earth bending - water bending - fire bending - wind bending

9.10.2009

kajian yang menarik

. 9.10.2009



Dalam rentang perjalanan perkembangan pendidikan, Aceh masa lalu sangat miskin prestasi. Apalagi ketika dalam beberapa tahun, tingkat indeks sumberdaya manusia di Aceh hampir berada di titik nadir dalam negara Indonesia (Indonesia sendiri menjadi langganan di posisi antara ring rangking 80-110). Belum lagi pada masa konflik, sekolah dan guru turut menjadi korban. Belum lagi tsunami, yang turut memperparah kondisi pendidikan di Aceh.
Berbagai implikasi yang ditimbulkan dari tragedi dan bencana, pada akhirnya memperlihatkan ketercapaian terbalik dari harapan adanya keistimewaan Aceh, di samping agama dan adat, juga termasuk pendidikan di dalamnya. Orang bisa membandingkan, bahwa daerah lain yang tanpa keistimewaan pun, memiliki prestasi yang lumayan bagus.
Memaknai suasana seperti ini, jelaslah prestasi-prestasi yang ditunjukkan siswa Aceh membawa suasana gembira yang sulit dilukiskan. Dengan prestasi itu, dapat menjadi kekuatan menuju kebangkitan kembali dan memperlihatkan kepada dunia, bahwa anak-anak Aceh juga berprestasi.
Di pihak lain, perasaan saya gelisah. Apabila dalam jangka waktu tertentu, prestasi itu selalu didominasi oleh sekolah yang sama, saya takutkan akan berimplikasi negatif kepada sekolah lainnya. Barangkali asumsi ini berbeda dengan beberapa pendapat yang menyatakan akan membawa pengaruh positif. Namun menurut saya, bila dalam waktu yang lama tidak bisa diimbangi –karena berbagai alasan, akan menyebabkan efek yang tidak baik juga. Kenyataan ini akan menyebabkan nyali siswa di sekolah lain menjadi ciut, karena memikirkan selalu akan berada di bawah prestasi anak-anak sekolah unggul. Untuk masa depan, kesenjangan akan hadir.
Tulisan ini, ingin memetakan beberapa hal, yang nantinya, mudah-mudahan menjadi renungan semua stakeholders. Tentu, masalah pendidikan tidak hanya tanggung jawab Pemerintah, namun proses dalam pengambilan kebijakan dalam konteks ini, akan sangat mempengaruhi perkembangan kemajuan pendidikan di masa depan.
Pikiran ini juga didasari oleh kegelisahan yang disebutkan di atas, dengan berharap dapat menjadi sebuah kontribusi pemikiran bagi pengambilan kebijakan di Aceh.
Dalam suasana kegelisahan itu, saya berpikir tentang dua pemetaan menarik, yang saya anggap penting untuk dilihat: Pertama, seberapa banyak jumlah sekolah unggul yang sudah ada di Aceh. Katakanlah 25 sekolah unggul, berdasarkan asumsi di tiap-tiap kabupaten dan kota ada sekolah unggul, ditambah yang ada di provinsi.
Jumlah sekolah unggul tersebut, lalu dibandingkan dengan sekitar 400 sekolah setingkat SMU/MA di Aceh. Dari bandingan ini, kemudian akan memperlihatkan angka berapa persen yang mampu mendongkrak kualitas pendidikan dan sumberdaya manusia di tingkat nasional.
Bandingan ini juga bisa dilihat lewat berbagai level ujian yang dilaksanakan. Secara sederhana, jumlah siswa SMU/MA seluruh Aceh, lalu dilihat berapa siswa yang memperlihatkan prestasi gemilang, dalam berbagai bidang ilmu pengetahuan.
Di sinilah, ruang lahirnya kegelisahan di benak saya, sehingga berpikir bila prestasi tidak mengalir kepada siswa di sekolah lain –selain sekolah unggul dan maju, akan membawa implikasi yang kurang menguntungkan.
Kemudian pemetaan ini menjadi sangat penting bagi saya yang akan melihat dari sudut kebijakan yang berorientasi kepada upaya menyeluruh bagi pengembangan pendidikan di Aceh yang porak-poranda karena konflik dan tsunami. Saya tegaskan, tidak hanya fokus perhatian terbesar hanya diberikan kepada sekolah unggul dan sekolah maju.
Mungkinkah instansi yang berwenang sudah melakukan pemetaan yang seperti itu? Jadi, secara sekilas, apa yang ingin saya sampaikan sebenarnya bukanlah hal yang baru dalam konteks usaha pengembangan pendidikan secara menyeluruh di Aceh.
Kedua, implikasi dari pemetaan yang pertama, adalah adanya keharusan untuk melakukan pemetaan jumlah lembaga pendidikan maju dan yang tidak maju. Dalam konteks ini, maju juga harus bisa diperjelas dengan alat ukur yang nyata (di atas, saya memakai asumsi, maju itu diukur dengan tingginya minat orang yang masuk dan tingginya angka tertampung di perguruan tinggi negeri).
Katakanlah, yang dikategorikan maju itu diindikasikan dengan banyaknya orang tua yang menitipkan anaknya di lembaga pendidikan tersebut, seperti yang disebutkan di atas. Hal ini, tentu masih menyisakan pertanyaan lain, misalnya dalam hal mengukur tingkat kecerdasan anak, alat ukur apa yang dilakukan dan bagaimana mengukurnya. Alat ukur yang paling nyata adalah nilai ujian nasional dan keberhasilan dalam setiap even.
Prasyarat pemetaan yang kedua ini adalah menghilangkan adanya politisasi ruang pendidikan untuk kepentingan elite. Harus diakui, fenomena ini sering terjadi dalam pelaksanaan Ujian Akhir Nasional (UAN). Para pengambil kebijakan, kerap memberi janji-janji untuk mempromosi pimpinan sekolah yang memiliki angka kelulusan siswa tinggi dalam ujiannya.
Hal ini akan berbahaya ketika banyak pimpinan sekolah, ketika berusaha mengejar target tertentu, melupakan aspek yang lain semisal kejujuran. Betapa kita tidak lagi terkejut saat mengetahui dari berbagai berita suratkabar tentang adanya perilaku saling membantu dalam pelaksanaan ujian nasional.
Proses bantu-membantu kemudian ada yang dianggap wajar, karena sebagian orang berfikir angka yang dipatok UAN tidak bisa dicapai oleh semua sekolah –karena berbagai alasan masing-masing. Di sinilah, menurut saya, kesenjangan kemampuan akan terlihat dengan sendirinya.
Rasanya tidak mungkin angka kelulusan mata pelajaran yang ditetapkan bisa disamaratakan antara sekolah di kota dengan sekolah di gampong. Sekolah di kota lumayan banyak alat bantu dalam proses belajar-mengajar. Bandingkan dengan sekolah-sekolah di kampung, yang jangankan untuk menggunakan alat-alat bantu proses belajar-mengajar, barangkali melihat saja tidak pernah.
Sekolah di kota sangat dekat dengan berbagai kebutuhan buku. Akses ke toko buku dekat. Berbagai pustaka tersedia. Sarana pendidikan banyak. Lalu bagaimana dengan sekolah yang di kampung? Buku-buku wajib yang seharusnya dibaca oleh seluruh siswa, tak jarang hanya dimiliki oleh guru yang memegang mata pelajaran semata.
Pengalaman saya waktu sekolah SMU di Trienggading (Pidie), sekitar 1993-1996, kami sangat asing dengan berbagai peralatan bantu proses belajar-mengajar, sebagaimana kami pernah mendengar dari sekolah-sekolah yang berada di kota. Tahun 1995, saya menjadi utusan siswa teladan SMU Trienggading untuk ikut dalam kompetisi di tingkat kabupaten, terperangah dengan berbagai kemajuan yang didaparkan oleh siswa dari sekolah-sekolah di kota. Itu baru di tingkat kabupaten. Saat itu, saya tidak bisa membayangkan bagaimana ketika berhadapan dengan sekolah-sekolah di ibukota provinsi, bahkan ibukota negara.
Keterperangahan itu makin menjadi-jadi saat mengikuti ujian masuk perguruan tinggi tahun 1996, di mana siswa-siswa dari daerah sangat kentara terlihat tertinggal dalam berbagai hal. Siswa di kota tahu berbagai kelompok bimbingan belajar dan secara rutin ada try out. Siswa di daerah, baru dalam lima tahun terakhir terdengar ada pelaksanaan try out untuk memperkenalkan tes masuk perguruan tinggi negeri.
Sampai saat ini, saya masih berpikir bahwa siswa-siswa yang berasal dari sekolah tidak disebut maju atau unggul (dari kampung-kampung) dan bisa lulus tes masuk perguruan tinggi, maka itulah sebenarnya keunggulan yang paling unggul.
Apa yang saya alami, banyak dialami siswa lain di seluruh Aceh. Pada 2006, saya berkesempatan ikut dalam Program Sastrawan Masuk Sekolah (SMS) di 32 SMU/MA seluruh Aceh, melihat bagaimana sekolah-sekolah di kampung-kampung hanya memiliki perlengkapan yang apa adanya.
Banyak siswa yang di daerah, belum menikmati berbagai laboratorium (bahasa, fisika, kimia, biologi, dan sebagainya). Makanya wajar, pada akhirnya mereka terasing dengan perkembangan ilmu pengetahuan. Belum lagi masalah perkembangan teknologi informasi dan komunikasi yang berlangsung sangat cepat.
Untuk membantu melihat hal ini, pengalaman saya yang lain, menjadi pengajar kelas diskusi menulis dan mengajar yang berlangsung pada sekitar 12 sekolah di luar Kota Banda Aceh, rata-rata peserta belum mengenal internet. Fenomena ini terlihat ketika saya meminta mereka mengirimkan karya (cerpen, puisi, opini, artikel, esai) melalui internet.

Menghapus Kesenjangan
Saya sangat yakin, berbagai persoalan di atas, telah dipikirkan oleh pengambil kebijakan. Berbagai tawaran pikiran, juga tidak dimaksudkan untuk para pengambil kebijakan saja. Saya yakin, pengambil kebijakan tidak akan mampu berjalan sendiri dalam menyukseskan berbagai program pendidikan.
Mengapa tawaran ini harus ada? Menurut saya, pendidikan tidak hanya berkaitan dengan fasilitas. Pendidikan juga berkaitan dengan semangat. Yang saya gelisahkan adalah ketika semangat ini akan berkurang dari siswa yang sekolah di tempat yang sedikit fasilitasnya.
Paling tidak ada dua hal yang saya kira sangat penting diperhatikan, yakni: Pertama, menciptakan sekolah unggul di Aceh, harus dibarengi dengan usaha membuat unggul semua sekolah di Aceh. Hal ini sangat penting untuk menghilangkan jurang gap yang besar dari kualitas siswa di sekolah yang dianggap unggul dengan sekolah yang dianggap tidak unggul.
Hal ini bisa dipergunakan untuk mengukur tingkat kecerdasan dan prestasi secara umum siswa di Aceh. Dalam tiga tahun terakhir, kita melihat ada anak Aceh yang bisa bersaing di tingkat nasional dan internasional dalam berbagai olimpiade pengetahuan. Kita harus jujur untuk melihat berapa jumlah siswa yang berprestasi itu, lalu kemudian membandingkan dengan jumlah siswa secara keseluruhan.
Mengukur ini juga penting untuk melihat seberapa besar siswa yang akan tertampung dalam sekolah-sekolah unggul di Aceh, yang kemudian diperkirakan akan lahir siswa-siswa cerdas dibandingkan dengan jumlah sekolah-sekolah yang tidak unggul di Aceh.
Saya hanya ingin mengungkapkan kegelisahan, bahwa jangan sampai hadirnya beberapa sekolah unggul, justru akan membuat jurang yang kian lebar, antara anak cerdas dengan yang tidak cerdas. Beberapa anak yang berprestasi gemilang membuat kita bangga dan bahagia, namun ketika dikalkulasikan, jumlah siswa yang gemilang itu ternyata sangat kecil bila dibandingkan dengan jumlah siswa yang tidak gemilang dan makin terpuruk.
Mudah-mudahan tidak sampai kebanggaan ini membuat kita lupa, bahwa ada anak yang brilian bisa mencapai nilai 9,9 dalam kompetisi tertentu, namun di sekeliling mereka (yang jumlahnya sangat banyak itu), mungkin untuk mendapatkan angka 6 saja susah. Bila itu yang terjadi, maka di sanalah kesenjangan itu.
Mengkalkulasi ini, sebenarnya bisa dengan memakai rumus mencari tingkat pendapatan perkapital penduduk. Harta semua orang, kemudian dibagikan dengan jumlah penduduk, maka menghasilkan pendapatan yang sekian. Padahal, ada orang yang pendapatan lebih besar dari 100 orang lain, yang kemudian juga dibagi sama. Saya kira tidak tepat kalau nanti persentase prestasi siswa di Aceh kemudian diukur dengan rumus seperti itu.
Kedua, bila sepakat dengan ini, tentu akan ada kebijakan nyata tentang memperbanyak guru-guru berkuaitas di pedalaman. Jangan ada lagi memusatkan guru-guru berkualitas hanya di pusat kota saja. Guru-guru yang dianggap unggul di daerah, harus dikuatkan untuk selalu berada di daerah.
Seorang guru yang meminta pindah dari suatu daerah, jangan dipermudah walau dengan kepentingan untuk memperkuat sekolah unggul yang ada di kota. Memperbanyak guru di daerah sangat penting karena jumlah terbesar siswa dan sekolah adalah berada di kampung (di daerah), bukan di kota.
Artinya, kebijakan ke depan tidak hanya berorientasi untuk menambah sekolah unggul semata dalam meningkatkan kapasitas kecerdasan dan prestasi siswa, akan tetapi juga dibarengi dengan membuat kebijakan yang bisa membuat unggul semua sekolah yang ada di Aceh.
Hal ini sangat penting untuk memberi ruang dan kesempatan kepada semua siswa di Aceh. Saya membayangkan bahwa kebijakan seperti ini, pada akhirnya akan menghasilkan anak-anak gampong yang siap berkompetisi dengan anak-anak kota. Kebijakan seperti ini yang memungkinkan kompetisi ikut ujian perguruan tinggi negeri atau ujian akhir nasional, akan berlangsung seimbang.
Kondisi sekarang, secara akal sehat, tidak mungkin siswa dari kampung akan memiliki persentase tertinggi di PTN atau memiliki nilai tinggi di UAN, bila apa yang mereka dapatkan di sekolah sama sekali tidak sebanding dengan perkiraan yang akan didapat.
Bila ini tidak diperhatikan, maka untuk satu abad kemudian pun, selalu saja siswa-siswa brilian lahir dari tempat yang sama, siswa-siswa yang selama ini memang sudah menikmati berbagai kemajuan –yang itu belum dinikmati oleh anak-anak kampung. Dengan kondisi seperti sekarang, membayangkan anak-anak dari pedalaman mampu bersaing untuk merebut tiket olimpiade, hampir tidak masuk akal.
Belum lagi dalam dua tahun terakhir, beberapa sekolah bertaraf internasional dengan suasana kelas yang barangkali sangat berbeda hadir di Aceh. Saya hanya bisa berharap, bahwa jangan biarkan anak-anak gampong hanya menatap dari jauh melalui berbagai media tentang teman-temannya yang sekolah yang banyak fasilitasnya. Sedangkan dalam hati mereka bertanya, bagaimana bisa bersaing masuk ke sana, sedangkan jalan mereka bertaburan kekurangan.
Inilah beberapa pokok pikiran yang rasanya penting untuk direnungkan untuk memperkuat paradigma pembangunan pendidikan di masa mendatang. Tak hanya bagi pengambil kebijakan, tapi juga semua kita. Semoga![] Sulaiman Tripa | Dosen Fakultas Hukum Universitas Syiah Kuala.


artikel ini tidak dibenarkan disebarkan tanpa izin dari situs sumbernya dan izin penulisnya, anda bisa membacanya lansung di samping kanan blog pribadi saya; link "aceh institute" tq

Tulisan ini ingin melihat konteks kebijakan dan relasinya dengan standarisasi dunia pendidikan. Ada kalanya standarisasi ini bisa mendongkrak prestasi sebagian orang, namun tanpa melakukan pemerataan fasilitas, prestasi tidak mungkin diraih oleh orang-orang yang jauh dari pusat kekuasaan.
Akhir-akhir ini, kita di Aceh digembirakan para pelajar yang meraih medali dalam olimpiade ilmu pengetahuan di beberapa negara. Kado itu, seperti menepis anggapan bahwa tidak ada anak pandai-cerdas dari tanah yang selalu berada dalam keping-keping petaka konflik yang disusul tsunami ini.
Sejak kehadiran sekolah unggul, baik di Banda Aceh maupun di kabupaten dan kota, menampakkan kemajuan raihan prestasi yang kian pesat. Dalam berbagai even, deretan nama-nama siswa berprestasi didominasi oleh sekolah-sekolah unggul dan sekolah maju (asumsi dari banyaknya peminat dan banyaknya yang tertampung di perguruan tinggi negeri).
Kenyataan ini, di satu pihak sangat membahagiakan.

sumber:
http://id.acehinstitute.org/index.php?option=com_content&view=article&id=600:mengajak-sekolah-kampung-berkompetisi&catid=18:pendidikan&Itemid=30
oleh
Sulaiman Tripa | Dosen Fakultas Hukum Universitas Syiah Kuala
Thursday, 10 September 2009 08:50

0 komentar:

 
Namablogkamu is proudly powered by Blogger.com | Template by o-om.com | Distributed by Blogger Templates