengerjakan shalat 11 atau 23 raka’at. Namun yang terbaik adalah yang dilakukan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, namun berdirinya agak lama. Dan boleh juga melakukan shalat tarawih dengan 23 raka’at dengan berdiri yang lebih ringan sebagaimana banyak dipilih oleh mayoritas ulama.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

أَفْضَلُ الصَّلاَةِ طُولُ الْقُنُوتِ

“Sebaik-baik shalat adalah yang lama berdirinya.” (HR. Muslim no. 756)

Dari Abu Hurairah, beliau berkata,

عَنِ النَّبِىِّ -صلى الله عليه وسلم- أَنَّهُ نَهَى أَنْ يُصَلِّىَ الرَّجُلُ مُخْتَصِرًا

“Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang seseorang shalat mukhtashiron.” (HR. Bukhari dan Muslim). Ibnu Hajar –rahimahullah- membawakan hadits di atas dalam kitab beliau Bulughul Marom, Bab “Dorongan agar khusu’ dalam shalat.” Sebagian ulama menafsirkan ikhtishor (mukhtashiron) dalam hadits di atas adalah shalat yang ringkas (terburu-buru), tidak ada thuma’ninah ketika membaca surat, ruku’ dan sujud. (Lihat Syarh Bulughul Marom, Syaikh ‘Athiyah Muhammad Salim, 49/3, Asy Syamilah)

Oleh karena itu, tidak tepat jika shalat 23 raka’at dilakukan dengan kebut-kebutan, bacaan Al Fatihah pun kadang dibaca dengan satu nafas. Bahkan kadang pula shalat 23 raka’at yang dilakukan lebih cepat selesai dari yang 11 raka’at. Ini sungguh suatu kekeliruan. Seharusnya shalat tarawih dilakukan dengan penuh khusyu’ dan thuma’ninah, bukan dengan kebut-kebutan. Semoga Allah memberi taufik dan hidayah.

Salam Setiap Dua Raka’at

Para pakar fiqih berpendapat bahwa shalat tarawih dilakukan dengan salam setiap dua raka’at. Karena tarawih termasuk shalat malam. Sedangkan shalat malam dilakukan dengan dua raka’at salam dan dua raka’at salam. Dasarnya adalah sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,

صَلاَةُ اللَّيْلِ مَثْنَى مَثْنَى

“Shalat malam adalah dua raka’at dua raka’at.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Ulama-ulama Malikiyah mengatakan, “Dianjurkan bagi yang melaksanakan shalat tarawih untuk melakukan salam setiap dua raka’at dan dimakruhkan mengakhirkan salam hingga empat raka’at. … Yang lebih utama adalah salam setelah dua raka’at.” (Lihat Al Mawsu’ah Al Fiqhiyyah Al Kuwaitiyyah, 2/9640)

Istirahat Tiap Selesai Empat Raka’at

Para ulama sepakat tentang disyariatkannya istirahat setiap melaksanakan shalat tarawih empat raka’at. Inilah yang sudah turun temurun dilakukan oleh para salaf. Namun tidak mengapa kalau tidak istirahat ketika itu. Dan juga tidak disyariatkan untuk membaca do’a tertentu ketika melakukan istirahat. Inilah pendapat yang benar dalam madzhab Hambali. (Lihat Al Inshof, 3/117)

Dasar dari hal ini adalah perkataan ‘Aisyah yang menjelaskan tata cara shalat malam Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,

يُصَلِّى أَرْبَعَ رَكَعَاتٍ فَلاَ تَسْأَلْ عَنْ حُسْنِهِنَّ وَطُولِهِنَّ ، ثُمَّ يُصَلِّى أَرْبَعًا فَلاَ تَسْأَلْ عَنْ حُسْنِهِنَّ وَطُولِهِنَّ

“Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melaksanakan shalat 4 raka’at, maka janganlah tanyakan mengenai bagus dan panjang raka’atnya. Kemudian beliau melaksanakan shalat 4 raka’at lagi, maka janganlah tanyakan mengenai bagus dan panjang raka’atnya.” (HR. Bukhari no. 3569 dan Muslim no. 738)

Sebagai catatan penting, tidaklah disyariatkan membaca dzikir-dzikir tertentu atau do’a tertentu ketika istirahat setiap melakukan empat raka’at shalat tarawih, sebagaimana hal ini dilakukan sebagian muslimin di tengah-tengah kita yang mungkin saja belum mengetahui bahwa hal ini tidak ada tuntunannya dalam ajaran Islam. (Lihat Shahih Fiqih Sunnah, 1/420)

Ulama-ulama Hambali mengatakan, “Tidak mengapa jika istirahat setiap melaksanakan empat raka’at shalat tarawih ditinggalkan. Dan tidak dianjurkan membaca do’a-do’a tertentu ketika waktu istirahat tersebut karena tidak adanya dalil yang menunjukkan hal ini.” (Lihat Al Mawsu’ah Al Fiqhiyyah Al Kuwaitiyyah, 2/9639)

Surat yang Dibaca Ketika Shalat Tarawih

Tidak ada riwayat mengenai bacaan surat tertentu dalam shalat tarawih yang dilakukan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Jadi, surat yang dibaca boleh berbeda-beda sesuai dengan keadaan. Imam dianjurkan membaca bacaan surat yang tidak sampai membuat jama’ah bubar meninggalkan shalat. Seandainya jama’ah senang dengan bacaan surat yang panjang-panjang, maka itu lebih baik berdasarkan riwayat-riwayat yang telah kami sebutkan.

Ada anjuran dari sebagian ulama semacam ulama Hanafiyah dan Hambali untuk mengkhatamkan Al Qur’an di bulan Ramadhan dengan tujuan agar manusia dapat mendengar seluruh Al Qur’an ketika melaksanakan shalat tarawih.

Kesalahan-Kesalahan Dalam Shalat Tarawih

1. Menyeru Jama’ah dengan “Ash Sholaatul Jaami’ah”. Ulama-ulama hanabilah berpendapat bahwa tidak ada ucapan untuk memanggil jama’ah dengan ucapan “Ash Sholaatul Jaami’ah”. Menurut mereka, ini termasuk perkara yang diada-adakan (baca: bid’ah). (Lihat Al Mawsu’ah Al Fiqhiyyah, 2/9634)
2. Dzikir Jama’ah dengan Dikomandoi. Syaikh Abdul ‘Aziz bin Baz rahimahullah tatkala menjelaskan mengenai dzikir setelah shalat mengatakan, “Tidak diperbolehkan para jama’ah membaca dizkir secara berjama’ah. Akan tetapi yang tepat adalah setiap orang membaca dzikir sendiri-sendiri tanpa dikomandai oleh yang lain. Karena dzikir secara berjama’ah (bersama-sama) adalah sesuatu yang tidak ada tuntunannya dalam syari’at Islam yang suci ini.” (Majmu’ Fatawa Ibnu Baz, 11/189).
3. Bubar Sebelum Imam Selesai Shalat Malam. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Siapa yang shalat (malam) bersama imam hingga ia selesai, maka ditulis untuknya pahala melaksanakan shalat satu malam penuh.” (HR. Ahmad dan Tirmidzi, Shahih). Jika seseorang bubar terlebih dahulu sebelum imam selesai, maka dia akan kehilangan pahala yang disebutkan dalam hadits ini. Jika imam melaksanakan shalat tarawih ditambah shalat witir, makmum pun seharusnya ikut menyelesaikan bersama imam. Itulah yang lebih tepat.

Demikian sedikit pembahasan kami seputar shalat tarawih. Semoga Allah memberi taufik kepada kita agar dapat menghidupkan malam Ramadhan dengan shalat tarawih dan amalan lainnya.

Wa shallaatu wa salaamu ‘ala Nabiyyina Muhammad wa ‘ala alihi wa shohbihi ajma’in. Alhamdulillahi robbil ‘alamin.

***
Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal (http://rumaysho.com)
Dipublikasikan oleh www.muslim.or.id


Demikian sedikit pembahasan kami seputar shalat tarawih. Semoga Allah memberi taufik kepada kita agar dapat menghidupkan malam Ramadhan dengan shalat tarawih dan amalan lainnya.

Wa shallaatu wa salaamu ‘ala Nabiyyina Muhammad wa ‘ala alihi wa shohbihi ajma’in. Alhamdulillahi robbil ‘alamin.

***
Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal (http://rumaysho.com)
Dipublikasikan oleh www.muslim.or.id

Klik disini untuk melanjutkan »»

Fatwa MUI tentang Penetapan Awal Ramadhan, Syawal & Dzulhijjah

.
0 komentar


Fatwa MUI tentang Penetapan Awal Ramadhan, Syawal & Dzulhijjah

KEPUTUSAN FATWA MAJELIS ULAMA INDONESIA
Nomor 2 Tahun 2004
Tentang
PENETAPAN AWAL RAMADHAN, SYAWAL, DAN DZULHIJJAH

Majelis Ulama Indonesia,

MENIMBANG:

* (a) bahwa umat Islam Indonesia dalam melaksanakan puasa Ramadan, salat Idul Fitr dan Idul Adha, serta ibadah-ibadah lain yang terkait dengan ketiga bulan tersebut terkadang tidak dapat melakukannya pada hari dan tanggal yang sama disebabkan perbedaan dalam penetapan awal bulan-bulan tersebut;
* (b) bahwa keadaan sebagaimana tersebut pada huruf a dapat menimbulkan citra dan dampak negatif terhadap syi’ar dan dakwah Islam;
* (c) bahwa Ijtima’ Ulama Komisi Fatwa se-Indonesia pada tanggal 22 Syawwal 1424 H/16 Desember 2003 telah menfatwakan tentang penetapan awal bulan Ramadhan, Syawwal, dan Dzulhijjah, sebagai upaya mengatasi hal di atas;
* (d) bahwa oleh karena itu, Majelis Ulama Indonesia memandang perlu menetapkan fatwa tentang penetapan awal bulan Ramadhan, Syawwal, dan Dzulhijjah dimaksud untuk dijadikan pedoman.

MENGINGAT:

1. Firman Allah SWT (Subhanahu wa Ta’ala), antara lain :

* (QS Yunus [10]: 5) : Dia-lah yang menjadikan matahari bersinar dan bulan bercahaya dan ditetapkan-Nya manzilah-manzilah (tempat-tempat) bagi perjalanan bulan itu, supaya kamu mengetahui bilangan tahun dan perhitungan waktu…
* (QS. an-Nisa’ [4]: 59) : Hai orang-orang yang beriman, taatlah kepada Allah, taatlah kepada Rasul dan ulil-amri di antara kamu.

2. Hadis-hadis Nabi s.a.w. (shallallahu ‘alaihi wa sallam), antara lain :

* (H.R. Bukhari Muslim dari Ibnu Umar) : “Janganlah kamu berpuasa (Ramadhan) sehingga melihat tanggal (satu Ramadhan) dan janganlah berbuka (mengakhiri puasa Ramadhan) sehingga melihat tanggal (satu Syawwal). Jika dihalangi oleh awan/mendung maka kira-kirakanlah”.
* (Bukhari Muslim dari Abu Hurairah) : “Berpuasalah (Ramadhan) karena melihat tanggal (satu Ramadhan). Dan berbukalah (mengakhiri puasa Ramadhan) karena melihat tanggal (satu Syawwal). Apabila kamu terhalangi, sehingga tidak dapat melihatnya maka sempurnakanlah bilangan Sya’ban tiga puluh hari”.
* (H.R. Bukhari dari Irbadh bin Sariyah) : “Wajib bagi kalian untuk taat (kepada pemimpin), meskipun yang memimpin kalian itu seorang hamba sahaya Habsyi”.

3. Qa’idah fiqh: “Keputusan pemerintah itu mengikat (wajib dipatuhi) dan menghilangkan silang pendapat”.

MEMPERHATIKAN:

1. Pendapat para ulama ahli fiqh; antara lain pendapat Imam al-Syarwani dalam Hasyiyah al-Syarwani.
2. Keputusan Ijtima Ulama Komisi Fatwa se-Indonesia tentang penetapan awal bulan Ramadhan, Syawwal, dan Dzulhijjah, tanggal 22 Syawwal 1424/16 Desember 2003.
3. Keputusan Rapat Komisi Fatwa MUI, tanggal 05 Dzulhijjah 1424/24 Januari 2004.

Dengan memohon ridha Allah SWT

MEMUTUSKAN

MENETAPKAN : FATWA TENTANG PENETAPAN AWAL RAMADHAN, SYAWAL, DAN DZULHIJJAH

Pertama : Fatwa

1. Penetapan awal Ramadhan, Syawal, dan Dzulhijjah dilakukan berdasarkan metode ru’yah dan hisab oleh Pemerintah RI cq Menteri Agama dan berlaku secara nasional.
2. Seluruh umat Islam di Indonesia wajib menaati ketetapan Pemerintah RI tentang penetapan awal Ramadhan, Syawal, dan Dzulhijjah.
3. Dalam menetapkan awal Ramadhan, Syawal, dan Dzulhijjah, Menteri Agama wajib berkonsultasi dengan Majelis Ulama Indonesia, ormas-ormas Islam dan Instansi terkait.
4. Hasil rukyat dari daerah yang memungkinkan hilal dirukyat walaupun di luar wilayah Indonesia yang mathla’nya sama dengan Indonesia dapat dijadikan pedoman oleh Menteri Agama RI.


Fatwa MUI tentang Penetapan Awal Ramadhan, Syawal & Dzulhijjah

KEPUTUSAN FATWA MAJELIS ULAMA INDONESIA
Nomor 2 Tahun 2004
Tentang
PENETAPAN AWAL RAMADHAN, SYAWAL, DAN DZULHIJJAH

Majelis Ulama Indonesia,

MENIMBANG:

Klik disini untuk melanjutkan »»

8.19.2009

samurai x himura battosai kenshin

. 8.19.2009
1 komentar



Samurai X memiliki judul asli Rurouni Kenshin ialah manga dan anime karya Nobuhiro Watsuki yang berlatar belakang awal dari era Meiji di Jepang. Manga ini terbit di majalah mingguan Shonen Jump dan telah dibukukan menjadi 28 seri buku. Di Indonesia manga ini diterbitkan oleh Elex Media Komputindo pada tahun 2002 dengan judul Samurai X.

Manga ini bercerita tentang seorang samurai dari kelompok Chosu yang telah berhasil memenangkan pertempuran pada zaman ke-shogun-an Tokugawa yang pada akhirnya membentuk zaman baru di Jepang yang disebut zaman Meiji. Pada zaman Meiji, seseorang tidak lagi diperbolehkan membawa pedang di jalanan.

Pada masa ini, Kenshin Himura atau lebih dikenal sebagai "Hitokiri Battousai" atau Batosai si pembantai, menyesali perbuatannya di masa lampau yang telah membunuh banyak orang, dan dia bersumpah untuk tidak membunuh seorangpun di masa ini. Untuk itu Kenshin menggunakan pedang "Sakabatou", yang bermata tajam terbalik.

Nama Samurai X pertama kali digunakan oleh ADV Films dalam merilis anime Rurouni Kenshin di Amerika. Nama ini diambil dari tanda codet berbentuk X di wajah Kenshin.

Tokoh

* Tokoh utama
1. Kenshin Himura
2. Kaoru Kamiya
3. Sanosuke Sagara
4. Yahiko Myojin
5. Megumi Takani



* Tokoh tambahan
1. Seijuro Hiko
2. Eiji Mishima
3. Misao Makimachi
4. Makoto Shishio
5. Aoshi Shinomori
6. Enishi Yukishiro
7. Hajime Saito
8. Sojiro Seta
9. Tsukayama Yutaro

Lagu Tema

* Lagu pembuka
1. "Sobakasu" oleh Judy & Mary (Episode 1-38)
2. "½" oleh Kawamoto Makoto (Episode 39-82)
3. "Kimi ni Fureru Dake de" oleh Curio (Episode 83-95)
* Lagu penutup
1. "Tactics" oleh The Yellow Monkey (Episode 1-12)
2. "Namida wa Shitte iru" oleh Mayo Suzukaze (Episode 13-27)
3. "Heart of Sword ~ Yoake Mae" oleh T.M. Revolution (Episode 28-38, 43-49)
4. "Fourth Avenue Cafe" oleh L'Arc~en~Ciel (Episode 39-42)
5. "It's Gonna Rain" oleh Bonnie Pink (Episode 50-66)
6. "1/3 no Junjo na Kanjo" oleh Siam Shade (Episode 67-82)
7. "Dame!" oleh You Izumi (Episode 83-95)

Di Indonesia, Film "Samurai X" atau nama aslinya "Robby" versi animasi/kartun ditayangkan pertama kalinya di channel "SCTV/Surya Citra Televisi" bekerjasama dengan channel luar negeri "ANIMAX" sebagai alternatif program anak-anak pada hari Senin-Jumat pukul 15:00-16:00 wib. Mulai tayang pada Senin, 6 Maret 2000 s/d Kamis, 14 Juli 2000 dengan rating dan respon penonton anak-anak dan remaja(PG-PG13-Teenager) yang memuaskan. Didistribusikan oleh perusahaan film "Columbia Pictures/Sony Pictures Television". Ini baru serial "samurai-x" musim pertama. musim kedua sampai kelima belum tayang di indonesia. OST.Samurai-X cukup laris dan akrab ditelinga pendengar musik Japanese-Music. Aslinya ada 95 episode musim pertama, tapi didistribusikan di indonesia cuma 85 episode. Karena ada SENSOR dan demand marketing. Beberapa tahun kemudian, RCTI, ANTV, Trans TV menayang ulang kembali serial ini hingga akhir 2005. Namun kini kembali ditayangkan oleh Global TV setiap hari pkl.18:30 WIB.

Biografi Tokoh Utama

-Rorouni Kenshin,

adalah seorang samurai legendaris, nama lainnya adalah KenshinHimura.Untuk beberapa tahun ia hidup menjadi Battousai,Si Pembantai.. Ia adalah yang terbaik dari semua pembunuh bayaran yang terbaik. Ia memiliki tehnik yang sempurna. Dia sukses berkat Shishio Hiko Seijuro. Kenshin adalah satu-satunya pembantai yang ditakutkan pada masa Revolusi Meji. Setelah peperangan berakhir dan kematian istrinya Tomoe Himura, dia berjanji tidak akan membunuh lagi karena memorinya telah mati. Dia menjuluki dirinya dengan Kenshin dan menjadi seorang pengembara, menggunakan pedang dengan mata pisau terbalik, dan dilahirkan hanya untuk menjaga orang yang dia cintai. Dia memiliki gaya berpedang Hiten Mitsurugi Ryu dari Seijuro Hiko.
Beberapa tahun, dia melihat, merasakan, dan hidup dari darah para musuhnya. Pembunuhan terjadi dari ketakutan dan perlawanan dia. Dia ingin keluar dari hidup ini, dan ingin hidup damai. Pengembara samurai itu telah melupakan masa lalunya dan kini ia menjalani hidupnya yang sekarang. Si samurai tidak pernah menggunakan pedangnya lagi. Dia telah memiliki pedang baru, mata pedang terbalik dia berjanji tidak akan membunuh lagi. Tapi suatu waktu, Battousai tidak pernah mati. Dalam pengembaraannya Kenshin Himura menemukan tentang kota Tokyo dan Kyoto, berjumpa dengan musuh dan sahabat-sahabatnya

- Kaoru Kamiya,

Profil :
Umur : 17 tahun
Tanggal lahir : 2 Juni 1862
Pekerjaan : Guru Kendo
Keluarga : Kamiya Koshijiro (ayah, almarhum)
Kenshin Himura (suami)
Himura Kenji (putra)

adalah seorang gadis yatim piatu. Dialah guru dari sekolah kendo dari Tokyo bernama Kamiya Kasshin-Ryu.Dialah asisten pelatih dari gaya pedang Kamiya Kasshin. Sekolah mulai kehilangan semua siswa bila imposter mulai membunuh sejumlah besar orang dan mengklaim sebagai "Hitokiri Battosai dari Kamiya Kasshin-Ryu”. . Kaoru mendapatkannya tetapi sebelum dia dibunuh dia diselamatkan oleh Hitokiri Battosai, sekarang menjadi pengembara Kenshin Himura kepadanya dia menawarkan untuk tinggal di dojo sebagai catatan Kenshin dialah orang yang lemah lembut, bukan dari hitokiri. Selanjutnya Kaoru jatuh cinta kepada Kenshin, yang selalu salah berkomitmen tentang masa lalunya, dan dia percaya bahwa dirinya tidak pantas bahagia. Setelah insiden Gohei, tempat latihannya dibuka kembali hanya dengan 1 murid, dan selanjutnya 2. Beranjak dewasa dia sangat dekat dengan Kenshin. Dia menikah dengan kenshin dan dikaruniakan seorang anak yang diberi nama Kenji.

- Sanosuke Sagara,

Profil :
Kelamin : Laki-laki
Umur : 19 tahun
Ciri-ciri : Rambut cokelat, Mata coklat


dalah anggota Sekihoutai, sekelompok bersenjata yang mengajak warga untuk mendukung pemerintahan Meiji. Di akhir revolusi, Ishin-shishi (imperialis) mengecap Sekihoutai sebagai penipu, penyebar isu tidak benar tentang pajak, dan akhirnya seluruh anggota Sekihoutai dieksekusi. Sanosuke merupakan satu-satunya anggota yang masih hidup. Sejak itu Sanosuke hidup sebagai petarung dan sangat membenci imperialis.
Bertahun-tahun ia mengembara melewati Edo. Suatu hari ia bertemu seseorang bernama Gohei, dan ditawari untuk membunuh Kenshin. Melihat Battousai merupakan imperialis terkuat, ia menyetujuinya.Saat bertarung dengan Kenshin, Sano terkalahkan oleh jurus Kenshin,Hitten Mitsurugi, yang juga merusak zanbatoe-nya. Walaupun sebenarnya Sano memiliki kekuatan yang sangat besar dan stamina tinggi.
Akhirnya Sano memutuskan untuk bergabung dengan Kenshin dan teman-temannya karena ia melihat karakter Kenshin sangat mirip dengan idola masa kecilnya, Kapten Sagara ( yang namanya digunakan sebagi nama belakang Sano),
Dia belajar banyak tentang futail no kiwami dari biksu Anji. Setelah menjadi buronan di jepang dia pindah ke cina.

- Yahiko Myojin,

Profil :
Usia : 10 tahun
Tanggal lahir : 6 Agustus 1868



adalah ketua perkumpulan pickpocket dan menjadi murid kenshin dan kaoru. Cita-citanya ingin menjadi seperti kenshin dan melindungi apa yang dia cintai. Dan selanjutnya dia yang mewariskan pedang mata terbalik milik kenshin.

- Megumi,

adalah dokter wanita yang pintar. Dia berubah hidupnya setelah diselamatkan oleh sanosuke ketika dia mencoba untuk bunuh diri. Dia wanita yang cerewet.

Biografi Tokoh Tambahan

- Aoshi Shinomori,

Adalah pemimpin depan group Oniwaban. Dia adalah tentara sewaan dalam Revolusi. Dia harus mengalahkan Battousai si pembantai. Setelah dikalahkan oleh Kenshin, Aoshi belajar tentang kehidupan dan kehidupan itu untuk apa. Aoshi lebih baik diam dan menyimpan pemikirannya untuk dia sendiri.

- Hajime Saitou,
adalah pemimpin 3 pasukan dari Shinsengumi pada Revolusi Meji. Dia melawan Battousai Si pembantai. Tehnik pedangnya adalah Gatostu.

- Seijuro Hiko,

adalah generasi kelima dari Hiten Mitsurugi Ryuu. Dia memberikan nama kenshin yang sebelumnya adalah Shinta, karena nama itu tidak cocok untuk pejuang. Dia mengajarkan kenshin ilmu pedang Hiten Mitsurugi Ryuu, KuzoRyuu Sen dan Amakekeru Ryuu No Hirameki. Dia senang memnggil kenshin dengan sebutan “Murid yang bodoh”..

- Shishio Makato,

adalah musuh besar Battousai si pembantai.
- amma al idsa = saujiro generasi ke 8 Hiten Mitsurugi Ryu dari Seijuro Hiko tapi belum masuk dvd .he..he..
amurai X

Samurai X memiliki judul asli Rurouni Kenshin ialah manga dan anime karya Nobuhiro Watsuki yang berlatar belakang awal dari era Meiji di Jepang. Manga ini terbit di majalah mingguan Shonen Jump dan telah dibukukan menjadi 28 seri buku. Di Indonesia manga ini diterbitkan oleh Elex Media Komputindo pada tahun 2002 dengan judul Samurai X.
Nama Samurai X pertama kali digunakan oleh ADV Films dalam merilis anime Rurouni Kenshin di Amerika. Nama ini diambil dari tanda codet berbentuk X di wajah Kenshin.

Tokoh
Tokoh utama
Kenshin Himura
Kaoru Kamiya
Sanosuke Sagara
Yahiko Myojin
Megumi Takani
Tokoh tambahan
Seijuro Hiko
Makoto Shishio
Aoshi Shinomori
Enishi Yukishiro
Hajime Saito
Sojiro Seta
[sunting]
Lagu Tema
Lagu pembuka
“Sobakasu” oleh Judy & Mary (Episode 1-38)
“½” oleh Kawamoto Makoto (Episode 39-82)
“Kimi ni Fureru Dake de” oleh Curio (Episode 83-95)
Lagu penutup
“Tactics” oleh The Yellow Monkey (Episode 1-12)
“Namida wa Shitte iru” oleh Mayo Suzukaze (Episode 13-27)
“Heart of Sword ~ Yoake Mae” oleh T.M. Revolution (Episode 28-38, 43-49)
“Fourth Avenue Cafe” oleh L’Arc~en~Ciel (Episode 39-42)
“It’s Gonna Rain” oleh Bonnie Pink (Episode 50-66)
“1/3 no Junjō na Kanjō” oleh Siam Shade (Episode 67-82)
“Dame!” oleh You Izumi (Episode 83-95)

Kisah
Di tujuh tahun era meiji (1878), si pengembara pedang telah mengembara di tokyo. Dia membawa Sakabatou (pedang dengan mata pedang terbalik), dan dia memiliki tanda X di pipi kirinya. Dia hanya selalu sendiri dan sendiri.

Tidak tau bagaimana, seorang gadis yang bernama Kaoru Kamiya menuduh dan meng-klaim dia sebagai sang legendaris Hitokiri Battousai. Orang ini yang membunuh orang-orang yang ada dalam keluarga kaoru. Ketika dia menyelamatkannya dari kematian, gadis ini mengajak tinggal di Doujo ( tempat latihan beladiri )miliknya, karena alasan dia tidak memiliki tempat tinggal. Inilah awal kelanjutan cerita dari Kenshin Himura.

Sebelum restorasi Meiji, Kenshin Himura dikenal dengan nama Hitokiri (Pembunuh) Battousai. Di jaman itu dia adalah pembunuh terkenal untuk group Reformist yang bernama Ishin Shishi. Tidak tau kenapa, ketika pemerintahan yang lama jatuh, Hitokiri Battousai menghilang. Kenshin mengembara ke negara lain selama 11 tahun lamanya; dunia menyatakan bahwa dia telah hilang atau mati.

Ketika Kenshin bertemu Kaoru, dia tidak beridentitas Hitokiri Battousai lagi. Pedang dia bukan pedang biasa, tapi dengan mata pedang terbalik (Sakabatou), maksudnya dia tidak akan bisa membunuh orang lagi, tetapi di gunakan untuk mempertahankan dirinya. Kenshin adalah seseorang yang ingin mencoba melupakan masa lalunya, dan membuat masa depan baru sendiri. Dengan bantuan Kaoru dan beberapa orang yang ia temui, ia mendapatkan perubahan itu.

KAMIYA DOUJO
Kaoru Doujo membuka lagi sekolah beladiri. Setelah kedatangan Kenshin, kenshin dan Kaoru menolong seorang anak yang bernama Yahiko Myojin. Yahiko sedang terdesak oleh salah satu gang, kaoru hendak menolongnya tetapi mereka terlalu banyak. Kenshin langsung respon dan menyelamatkan mereka berdua. Ketika anak itu berkata kepada kenshin, bahwa dirinya ingin seperti kenshin, kenshin langsung menyambutnya bahwa dia tidak akan mengajari siapa pun bagaimana cara mumbunuh dan dia bertanya kepada Kaoru apakah dia mau mengajari anak itu, dan akhirnya Kaoru setuju untuk mengajari beladiri berpedang kepada anak itu.

Sanosuke orang pertama yang datang ke doujo itu. Sangat kuat, Sanosuke menggunakan pedang Zanba raksasa. Pedang ini di desain susah dalam penggunaannya, tetapi Sanosuke sangat mampu menggunakan pedang itu secara normal. Ketika sekelompok orang mabuk berat di sebuah restoran dan membuat onar, sanosuke langsung menantang mereka dan akhirnya sanosukepun menang. Setelah itu, Sanosuke menantang Kenshin, tetapi dia menolaknya. Sementara itu, salah satu dari pengunjung bar menyewa siapa saja yg bisa membunuh Kenshin. Setelah perkelahian terjadi, Kenshin menang. Selanjutnya mereka berdua menjadi teman dan tinggal di doujo.

Dan yang terakhir adalah megumi. Dia adalah seorang doctor muda, dia bekerja pada doctor lain yang menyuplai Opium kepada para penjahat. Ketika doctor itu mati, megumi yang mengambil alih, bagaimana cara membuat obat-obatan. Setelah kenshin menemukannya dia baru menjadi dokter klinik dan membantu di doujo itu.

LATAR BELAKANG CERITA
Rurouni Kenshin berlatar belakang pada era Meiji, pada waktu 1868. Itu adalah saat-saat perubahan baik untuk jepang. Politik dan Ekonomi sangat berperan penting dalam cerita kenshin ini.

ROBOHNYA PASUKAN SHOGUN ERA TOKUGAWA
Sebelum restorasi meiji, jepang memiliki pasukan shogun selama 200 tahun lebih. Setelah pertarungan dengan Sekigahara, pada tahun 1600-an, Tokugawa Ieyasu menyatukan jepang dan menyatakan dirinya sebagai Shogun, memerintah negara jepang.

Setelah periode Tokugawa (1600-1858), di jepang terbagi menjadi tiga kelas kedudukan, yaitu : Bangsawan, Samurai dan Petani. Bangsawan membuat peraturan, Samurai menjalankan peraturan itu, Petani mematuhi peraturan itu. Tidak tau mengapa, petani memproduksi makanan untuk makan ketiga kelas itu. Pajak datangnya dari beras, dan dari pajak itu di berikan ke daimyo (pemimpin daerah).

Setelah mulainya periode Tokugawa, munculah “kelas ke-empat” yaitu Pedagang. Para pedagang itu tertindas karena mereka tidak memberikan atau menghasilkan apa-apa.

Lalu ketika Laksamana Perry berlayar menuju teluk Tokyo dan di perintah oleh jepang untuk membuka jalur perdagangan, para petani jepang merasa tidak senang, mereka berhutang dan kelas samurai hampir lemah tak berdaya, dan pemerintah dapat menanggulangi bebannya sendiri. Pedagang salah satunya yang dapat memegang peranan penting dalam kekuasaan. Akhirnya, pemerintah pun mengetahui bahwa mereka tidak dapat menolah US.

RESTORASI MEIJI
Bagaimana pun, banyak perdebatan yg terjadi pada awal revolusi. Rakyat menilai pemerintahan sangat lemah, sejak mereka menerima keberadaan US. Banyak masyarakat takut bahwa hubungan pembaharuan dengan dunia luar akan mengakibatkan bencana. Pemberontak Ishin lahir dari kejadian ini, dan menginginkan jepang kembali seperti sebelumnya. Motto mereka “ SONNO JOI ” (“hormati kaisar dan usir kaum primitif”) dan inilah rencana yg akan mereka lakukan.

Tapi mereka hanya mendapatkan pada bagian awal saja. Pemberontakan Ishin ( dimana Kenshin dan Shishio adalah bagian dari Ishin) menyatakan legitimasinya kepada kaisar, dan mengembalikan tahta kepadanya. Setelah semua itu, imperialisme melanda seluruh asia termasuk indonesia, tapi jepang tidak ingin dijadikan koloni negara eropa. Sehingga mereka memutuskan ikut bersaing memperebutkan kekuasaan.

Kenshin tidak berperang untuk Ishin, tapi untuk dirinya sendiri, dia tidak ingin berperang terus, dan berperang hanya untuk melindungi dirinya dan orang yang dia sayangi. Kenshin tidak pernah menemukan kedamaian pada era Meiji.

Beda cerita dengan Saito. Sejak dia bertemu dengan shisengumi, dia mengikuti ajaran kepercayaan “San Zoku An” (ajaran sesat). Kepercayaan inilah yang membuat dia masuk pasukan keamanan Meiji. Munculah ide untuk menjatuhkan kenshin. Setelah berdirinya pemerintahan yang ter legistimasi, para pemimpin memutuskan bahwa Shishio telah mengetahui banyak; pengetahuan sangat berbahaya dan dapat menghancurkan pemerintahan meiji. Jadi mereka berencana ingin membakar Shishio.

MANGA
Manganya muncul pada tahun 1994, dan dibuat secara series oleh Watsuki Nobuhiro. Menurut pengarang, bahwa ceritanya hanya berjalan 10 volume, dan bisa di persempit lagi menjadi 3 atau 4 volume saja, kenyataannya manga tersebut laris di pasaran dan di perpanjang menjadi 23 volume.

Kenshin menjadi inspirasi pembuatan oleh watsuki. Setelah beberapa pertimbangan, akhirnya dia memilih bahwa latar belakang dari cerita manga yang dibuatnya yaitu pada era meiji, karena dia terinspirasi dari cerita novel yang dia pernah baca. Ketika dia merencanakan untuk membuat manga menjadi 10 series, dia memutuskan untuk menggunakan cerita 11 tahun periode meiji, karena selama 11 tahun itu banyak terjadi peristiwa-peristiwa yang seru.

Bagaimana pun, masih ada cerita lainnya dalam manga rurouni kenshin selain era meiji.

ANIME
Di tv seriesnya dapat di bagi menjadi 2 bagian. Pertama Tokyo chapter, menceritakan kenshin dan tokoh utamnya membangun Kamiya Doujo. Setelah para tokoh di perkenalkan, baru ceritanya menceritakan individu setiap tokohnya; banyak cerita yang tidak tercantum dalam manganya.

Kedua, Kyoto chapter bermula dari kenshin datang ke Kyoto untuk mencegah Shishio dari pengaruh pemerintahan Meiji. Cerita lainnya adalah dia meninggalkan teman2nya di kamiya doujo dan mendapat teman baru di Kyoto, dia menolak bantuan dari teman2 barunya karena dia tidak ingin merepotkan dan di pengaruhi oleh teman2nya. Dia harus menjadi Hitokiri ( pembantai)lagi. Tentu saja, Kaoru dan yang lainnya tidak boleh ikut dia pergi ke Kyoto. Chapter kyoto ini sangat dipengaruhi dari cerita manganya.

Tv seriesnya bejalan 94 episode, (sebenarnya 95 episode, 1 episode tidak ditayangkan). Ketika sampai episode 26, ceritanya mulai berjalan seru.

Movienya yang berjudul REQUIEM FOR THE ISHIN SHISHI dirilis dibioskop pada tahun 1997. dalam Film itu, Shigure adlah salah satunya dari sekian banyak orang yang percaya bahwa pemerintahan meiji banyak kasusnya. Sekali lagi, pengkhianatan yang membuat pemerintahan Meiji jatuh sangat mempengaruhi dalam cerita RUROUNI KENSHIN.

OVAnya menceritakan kelanjutan dari cerita TV seriesnya. Ovanya memiliki 2 series, yang pertama memiliki 4 episode dan ova keduanya 2 episode. Ova pertama menceritakan kenshin sejak awal mula dia menjadi Hitokiri, nama aslinya adalah Shinta, keluarganya dibantai dan dia di selamatkan oleh Seijuro Hiko dan dia menganti nama shinta menjadi Kenshin Himura. Dia belajar pedang dari seijuro dengan jurus berpedang Hiten Mitsurugi. Ova 2 menceritakan tentang kenshin yang ingin meninggalkan sifat Batousainya hingga ia memiliki penyakit, dan meninggalkan Sakabatou-nya (pedangnya) yang kemudian di wariskan kepada Yahiko Myojin. Di dalam ova 2 ini anak kenshin yang bernama Kenji Himura juga di ceritakan, dia sangat benci kepada Kenshin tapi dia belajar Hiten Mitsurugi kepada Seijuro Hiko. Kenji diwariskan Pedang Sakabatou-nya tetapi dia menolak, akhirnya setelah Yahiko memenangkan pertarungan dengan kenji akhirnya kenji menerima pedang itu. Dalam Ova2, ini adalah cerita akhir dari RUROUNI KENSHIN, Kenshin Himura meninggal dunia.

“X” berarti “TIDAK”
RUROUNI KENSHIN di liris di amerika dan diganti judulnya menjadi SMURAI X, sangat susah meliris cerita ini di Amerika karena permusuhan yang terjadi sejak lama antara Amerika dan Jepang. Oleh sebab itu “X” diartikan “NO” (tidak), jadi SAMURAI “NO” (samurai “tidak”).
Judul : Rurouni Kenshin, SAMURAI X

Total Episode : 95 Episode, 6 OVA Episode

Genre : Action, Komedi

Tahun : 1996

Produksi : Media Blaster, Anime Work

Creator : Nobuhiro Watsuki
Karakter Pemain:

Himura Kenshin (Hitokiri Battousai)
Umur : 28

Tanggal Lahir : 20 Juni 1849

Ciri-ciri : Tanda X di pipinya, rambut merah dan kimono berwarna pink

Teknik Berkelahi : “Hiten Mitsurugi Ryu”

Tinggi : 158 cm

Berat : 48 kg

Golongan darah : AB

Senjata : Reverse edge Sakabatou

Seorang Yang Disukainya : Kamiya Kaoru

Kepribadian : Kemauan hidupnya sangat kuat dan itulah yang membuatnya dapat mengalahkan musuh-musuhnya. Ia juga menghargai hidup manusia dan bersedia untuk berkorban untuk menyelamatkan orang lain.

Sagara Sanosuke
Umur : 19

Tanggal Lahir : Pebruari 1860

Ciri-ciri : Rambutnya jabrik, selalu memakai ikat kepala merah.

Teknik berkelahi : “Kamiya Kasshin Ryu”

Tinggi : 182 cm

Berat : 71 kg

Golongan Darah : B

Senjata : Tinjunya.

Seorang Yang Disukainya : Magdaria

Kepribadian : Keras Kepala, bertindak sebelum berpikir, karena ia yakin kalau dia dapat mengalahkan semua musuhnya, tidak jarang juga ia akhirnya kalah berkelahi dan mempermalukan dirinya sendiri.

Biografi Singkat : Ia bergabung dengan perkumpulan Sekihoutai sewaktu ia masih kecil. Ia sangat mendambakan Kapten Sagara sehingga ia menggunakan nama kaptennya sebagai namanya. Ketika pemerintahan Meiji memenangkan peperangan, mereka memfitnah perkumpulan Sekihoutai dan memperlakukan mereka sebagai pengkhianat dan menyalahkan mereka sebagai sumber kekacauan. Kapten Sagara terbunuh setelah ia tewas tertembak tetapi sebelumnya ia berhasil menyelamatkan Sano dengan melemparnya ke sungai. Setelah beberapa hari, Sano datang ke pusat kota dan melihat kepala dari Sagara di pajang di tengah-tengah keramaian. Sampai saat ini, Sano masih menaruh dendam kepada pemerintajan Meiji.


Kamiya Kaoru “Raccoon Girl”

Umur : 17

Tanggal Lahir : Juni 1862

Ciri-ciri : ikat kepala warna pink

Teknik berkelahi : “Kamiya Kashin Ryu Kendo”

Tinggi : 155 cm

Berat : 41 kg

Golongan darah : O

Senjata : Shinai (Bamboo Sword)

Seorang Yang Disukainya : Himura Kenshin

Kepribadian : Sifatnya yang manis tetapi juga gampang marah, bagaimanapun juga..ia adalah seorang yang baik hati.

Biografi Singkat : Tinggal seorang diri di Kamiya Dojo sebelum Kenshin datang. Ayahnya adalah seorang pencipta teknik bertarung Kamiya Kasshin Ryu Kendo. Ia mengambil alih usaha ayahnya setelah ayahnya meninggal. Dr. Genzai dan cucunya sering menengok Kaoru.

Yojin Yahiko

Umur : 10

Tanggal Lahir : Januari 1869

Ciri-ciri : rambut jabrik, bertubuh kecil

Teknik berkelahi : “Kamiya Kasshin Ryu”

Tinggi : 128 cm

Berat : 23 kg

Golongan Darah : B

Senjata : Shinai

Seorang Yang Disukainya : Tsubame

Kepribadian : sangat mudah marah

Biografi Singkat : Ayahnya adalah seorang samurai yang tewas demi membela negeranya. Ibunya meninggal karena sakit keras. Kemudian sebuah kelompok mengambilnya dan menyuruhnya bekerja sebagai tukang copet.

Seta Soujiro. ‘The Smiling Killer’, itulah sebutan kepadanya. Disebutkan juga bahwa kelebihan utama yang dimiliki Soujiro yang jarang dimiliki oleh orang lain adalah kemampuannya dalam mengendalikan emosi. Dia tidak pernah ragu untuk menjalankan segala perintah yang diberikan kepadanya, bahkan selalu menjalankannya dengan senyuman diwajahnya. Kita tentu heran bagaimana seseorang bisa mempunyai kemampuan bersikap seperti itu.

Kalau menengok kembali diawal kisah hidupnya pada saat ia masih anak kecil, ia adalah seorang anak haram yang kehadirannya tidak diharapkan oleh saudara-saudara orangtuanya yang telah lebih dulu meninggal. Tiap hari ia disuruh kerja yang berat-berat, tiap hari juga ia selalu dimarahi bahkan sanpai dipukuli. Namun ia selalu menghadapinya dengan tersenyum.

Ia mengatakan alasannya bersikap seperti itu bahwa dengan tersenyum, rasa sakit yang ia alami saat dipukul akan menjadi berkurang. Suatu sikap hidup yang LUAR BIASA.

Jangan menganggap bahwa kisah itu hanyalah kisah kartun fiksi yang kosong tanpa makna. Ada kebenaran sejati dalam apa yang dialami Soujiro. Betapa kebanyakan dari kita menganggap bahwa sesuatu yang tidak baik, menyakitkan, melukai adalah sesuatu yang mutlak negatif sifatnya. Padahal tidak demikian adanya. Kita tidak bisa memilih takdir tempat kita hidup. Kita hanya punya pilihan dalam sikap hidup. Bukanlah takdir yang akan mengubah hidup kita, namun sikap kitalah yang akan mengubah segalanya. Kita bisa memilih tersenyum, maka rasa sakit kita akan berkurang. Atau kita bisa memilih untuk meratap yang malah akan membuat rasa sakit itu bertambah pedih.

Untuk tersenyum pada saat segalanya berjalan menyenangkan sesuai keinginan kita itu soal mudah. Namun, butuh kecerdasan dan keberanian besar untuk tersenyum pada saat mengalami kemalangan.

Klik disini untuk melanjutkan »»
 
Namablogkamu is proudly powered by Blogger.com | Template by o-om.com | Distributed by Blogger Templates