earth bending - water bending - fire bending - wind bending

7.15.2009

istilah-istilah dalam filsafat

. 7.15.2009
0 komentar



A

absolut - aktivisme - antinomi - a priori - a posteriori - atomisme - atribut - axioma -


D

Dasein - dekonstruktivisme - deduksi - dialektik - Ding an sich - dualisme - darwinism

E

empirisme - epikurisme - epifenomenalisme - epistemologi - estetika - etik - existentialisme -

F

fenomenologie -

H

hedonisme - hermeneutik - historisme - holisme - humanisme - feminisme

I

idealisme - ide - induksi - innatisme

K

kategori - kausalitas - klasifikasi - konseptualisme - konotasi/denotasi - kosmos -

L

logika -

M

materialisme - metafisika - metodologi - monisme -

N

neo-platonisme - nominalisme -

O

ontologi -


P

Pancasila - paradigma - paradox - personalisme - pluralisme - positivisme - postmodernisme - pragmatisme - poststrukturalisme

R

rationalisme - realisme - relativisme - res cogitans/res extensa

S

skolastika - sofisme - stoisisme - substansi - silogisme - sistem- strukturalisme sosialis sosialisme
Tanggung jawab ilmu menyangkut juga hal-hal yang akan dan telah diakibatkan ilmu dimasa lalu, sekarang maupun akibatnya di masa mendatang, berdasarkan keputusan bebas manusia dalam kegiatannya. Penemuan baru dalam ilmu terbukti ada yang dapat mengubah sesuatu aturan nilai-nilai hidup baik alam maupun manusia. Hal ini tentu menuntut tanggung jawab untuk selalu menjaga agar yang diwujudkan dalam perubahan tersebut akan merupakan perubahan yang terbaik bagi perkembangan ilmu itu sendiri maupun bagi perkembangan eksistensi manusia secara utuh.

Tanggung jawab etis tidak hanya menyangkut upaya penerapan ilmu secara tepat dalam kehidupan manusia, melainkan harus menyadari apa yang seharusnya dilakukan atau tidak dilakukan untuk memperkokoh kedudukan serta martabat manusia seharusnya, baik dalam hubungannya sebagai pribadi, dalam hubungan dengan lingkungannya maupun sebagai makhluk yang bertanggung jawab terhadap Khaliknya.

Jadi perkembangan ilmu akan mempengaruhi nili-nilai kehidupan manusia tergantung dari manusianya itu sendiri, karena ilmu dilakukan oleh manusia dan untuk kepentingan manusia dalam kebudayaannya. Kemajuan di bidang ilmu memerlukan kedewasaan manusia dalam arti yang sesungguhnya, karena tugas terpenting ilmu adalah menyediakan bantuan agar manusia dapat bersungguh-sungguh mencapai pengertian tentang martabat dirinya.



B. Mengapa Ilmu Tidak Dapat Terpisahkan dengan Nilai-nilai Hidup

Ilmu dapat berkembang dengan pesat menunjukkan adanya proses yang tidak terpisahkan dalam perkembangannya dengan nilai-nilai hidup. Walaupun ada anggapan bahwa ilmu harus bebas nilai, yaitu dalam setiap kegiatan ilmiah selalu didasarkan pada hakikat ilmu itu sendiri. Anggapan itu menyatakan bahwa ilmu menolak campur tangan faktor eksternal yang tidak secara hakiki menentukan ilmu itu sendiri, yaitu ilmu harus bebas dari pengandaian, pengaruh campur tangan politis, ideologi, agama dan budaya, perlunya kebebasan usaha ilmiah agar otonomi ilmu terjamin, dan pertimbangan etis menghambat kemajuan ilmu.

Pada kenyataannya, ilmu bebas nilai dan harus menjadi nilai yang relevan, dan dalam aktifitasnya terpengaruh oleh kepentingan tertentu. Nilai-nilai hidup harus diimplikasikan oleh bagian-bagian praktis ilmu jika praktiknya mengandung tujuan yang rasional. Dapat dipahami bahwa mengingat di satu pihak objektifitas merupakan ciri mutlak ilmu, sedang dilain pihak subjek yang mengembangkan ilmu dihadapkan pada nilai-nilai yang ikut menentukan pemilihan atas masalah dan kesimpulan yang dibuatnya.

Setiap kegiatan teoritis ilmu yang melibatkan pola subjek-subjek selalu mengandung kepentingan tertentu. Kepentingan itu bekerja pada tiga bidang, yaitu pekerjaan yang merupakan kepentingan ilmu pengetahuan alam, bahasa yang merupakan kepentingan ilmu sejarah dan hermeneutika, dan otoritas yang merupakan kepentingan ilmu sosial.

Dengan bahasan diatas menjawab pertanyaan mengapa ilmu tidak dapat dipisahkan dengan nilai-nilai hidup. Ditegaskan pula bahwa dalam mempelajari ilmu seperti halnya filsafat, ada tiga pendekatan yang berkaitan dengan kaidah moral atau nilai-nilai hidup manusia, yaitu:

1. Pendekatan Ontologis

Ontologi adalah cabang filsafat yang membicarakan tentang yang ada. Dalam kaitan dengan ilmu, landasan ontologis mempertanyakan tentang objek yang ditelaah oleh ilmu. Secara ontologis ilmu membatasi lingkup penelaahan keilmuannya hanya pada daerah yang berada dalam jangkauan pengalaman manusia.

Dalam kaitannya dengan kaidah moral atau nilai-nilai hidup, maka dalam menetapkan objek penelaahan, kegiatan keilmuan tidak boleh melakukan upaya yang bersifat mengubah kodrat manusia, merendahkan martabat manusia, dan mencampuri permasalahan kehidupan.

2. Pendekatan Epistemologi

Epistemologis adalah cabang filsafat yang membahas tentang asal mula, sumber, metode, struktur dan validitas atau kebenaran pengetahuan. Dalam kaitannya dengan ilmu, landasan epistemologi mempertanyakan proses yang memungkikan dipelajarinya pengetahuan yang berupa ilmu.

Dalam kaitannya dengan moral atau nilai-nilai hidup manusia, dalam proses kegiatan keilmuan, setiap upaya ilmiah harus ditujukan untuk menemukan kebenaran, yang dilakukan dengan penuh kejujuran, tanpa mempunyai kepentingan langsung tertentu dan hak hidup yang berdasarkan kekuatan argumentasi secara individual. Jadi ilmu merupakan sikap hidup untuk mencintai kebenaran dan membenci kebohongan.

3. Pendekatan Aksiologi

Aksiologi adalah cabang filsafat yang mempelajari tentang nilai secara umum. Sebagai landasan ilmu, aksiologi mempertanyakan untuk apa pengetahuan yang berupa ilmu itu dipergunakan. Pada dasarnya ilmu harus digunakan dan dimanfaatkan untuk kemaslahatan manusia. Dalam hal ini ilmu dapat dimanfaatkan sebagai sarana atau alat dalam meningkatkan taraf hidup manusia dengan memperhatikan kodrat manusia, martabat manusia, dan kelestarian atau keseimbangan alam. Untuk itu ilmu yang diperoleh dan disusun dipergunakan secara komunal dan universal. Komunal berarti ilmu merupakan pengetahuan yang menjadi milik bersama, setiap orang berhak memanfaatkan ilmu menurut kebutuhannya. Universal berarti bahwa ilmu tidak mempunyai konotasi ras, ideologi, atau agama.

http://id.shvoong.com/tags/filsafat-ilmu/



A. Hubungan Ilmu dengan Nilai-nilai Hidup

Penerapan ilmu pengetahuan dan teknologi membutuhkan dimensi etis sebagai pertimbangan dan mempunyai pengaruh terhadap proses perkembangan lebih lanjut ilmu dan teknologi. Tanggung jawab etis merupakan sesuatu yang menyangkut kegiatan keilmuan maupun penggunaan ilmu, yang berarti dalam pengembangannya harus memperhatikan kodrat dan martabat manusia, menjaga keseimbangan ekosistem, bersifat universal, bertanggungjawab pada kepentingan umum, dan kepentingan generasi mendatang.

Klik disini untuk melanjutkan »»

Amnesia dan imsonia

.
0 komentar



Amnesia (dari Bahasa Yunani Ἀμνησία) adalah kondisi terganggunya daya ingat. Penyebab amnesia dapat berupa organik atau fungsional. Penyebab organik dapat berupa kerusakan otak, akibat trauma atau penyakit, atau penggunaan obat-obatan (biasanya yang bersifat sedatif). Penyebab fungsional adalah faktor psikologis, seperti halnya mekanisme pertahanan ego. Amnesia dapat pula terjadi secara spontan, seperti terjadi pada transient global amnesia[1]. Jenis amnesia global ini umum terjadi mulai usia pertengahan sampai usia tua, terutama pada pria, dan biasanya berlangsung kurang dari 24 jam.

Dampak lain dari amnesia adalah ketidakmampuan membayangkan masa depan. Penelitian terakhir yang dipublikasikan dalam jaringan di Proceedings of the National Academy of Sciences menunjukkan bahwa amnesia dengan kerusakan pada hippocampus tidak dapat membayangkan masa depan[2]. Hal ini terjadi karena bila seorang yang normal membayangkan masa depan, mereka menggunakan pengalaman masa lalu untuk mengkonstruksi skenario yang mungkin dihadapi. Sebagai contoh, seseorang yang mencoba membayangkan apa yang akan terjadi dalam pesta yang hendak didatanginya akan menggunakan pengalaman pesta sebelumnya untuk membantu mengkonstruksi kejadian di masa depan.
Bentuk amnesia

* Anterograde amnesia: kejadian baru dalam ingatan jangka pendek tidak ditransfer ke ingatan jangka panjang yang permanen. Penderitanya tidak akan bisa mengingat apapun yang terjadi setelah munculnya amnesia ini walaupun baru berlalu sesaat.

* Retrograde amnesia: ketidakmampuan memunculkan kembali ingatan masa lalu yang lebih dari peristiwa lupa biasa.

Kedua kategori amnesia tersebut dapat muncul bersamaan pada pasien yang sama. Contohnya seperti pada pengendara sepeda motor yang tidak mengingat akan pergi kemana dia sebelum tabrakan (retrograde amnesia), juga melupakan tentang kejadian di rumah sakit dua hari setelahnya (anterograde amnesia).


Insomnia adalah gejala[1] kelainan dalam tidur berupa kesulitan berulang untuk tidur atau mempertahankan tidur walaupun ada kesempatan untuk itu. Gejala tersebut biasanya diikuti gangguan fungsional saat bangun.

Insomnia sering disebabkan oleh adanya suatu penyakit atau akibat adanya permasalahan psikologis. Dalam hal ini, bantuan medis atau psikologis akan diperlukan. Salah satu terapi psikologis yang efektif menangani insomnia adalah terapi kognitif.[2] Dalam terapi tersebut, seorang pasien diajari untuk memperbaiki kebiasaan tidur dan menghilangkan asumsi yang kontra-produktif mengenai tidur.

Banyak penderita insomnia tergantung pada obat tidur dan zat penenang lainnya untuk bisa beristirahat. Semua obat sedatif memiliki potensi untuk menyebabkan ketergantungan psikologis berupa anggapan bahwa mereka tidak dapat tidur tanpa obat tersebut.

Klik disini untuk melanjutkan »»

lingkungan hidup

.
0 komentar


PENCEMARAN AIR Apakah Pencemaran Air itu ? Bagaimana Pengendaliannya ? Apakah produksi bersih & pencegahan ? Proses pembersihan diri dlm air sungai Sumber & Karakteristik Limbah Air Dampak terhadap lingkungan Peraturan pengelolaan limbah Cara pengelolaan Limbah di kota Hiraki dlm pencegahan pencemaran Manfaat produksi bersih
Pencemaran Air

* Pencemaran air adalah masuknya atau di masukannya makhluk hidup, zat, energi dan atau komponen lain ke dalam air oleh kegiatan manusia sehingga kualitas air turun sampai ke tingkat tertentu yang menyebabkan air tidak berfungsi lagi sesuai dengan peruntukkanya.

* Pencemaran air dapat dikelompokkan ke dalam dua kategori yaitu:

Sumber Langsung Sumber Tidak Langsung
# Sumber Langsung

* Sumber – sumber langsung adalah buangan (effluent) yang berasal dari sumber pencemarnya yaitu limbah hasil pabrik atau suatu kegiatan (limbah non domestik) dan limbah domestik berupa buangan tinja dan buangan air bekas cucian,serta sampah.

* Pencemaran terjadi karena buangan ini langsung di buang ke dalam badan air, (system) seperti sungai , kanal, parit atau selokan ..

# Sumber Tidak Langsung

* Sumber – sumber tidak langsung adalah kontaminan yang masuk melalui air tanah akibat adanya pencemaran pada air permukaan baik dari limbah industri maupun dari limbah domestik..

#

* Mengingat bahwa air adalah komponen dari lingkungan hidup, maka pencemaran air merupakan bagian dari pencemaran lingkungan hidup. Pencemaran air perlu di kendalikan karena akibat pencemaran air dapat mengurangi pemanfaatan air sebagai modal dasar dan faktor utama pembangunan.

* Istilah pencemaran air terbentuk akibat adanya cairan bekas pakai yang di alirkan kembali begitu saja ke perairan terbuka, dan menimbulkan berbagai dampak yang merugikan masyarakat ataupun lingkungan..

# Proses Pembersihan Diri dalam Air Sungai

* Apabila kualitas air sungai telah kembali ke kondisi semula yaitu sebelum terjadinya pencemaran air, maka di katakan bahwa sungai telah melakukan proses pembersihan diri.

* Proses pembersihan atau pemulihan diri air sungai adalah proses penguraian bahan organik, maupun kontaminan lainnya yang ada di dalamnya secara alamiah melalui proses fisik, kimia, & biologis..

#

* Proses pemulihan diri ada beberapa proses yaitu : proses pengenceran, pengendapan, penyaringan, kimiawi dan biokimia.

* Proses pengenceran : Proses terjadinya pengurangan kadar kontaminan dalam air karena adanya penambahan jumlah air di dalamnya.

* Proses pengendapan : mengendapnya partikel padatan yang ada dalam air sungai karena gaya gravitasi bumi.

* Proses kimia yang terjadi biasanya di sebabkan karena adanya reaksi oksidasi, reduksi dari senyawa kimia yang ada dalam sungai. Reaksi ini menghasilkan senyawa kimia yang stabil dan tidak membahayakan lingkungan.

* Proses penguraian bahan organik ini memerlukan oksigen terlarut dan mikroorganisme . Oksigen terlarut tersebut karena di manfaatkan untuk menguraikan bahan organik, maka kadar oksigen tersebut akan berkurang.

* Dengan demikian melalui proses pengenceran, pengendapan, oksidasi reduksi, biokimia dan penyaringan, Kadar kontaminan dalam air sungai dapat menurun. Kondisi ini di sebut daya pembersihan diri sungai…

#

* A. Sumber Limbah Cair

* Limbah cair domestik terdiri dari air limbah yang berasal dari perumahan dan pusat perdagangan maupun perkantoran, hotel, rumah sakit, tempat” umum, lalu lintas, dll. BOD5 (biological oxygen dmand)

* Limbah Cair Industri adalah limbah yg berasal dari induatri. Sifat-sifat air limbah industri relative bervariasi tergantung dari bahan baku yg di gunakan, pemakaian air dalam proses, dan bahan aditif yang digunakan selama proses produksi.

* Limbah Cair Pertanian berasal dari buangan air irigasi yg disalurkan kembali ke saluran drainase atau meresap ke dalam tanah. Limbah ini akan mempengruhi tingkat kekeruhan BOD5, COD ,pH . tetapi juga kadar unsure N, P, dan pestisida, insektisida

* Limbah Pertambangan berasal dari buangan pemrosesan yang terjadi diarea pertambangan misalnya tambang emas. Limbah ini akan mempengaruhi tingkat kekeruhan BOD5,COD,pH, tetapi juga kadar kimia yg digunakan dalam proses penambangan..

Sumber & Karakteristik Limbah Cair
#

* B. Karakteristik Limbah Cair

* Karakteristik limbah cair dinyatakan dalam bentuk kualitas limbah cair dan jumlah aliran limbah cair yang dihasilkan.

* Kualitas limbah cair diukur terhadap kadar fisik, kimiawi dan biologis. Parameter yg diukur antara lain sebagai berikut:

* Parameter fisik berupa padatan (partikel padat) yg ada dalam air (padatan total,padatan tersuspensi dan padatan terlarut) ;warna;bau dan temperature

* Parameter kimia selain berupa kadar BOD5,COD, dan TOC yang menggambarkan kadar bahan organik dalam limbah, juga senyawa yg terkait dengan anomia bebas, nitrogen organik, nitrit, nitrat, fosfor organik dan fosfor anorganik,sulfat,klorida,belerang,logam berat (Fe,Al,Mn dan Pb), dan gas (H2O,CO2,O2, dan CH4)

* Parameter biologis juga merupakan hal penting karena ada beribu-ribu bakteri per millimeter dalam air limbah yg belum diolah. Jenis bakteri yg diukur adalah bakteri golongn Coli..

# Dampak Pencemaran Air terhadap Lingkungan

* Dampak pencemaran air terhadap kesehatan manusia.

* Limbah cair berdampak pada kesehatan manusia. Pengaruh langsung terhadap kesehatan, umpamanya, tergantung sekali pada kualitas air yang terkontaminasi dalam hal ini berfungsi sebagai media penyalur ataupun penyebar penyakit.

* Peran air sebagai pembawa penyakit menular bermacam-macam :

* 1. Air sebagai media untuk hidup mikroba patogen

* 2. Air sebagai sarang insekta penyebar penyakit

* 3. Jumlah air bersih yang tersedia tak cukup

* 4. Air sebagai media untuk hidup vector penyebar penyakit

* Dampak tehadap fungsi sungai.

* Adanya air limbah yang masuk ke dalam saluran drainase atau sungai akan mencemari air sungai tersebut. Pencemaran air mengakibatkan air sungai tidak lagi berfungsi sesuai peruntukkannya.

* Akibat dari pencemaran air adalah:

* - air tidak dapat dimanfaatkan sesuai peruntukkannya, dan jika dimanfaatkan maka diperlukan pengolahan khusus yang menyebabkan peningkatan biaya pengoperasian & pemeliharaan sungai.

* - air menjadi penyebab timbulnya penyakit..

#

* Dampak Pencemaran Air Terhadap Air Tanah.

* Dampak Pencemaran Air Terhadap Rantai Makanan.

* Rantai makanan dalam air akan terganggu akibat adanya pencemaran air. Dengan banyaknya zat pencemaran yang ada di dalam air, menyebabkan menurunnya kadar oksigen di dalam air tersebut. Beberapa jenis ikan maupun tumbuh-tumbuhan yang ada dalam air akan mati karena kekurangan oksigen. Demikian pula apabila zat pencemar tersebut beracun dan berbahaya, maupun terjadinya kenaikan suhu iar, beberapa jenis biota akan mati, sehingga keseimbangan rantai makanan terganggu. Disisi lain akibat matinya bakteri-bakteri, maka proses pembersihan diri secara alamiah yang seharusnya dapat terjadi menjadi terhambat, atau dengan kata lain daya pembersih diri sungai sangat kecil..

Dampak Pencemaran Air terhadap Lingkungan
#

* Pengendalian pencemaran air adalah upaya pencegahan dan penanggulangan pencemaran air serta pemulihan kualitas air untuk menjamin agar sesuai dengan baku mutu air.

* Tujuan pengelolaan limbah cair adalah untuk mengendalikan agar tidak terjadi pencemaran air atau menghasilkan zero pollution ( tidak ada polutan dalam air ).

* Pendekatan yang dilakukan dalam pengelolaan pencemaran air mencakup pendekatan non teknis dan pendekatan teknis .

* Pendekatan non teknis yang dimaksud adalah penerbitan peraturan sekaligus sosialisasi peraturan yang digunakan sebagai landasan hukum bagi pengelola badan air maupun penghasil limbah dalam mengendalikan limbah maupun mengelola limbahnya.

* Pendekatan teknis berupa penyediaan / pengadaan sarana dan prasarana penanganan limbah serta monitoring dan evaluasi..

Pengelolaan Limbah Cair Untuk Pengendalian Pencemaran Air
# Yang di Atur dalam Peraturan Pengelolaan Limbah

* Hal yang diatur antara lain adalah mengenai sistem penanganan limbah, baku mutu efluen limbah, baku mutu badan air penerima, monitoring dan evaluasi, pelaporan, dan sangsi, serta organisasi pengelola.

* Peraturan yang digunakan sebagai landasan hukum bagi pengelola dalam pencemaaran air, terutama yang bersangkutan baku mutu lingkungan..

# Pengelolaan Limbah Cair Di Kota

* Sistem Penanganana Limbah Domestik

* Limbah yang berasal dari rumah tangga, bangunan kantor, bangunan sekolah, maupun bangunan lainnya pada prinsipnya di lokalisasi agar tidak menyebar kemana-mana.

* Kita mengenal dua cara penanganan limbah domestik di lingkungan perkotaan menurut lokasi penempatan bak pengolahan limbah cair yaitu sistem penannganan limbah setempat dan terpusat.

* Skema Penangan Limbah Cair Dengan Sistem Setempat..

Rumah Tangki Septik dan Bidang Resapan Truk Tinja Instalalasi Pengelolahan Lumpur Tinja Beberapa Rumah Tangki Septik Bersama Truk Tinja Instalalasi Pengelolahan Lumpur Tinja
#

* Skema Penanganan Limbah Di Kawasan Industri Sistem Terpusat..

1. Daerah Pemukiman 2. Daerah Industri 3. Daerah Perdagangan 4. Daerah Perkantoran Bak Kontrol Jaringan Rlool Kota Instalasi Pengelolaan Limbah Cair Badan Air Penerima
#

* Sistem Penanganan Limbah Industri

* Penanganan Limbah Industri Sistem Setempat

* Sekitar tahun 1970 limbah industri ditangani dengan membuat instalasi pengolahan limbah industri di tempat (end of pipe). Model ini disebut sebagai penanganan limbah industri dengan system setempat. Pengolahan terhadap limbah industri ini memerlukan biaya yang tidak kecil,sehingga brepengaruh terhadap harga jual barang produksinya.

* Kemudian para industriawan melakukan berbagai upaya,agar limbah yang dihasilkan sesedikit mungkin dan dengan memanfaatkan kembali limbah yang ada. Cara ini disebut dengan istilah ‘produksi bersih’..

#

* Skema Penanganan Limbah Di Kawasan Industri Sistem Terpusat..

Industri A Industri B Industri C IPAL Industri Industri E Industri D Pengelolaan Pendahuluan sungai
#

* Produksi bersih didefinisikan sebagai strategi pengelolaan lingkungan yang bersifat preventif,proaktif,terpadu dan diterapkan secar kontinyu pada setiap kegiatan mulai dari hulu sampai dengan ke hilir yang terkait dengan proses produksi terhadap suatu produk barang atau jasa.

* Tujuannya adalah untuk meningkatkan efisiensi penggunaan sumber daya alam, mencegah terjadinya prncemaran lingkungan dan mengurangi terbentuknya limbah mulai dari sumbernya sehingga dapat memperkecil resiko terhadap kesehatan dan keselamatan manusia serta kerusakan lingkungan.

* Pencegahan pencemaran adalah upaya dalam mencapai produksi bersih. Dalam konsep ini limbah didefinisikan sebagai sumber daya yang tidak pada tempatnya..

APAKAH PRODUKSI BERSIH & PENCEGAHANNYA
# Hirarkhi Pencegahan Pencemaran Peng urangan Daur ulang &Peman- faatan kembali Mengelola limbah Membuang Limbah
# Manfaat Produksi Bersih

* Beberapa keuntungan dalam penerapan/pelaksanaan Produksi Bersih adalah :

* Penggunaan sumberdaya alam lebih efisien.

* Mengurangi atau mencegah terbentuknya bahan pencemar.

* Mencegah berpindahnya pencemar dari satu media ke media lainnya.

* Terhindar dari biaya pemulihan lingkungan.

* Produk yang dihasilkan dapat bersaing di pasar internasional.

* Mengurangi resiko terhadap kesehatan manusia dan lingkungan.

* Mendorong dikembangkannya teknologi pengurangan limbah pada sumbernya dan produk akrab lingkungan..

PENCEMARAN AIR Apakah Pencemaran Air itu ? Bagaimana Pengendaliannya ? Apakah produksi bersih & pencegahan ? Proses pembersihan diri dlm air sungai Sumber & Karakteristik Limbah Air Dampak terhadap lingkungan Peraturan pengelolaan limbah Cara pengelolaan Limbah di kota Hiraki dlm pencegahan pencemaran Manfaat produksi bersih
Pencemaran Air

Klik disini untuk melanjutkan »»

kelemahan-kelemahan uji BOD

.
0 komentar


Polusi Air
Polusi air adalah penyimpangan sifat-sifat air dari keadaan normal, bukan dari kemurniaanny. Air yang tersebar dialam tidak pernah dapat dalam bentuk murni, tetapi bukan berarti semua air sudah sudah berpolusi. Air permukaan dan air sumur biasanya mengandung bahan-bahan metal terlarut seperti Na, Mg, Ca, dan Fe. Air yang mengandung komponen-komponen tersebut dalam jumlah tinggi disebut air sadah.
Air yang tidak berpolusi tidak selalu merupakan air murni, tetapi adalah air yang tidak mengandung bahan-bahan asing tertentu dalam jumlah melebihi batas yang ditetapkan sehingga air tersebut dapat digunakan secara normal untuk keperluan tertentu. Adanya benda-benda asing yang mengakibatkan air tersebut tidak dapat digunakan secara normal disebut polusi.

Polutan Air
Ciri-ciri air yang mengalami polusi sangat bervariasi tergantung dari jenis dan polutannya atas komponen yang mengakibatkan polusi. Tanda-tanda polutan air yang berbeda disebabkan oleh sumber dan jenis polutan yang berbeda-beda. Polutan air dapat dikelompokkan atas 9 prup berdasarkan perbedaan sifat-sifatnya sebagai berikut:
1.Padatan
2.Bahan-bahan yang membutuhkan oksigen
3.Mikroorganisme
4.Komponen organik sitetik
5.Nutrien tanaman
6.Minyak
7.Senyawa anorganik dan mineral
8.Bahan radioaktif
9.Panas

Suhu
Kenaikan suhu air akan menimbulkan beberapa akibat beberapa akibat sebagai berikut:
1.Jumlah oksigen terlarut di dalam air menurun
2.Kecepatan ikan dan hewan air lainnya terganggu
3.kecepatan reaksi kimia meningkat
4.jika batas suhu yang mematikan terlampaui, ikan dan hewan air lainnya mungkin akan mati.

Warna, bau dan rasa
Warna air yang tidak normal biasanya menunjukkan adanya polusi. Warna air dapat dibedakan atas dua macam yaitu warna sejati (true color) yang disebabkan oleh bahan-bahan terlarut, dan warna semu (Apparent color), yang sesuai disebabkan adanya bahan-bahan terlarut juga karena adanya bahan-bahyan tersuspensin, termasuk diantaranya yang bersifat koloid.
Bau air tergantung dari sumber airnya. Bau air dapat disebabkan oleh bahan-bahan kimia, ganggang, plamkton atau tumbuhan dan hewan air, baik yang hidup maupun yang sudah mati.
Air yang normasl sebenarnya tidak mempunyai rasa. Timbulnya rasa yang menyimpang biasanya disebabkan oleh adanya polusi, dan rasa yang menyimpang tersebut biasanya dihubungkan dengan baunya karena pengujian terhadap rasa air jarang dilakukan. Air yang mempunyai bau tidak normal juga dianggap mempunyai rasa yang tidak normal.

Padatan
Air yang terpolusi selalu mengandung padatan yang dapat dibedakan atas empat kelompok berdasarkan besar partikelnya dan sifat-sifat lainnya, terutama kelarutannya yaitu:
1.Padatan terendap (sedimen)
2.Padatan tersuspensi dan koloid
3.Padatan terlarut
4.Minyak dan lemak

BAHAN BUANGAN YANG MEMERLUKAN OKSIGEN
Oksigen terlarut
Oksigen terlarut merupakan kebutuhan dasar untuk kehidupan tanaman dann hewan didalam air. Biota air yang hangat memerlukan O2 terlarut minimal 5 ppm, sedangkan biota air dingin memerlukan O2 terlarut mendekati jenuh. Konsentrasi O2 terlarut minimal untuk kehidupan biota tidak boleh kurang dari 6 ppm.

BOD (Biochemical Oxygen Demand)
BOD menunjukkan jumlah O2 terlarut yang dibutuhkan oleh organisme hidup untuk memecah / mengoksidasi bahan-bahan buangan di dalam air. Uji BOD mempunyai beberapa kelemahan, diantaranya adalah:
1.Dalam uji BOD ikut terhitung O2 konsumsi oleh bahan-bahan anorganik / bahan-bahan tereduksi lainnya yang disebut juga “intermediete oxygen demand”.
2.Uji BOD memerlukan waktu yang cukup lama yaitu minimal 5 hari.
3.Uji BOD yang dilakukan 5 hari masih belum dapat menunjukkan nilai total BOD melainkan hanya kira-kira 6% dari total BOD.
4.Uji BOD tergantung dari adanya senyawa penghambat didalam air tersebut.

COD (Chemical Oxygen Demand)
COD adalah sesuatu uji yang menentukan jumlah O2 yang dibutuhkan oleh bahan oksidan, misalnya iodium dikromat, untuk mengoksidasi bahan-bahan organik yang terdapat didalam air. Uji COD biasanya menghasilkan nilai kebutuhan O2 yang lebih tinggi daripada uji BOD karena bahan-bahan yang stabil terhadap reaski biologi dan mikrooganisme dapat ikut teroksidasi dalam uji COD 96% hasil uji COD yang dilakukan selama 10 menit kira-kira akan setara dengan hasil uji BOD selama 5 hari.

Mikroorganisme
Mikrobiologi Air
Mikroorganisme yang terdapat di dalam air berasal dari berbagai sumber seperti udara, tanah, sampah, lumpur, tanaman hidup/mati (bangkai), kotoran manusia/hewan, bahan organik lainnya. Patogen yang sering ditemukan didalam air terutama adalah bakteri-bakteri penyebab infeksi saluran pencernaan seperti Vibrio cholerae penyebab penyakit kolera, Shigella dysentriae penyebab penyakit disentri basiler dan lain-lain. Untuk mencegah penyebaran penyakit melalui air perlu dilakukan kontrol terhadap polusi air.
Jumlah dan jenis mikrooganisme yang terdapat di dalam air bervariasi bergantung dari berbagai faktor. Faktor-faktor tersebut adalah:
1.Sumber air
Jumlah dan jenis mikroorganisme di dalam air dipengaruhi oleh sumber air tersebut, misalnya air atmosfer (air hujan/salju), air permukaan (danau, sungai), air tanah (sumur, mata air), air tergenang (air laut), dsb.
2.Komponen nutrien dalam air
Air, terutama air buangan sering mengandung komponen-komponen yang dibutuhkan oleh spesies mikroorganisme tertentu. Semua air secara alamiah juga mengandung mineral-mineral yang cukup untuk kehidupan mikroorganisme didalam air.
3.Komponen beracun
Komponen beracun yang terdapat di dalam air mempengaruhi jumlah dan jenis mikroorganisme di dalam air tersebut.
4.Organisme air
Adanya organisme lain di dalam air dapat mempengaruhi jumlah dan jenis mikroorganisme air sebagai contoh plankton merupakan organisme yang makan bakteri, ganggang dan plankton lainnya, sehingga adanya plankton dapat mengurangi jumlah organisme-organisme tersebut.
5.Faktor fisik
Jumlah dan jenis mikroorganisme juga dipengaruhi oeh faktor-faktor fisik seperti: suhu, pH, tekanan osmotik, tekanan hidrostatik, aerasi, dan penetrasi sinar matahari. Jumlah dan jenis mikroorganisme didalam air buangan selain dipengaruhi oleh faktor-faktor diatas juga dipengaruhi oleh jenis polutan air tersebut. Misalnya air yang terpolusi oleh kotoran hewan dan manusia mengandung bakteri-bakteri yang berasal dari kotoran seperti Esherchia coli, Streptokoki fekal, Clostridium perfringens.

Bakteri Indikator Polusi
Bakteri indikator polusi/ indikator sanitasi adalah bakteri yang dapat digunakan sebagai petunjuk adanya polusi feses/kotoran manusia / hewan, karena organisme tersebut merupakan organisme komensal yang terdapat didalam saluran pencernaan manusia maupun hewan.

LOGAM BERAT
Merkuri
Sifat-sifat Merkuri
Merkuri merupakan elemen alami, oleh karena itu sering mencemari lingkungan. Komponen merkuri banyak tersebar dikarang-karang, tanah, udara, air dan organisme hidup melalui proses-proses fisik kimia dan biologi yang komplek. Sifat-sifat kimia dan fisik merkuri membuat logam tersebut banyak digunakan untuk keperluan ilmiah dan industri. Beberapa sifat tersebut adalah sebagai berikut:
1.merkuri merupakan satu-satunya logam yang berbentuk cair pada suhu kamar (25°C) dan mempunyai titik buku terendah dari semua logam, yaitu -39°C.
2.Kisaran suhu dimana merkuri terdapat dalam bentuk cair sangat lebar, yaitu 396°C, dan pada kisaran suhu ini merkuri mengembang secara merata.
3.Merkuri mempunyai volatiilitas yang tertinggi dari semua logam.
4.Ketahanan listrik merkuri sangat rendah sehingga merupakan konduktor yang terbaik dari semua logam.
5.Merkuri dan komponen-komponennya bersifat racun terhadap semua makhluk hidup.
Kegunaan Merkuri
Merkuri digunakan dalam berbagai bentuk dan untuk berbagai keperluan, misalnya industri Ixhlor alkali, merupakan industri yang merupakan industri yang menggunakan merkuri yang terbesar, penggunaan kedua yang terbesar dari merkuri adalah dalam produksi alat-alat listrik untuk berbagai keperluan, cat, instrumen, sebagai katalis, kedokteran gigi, pertanian, alat-alat laboratorium, obat-obatan, industri kertas , amalgan dan sebagainya. Penggunaan merkuri dan komponen-komponennya sebagai fungisida merupakan kegunaan ketiga terbesar dari merkuri.

Pencemaran Merkuri di dalam air dan lingkungan
Penggunaan merkuri didalam industri sering-sering menyebabkan pencemaran lingkungan, baik melalui air buangan maupun melalui sistem ventilisasi udara. Merkuri yang terbuang kesungai dan pantai atau badan air disekitar industri-industri tersebut kemudian dapat mengkontaminasi ikan-ikan dan makhluk air lainnya termasuk ganggang dan tanaman air.

TIMBAL
Sifat-sifat Timbal
Timbal banyak digunakan untuk berbagai keperluan karena sifat-sifatnya sebagai berikut:
1.Timbal mempunyai titik cair rendah sehingga jika digunakan dalam bentuk cair dibutuhkan teknik yang cukup sederhana dan tidak mahal.
2.Timbal merupakan logam yang lunak sehingga mudah diubah menjadi berbagai bentuk.
3.Sifat kimia timbal menyebabkan logam ini dapat berfungsi sebagai lapisan pelindung jika kontak dengan udara lembab.
4.Densitas timbal lebih tinggi dibandingkan dengan logam lainnya kecuali emas dan merkuri.

Kegunaan Timbal
Penggunaan timbal terbesar adalah produksi baterai penyimpan untuk mobil, dimana digunakan timbal metalik dan komponen-komponennya. Penggunaan lainnya dari timbal adalh untuk produk-produk logam seperti amunisi, pelapis kabel, pipa dan solder, bahan kimia, pewarna dll.

Sumber Polusi Timbal
Timbal yang mencemari udara terdapat dalam 2 bentuk, yaitu berbentuk gas dan partikel-partikel. Gas timbal terutama berasal dari pembakaran bahan aditif bensin dari kendaraan bermotor yang terdiri dari tetraetil Pb dan tetrametil Pb. Partikel-partikel Pb diudara berasal dari sumber-sumber lain seperti pabrik-pabrik aktif Pb dan Pb okside, pembakaran arang dsb. Polusi Pb yang terbesar bersal dari pembakaran bensin, dimana dihasilkan berbagai komponen Pb, terutama PbBrCl dan PbBrCl, 2PbO.

Keracunan Pb
Daya racun Pb didalam tubuh diantaranya disebabkan oleh penghambatan enzim oleh ion-ion Pb2+. Pb yang tertinggal didalam ion tubuh, baik dari udara maupun melalui makanan/minuman, akan mengumpul terutama didalam skeleton (90-95%). Tulang berfungsi sebagai tempat pengumpulan Pb karena sifat-sifat iion Pb2+ yang hampir sama dengan Ca2+ .

Penanganan Air Buangan
Bentuk kontrol polusi air yang paling umum dilakukan di dalam industri-industri terdiri dari sistem buangan dan penanganan air buangan. Air buangan dikumpulkan melalui sistem buangan yang keluar dari tempat pengolahan limbah tersebut diharapkan mutunya sudah memenuhi syarat untuk dibuang kembali kedalam suplai air minum. Proses penanganan air buangan pada prinsipnya terdiri dari 3 tahap, yaitu proses penanganan primer (penyaringan, pengendapan, pemisahan endapan) sekunder (penyaringan trikel dan lumpur aktif) dan tersier/lanjut.

Polusi Air
Polusi air adalah penyimpangan sifat-sifat air dari keadaan normal, bukan dari kemurniaanny. Air yang tersebar dialam tidak pernah dapat dalam bentuk murni, tetapi bukan berarti semua air sudah sudah berpolusi. Air permukaan dan air sumur biasanya mengandung bahan-bahan metal terlarut seperti Na, Mg, Ca, dan Fe. Air yang mengandung komponen-komponen tersebut dalam jumlah tinggi disebut air sadah.
Air yang tidak berpolusi tidak selalu merupakan air murni, tetapi adalah air yang tidak mengandung bahan-bahan asing tertentu dalam jumlah melebihi batas yang ditetapkan sehingga air tersebut dapat digunakan secara normal untuk keperluan tertentu. Adanya benda-benda asing yang mengakibatkan air tersebut tidak dapat digunakan secara normal disebut polusi.

Klik disini untuk melanjutkan »»

7.12.2009

tentang turjuman al mustafid dan tafsir di indonesia

. 7.12.2009
0 komentar


Keseluruhan kitab tafsir yang dibuat pada masa sahabat, tabiin, dan tabiit tabiin (pengikut tabiin) ditulis dalam bahasa Arab. Kitab tafsir seperti ini hanya mampu dibaca oleh orang yang mempunyai kemampuan dan pengetahuan bahasa Arab yang cukup. Padahal, tujuan tafsir adalah untuk memperjelas makna kata-kata dan pemahaman teks Alquran yang juga menggunakan bahasa Arab.

Untuk memudahkan umat Islam Indonesia dalam memahami isi dan kandungan Alquran, usaha penerjemahan dan penafsiran Alquran dengan bahasa Indonesia juga dilakukan, baik oleh perorangan maupun kelompok. Penerjemahan dan penafsiran Alquran oleh ulama di Tanah Air tidak hanya dilakukan ke dalam bahasa Indonesia, tetapi juga dalam bahasa daerah dan bahasa Melayu.

Di antara ulama Indonesia yang secara perorangan telah menyusun tafsir Alquran adalah H Oemar Bakry (ahli tafsir, ulama, dan mubaligh dari Sumatra Barat) melalui buku berjudul Tafsir Rahmat. Selain itu, umat Islam di Indonesia juga mengenal nama Buya Hamka dengan kitab Tafsir al-Azhar dan Quraish Shihab dengan Tafsir al-Misbah.

Sementara itu, Departemen Agama secara institusional telah mengadakan upaya penerjemahan dan penafsiran Alquran. Buku terjemahan Alquran dan tafsir yang dikeluarkan oleh Departemen Agama masing-masing berjudul Alquran dan Terjemahannya serta Alquran dan Tafsirnya.

Penulisan kitab terjemahan dan tafsir Alquran dalam bahasa Indonesia, bahasa daerah, dan bahasa Melayu sebenarnya sudah dimulai pada abad ke-17 M. Pada masa itu, Syekh Abdur Rauf Singkel--seorang ulama asal Singkel, Aceh--menyusun sebuah kitab tafsir pertama berbahasa Melayu yang diberi judul Turjuman al-Mustafid.
Upaya penerjemahan dan penafsiran Alquran dalam bahasa Melayu diteruskan pada periode selanjutnya oleh Muhammad bin Umar yang terkenal dengan nama Syekh Nawawi al-Bantani al-Jawi. Kitab Tafsir al-Munir li Ma'alim at-Tanzil al-Musfir 'an Wujuh Mahasin at-Ta'wil yang disusun Syekh Nawawi ini diterbitkan di Makkah pada permulaan tahun 1880-an. Hingga kini, sudah beberapa kali dicetak ulang dan banyak beredar di kawasan Timur Tengah.

Sementara itu, pada abad ke-19 M hingga memasuki abad ke-20 M, mulai bermunculan berbagai macam kitab terjemahan dan tafsir Alquran karya para ulama di dalam negeri. Di antaranya, Al-Quran Karim dan Terjemahan Maknanya karya Prof H Mahmud Yunus yang dirilis pada 1967. Tafsir ini hanya terdiri atas satu jilid, namun penafsirannya mencakup 30 juz.

Pada 1974, umat Islam di Indonesia mulai mengenal kitab tafsir dalam bahasa daerah melalui Al-Kitab al-Mubin Tafsir Alquran berbahasa Sunda yang disusun oleh KH MHD Ramli. Kemudian, di tahun 1977, muncul kitab tafsir dalam bahasa Jawa karya Prof KH R Muhammad Adnan yang berjudul Tafsir Alquran Suci.

Penulisan tafsir Alquran dalam bahasa Indonesia secara lebih lengkap dalam satu jilid baru dilakukan oleh H Oemar Bakry melalui kitab Tafsir Rahmat yang terbit pada tahun 1981. Penafsiran dalam kitab ini dilakukan berdasarkan urutan surah dan ayat dalam Alquran tanpa mengelompokkan ayat sesuai dengan masalah yang dikandungnya. Yang membedakan kitab Tafsir Rahmat dengan kitab-kitab tafsir karya ulama Indonesia sebelumnya adalah setiap surah yang akan ditafsirkan didahului oleh suatu pendahuluan yang berisi uraian tentang nama atau nama-nama lain surah tersebut, jumlah ayat, hubungan antarsurah, dan pokok isi surah. Penafsiran surah diakhiri dengan penutup yang berisi kesimpulan mengenai kandungannya.

Pada perkembangan berikutnya, masyarakat Muslim Indonesia juga mengenal Tafsir al-Azhar yang disusun oleh Hamka yang terbit pada tahun 1983. Kitab ini terdiri atas 15 jilid dan setiap jilid berisi penafsiran dua juz Alquran. Di setiap awal surah yang ditafsirkan, diuraikan lebih dahulu beberapa hal yang berkaitan dengan surah dan pokok isinya. Selain itu, setiap ayat juga disertai dengan terjemahannya. Masalah pokok yang terkandung dalam ayat-ayat tertentu diuraikan dan ditafsirkan secara panjang lebar.

Selain kitab tafsir yang disusun secara perorangan, Muslim di Tanah Air juga mengenal karya tafsir yang dibuat secara kelompok atau oleh lembaga. Di antaranya Alquran dan Terjemahannya yang disusun oleh Yayasan Penyelenggara Penerjemah Alquran atas penunjukan oleh Departemen Agama RI. Alquran dan Terjemahannya terbit pertama kali tahun 1971 dan sejak tahun 1990 terjemahannya telah mengalami revisi. dia/berbagai sumber(www.republika.co.id)

Keseluruhan kitab tafsir yang dibuat pada masa sahabat, tabiin, dan tabiit tabiin (pengikut tabiin) ditulis dalam bahasa Arab. Kitab tafsir seperti ini hanya mampu dibaca oleh orang yang mempunyai kemampuan dan pengetahuan bahasa Arab yang cukup. Padahal, tujuan tafsir adalah untuk memperjelas makna kata-kata dan pemahaman teks Alquran yang juga menggunakan bahasa Arab.

Untuk memudahkan umat Islam Indonesia dalam memahami isi dan kandungan Alquran, usaha penerjemahan dan penafsiran Alquran dengan bahasa Indonesia juga dilakukan, baik oleh perorangan maupun kelompok. Penerjemahan dan penafsiran Alquran oleh ulama di Tanah Air tidak hanya dilakukan ke dalam bahasa Indonesia, tetapi juga dalam bahasa daerah dan bahasa Melayu.

Klik disini untuk melanjutkan »»

makna Israiliyyat

.
0 komentar


Israiliyyat dalam Kitab TaIfSsLirA A-MnIwYaYrA -BTa 2id6h(a2w) (i2004): 23 - 37 23
Israiliyyat dalam Kitab Tafsir Anwar Baidhawi
MAZLAN IBRAHIM
AHMED KAMEL MOHAMAD
ABSTRAK
Islam merupakan agama yang syumul merangkumi seluruh aspek kehidupan
manusia. Sejajar dengan itu, al-Quran diturunkan sebagai kitabullah yang
mempunyai panduan dan hidayah kepada seluruh umat manusia lengkap
dengan segala isi kandungannya sama ada dari segi akidah, ibadah,
perundangan, akhlak, sejarah dan sebagainya. al-Quran dinukilkan secara
mutawatir dan merupakan kitab yang sentiasa dipelihara isi kandungannya
oleh Allah (s.w.t.) daripada diseleweng oleh musuh Allah (s.w.t.). Namun begitu
tidak dinafikan bahawa terdapat sesetengah para pentafsir dahulu atau masa
kini memasukkan beberapa unsur-unsur Israiliyyat di dalam pentafsiran
mereka. Unsur ini banyak dikesan terutamanya dalam menggambarkan perihal
cerita-cerita para nabi dan rasul, dan faktor ini adalah antara penyebab
berlakunya kelemahan dalam Tafsir Ma’thur. Kajian ini cuba menganalisis
kitab tafsir Melayu lama karangan Syeikh Abd. Al-Rauf bin Ali al-Fansuri al-
Singkili, yang merupakan antara kitab-kitab tafsir berbahasa Melayu yang
dipelajari di surau-surau serta pondok-pondok bukan sahaja di Indonesia
bahkan juga di Malaysia. Kajian ini akan menjelaskan tentang biodata
pengarang terlebih dahulu, dan kemudiannya diikuti dengan pengenalan
kitab dan terakhir ialah analisa terhadap riwayat-riwayat Israiliyyat yang
terdapat di dalamnya. Selayaknya kitab ini diberi perhatian dan penumpuan
bagi menilai sama ada ia juga dipengaruhi oleh riwayat-riwayat Israiliyyat
ataupun tidak. Semoga masyarakat yang cintakan al-Quran mampu mendalami
tafsiran-tafsirannya tanpa terpengaruh dengan riwayat-riwayat Israiliyyat
yang batil yang tidak berdasarkan kepada sanad yang sahih.
ABSTRACT
Islam is a perfect religion which is covered all aspects of human life. In respect
to this, al-Quran as kitabullah has been revealed to all mankinds as a guideline
in their life which is cover the aspect of aqidah, ibadah, law, akhlaq, history and
others. Al-Quran is revealed through mutawatir method and is guaranteed by
Allah Almighty from any amendments. However there is exist the mufassiruun
who has moulded their interpretations with Israiliyyat. These elements are
used whenever the mufassiruun explains about the story of the prophets. As a
result of these, the Tafsir Ma’thur is considered very weak. Therefore this
24 Isla-miyya-t 26(2)
article will analyse one of the well-known tafsir which is written in Malay by
Syeikh Abd. al-Rauf bin Ali al-Fansuri al-Singkili namely Tafsir Anwar
Baidhawi. This tafsir is widely circulated among the students in Indonesia’s
and Malaysia’s pondok. The discussion of this book will be devided into three
parts. First, the writer will discuss about the background of Syeikh Abd. Al-
Rauf bin Ali al-Fansuri al-Singkili. It follows with the introduction of the kitab.
Finally the writer will analyse the verses which is influenced by the Israiliyyat.
This article comes to the conclusion that a thorough examinations towards the
Malay kitab tafsir should be done intensively in order to ensure that the
Muslims community are not influenced by the Israilliyyat interpretation.
PENDAHULUAN
Al-Quran merupakan satu mukjizat yang sesuai untuk semua zaman, keadaan,
dan juga tempat. Oleh itu, ia memerlukan satu penafsiran yang kukuh untuk
memudahkan orang awam memahami kandungan al-Quran dan seterusnya dapat
menghayati segala isi kandungannya. Penafsiran yang dilakukan tidak berhatihati
akan memudahkan unsur-unsur Israiliyyat dan khurafat memasuki ke dalam
kitab-kitab tafsir. Unsur-unsur Israiliyyat ini menyerap masuk ke dalam kitab
tafsir kerana sikap ambil mudah pentafsir. Mereka terus menukilkan tafsir tanpa
mengira kesahihan cerita tersebut.
Islam adalah agama yang syumul. Segala pengajaran, arahan dan larangannya
adalah merangkumi seluruh aspek kehidupan manusia. Sejajar dengan itu, al-
Quran diturunkan sebagai kitabullah yang mempunyai panduan dan hidayah
kepada seluruh umat manusia, lengkap dengan segala isi kandungannya sama
ada dari segi aqidah, ibadah, perundangan, akhlak, sejarah dan sebagainya. Al-
Quran dinukilkan secara mutawatir dan merupakan kitab yang sentiasa dipelihara
isi kandungannya oleh Allah daripada diseleweng oleh musuh-musuh-Nya.
Namun begitu, terdapat sesetengah para pentafsir dahulu atau masa kini yang
memasukkan unsur-unsur Israiliyyat dalam pentafsiran mereka. Unsur-unsur ini
banyak dikesan terutamanya dalam menggambarkan perihal cerita-cerita para
nabi dan rasul. Faktor ini adalah antara penyebab berlakunya kelemahan dalam
tafsir ma’thur.
Artikel ini bertujuan untuk menganalisa kitab tafsir Melayu Tafsir Anwar
Baidhawi karangan Abd. Al-Rauf bin Ali al-Fansuri al-Singkili atau Sheikh
Abdurrauf yang ditafsirkan secara lengkap tiga puluh juzuk. Kitab ini ditulis
dalam bahasa Melayu tulisan Jawi lama. Tafsir ini masih dicetak hingga sekarang.
Ia dicetak dalam tiga penggal, dan yang terbaru sekali ia dicetak hanya dalam
satu jilid tebal. Kitab tafsir ini menjadi pilihan kerana ia merupakan antara kitabkitab
tafsir berbahasa Melayu yang dipelajari di surau-surau, masjid-masjid serta
pondok-pondok di Malaysia. Kitab ini wajar diberi perhatian dan penumpuan
bagi menilai sama ada ia juga dipengaruhi oleh kisah-kisah Israiliyyat ataupun
Israiliyyat dalam Kitab Tafsir Anwar Baidhawi 25
tidak. Artikel ini bertujuan membincangkan tafsiran-tafsiran al-Quran secara
terperinci, tanpa terpengaruh dengan kisah-kisah Israiliyyat yang tidak
berdasarkan kepada sanad yang sahih.
PENGERTIAN ISRAILIYYAT
Perkataan Israiliyyat adalah diambil daripada kata jamac. Mufradnya adalah
diambil daripada kata Israiliyyah, yang dinisbahkan kepada Bani Israil (keturunan
Israil). Manakala Israil pada asalnya adalah nama Nabi Allah Yaakob (a.s.) yang
membawa maksud Abdullah atau hamba Allah. Bani Israil atau keturunan Israil
ialah keturunan Nabi Yaakob (a.s.) yang berkembang hingga kepada Nabi Musa
(a.s.) dan seterusnya nabi-nabi yang datang silih berganti, sehinggalah
keturunannya yang terakhir iaitu Nabi Isa (a.s.).
Keturunan Nabi Yaakob (a.s.) atau Bani Israil sejak beberapa zaman yang
lalu dikenali dengan panggilan Yahudi. Keturunan yang beriman kepada Nabi
Isa (a.s.) pula dikenali dengan nama Nasara atau Nasrany. Manakala yang beriman
dengan Nabi Muhammad (s.a.w.) pula telah menjadi sebahagian daripada umat
Islam dan dikenali dengan Muslim ahl al-Kitab (Abu Syaybah 1408: 12).
Israiliyyat menurut istilah ahli tafsir ialah kisah-kisah Yahudi yang menyerap
masuk ke dalam masyarakat Islam melalui tafsir al-Quran yang banyak berlaku di
zaman tabi’in. Namun ulama tafsir dan hadith menggunakan istilah Israiliyyat
terhadap perkara-perkara yang lebih luas, iaitu setiap kisah termasuk cerita lama
yang diadakan, dimasukkan ke dalam tafsir. Bahkan sesetengah ulama tafsir dan
hadith menganggap Israiliyyat adalah setiap kisah yang dicipta dan disampai
oleh musuh-musuh Islam ke dalam tafsir dengan tujuan untuk merosakkan
kesucian Islam (al-Dhahabi 1990: 13).
RIWAYAT ISRAILIYYAT
Secara umumnya, riwayat Israiliyyat boleh dibahagikan kepada tiga bahagian;
1. Israiliyyat yang sahih dan bertepatan dengan nas-nas al-Quran dan al-
Sunnah. Israiliyyat daripada bahagian ini harus diriwayatkan berdasarkan
Hadith Nabi (s.a.w.) yang bermaksud (al-Bukhari t.th., 1: 258):
Sampaikan daripada aku walaupun satu ayat. Perkatakanlah tentang kisah-kisah
Bani Israil dan ianya bukan menjadi satu kesalahan. Dan sesiapa berdusta terhadapku
maka disediakan baginya tempat di dalam neraka.
2. Israiliyyat yang bercanggah dengan nas yang Qatci daripada al-Quran dan
juga al-Sunnah, serta menyalahi lojik akal. Israiliyyat daripada bahagian ini
tidak harus diriwayatkan.
26 Isla-miyya-t 26(2)
3. Israiliyyat yang ‘Maskut cAnhu’ iaitu yang tidak disokong oleh nas al-
Quran dan juga al-Sunnah iaitu ia bukan dari bahagian pertama dan juga
bahagian kedua. Bahagian ini tidak perlu kita membenarkannya dan
tidak juga mendustakannya. Tetapi harus diriwayatkannya (al-Zahabi t.th.,
1: 178).
PENGARUH ISRAILIYYAT KE ATAS KITAB TAFSIR
Kemasukan Israiliyyat ke dalam tafsir bermula dengan kemasukan thaqafah
(peradaban) Bani Israil (yang berhijrah ke Semenanjung Arab) ke dalam thaqafah
Arabiyyah di zaman Jahiliyyah. Bangsa Yahudi ini membawa bersama-sama
mereka ilmu-ilmu dan pengetahuan yang diambil daripada kitab-kitab agama
mereka, dan segala perkara yang berkaitan dengannya daripada huraian-huraian,
dan juga yang mereka warisi daripada satu generasi ke satu generasi daripada
nabi-nabi mereka dan pendita-pendita mereka. Mereka mempunyai tempat yang
dinamakan al-midras iaitu sekolah-sekolah tempat mereka mempelajari setiap
perkara yang diwarisi. Mereka juga mempunyai tempat-tempat ibadah dan syiar
agama mereka.
Kemudian, datang ajaran Islam dan kitab Allah (s.w.t.) yang terkandung di
dalamnya ilmu dan agama. Seruan Islam lahir dan tersebar di kalangan penduduk
Semenanjung Arab. Pada zaman Rasulullah (s.a.w.) pusat negara Islam adalah
Madinah al-Munawwarah. Untuk mendidik para sahabat, majlis-majlis ilmu pada
zaman Rasulullah (s.a.w.) ini dilakukan di Masjid Madinah. Di kota Madinah dan
di sekitarnya tinggal bermukim beberapa golongan Yahudi seperti Bani Qainuqa’,
Bani Quraizah, Bani al-Nadir, Yahudi Khaibar, Taima’ dan Fadak.
Terdapat di kalangan ulama Yahudi atau ahli Kitab di Madinah yang memeluk
Islam seperti Abdullah b. Salam (r.a.). Beliau dan orang sepertinya menjadi tempat
rujukan kepada sahabat untuk bertanya secara terperinci tentang kisah-kisah
yang sama yang juga disebut di dalam kitab-kitab al-Quran dan Taurat. Namun
para sahabat tidak menerima bulat-bulat apa yang diceritakan kepada mereka.
Malah mereka menapisnya dengan akal dan juga syarak. Mereka hanya menerima
apa yang diterima oleh akal dan syarak dan menolak sekiranya bercanggah dengan
keduanya. Seterusnya mereka berdiam diri terhadap perkara-perkara yang tidak
jelas tentang benar dan salahnya.
Ibn Khaldun (1968, 1: 786-787) menyatakan apabila timbul keinginan di
kalangan orang-orang Arab untuk mengetahui tentang permulaan kejadian
makhluk dan rahsia kejadian, mereka cenderung bertanya ahli kitab dari kalangan
Yahudi dan Nasrani. Majoriti mereka adalah dari suku bangsa Humair. Apabila
mereka memeluk Islam, pengaruh daripada ajaran agama mereka yang berkaitan
dengan asal kejadian makhluk, cerita-cerita tentang peperangan dan sebagainya
masih kuat dalam diri mereka. Antara golongan mereka ialah Ka’ab b. al-Ahbar,
Wahab b. Munabbih, dan Abdullah b. Salam. Kerana inilah cerita-cerita Israiliyyat
Israiliyyat dalam Kitab Tafsir Anwar Baidhawi 27
yang terdapat dalam kitab-kitab tafsir dipenuhi dengan riwayat-riwayat daripada
mereka.
PENGARUH ISRAILIYYAT TERHADAPAQIDAH UMAT ISLAM
Terdapat sebahagian daripada kisah-kisah Israiliyyat yang boleh menyebabkan
kekeliruan dan mengganggu kemurnian ajaran Islam. Antara kisah-kisah tersebut
ialah yang berbentuk dongeng dan khurafat, yang bersalahan dengan akal dan
syarak. Kisah-kisah ini boleh mengakibatkan kesan berikut;
1. Dalam Israiliyyat terdapat unsur penafian terhadap sifat maksum para anbiya’
dan mursalin, dan menggambarkan mereka menolak kelazatan dan kenikmatan
pemberian Tuhan kepada kekejian dan keaiban yang tidak layak bagi manusia
biasa, sebagai anugerah Tuhan kerana dilantik menjadi nabi. Sebagai contoh
apa yang digambarkan oleh kisah Israiliyyat tersebut terhadap apa yang
menimpa Nabi Allah Ayub (a.s.).
2. Israiliyyat hampir-hampir menghilangkan kepercayaan umat Islam terhadap
sebahagian ulama salaf dari kalangan sahabat dan Tabi’in. Bukan sedikit
dongeng Israiliyyat yang disandarkan riwayatnya kepada segolongan
daripada salafus salih yang terkenal dengan kepercayaan orang dan
keadilannya. Mereka juga terkenal di kalangan orang-orang Islam dengan
tafsir dan Hadith. Antara yang ditohmah ialah Abu Hurairah, Abdullah bin
Salam, Ka’ab al-Ahbar dan Wahab bin Munabih.
3. Israiliyyat juga hampir-hampir memalingkan manusia dari tujuan asal
penurunan al-Quran dan melalaikan mereka daripada meneliti dan memahami
maksud ayat-ayat al-Quran, lalai daripada mengambil manfaat dan iktibar,
serta nasihat-nasihat yang terkandung di dalamnya atau membahaskan
tentang hukum-hukum yang terdapat di dalamnya. Memalingkan mereka
kepada perkara sia-sia yang tiada kebaikan padanya. Contohnya membahaskan
warna anjing Ashabul Kahfi dan namanya, tentang tongkat Nabi
Musa (a.s.), daripada pokok apakah ianya dibuat, tentang nama budak kecil
yang dibunuh oleh Khidir dan sebagainya.
Inilah antara kesan terhadap aqidah umat Islam dan juga terhadap kesucian
ajaran Islam hasil daripada riwayat Israiliyyat. Kaum Yahudi berusaha dengan
bersungguh-sungguh untuk merosakkan aqidah umat Islam dan melemahkan
kepercayaan mereka terhadap pegangan suci mereka terhadap al-Quran dan al-
Sunnah. Mereka juga berusaha untuk menggoncang kepercayaan umat Islam
terhadap Salafussoleh yang telah berperanan untuk memikul risalah umat Islam
dan menyebarkannya ke setiap penjuru Timur dan Barat. Oleh itu, umat Islam
seharusnya memberi perhatian dan mengambil berat terhadap penyerapan
Israiliyyat dalam tafsir-tafsir dan menghapuskannya (al-Dhahabi 1990: 29-34).
28 Isla-miyya-t 26(2)
PENULIS TAFSIR
Abd. al-Rauf bin Ali al-Fansuri al-Singkili atau Sheikh Abdurrauf Sheikhkuala,
merupakan seorang tokoh agama, ahli tasawuf, negarawan dan karyawan. Beliau
dilahirkan di Singkel, utara Fansur (Pantai Barat Sumatera). Mengenai tarikh
kelahiran beliau tersebut, terdapat beberapa riwayat yang berbeza. Ada yang
menyatakan bahawa beliau dilahirkan pada tahun 1001H/1592M, ada yang
menyatakan bahawa beliau dilahirkan pada 1024H/1615M, dan ada yang
menyatakan bahawa beliau dilahirkan pada tahun 1029H/1620M. Bagaimanapun,
tidak terdapat percanggahan tentang tarikh wafatnya iaitu beliau meninggal
dunia pada tahun 1106H/1695M di Kuala Sungai Aceh (Mahayuddin 1986: 44).
Abd. al-Rauf mendapat pendidikan awal daripada bapanya, Sheikh Ali al-Fansuri
sehingga beliau menguasai ilmu-ilmu asas agama dan bahasa Arab. Abd. al-
Rauf turut berguru dengan bapa saudaranya, Sheikh Hamzah Fansuri di Dayah
Oboh Simpang Kiri (Singkel) dan dengan Sheikh Shamsuddin Sumarani di Pasai.
Beliau melanjutkan pelajarannya ke Semenanjung Tanah Arab iaitu di Makkah,
Madinah, Yamman, Baitulmaqdis dan Istanbul. Dalam tempoh hampir dua puluh
tahun di luar negeri, Abd. al-Rauf telah mempelajari pelbagai ilmu seperti fikah,
hadith, tafsir, mantiq, falsafah, geografi, ilmu falak, ilmu tauhid, sejarah dan
perubatan. Di samping itu, beliau mempelajari ilmu tasawuf mengikut tarekat
Shattariyyah dan tarekat Qadariyyah sehingga beliau dikurniakan ijazah daripada
dua tarekat tersebut. Dengan itu, beliau dikurniakan gelaran “Sheikh” yang
bermaksud “pemimpin tarekat” (Mahayuddin 1986: 45).
Pada bulan Rabiulawal 1071H/1661M Abd. al-Rauf dilantik menjadi Kadi
Malikul Adil atau Mufti Kerajaan Aceh Darussalam pada zaman pemerintahan
Ratu Safiatuddin dan kekal dengan jawatan itu hingga ke zaman Sultanah Sri
Ratu Kamalatuddin Shah (1098H/1688M-1109H/1699M). Beliau banyak
menghasilkan buku, antaranya ialah kitab cUmdah al-Ahkam mengenai hukumhukum
Islam; al-Tarjuman al-Musafid atau Tafsir Anwar Baidhawi, tafsir al-
Quran yang pertama dalam bahasa Melayu; Bayan Tajalli, yang membahas
masalah falsafah ketuhanan, iaitu faham wahdah al-wujud yang berdasarkan
manusia dan martabat tujuh sebagai gambaran Tuhan yang ditentang oleh Abd.
al-Rauf; Daqa’iq al-Huruf, mengenai rahsia-rahsia huruf; Shicr Macrifah,
kumpulan sajak yang membahas masalah ketuhanan, dan Hidayah al-Balaghah
cala Jumcat al-Mukhasamah, iaitu kitab hukum Islam mengenai sengketa. Bagi
mengenang jasa beliau yang begitu besar dalam bidang pendidikan, pada 2
September 1961 namanya telah diabadikan menjadi nama sebuah universiti di
Darussalam iaitu Universiti Sheikhkuala (Mahayuddin 1986: 44-46).
Abdul Malik Abdul Karim (Hamka) (1999 1: 24) telah menyentuh mengenai
ketokohan Shaykh Abdul Rauf Fansuri dalam pendahuluan kitab tafsir beliau,
Tafsir al-Azhar. Beliau menyatakan:
Bahawa usaha menterjemah dan mentafsirkan al-Quran menerusi penulisan Tafsir al-
Azhar ialah sebagai menyambung dan meneruskan usaha yang telah dirintis oleh para
Israiliyyat dalam Kitab Tafsir Anwar Baidhawi 29
ulama terdahulu, termasuk kitab tafsir yang ditulis oleh Shaykh Abdul Rauf Fansuri pada
abad ke-11H/17M.
TARJUMAN AL-MUSTAFID
Tarjuman al-Mustafid adalah sebuah kitab terjemahan yang dilakukan oleh
Shaykh Abdul Rauf terhadap kitab tafsir Arab berjudul Tafsir Anwar al-Tanzil
wa Asrar al-Ta’wil, karangan Imam al-Qadi al-Baydawi. Ia juga mungkin
merupakan terjemahan daripada Tafsir Jalalayn.
Setelah penelitian dibuat terhadap kedua-dua kitab tafsir tersebut, didapati
banyak perbezaan. Hasil penelitian menunjukkan bahawa Abd. al-Rauf tidak
menterjemah keseluruhan kitab Tafsir Anwar al-Tanzil karya al-Baydawi , tetapi
ia dijadikan sebagai rujukan utama beliau, di samping kitab-kitab tafsir lain seperti
Tafsir al-Khazin dan Tafsir al-Jalalayn.
Pendapat ini dikuatkan lagi dengan kenyataan seorang daripada penyunting
kitab tafsir ini sendiri, iaitu Shaykh Ahmad al-Fatani dalam cetakan pertama.
Beliau berkata “inilah yang dinamakan Tarjuman al-Mustafid bi al-Jawi yang
diterjemahkan dengan bahasa Jawi yang diambil sesetengah maknanya dari Tafsir
al-Baydawi (Wan Mohd. Shaghir 2001: 160). Kenyataan Shaykh Ahmad ini
menunjukkan pihak penyunting sendiri telah menggunakan lafaz ‘sesetengah’
yang membawa maksud bukan semua isi kandungan kitab Shaykh Abdul Rauf
Fansuri telah disalin dan diterjemah daripada kitab Tafsir Anwar al-Tanzil karya
al-Baydawi.
Sebagai penulis tafsir paling awal di Nusantara, karya beliau tersebar ke
seluruh wilayah Melayu-Indonesia. Bahkan cetakan edisinya diedar sehingga
ke Afrika Selatan. Cetakan edisi-edisinya tidak hanya diterbitkan di Singapura,
Penang, Jakarta dan Bombay tetapi juga diterbitkan di Timur Tengah. Disebabkan
Tarjuman Mustafid diterbitkan di Timur Tengah maka ia mencerminkan ketinggian
nilai karya ini serta ketinggian intelektual al-Singkili. Edisi terakhir beliau diterbitkan
di Jakarta pada tahun 1981 (Azyumardi Azra Mizan 1995: 203).
Abd. al-Rauf banyak memberi sumbangan kepada perkembangan tafsir al-
Quran di Nusantara. Beliau meletakkan dasar bagi batasan antara tarjamah dan
tafsir. Ini mendorong beliau menelaah dengan lebih mendalam karya-karya tafsir
dalam bahasa Arab. Tafsir Tarjuman al-Mustafid merupakan satu-satunya tafsiran
lengkap al-Quran di Tanah Melayu selama tiga abad, sebelum munculnya tafsirtafsir
baru di wilayah Melayu Indonesia. Namun ini tidak bererti tafsir tersebut
telah kehilangan daya tarikannya.
ISRAILIYYAT DALAM KITAB TAFSIR ANWAR AL-BAIDHAWI
Artikel ini melihat satu sudut sahaja daripada kandungan kitab ini, iaitu yang
berkaitan dengan riwayat-riwayat Israiliyyat. Riwayat-riwayat Israiliyyat yang
bertentangan dengan akal dan syarak boleh mengurangkan nilai tafsiran tersebut
30 Isla-miyya-t 26(2)
kerana ia tidak diperlukan dalam memahami ayat. Lebih daripada itu, ia boleh
merosakkan pemikiran umat Islam khususnya mereka yang membaca tafsir-tafsir
yang mengandungi riwayat-riwayat Israiliyyat tersebut. Artikel ini juga
mengemukakan riwayat-riwayat Israiliyyat yang terdapat di dalam tafsiran ini
sebagai satu usaha bagi memudahkan kalangan pembaca bagi membezakan
antara tafsiran al-Quran yang sebenar dengan riwayat Israiliyyat.
BEBERAPA KISAH ISRAILIYYAT DALAM TAFSIR
Antara kisah-kisah Israiliyyat yang terdapat dalam kitab Tafsir Anwar Baidhawi
ialah:
1. Kisah Talut dan Jalut Kisah ini diceritakan oleh Allah (s.w.t.) dalam al-
Quran bermaksud:
Dan nabi mereka berkata lagi kepada mereka: Sesungguhnya tanda kerajaan Talut itu ialah
datangnya kepada kamu peti tabut yang mengandungi (sesuatu yang memberi)
ketenteraman jiwa dari Tuhan kamu, dan (berisi) sebahagian dari apa yang telah ditinggalkan
oleh keluarga nabi-nabi Musa dan Harun, peti tabut itu dibawa oleh oleh malaikat,
sesungguhnya peristiwa kembalinya tabut itu mengandungi satu tanda keterangan bagi
kamu, jika benar kamu orang yang beriman (al-Baqarah 2: 248).
Abd. Rauf Fansuri mentafsirkan ayat ini dengan katanya (al-Fansuri t.th.: 7):
Dan telah berkata bagi mereka itu Nabi mereka itu tatkala dituntut mereka itu daripadanya
tanda atas kerajaan Thalut itu bahawasanya tanda kerajaannya bahawa didatangkan akan
kamu suatu peti di dalamnya ketetapan bagi segala hati kamu daripada Tuhan kamu dan
yang mati daripada peninggalan Musa dan Harun pada hal menanggung akan dia segala
malaikat. Tersebut di dalam Khazin adalah peti itu di dalamnya rupa segala nabi yang
diturunkan Allah Taala ia atas Adam maka turun temurun hingga datang kepada Musa dan
adalah mereka itu menuntut kemenangan pada Allah Taala dengan berkat peti itu atas
seteru mereka itu dan dihantarkan mereka itu peti itu di hadapan mereka itu maka tatap
(melihat) mereka itu kepadanya tatkala perang dan ditaruh di dalamnya oleh Musa,
Taurat dan mata bendanya di taruh Harun di dalamnya tengkoloknya maka tatkala mati
Musa tinggalah peti itu pada padang maka tatkala ditentu oleh mereka itu akan tanda
kerajaan Thalut maka ditengking akan dia oleh malaikat antara langit dan bumi pada hal
mereka itu menilik kepadanya hingga dihantarkan malaikat akan peti itu pada Thalut
maka percayalah mereka itu akan kerajaan Thalut.
Tafsiran ini jelas menunjukkan terdapatnya unsur-unsur Israiliyyat. Ini dapat
dilihat menerusi tafsiran ayat yang dilakukan oleh pengarang mengenai kerajaan
Talut. Dalam al-Quran, Allah (s.w.t.) ada menceritakan tentang kerajaan Talut,
dan peti Tabut. Peti Tabut ini diceritakan sebagai tempat menyimpan kitab Taurat,
tetapi tidaklah sampai kepada mempunyai segala nama dan rupa nabi-nabi dari
Adam (a.s.) hingga Musa (a.s.).
Israiliyyat dalam Kitab Tafsir Anwar Baidhawi 31
Kitab tafsir Fi Zilal al-Qur’an juga mentafsirkan ayat tentang kerajaan
Talut. Dalam kitab tafsir Fi Zilal al-Qur’an ini, diceritakan bahawa malaikat
membawa peti yang berisi kitab Taurat kepada Talut. Peti tersebut ialah peninggalan
daripada keluarga Nabi Musa (a.s.) dan Harun (a.s.). Apabila Nabi Musa (a.s.)
wafat, pihak musuh mengambil peti tersebut. Terdapat juga pendapat yang
menyatakan bahawa peti yang mengandungi naskah Taurat itu adalah pemberian
daripada Allah Taala kepada Nabi Musa (a.s.) di Bukit Tur (Sayyid Qutb 1972:
268).
2. Kisah Nabi Sulaiman (a.s.) dengan Puteri Balqis Firman Allah (s.w.t.)
dalam al-Quran bermaksud:
Setelah itu dikatakan kepadanya, dipersilakan masuk ke dalam istana ini. Maka tatkala ia
melihatnya, disangkanya halaman istana itu sebuah kolam air, serta iapun menyingsingkan
pakaian dari dua betisnya. Nabi Sulaiman berkata, sebenarnya ini adalah sebuah istana
yang diperbuat licin berkilat dari kaca. Mendengar yang demikian, Balqis berdoa: Wahai
Tuhanku, sesungguhnya aku telah menganiaya diri sendiri dan sekarang aku menegaskan
bahawa aku berserah diri memeluk Islam bersama-sama Nabi Sulaiman kepada Allah
Tuhan sekalian alam (al-Naml 27: 44).
Pengarang kitab Tafsir Anwar Baidhawi mentafsirkan maksud ayat ini
dengan menyatakan:
Tatkala dikhabarkan oleh jin kakinya seperti kaki keldai maka disuruh Sulaiman segala
syaitan berbuat halaman dari kaca supaya dicubainya dengan tiada menyuruh membukakan
kainnya maka tatkala disumbatkan oleh Balqis kainnya maka tahulah ia akan baik kakinya
(al-Fansuri t.th.: 305).
Selain daripada itu, pengarang kitab Tafsir Anwar Baidhawi ini juga
menyatakan bahawa:
Tatkala berkehendak kepada Sulaiman mengahwin dia maka benci ia akan bulu betisnya
dan dibubuh oleh segala syaitan baginya kapur maka dihilangkannya ia dengan dia… (al-
Fansuri t.th.: 305).
Sayyid Qutb (1974: 150-151) mentafsirkan ayat ini dengan menyatakan
bahawa apabila Puteri Balqis tiba di istana Nabi Sulaiman, maka baginda pun
dipersilakan masuk. Perkara yang memeranjatkan Balqis ialah keadaan istana
tersebut yang diperbuat daripada kaca. Lantai istana itu dibina di atas air, dan ini
membuatkan ia kelihatan seakan-akan seperti sebuah kolam air. Oleh kerana
baginda menyangka bahawa baginda akan mengharungi sebuah kolam, baginda
pun menyingsingkan kainnya. Keadaan ini menyebabkan Nabi Sulaiman
menjelaskan rahsianya dengan berkata: “Sesungguhnya istana ini adalah sebuah
istana yang dibuat dengan cara yang halus iaitu dari bahan kaca”.
Ibn Kathir (1966: 238-239) pula menjelaskan bahawa ketika Puteri Balqis
dipersilakan masuk ke dalam istana yang lantainya diperbuat daripada kaca dan
kelihatan seperti sebuah kolam air, baginda masuk sambil menyingkapkan kainnya.
Setelah itu Nabi Sulaiman (a.s.) pun berkata: “Sesungguhnya bukanlah air yang
32 Isla-miyya-t 26(2)
engkau pijak, lantai ini sangat licin kerana diperbuat daripada kaca”. Puteri Balqis
yang sangat kagum dengan struktur binaan istana tersebut, kemudiannya memeluk
Islam.
Manakala menurut al-Maraghi (1974: 144-145), sebelum ketibaan Balqis,
Sulaiman telah menyuruh bala tenteranya untuk membina sebuah istana besar
yang lantainya diperbuat dari kaca putih yang licin. Di bawahnya terdapat air
yang mengalir dengan pelbagai ikan dan lain-lain. Apabila Balqis tiba, Sulaiman
menyambutnya di istana dan duduk di ruang tengah. Ketika Balqis hendak
mendekati Sulaiman, Balqis menyangka lantai itu adalah air. Lalu Balqispun
menyingsingkan kainnya supaya pakaiannya tidak basah seperti mana yang
biasa dilakukan oleh orang yang menyeberangi air. Ketika itu Sulaiman pun
berkata kepada Balqis: “Sesungguhnya apa yang kamu sangkakan air itu bukanlah
air, tetapi ia adalah sebuah istana yang diperbuat daripada kaca”. Balqis segera
menutupi betisnya dan beliau berasa amat kagum dengan ciptaan itu. Setelah
itu, barulah Balqis menyedari bahawa ada lagi kerajaan lain yang lebih berkuasa
dari kerajaannya. Sulaiman lantas menyeru Balqis supaya menyembah Allah dan
meninggalkan penyembahan selain daripada-Nya.
Pengarang kitab Tafsir Anwar Baidhawi didapati mentafsirkan ayat 44, surah
al-Naml dengan menyatakan bahawa jin telah mengkhabarkan kepada Sulaiman
tentang kaki Puteri Balqis adalah seperti kaki keldai. Sulaiman lantas
memerintahkan para syaitan supaya membina sebuah halaman dalam istana yang
seakan-akan sebuah kolam air supaya Sulaiman dapat memastikan kebenaran
cerita itu. Apabila Balqis berjalan di atas halaman yang dibina itu sambil
menyingsingkan kainnya, maka Sulaiman mendapati kaki Balqis sebenarnya
berkeadaan baik. Menurut riwayat ini juga, ketika Balqis menyingsing kainnya
itu, Sulaiman terpandang akan bulu betisnya. Sulaiman tidak suka melihatnya
lalu syaitan menghilangkannya dengan kapur.
Apabila riwayat Tafsir Anwar Baidhawi ini dibandingkan dengan pendapat
para ahli tafsir seperti al-Fansuri, Sayyid Qutb, Ibn Kathir dan al-Maraghi, didapati
tidak ada satu pun tafsiran daripada ahli tafsir yang menyentuh tentang perkara
ini apatah lagi membenarkannya. Tafsiran para ahli tafsir didapati hanya
menjelaskan tentang kekaguman Balqis terhadap istana yang dibina oleh Nabi
Sulaiman (a.s.). Rasa kagum ini melahirkan keinsafan dan telah menyedarkan
Balqis bahawa ada lagi kuasa lain yang lebih hebat daripada kekuasaannya.
Fenomena ini akhirnya membawa Balqis kepada Islam. Kisah yang menyatakan
bahawa Balqis menyingkap kainnya ketika berjalan di dalam istana Sulaiman
kerana menyangka beliau sedang menyeberangi sebuah kolam air juga adalah
diakui kebenarannya oleh para ahli tafsir.
Bagaimanapun, tidak ada riwayat yang menyatakan bahawa ketika Balqis
menyingsing kainnya, Sulaiman telah terpandang bulu betis Balqis dan
membencinya serta tidak ada juga riwayat yang menjelaskan bahawa kaki Balqis
adalah seperti kaki keldai seperti yang didakwa oleh pengarang kitab Tafsir
Anwar Baidhawi.
Israiliyyat dalam Kitab Tafsir Anwar Baidhawi 33
3. Kisah Nabi Syu’aib (a.s.) dan Nabi Musa (a.s.) Firman Allah (s.w.t.) dalam
al-Quran bermaksud:
Musa menjawab, perjanjian itu adalah antaraku denganmu (tetap dihormati bersama)
yang mana sahaja dari dua tempoh itu aku tunaikan, maka janganlah aku disalahkan. Dan
Allah jualah menjadi pengawas di atas apa yang kita katakan (al-Qasas 28: 28).
Pengarang kitab Tafsir Anwar Baidhawi didapati mentafsirkan ayat 28, surah
al-Qasas ini dengan satu kisah, iaitu: Menurut kata mufassir, setelah selesainya
akad Nabi Shu’aib (a.s.) telah menyuruh anak perempuannya memberi kepada
Nabi Musa (a.s.) satu tongkat untuk menyelamatkan baginda daripada segala
binatang yang buas ketika menjaga kambing. Pengarang kitab Tafsir Anwar
Baidhawi ini juga didapati meriwayatkan bahawa tongkat semua nabi berada
pada tangan Nabi Shu’aib. Manakala tongkat yang berada pada anak perempuan
Nabi Shu’aib (a.s.) adalah tongkat Nabi Adam (a.s.) yang diperbuat daripada
sejenis kayu, yang bernama As Asol yang diambil daripada syurga, kemudian
diambil oleh Nabi Musa (a.s.) dengan pengetahuan Nabi Shu’aib (al-Fansuri
t.th.: 320).
Apabila dirujuk kepada kitab-kitab yang peka terhadap persoalan Israiliyyat,
seperti Sayyid Qutub (1974: 58-59), di dapati beliau mentafsirkan ayat 28, surah
al-Qasas ini dengan menyatakan bahawa apabila Nabi Musa (a.s.) menerima
tawaran dan perjanjian itu mengikut syarat-syarat yang ditetapkan oleh Nabi
Syu’aib (a.s.), maka Nabi Musa (a.s.) pun berkata: “Dan mana-mana sahaja
daripada dua tempoh kerja itu saya tunaikan maka hendaklah tidak ada apa-apa
tuntutan yang lain lagi ke atas saya. Dan Allah juga yang menjadi saksi di atas
apa yang kita katakan ini”. Ertinya apabila cukup tempoh selama lapan tahun
Nabi Musa (a.s.) bekerja maka hendaklah tidak ada lagi tuntutan yang lain
melebihi tugas-tugas kerja tersebut kerana kerja yang lebih itu hanyalah
merupakan kerja sukarela sahaja. Nabi Musa (a.s.) telah membuat penjelasan ini
sesuai dengan kejujuran hatinya dan ketegasan sahsiahnya, sedangkan beliau
sendiri telah berniat untuk menunaikan kerja yang lebih baik.
Ibn Kathir (1966: 274) pula menyatakan bahawa di dalam ayat sebelumnya
iaitu ayat 27, surah al-Qasas, Nabi Syu’aib telah menerima cadangan puterinya
supaya mengambil Musa (a.s.) bekerja dengan baginda, lalu Nabi Syu’aib (a.s.)
pun memanggil Nabi Musa (a.s.) dan berkata:
Wahai Musa, aku ingin mengahwinkan engkau dengan salah seorang daripada puteriku ini
dengan mas kahwinnya engkau hendaklah bekerja denganku selama lapan tahun. Jika
engkau hendak memanjangkan tempoh kerjamu selama sepuluh tahun, maka itu aku
anggap sebagai kerja sukarela dan aku tidak memaksa.
Kemudian dalam ayat 28, surah al-Qasas ini, Nabi Musa (a.s.) menjawab:
Aku menerima tawaranmu ini dengan perjanjian sebagaimana yang engkau tetapkan iaitu
bekerja selama lapan tahun dan sekiranya aku bersetuju, aku boleh memanjangkan masa
kerjaku sehingga sepuluh tahun. Allahlah yang menjadi saksi atas apa yang telah kita
ucapkan.
34 Isla-miyya-t 26(2)
Al-Maraghi (1974: 52-53) dalam mengutarakan pendapatnya berhubung
maksud ayat 28, surah al-Qasas ini menyatakan bahawa Nabi Musa (a.s.) telah
berkata:
Apa yang engkau syaratkan kepadaku adalah untukmu dan apa yang engkau syaratkan
kepadaku untuk mengahwini di antara salah seorang daripada puterimu adalah untukku.
Kita masing-masing tidak boleh keluar dari syarat yang telah kita persetujui ini”. Kemudian
Nabi Musa (a.s.) menyambung lagi: “Apabila aku telah menyempurnakan lapan atau
sepuluh tahun untuk mengembala kambing, itu bermakna aku telah menyempurnakan
syaratmu. Oleh itu, engkau tidak berhak yang lebih daripada itu. Dan sesungguhnya
Allahlah yang menjadi saksi kepada perjanjian kita.
Dalam mentafsirkan ayat 28, surah al-Qasas ini, para ahli tafsir tidak pernah
menyebut tentang adanya tongkat yang diberikan oleh anak perempuan Nabi
Syu’aib (a.s.) kepada Nabi Musa (a.s.). Apatah lagi tentang asal-usul tongkat
tersebut yang dikatakan salah satu daripada tongkat nabi-nabi dan berasal dari
syurga. Al-Quran hanya menceritakan tentang akad perjanjian yang berlaku di
antara Nabi Syu’aib (a.s.) dan Nabi Musa (a.s.). Dalam perjanjian tersebut, Nabi
Syu’aib telah berjanji akan mengahwinkan Nabi Musa (a.s.) dengan salah seorang
daripada anak perempuannya sekiranya Nabi Musa (a.s.) bersetuju untuk bekerja
selama lapan tahun bersama baginda dan syarat ini dipersetujui oleh Nabi Musa
(a.s.).
4. Kisah Nabi Musa (a.s.) dengan Firaun Firman Allah dalam al-Quran yang
bermaksud:
Dan Firaun pula berkata, hai pembesar kaumku, aku tidak mengetahui ada bagi kamu
Tuhan selain daripadaku. Oleh itu wahai Hamman, bakarkanlah untukku batu-bata serta
binalah untukku bangunan yang tinggi supaya aku boleh naik untuk melihat Tuhan Musa
yang dikatakan itu. Dan sesungguhnya aku percaya Musa daripada kalangan orang-orang
yang berdusta (al-Qasas 28: 38).
Al-Fansuri telah mentafsirkan ayat 38, surah al-Qasas ini dengan katanya:
Tersebut di dalam al-Khazin, tatkala selesailah mereka membina mahligai (tangga) seperti
yang disuruh itu, maka naiklah Firaun ke atas dan disuruhnya panah ke langit. Setelah
anak panah itu kembali kepadanya, didapati anak panah itu berlumuran dengan darah
dan Firaun mengatakan bahawa beliau telah membunuh Tuhan Musa (al-Fansuri t.th.:
322).
Dalam mentafsirkan ayat 38, surah al-Qasas ini, pengarang kitab Tafsir Anwar
Baidhawi menyatakan bahawa ketika Nabi Musa (a.s.) menyeru Firaun kepada
Islam, Firaun telah mempersendakan kata-kata Nabi Musa (a.s.). Dalam usaha
untuk menimbulkan keraguan terhadap kebenaran kata-kata Nabi Musa (a.s.),
beliau telah memerintahkan pembesarnya yang bernama Hamman supaya
membina sebuah binaan yang tinggi menjulang ke langit untuk mencari Tuhan
Nabi Musa (a.s.). Setelah itu, Firaun menaiki tangga tersebut lalu memanah ke
langit. Menurut riwayat ini lagi, apabila anak panah itu kembali kepadanya, anak
Israiliyyat dalam Kitab Tafsir Anwar Baidhawi 35
panah tersebut dipenuhi dengan darah. Firaun kemudian mendakwa bahawa
beliau telah membunuh Tuhan Nabi Musa (a.s.).
Cerita ini jelas bertentangan dengan tafsiran yang dibuat oleh para ahli
tafsir yang muktabar. Menurut tafsiran mereka, ayat 38, surah al-Qasas ini adalah
menceritakan tentang keangkuhan Firaun yang mengaku dirinya sebagai Tuhan
serta berlaku zalim terhadap rakyatnya. Justeru itu, apabila Nabi Musa (a.s.)
mendakwa ada Tuhan selain daripadanya, dia berasa tercabar lalu memerintahkan
pembesarnya untuk membina sebuah binaan yang tinggi menjulang ke langit.
Tujuannya adalah untuk mencari Tuhan Nabi Musa (a.s.). Sebenarnya, katakata
Firaun ini bukanlah menunjukkan kesungguhannya melainkan sekadar hanya
untuk mempersendakan Tuhan Nabi Musa (a.s.) dan pada masa yang sama
bertujuan untuk menimbulkan keraguan di kalangan rakyatnya terhadap
kebenaran dakwaan Nabi Musa (a.s.).
Namun begitu, tidak ada riwayat yang menyatakan bahawa Firaun telah
naik ke langit untuk mencari Tuhan Nabi Musa (a.s.) dan memanah ke langit lalu
apabila anak panah itu kembali kepada Firaun, anak panah itu berlumuran darah
sebagaimana yang didakwa oleh pengarang kitab Tafsir Anwar Baidhawi. Hal
ini jelas membuktikan kepalsuan cerita ini.
Sayyid Qutb (1974: 67) dalam mentafsirkan ayat ini menyatakan bahawa
Allah telah menceritakan tentang Firaun yang telah menyeru kepada pembesarnya
dengan menyatakan: “Wahai pembesar-pembesarku, setahu aku kamu tidak
mempunyai Tuhan yang lain selain daripadaku”. Kata-kata Firaun ini
berlandaskan kisah dongeng yang terkenal di Mesir dalam menghubungkan
raja-raja dengan tuhan-tuhan dan juga berdasarkan kuasa paksaan yang tidak
membenarkan para hambanya berfikir dan bercakap. Mereka sedar bahawa Firaun
hanya seorang manusia sama seperti mereka yang akan hidup dan mati, namun
apabila Firaun mengeluarkan kata-kata seperti ini, mereka hanya mampu
mendengar tetapi tidak mampu membantah.
Kemudian dia berpura-pura menunjukkan kesungguhan hendak mengetahui
hakikat yang sebenar dengan mencari Tuhan Musa (a.s.), sedangkan tujuannya
yang sebenar adalah untuk mengejek dan menyenda. Katanya: “Wahai Hamman!
Bakarlah untukku tanah liat, kemudian binakan untukku satu bangunan yang
tinggi supaya aku dapat naik melihat Tuhan Musa di langit”. Kemudian dengan
kata-kata mengejek pula dia berpura-pura meragui kebenaran Musa, tetapi dia
terus mencari dan menyiasat untuk mendapatkan hakikat sebenar.
Menurut pendapat Ibn Kathir (1966: 282-283 ) pula, ayat 38, surah al-Qasas
ini menjelaskan tentang gaya hidup Firaun yang sombong dan kejam terhadap
rakyatnya. Tidak cukup dengan itu, beliau turut mengingkari kenabian Nabi
Musa (a.s.) dan menganggap dirinya sebagai Tuhan yang wajib disembah oleh
manusia. Beliau berkata:
Wahai sekalian rakyatku, aku tidak mengetahui dan mengenal Tuhan bagimu selain aku
dan aku telah memerintahkan kepada Hamman supaya membina sebuah gedung yang
tinggi menjulang ke langit agar aku dapat melihat Tuhan Musa. Aku yakin bahawa dia
36 Isla-miyya-t 26(2)
adalah seorang pendusta yang mengatakan ada Tuhan selain aku serta menyuruh sekelian
kamu menyembah Tuhannya itu.
Dalam pada itu, al-Maraghi berpendapat bahawa kata-kata Firaun itu secara
zahirnya menunjukkan kebijaksanaannya. Beliau berharap dengan kata-kata itu
rakyatnya akan menerima dirinya sebagai Tuhan. Ada dua kalimah yang
diucapkan oleh Firaun iaitu: “Aku tidak mengetahui ada Tuhan bagi kalian selain
aku” dan “Akulah Tuhan kalian yang maha tinggi”. Maksudnya Firaun
menganggap tidak ada Tuhan selainnya tetapi rakyatnya menyembah Tuhan
Musa dan membenarkan kata-kata yang dibawa oleh Nabi Musa (a.s.).
Bagaimanapun, menurut ar-Razi seperti yang dinukilkan oleh al-Maraghi
berhubung ayat 38, surah al-Qasas ini, pengakuan Firaun sebagai Tuhan tidak
bermaksud bahawa beliau mengaku dirinya sebagai pencipta langit, bumi, laut,
gunung dan manusia kerana baginya, setiap orang yang berakal sudah tentu
mengetahui hal itu. Tetapi yang dimaksudkan oleh beliau ialah kewajipan
menyembah kepadanya.
KESIMPULAN
Kitab Tafsir Anwar Baidhawi adalah sebuah kitab yang mengandungi banyak
kisah-kisah Isra’iliyyat. Apa yang dibincangkan dalam artikel ini hanyalah
sebahagian kecil daripadanya sahaja. Kisah-kisah Israiliyyat adalah kisah-kisah
yang bukan sahaja boleh merosakkan tafsiran yang sahih, malah ia juga boleh
mencetuskan kekeliruan di kalangan umat Islam. Bagaimanapun, kitab Tafsir
Anwar Baidhawi ini adalah antara kitab tafsir dalam bahasa Melayu yang banyak
digunapakai oleh masyarakat Melayu dalam usaha mereka untuk memahami tafsir
kitab Allah (s.w.t.). Sebagai cadangan bagi menangani isu kekeliruan di kalangan
umat Islam, penjelasan atau tafsiran hendaklah disertakan sama ada di akhir
kisah-kisah tersebut bagi menyatakan bahawa apa yang diriwayatkan tersebut
adalah dari periwayatan Israiliyyat, atau yang paling baik pengarang tidak
menukilkan atau memasukkan kisah-kisah tersebut di dalam kitab-kitab tafsiran
mereka. Cadangan ini perlu diberi perhatian dan diambil tindakan oleh semua
pihak yang terlibat dalam pentafsiran kitab Allah (s.w.t.). Ini adalah kerana
golongan sasaran yang akan membaca kitab-kitab tafsir mereka adalah mungkin
terdiri daripada kalangan orang Melayu yang tidak mempunyai pengetahuan
mengenai Israiliyyat yang menyebabkan mereka menyangka bahawa itulah tafsiran
sebenar terhadap kisah-kisah yang terdapat di dalam al-Quran.
RUJUKAN
Abdul Malik Abdul Karim Amrullah, Haji. 1999. Tafsir al-Azhar. Singapura: Pustaka
Nasional PTE LTD.
Abdullah Basmeih. 1980. Tafsir pimpinan al-Rahman. Kuala Lumpur: Darulfikr.
Israiliyyat dalam Kitab Tafsir Anwar Baidhawi 37
al-Bukhari, Abu Abdullah Muhammad b. Ismail. t.th. Matan al-Bukhari bi hasyiah al-
Sindi. Misr: Mitbaah Faisal Isa al-Babi al-Halabi.
al-Fansuri, Abd. Rauf bin Muhammad Ali. t.th. Tafsir Anwar al-Baidhawi. Thailand:
Maktabah Wa Mitbaah Muhammad Nahdi Wa Awladuh.
al-Maraghi, Ahmad Mustafa. 1974. Tafsir al-Maraghi. Beirut: Dar al-cArabiyyah.
Al-Qurtubi, Abi Abdullah Muhammad bin Ahmad al-Ansari. t.th. al-Jamic al-ahkam al-
Qur’an. Qaherah: Dar al-Bayan li al-Turath.
al-Suyuti, cAbdul Rahman Jalaluddin. 1983. al-Darul al-Mansur fi tafsir al-Qur’an .
Lubnan: Dar al-Fikr.
Ibn Kathir, Ismail bin Kathir al-Qurasyi al-Dimasyqi. 1970. Tafsir al-Qur’an al-cAzim.
Beirut: Dar al-Fikr.
Ibn Khaldun. Abd al-Rahman b. Khaldun al-Maghribi. 1968. Muqaddimah Ibn Khaldun.
Beirut: Dar Maktabah al-Hayat.
Mahayuddin Hj. Yahya. 1986. Ensiklopedia sejarah Islam. Bangi: Penerbit Universiti
Kebangsaan Malaysia.
Muhammad b. Muhammad Abu Shahbah. 1408H. al-Israiliyyat wa al-mawducat fi Kutub
al-tafsir. Qaherah: Maktabah al-Sunnah.
Muhammad Hussin al-Zahabi. 1990. al-Israiliyyat fi al-Tafsir wa al-Hadith. Qaherah:
Maktabah Wahbah.
Muhammad Hussin al-Zahabi. t.th. al-Tafsir wa al-mufassirun. Qaherah: Maktabah
Wahbah.
Rozali Adam. 1985. Al-Quran di antara tafsir dan Isra’iliyyat. Kuala Lumpur: Dewan
Bahasa dan Pustaka.
Sayyid Qutb. 1994. Fi zilal al-Qur’an. Beirut: Dar al-Shuruq.
Jabatan Usuluddin dan Falsafah
Fakulti Pengajian Islam
Universiti Kebangsaan Malaysia
43600 UKM Bangi
Selangor Darul Ehsan
Malaysia


Islam merupakan agama yang syumul merangkumi seluruh aspek kehidupan
manusia. Sejajar dengan itu, al-Quran diturunkan sebagai kitabullah yang
mempunyai panduan dan hidayah kepada seluruh umat manusia lengkap
dengan segala isi kandungannya sama ada dari segi akidah, ibadah,
perundangan, akhlak, sejarah dan sebagainya. al-Quran dinukilkan secara
mutawatir dan merupakan kitab yang sentiasa dipelihara isi kandungannya
oleh Allah (s.w.t.) daripada diseleweng oleh musuh Allah (s.w.t.). Namun begitu
tidak dinafikan bahawa terdapat sesetengah para pentafsir dahulu atau masa
kini memasukkan beberapa unsur-unsur Israiliyyat di dalam pentafsiran
mereka. Unsur ini banyak dikesan terutamanya dalam menggambarkan perihal
cerita-cerita para nabi dan rasul, dan faktor ini adalah antara penyebab
berlakunya kelemahan dalam Tafsir Ma’thur. Kajian ini cuba menganalisis
kitab tafsir Melayu lama karangan Syeikh Abd. Al-Rauf bin Ali al-Fansuri al-
Singkili, yang merupakan antara kitab-kitab tafsir berbahasa Melayu yang
dipelajari di surau-surau serta pondok-pondok bukan sahaja di Indonesia
bahkan juga di Malaysia. Kajian ini akan menjelaskan tentang biodata
pengarang terlebih dahulu, dan kemudiannya diikuti dengan pengenalan
kitab dan terakhir ialah analisa terhadap riwayat-riwayat Israiliyyat yang
terdapat di dalamnya. Selayaknya kitab ini diberi perhatian dan penumpuan
bagi menilai sama ada ia juga dipengaruhi oleh riwayat-riwayat Israiliyyat
ataupun tidak. Semoga masyarakat yang cintakan al-Quran mampu mendalami
tafsiran-tafsirannya tanpa terpengaruh dengan riwayat-riwayat Israiliyyat
yang batil yang tidak berdasarkan kepada sanad yang sahih.

Klik disini untuk melanjutkan »»

makna Israiliyyat dalam Kitab Tafsir Anwar Baidhawi

.
0 komentar


Israiliyyat dalam Kitab TaIfSsLirA A-MnIwYaYrA -BTa 2id6h(a2w) (i2004): 23 - 37 23

MAZLAN IBRAHIM
AHMED KAMEL MOHAMAD
ABSTRAK
Islam merupakan agama yang syumul merangkumi seluruh aspek kehidupan
manusia. Sejajar dengan itu, al-Quran diturunkan sebagai kitabullah yang
mempunyai panduan dan hidayah kepada seluruh umat manusia lengkap
dengan segala isi kandungannya sama ada dari segi akidah, ibadah,
perundangan, akhlak, sejarah dan sebagainya. al-Quran dinukilkan secara
mutawatir dan merupakan kitab yang sentiasa dipelihara isi kandungannya
oleh Allah (s.w.t.) daripada diseleweng oleh musuh Allah (s.w.t.). Namun begitu
tidak dinafikan bahawa terdapat sesetengah para pentafsir dahulu atau masa
kini memasukkan beberapa unsur-unsur Israiliyyat di dalam pentafsiran
mereka. Unsur ini banyak dikesan terutamanya dalam menggambarkan perihal
cerita-cerita para nabi dan rasul, dan faktor ini adalah antara penyebab
berlakunya kelemahan dalam Tafsir Ma’thur. Kajian ini cuba menganalisis
kitab tafsir Melayu lama karangan Syeikh Abd. Al-Rauf bin Ali al-Fansuri al-
Singkili, yang merupakan antara kitab-kitab tafsir berbahasa Melayu yang
dipelajari di surau-surau serta pondok-pondok bukan sahaja di Indonesia
bahkan juga di Malaysia. Kajian ini akan menjelaskan tentang biodata
pengarang terlebih dahulu, dan kemudiannya diikuti dengan pengenalan
kitab dan terakhir ialah analisa terhadap riwayat-riwayat Israiliyyat yang
terdapat di dalamnya. Selayaknya kitab ini diberi perhatian dan penumpuan
bagi menilai sama ada ia juga dipengaruhi oleh riwayat-riwayat Israiliyyat
ataupun tidak. Semoga masyarakat yang cintakan al-Quran mampu mendalami
tafsiran-tafsirannya tanpa terpengaruh dengan riwayat-riwayat Israiliyyat
yang batil yang tidak berdasarkan kepada sanad yang sahih.
ABSTRACT
Islam is a perfect religion which is covered all aspects of human life. In respect
to this, al-Quran as kitabullah has been revealed to all mankinds as a guideline
in their life which is cover the aspect of aqidah, ibadah, law, akhlaq, history and
others. Al-Quran is revealed through mutawatir method and is guaranteed by
Allah Almighty from any amendments. However there is exist the mufassiruun
who has moulded their interpretations with Israiliyyat. These elements are
used whenever the mufassiruun explains about the story of the prophets. As a
result of these, the Tafsir Ma’thur is considered very weak. Therefore this
24 Isla-miyya-t 26(2)
article will analyse one of the well-known tafsir which is written in Malay by
Syeikh Abd. al-Rauf bin Ali al-Fansuri al-Singkili namely Tafsir Anwar
Baidhawi. This tafsir is widely circulated among the students in Indonesia’s
and Malaysia’s pondok. The discussion of this book will be devided into three
parts. First, the writer will discuss about the background of Syeikh Abd. Al-
Rauf bin Ali al-Fansuri al-Singkili. It follows with the introduction of the kitab.
Finally the writer will analyse the verses which is influenced by the Israiliyyat.
This article comes to the conclusion that a thorough examinations towards the
Malay kitab tafsir should be done intensively in order to ensure that the
Muslims community are not influenced by the Israilliyyat interpretation.
PENDAHULUAN
Al-Quran merupakan satu mukjizat yang sesuai untuk semua zaman, keadaan,
dan juga tempat. Oleh itu, ia memerlukan satu penafsiran yang kukuh untuk
memudahkan orang awam memahami kandungan al-Quran dan seterusnya dapat
menghayati segala isi kandungannya. Penafsiran yang dilakukan tidak berhatihati
akan memudahkan unsur-unsur Israiliyyat dan khurafat memasuki ke dalam
kitab-kitab tafsir. Unsur-unsur Israiliyyat ini menyerap masuk ke dalam kitab
tafsir kerana sikap ambil mudah pentafsir. Mereka terus menukilkan tafsir tanpa
mengira kesahihan cerita tersebut.
Islam adalah agama yang syumul. Segala pengajaran, arahan dan larangannya
adalah merangkumi seluruh aspek kehidupan manusia. Sejajar dengan itu, al-
Quran diturunkan sebagai kitabullah yang mempunyai panduan dan hidayah
kepada seluruh umat manusia, lengkap dengan segala isi kandungannya sama
ada dari segi aqidah, ibadah, perundangan, akhlak, sejarah dan sebagainya. Al-
Quran dinukilkan secara mutawatir dan merupakan kitab yang sentiasa dipelihara
isi kandungannya oleh Allah daripada diseleweng oleh musuh-musuh-Nya.
Namun begitu, terdapat sesetengah para pentafsir dahulu atau masa kini yang
memasukkan unsur-unsur Israiliyyat dalam pentafsiran mereka. Unsur-unsur ini
banyak dikesan terutamanya dalam menggambarkan perihal cerita-cerita para
nabi dan rasul. Faktor ini adalah antara penyebab berlakunya kelemahan dalam
tafsir ma’thur.
Artikel ini bertujuan untuk menganalisa kitab tafsir Melayu Tafsir Anwar
Baidhawi karangan Abd. Al-Rauf bin Ali al-Fansuri al-Singkili atau Sheikh
Abdurrauf yang ditafsirkan secara lengkap tiga puluh juzuk. Kitab ini ditulis
dalam bahasa Melayu tulisan Jawi lama. Tafsir ini masih dicetak hingga sekarang.
Ia dicetak dalam tiga penggal, dan yang terbaru sekali ia dicetak hanya dalam
satu jilid tebal. Kitab tafsir ini menjadi pilihan kerana ia merupakan antara kitabkitab
tafsir berbahasa Melayu yang dipelajari di surau-surau, masjid-masjid serta
pondok-pondok di Malaysia. Kitab ini wajar diberi perhatian dan penumpuan
bagi menilai sama ada ia juga dipengaruhi oleh kisah-kisah Israiliyyat ataupun
Israiliyyat dalam Kitab Tafsir Anwar Baidhawi 25
tidak. Artikel ini bertujuan membincangkan tafsiran-tafsiran al-Quran secara
terperinci, tanpa terpengaruh dengan kisah-kisah Israiliyyat yang tidak
berdasarkan kepada sanad yang sahih.
PENGERTIAN ISRAILIYYAT
Perkataan Israiliyyat adalah diambil daripada kata jamac. Mufradnya adalah
diambil daripada kata Israiliyyah, yang dinisbahkan kepada Bani Israil (keturunan
Israil). Manakala Israil pada asalnya adalah nama Nabi Allah Yaakob (a.s.) yang
membawa maksud Abdullah atau hamba Allah. Bani Israil atau keturunan Israil
ialah keturunan Nabi Yaakob (a.s.) yang berkembang hingga kepada Nabi Musa
(a.s.) dan seterusnya nabi-nabi yang datang silih berganti, sehinggalah
keturunannya yang terakhir iaitu Nabi Isa (a.s.).
Keturunan Nabi Yaakob (a.s.) atau Bani Israil sejak beberapa zaman yang
lalu dikenali dengan panggilan Yahudi. Keturunan yang beriman kepada Nabi
Isa (a.s.) pula dikenali dengan nama Nasara atau Nasrany. Manakala yang beriman
dengan Nabi Muhammad (s.a.w.) pula telah menjadi sebahagian daripada umat
Islam dan dikenali dengan Muslim ahl al-Kitab (Abu Syaybah 1408: 12).
Israiliyyat menurut istilah ahli tafsir ialah kisah-kisah Yahudi yang menyerap
masuk ke dalam masyarakat Islam melalui tafsir al-Quran yang banyak berlaku di
zaman tabi’in. Namun ulama tafsir dan hadith menggunakan istilah Israiliyyat
terhadap perkara-perkara yang lebih luas, iaitu setiap kisah termasuk cerita lama
yang diadakan, dimasukkan ke dalam tafsir. Bahkan sesetengah ulama tafsir dan
hadith menganggap Israiliyyat adalah setiap kisah yang dicipta dan disampai
oleh musuh-musuh Islam ke dalam tafsir dengan tujuan untuk merosakkan
kesucian Islam (al-Dhahabi 1990: 13).
RIWAYAT ISRAILIYYAT
Secara umumnya, riwayat Israiliyyat boleh dibahagikan kepada tiga bahagian;
1. Israiliyyat yang sahih dan bertepatan dengan nas-nas al-Quran dan al-
Sunnah. Israiliyyat daripada bahagian ini harus diriwayatkan berdasarkan
Hadith Nabi (s.a.w.) yang bermaksud (al-Bukhari t.th., 1: 258):
Sampaikan daripada aku walaupun satu ayat. Perkatakanlah tentang kisah-kisah
Bani Israil dan ianya bukan menjadi satu kesalahan. Dan sesiapa berdusta terhadapku
maka disediakan baginya tempat di dalam neraka.
2. Israiliyyat yang bercanggah dengan nas yang Qatci daripada al-Quran dan
juga al-Sunnah, serta menyalahi lojik akal. Israiliyyat daripada bahagian ini
tidak harus diriwayatkan.
26 Isla-miyya-t 26(2)
3. Israiliyyat yang ‘Maskut cAnhu’ iaitu yang tidak disokong oleh nas al-
Quran dan juga al-Sunnah iaitu ia bukan dari bahagian pertama dan juga
bahagian kedua. Bahagian ini tidak perlu kita membenarkannya dan
tidak juga mendustakannya. Tetapi harus diriwayatkannya (al-Zahabi t.th.,
1: 178).
PENGARUH ISRAILIYYAT KE ATAS KITAB TAFSIR
Kemasukan Israiliyyat ke dalam tafsir bermula dengan kemasukan thaqafah
(peradaban) Bani Israil (yang berhijrah ke Semenanjung Arab) ke dalam thaqafah
Arabiyyah di zaman Jahiliyyah. Bangsa Yahudi ini membawa bersama-sama
mereka ilmu-ilmu dan pengetahuan yang diambil daripada kitab-kitab agama
mereka, dan segala perkara yang berkaitan dengannya daripada huraian-huraian,
dan juga yang mereka warisi daripada satu generasi ke satu generasi daripada
nabi-nabi mereka dan pendita-pendita mereka. Mereka mempunyai tempat yang
dinamakan al-midras iaitu sekolah-sekolah tempat mereka mempelajari setiap
perkara yang diwarisi. Mereka juga mempunyai tempat-tempat ibadah dan syiar
agama mereka.
Kemudian, datang ajaran Islam dan kitab Allah (s.w.t.) yang terkandung di
dalamnya ilmu dan agama. Seruan Islam lahir dan tersebar di kalangan penduduk
Semenanjung Arab. Pada zaman Rasulullah (s.a.w.) pusat negara Islam adalah
Madinah al-Munawwarah. Untuk mendidik para sahabat, majlis-majlis ilmu pada
zaman Rasulullah (s.a.w.) ini dilakukan di Masjid Madinah. Di kota Madinah dan
di sekitarnya tinggal bermukim beberapa golongan Yahudi seperti Bani Qainuqa’,
Bani Quraizah, Bani al-Nadir, Yahudi Khaibar, Taima’ dan Fadak.
Terdapat di kalangan ulama Yahudi atau ahli Kitab di Madinah yang memeluk
Islam seperti Abdullah b. Salam (r.a.). Beliau dan orang sepertinya menjadi tempat
rujukan kepada sahabat untuk bertanya secara terperinci tentang kisah-kisah
yang sama yang juga disebut di dalam kitab-kitab al-Quran dan Taurat. Namun
para sahabat tidak menerima bulat-bulat apa yang diceritakan kepada mereka.
Malah mereka menapisnya dengan akal dan juga syarak. Mereka hanya menerima
apa yang diterima oleh akal dan syarak dan menolak sekiranya bercanggah dengan
keduanya. Seterusnya mereka berdiam diri terhadap perkara-perkara yang tidak
jelas tentang benar dan salahnya.
Ibn Khaldun (1968, 1: 786-787) menyatakan apabila timbul keinginan di
kalangan orang-orang Arab untuk mengetahui tentang permulaan kejadian
makhluk dan rahsia kejadian, mereka cenderung bertanya ahli kitab dari kalangan
Yahudi dan Nasrani. Majoriti mereka adalah dari suku bangsa Humair. Apabila
mereka memeluk Islam, pengaruh daripada ajaran agama mereka yang berkaitan
dengan asal kejadian makhluk, cerita-cerita tentang peperangan dan sebagainya
masih kuat dalam diri mereka. Antara golongan mereka ialah Ka’ab b. al-Ahbar,
Wahab b. Munabbih, dan Abdullah b. Salam. Kerana inilah cerita-cerita Israiliyyat
Israiliyyat dalam Kitab Tafsir Anwar Baidhawi 27
yang terdapat dalam kitab-kitab tafsir dipenuhi dengan riwayat-riwayat daripada
mereka.
PENGARUH ISRAILIYYAT TERHADAPAQIDAH UMAT ISLAM
Terdapat sebahagian daripada kisah-kisah Israiliyyat yang boleh menyebabkan
kekeliruan dan mengganggu kemurnian ajaran Islam. Antara kisah-kisah tersebut
ialah yang berbentuk dongeng dan khurafat, yang bersalahan dengan akal dan
syarak. Kisah-kisah ini boleh mengakibatkan kesan berikut;
1. Dalam Israiliyyat terdapat unsur penafian terhadap sifat maksum para anbiya’
dan mursalin, dan menggambarkan mereka menolak kelazatan dan kenikmatan
pemberian Tuhan kepada kekejian dan keaiban yang tidak layak bagi manusia
biasa, sebagai anugerah Tuhan kerana dilantik menjadi nabi. Sebagai contoh
apa yang digambarkan oleh kisah Israiliyyat tersebut terhadap apa yang
menimpa Nabi Allah Ayub (a.s.).
2. Israiliyyat hampir-hampir menghilangkan kepercayaan umat Islam terhadap
sebahagian ulama salaf dari kalangan sahabat dan Tabi’in. Bukan sedikit
dongeng Israiliyyat yang disandarkan riwayatnya kepada segolongan
daripada salafus salih yang terkenal dengan kepercayaan orang dan
keadilannya. Mereka juga terkenal di kalangan orang-orang Islam dengan
tafsir dan Hadith. Antara yang ditohmah ialah Abu Hurairah, Abdullah bin
Salam, Ka’ab al-Ahbar dan Wahab bin Munabih.
3. Israiliyyat juga hampir-hampir memalingkan manusia dari tujuan asal
penurunan al-Quran dan melalaikan mereka daripada meneliti dan memahami
maksud ayat-ayat al-Quran, lalai daripada mengambil manfaat dan iktibar,
serta nasihat-nasihat yang terkandung di dalamnya atau membahaskan
tentang hukum-hukum yang terdapat di dalamnya. Memalingkan mereka
kepada perkara sia-sia yang tiada kebaikan padanya. Contohnya membahaskan
warna anjing Ashabul Kahfi dan namanya, tentang tongkat Nabi
Musa (a.s.), daripada pokok apakah ianya dibuat, tentang nama budak kecil
yang dibunuh oleh Khidir dan sebagainya.
Inilah antara kesan terhadap aqidah umat Islam dan juga terhadap kesucian
ajaran Islam hasil daripada riwayat Israiliyyat. Kaum Yahudi berusaha dengan
bersungguh-sungguh untuk merosakkan aqidah umat Islam dan melemahkan
kepercayaan mereka terhadap pegangan suci mereka terhadap al-Quran dan al-
Sunnah. Mereka juga berusaha untuk menggoncang kepercayaan umat Islam
terhadap Salafussoleh yang telah berperanan untuk memikul risalah umat Islam
dan menyebarkannya ke setiap penjuru Timur dan Barat. Oleh itu, umat Islam
seharusnya memberi perhatian dan mengambil berat terhadap penyerapan
Israiliyyat dalam tafsir-tafsir dan menghapuskannya (al-Dhahabi 1990: 29-34).
28 Isla-miyya-t 26(2)
PENULIS TAFSIR
Abd. al-Rauf bin Ali al-Fansuri al-Singkili atau Sheikh Abdurrauf Sheikhkuala,
merupakan seorang tokoh agama, ahli tasawuf, negarawan dan karyawan. Beliau
dilahirkan di Singkel, utara Fansur (Pantai Barat Sumatera). Mengenai tarikh
kelahiran beliau tersebut, terdapat beberapa riwayat yang berbeza. Ada yang
menyatakan bahawa beliau dilahirkan pada tahun 1001H/1592M, ada yang
menyatakan bahawa beliau dilahirkan pada 1024H/1615M, dan ada yang
menyatakan bahawa beliau dilahirkan pada tahun 1029H/1620M. Bagaimanapun,
tidak terdapat percanggahan tentang tarikh wafatnya iaitu beliau meninggal
dunia pada tahun 1106H/1695M di Kuala Sungai Aceh (Mahayuddin 1986: 44).
Abd. al-Rauf mendapat pendidikan awal daripada bapanya, Sheikh Ali al-Fansuri
sehingga beliau menguasai ilmu-ilmu asas agama dan bahasa Arab. Abd. al-
Rauf turut berguru dengan bapa saudaranya, Sheikh Hamzah Fansuri di Dayah
Oboh Simpang Kiri (Singkel) dan dengan Sheikh Shamsuddin Sumarani di Pasai.
Beliau melanjutkan pelajarannya ke Semenanjung Tanah Arab iaitu di Makkah,
Madinah, Yamman, Baitulmaqdis dan Istanbul. Dalam tempoh hampir dua puluh
tahun di luar negeri, Abd. al-Rauf telah mempelajari pelbagai ilmu seperti fikah,
hadith, tafsir, mantiq, falsafah, geografi, ilmu falak, ilmu tauhid, sejarah dan
perubatan. Di samping itu, beliau mempelajari ilmu tasawuf mengikut tarekat
Shattariyyah dan tarekat Qadariyyah sehingga beliau dikurniakan ijazah daripada
dua tarekat tersebut. Dengan itu, beliau dikurniakan gelaran “Sheikh” yang
bermaksud “pemimpin tarekat” (Mahayuddin 1986: 45).
Pada bulan Rabiulawal 1071H/1661M Abd. al-Rauf dilantik menjadi Kadi
Malikul Adil atau Mufti Kerajaan Aceh Darussalam pada zaman pemerintahan
Ratu Safiatuddin dan kekal dengan jawatan itu hingga ke zaman Sultanah Sri
Ratu Kamalatuddin Shah (1098H/1688M-1109H/1699M). Beliau banyak
menghasilkan buku, antaranya ialah kitab cUmdah al-Ahkam mengenai hukumhukum
Islam; al-Tarjuman al-Musafid atau Tafsir Anwar Baidhawi, tafsir al-
Quran yang pertama dalam bahasa Melayu; Bayan Tajalli, yang membahas
masalah falsafah ketuhanan, iaitu faham wahdah al-wujud yang berdasarkan
manusia dan martabat tujuh sebagai gambaran Tuhan yang ditentang oleh Abd.
al-Rauf; Daqa’iq al-Huruf, mengenai rahsia-rahsia huruf; Shicr Macrifah,
kumpulan sajak yang membahas masalah ketuhanan, dan Hidayah al-Balaghah
cala Jumcat al-Mukhasamah, iaitu kitab hukum Islam mengenai sengketa. Bagi
mengenang jasa beliau yang begitu besar dalam bidang pendidikan, pada 2
September 1961 namanya telah diabadikan menjadi nama sebuah universiti di
Darussalam iaitu Universiti Sheikhkuala (Mahayuddin 1986: 44-46).
Abdul Malik Abdul Karim (Hamka) (1999 1: 24) telah menyentuh mengenai
ketokohan Shaykh Abdul Rauf Fansuri dalam pendahuluan kitab tafsir beliau,
Tafsir al-Azhar. Beliau menyatakan:
Bahawa usaha menterjemah dan mentafsirkan al-Quran menerusi penulisan Tafsir al-
Azhar ialah sebagai menyambung dan meneruskan usaha yang telah dirintis oleh para
Israiliyyat dalam Kitab Tafsir Anwar Baidhawi 29
ulama terdahulu, termasuk kitab tafsir yang ditulis oleh Shaykh Abdul Rauf Fansuri pada
abad ke-11H/17M.
TARJUMAN AL-MUSTAFID
Tarjuman al-Mustafid adalah sebuah kitab terjemahan yang dilakukan oleh
Shaykh Abdul Rauf terhadap kitab tafsir Arab berjudul Tafsir Anwar al-Tanzil
wa Asrar al-Ta’wil, karangan Imam al-Qadi al-Baydawi. Ia juga mungkin
merupakan terjemahan daripada Tafsir Jalalayn.
Setelah penelitian dibuat terhadap kedua-dua kitab tafsir tersebut, didapati
banyak perbezaan. Hasil penelitian menunjukkan bahawa Abd. al-Rauf tidak
menterjemah keseluruhan kitab Tafsir Anwar al-Tanzil karya al-Baydawi , tetapi
ia dijadikan sebagai rujukan utama beliau, di samping kitab-kitab tafsir lain seperti
Tafsir al-Khazin dan Tafsir al-Jalalayn.
Pendapat ini dikuatkan lagi dengan kenyataan seorang daripada penyunting
kitab tafsir ini sendiri, iaitu Shaykh Ahmad al-Fatani dalam cetakan pertama.
Beliau berkata “inilah yang dinamakan Tarjuman al-Mustafid bi al-Jawi yang
diterjemahkan dengan bahasa Jawi yang diambil sesetengah maknanya dari Tafsir
al-Baydawi (Wan Mohd. Shaghir 2001: 160). Kenyataan Shaykh Ahmad ini
menunjukkan pihak penyunting sendiri telah menggunakan lafaz ‘sesetengah’
yang membawa maksud bukan semua isi kandungan kitab Shaykh Abdul Rauf
Fansuri telah disalin dan diterjemah daripada kitab Tafsir Anwar al-Tanzil karya
al-Baydawi.
Sebagai penulis tafsir paling awal di Nusantara, karya beliau tersebar ke
seluruh wilayah Melayu-Indonesia. Bahkan cetakan edisinya diedar sehingga
ke Afrika Selatan. Cetakan edisi-edisinya tidak hanya diterbitkan di Singapura,
Penang, Jakarta dan Bombay tetapi juga diterbitkan di Timur Tengah. Disebabkan
Tarjuman Mustafid diterbitkan di Timur Tengah maka ia mencerminkan ketinggian
nilai karya ini serta ketinggian intelektual al-Singkili. Edisi terakhir beliau diterbitkan
di Jakarta pada tahun 1981 (Azyumardi Azra Mizan 1995: 203).
Abd. al-Rauf banyak memberi sumbangan kepada perkembangan tafsir al-
Quran di Nusantara. Beliau meletakkan dasar bagi batasan antara tarjamah dan
tafsir. Ini mendorong beliau menelaah dengan lebih mendalam karya-karya tafsir
dalam bahasa Arab. Tafsir Tarjuman al-Mustafid merupakan satu-satunya tafsiran
lengkap al-Quran di Tanah Melayu selama tiga abad, sebelum munculnya tafsirtafsir
baru di wilayah Melayu Indonesia. Namun ini tidak bererti tafsir tersebut
telah kehilangan daya tarikannya.
ISRAILIYYAT DALAM KITAB TAFSIR ANWAR AL-BAIDHAWI
Artikel ini melihat satu sudut sahaja daripada kandungan kitab ini, iaitu yang
berkaitan dengan riwayat-riwayat Israiliyyat. Riwayat-riwayat Israiliyyat yang
bertentangan dengan akal dan syarak boleh mengurangkan nilai tafsiran tersebut
30 Isla-miyya-t 26(2)
kerana ia tidak diperlukan dalam memahami ayat. Lebih daripada itu, ia boleh
merosakkan pemikiran umat Islam khususnya mereka yang membaca tafsir-tafsir
yang mengandungi riwayat-riwayat Israiliyyat tersebut. Artikel ini juga
mengemukakan riwayat-riwayat Israiliyyat yang terdapat di dalam tafsiran ini
sebagai satu usaha bagi memudahkan kalangan pembaca bagi membezakan
antara tafsiran al-Quran yang sebenar dengan riwayat Israiliyyat.
BEBERAPA KISAH ISRAILIYYAT DALAM TAFSIR
Antara kisah-kisah Israiliyyat yang terdapat dalam kitab Tafsir Anwar Baidhawi
ialah:
1. Kisah Talut dan Jalut Kisah ini diceritakan oleh Allah (s.w.t.) dalam al-
Quran bermaksud:
Dan nabi mereka berkata lagi kepada mereka: Sesungguhnya tanda kerajaan Talut itu ialah
datangnya kepada kamu peti tabut yang mengandungi (sesuatu yang memberi)
ketenteraman jiwa dari Tuhan kamu, dan (berisi) sebahagian dari apa yang telah ditinggalkan
oleh keluarga nabi-nabi Musa dan Harun, peti tabut itu dibawa oleh oleh malaikat,
sesungguhnya peristiwa kembalinya tabut itu mengandungi satu tanda keterangan bagi
kamu, jika benar kamu orang yang beriman (al-Baqarah 2: 248).
Abd. Rauf Fansuri mentafsirkan ayat ini dengan katanya (al-Fansuri t.th.: 7):
Dan telah berkata bagi mereka itu Nabi mereka itu tatkala dituntut mereka itu daripadanya
tanda atas kerajaan Thalut itu bahawasanya tanda kerajaannya bahawa didatangkan akan
kamu suatu peti di dalamnya ketetapan bagi segala hati kamu daripada Tuhan kamu dan
yang mati daripada peninggalan Musa dan Harun pada hal menanggung akan dia segala
malaikat. Tersebut di dalam Khazin adalah peti itu di dalamnya rupa segala nabi yang
diturunkan Allah Taala ia atas Adam maka turun temurun hingga datang kepada Musa dan
adalah mereka itu menuntut kemenangan pada Allah Taala dengan berkat peti itu atas
seteru mereka itu dan dihantarkan mereka itu peti itu di hadapan mereka itu maka tatap
(melihat) mereka itu kepadanya tatkala perang dan ditaruh di dalamnya oleh Musa,
Taurat dan mata bendanya di taruh Harun di dalamnya tengkoloknya maka tatkala mati
Musa tinggalah peti itu pada padang maka tatkala ditentu oleh mereka itu akan tanda
kerajaan Thalut maka ditengking akan dia oleh malaikat antara langit dan bumi pada hal
mereka itu menilik kepadanya hingga dihantarkan malaikat akan peti itu pada Thalut
maka percayalah mereka itu akan kerajaan Thalut.
Tafsiran ini jelas menunjukkan terdapatnya unsur-unsur Israiliyyat. Ini dapat
dilihat menerusi tafsiran ayat yang dilakukan oleh pengarang mengenai kerajaan
Talut. Dalam al-Quran, Allah (s.w.t.) ada menceritakan tentang kerajaan Talut,
dan peti Tabut. Peti Tabut ini diceritakan sebagai tempat menyimpan kitab Taurat,
tetapi tidaklah sampai kepada mempunyai segala nama dan rupa nabi-nabi dari
Adam (a.s.) hingga Musa (a.s.).
Israiliyyat dalam Kitab Tafsir Anwar Baidhawi 31
Kitab tafsir Fi Zilal al-Qur’an juga mentafsirkan ayat tentang kerajaan
Talut. Dalam kitab tafsir Fi Zilal al-Qur’an ini, diceritakan bahawa malaikat
membawa peti yang berisi kitab Taurat kepada Talut. Peti tersebut ialah peninggalan
daripada keluarga Nabi Musa (a.s.) dan Harun (a.s.). Apabila Nabi Musa (a.s.)
wafat, pihak musuh mengambil peti tersebut. Terdapat juga pendapat yang
menyatakan bahawa peti yang mengandungi naskah Taurat itu adalah pemberian
daripada Allah Taala kepada Nabi Musa (a.s.) di Bukit Tur (Sayyid Qutb 1972:
268).
2. Kisah Nabi Sulaiman (a.s.) dengan Puteri Balqis Firman Allah (s.w.t.)
dalam al-Quran bermaksud:
Setelah itu dikatakan kepadanya, dipersilakan masuk ke dalam istana ini. Maka tatkala ia
melihatnya, disangkanya halaman istana itu sebuah kolam air, serta iapun menyingsingkan
pakaian dari dua betisnya. Nabi Sulaiman berkata, sebenarnya ini adalah sebuah istana
yang diperbuat licin berkilat dari kaca. Mendengar yang demikian, Balqis berdoa: Wahai
Tuhanku, sesungguhnya aku telah menganiaya diri sendiri dan sekarang aku menegaskan
bahawa aku berserah diri memeluk Islam bersama-sama Nabi Sulaiman kepada Allah
Tuhan sekalian alam (al-Naml 27: 44).
Pengarang kitab Tafsir Anwar Baidhawi mentafsirkan maksud ayat ini
dengan menyatakan:
Tatkala dikhabarkan oleh jin kakinya seperti kaki keldai maka disuruh Sulaiman segala
syaitan berbuat halaman dari kaca supaya dicubainya dengan tiada menyuruh membukakan
kainnya maka tatkala disumbatkan oleh Balqis kainnya maka tahulah ia akan baik kakinya
(al-Fansuri t.th.: 305).
Selain daripada itu, pengarang kitab Tafsir Anwar Baidhawi ini juga
menyatakan bahawa:
Tatkala berkehendak kepada Sulaiman mengahwin dia maka benci ia akan bulu betisnya
dan dibubuh oleh segala syaitan baginya kapur maka dihilangkannya ia dengan dia… (al-
Fansuri t.th.: 305).
Sayyid Qutb (1974: 150-151) mentafsirkan ayat ini dengan menyatakan
bahawa apabila Puteri Balqis tiba di istana Nabi Sulaiman, maka baginda pun
dipersilakan masuk. Perkara yang memeranjatkan Balqis ialah keadaan istana
tersebut yang diperbuat daripada kaca. Lantai istana itu dibina di atas air, dan ini
membuatkan ia kelihatan seakan-akan seperti sebuah kolam air. Oleh kerana
baginda menyangka bahawa baginda akan mengharungi sebuah kolam, baginda
pun menyingsingkan kainnya. Keadaan ini menyebabkan Nabi Sulaiman
menjelaskan rahsianya dengan berkata: “Sesungguhnya istana ini adalah sebuah
istana yang dibuat dengan cara yang halus iaitu dari bahan kaca”.
Ibn Kathir (1966: 238-239) pula menjelaskan bahawa ketika Puteri Balqis
dipersilakan masuk ke dalam istana yang lantainya diperbuat daripada kaca dan
kelihatan seperti sebuah kolam air, baginda masuk sambil menyingkapkan kainnya.
Setelah itu Nabi Sulaiman (a.s.) pun berkata: “Sesungguhnya bukanlah air yang
32 Isla-miyya-t 26(2)
engkau pijak, lantai ini sangat licin kerana diperbuat daripada kaca”. Puteri Balqis
yang sangat kagum dengan struktur binaan istana tersebut, kemudiannya memeluk
Islam.
Manakala menurut al-Maraghi (1974: 144-145), sebelum ketibaan Balqis,
Sulaiman telah menyuruh bala tenteranya untuk membina sebuah istana besar
yang lantainya diperbuat dari kaca putih yang licin. Di bawahnya terdapat air
yang mengalir dengan pelbagai ikan dan lain-lain. Apabila Balqis tiba, Sulaiman
menyambutnya di istana dan duduk di ruang tengah. Ketika Balqis hendak
mendekati Sulaiman, Balqis menyangka lantai itu adalah air. Lalu Balqispun
menyingsingkan kainnya supaya pakaiannya tidak basah seperti mana yang
biasa dilakukan oleh orang yang menyeberangi air. Ketika itu Sulaiman pun
berkata kepada Balqis: “Sesungguhnya apa yang kamu sangkakan air itu bukanlah
air, tetapi ia adalah sebuah istana yang diperbuat daripada kaca”. Balqis segera
menutupi betisnya dan beliau berasa amat kagum dengan ciptaan itu. Setelah
itu, barulah Balqis menyedari bahawa ada lagi kerajaan lain yang lebih berkuasa
dari kerajaannya. Sulaiman lantas menyeru Balqis supaya menyembah Allah dan
meninggalkan penyembahan selain daripada-Nya.
Pengarang kitab Tafsir Anwar Baidhawi didapati mentafsirkan ayat 44, surah
al-Naml dengan menyatakan bahawa jin telah mengkhabarkan kepada Sulaiman
tentang kaki Puteri Balqis adalah seperti kaki keldai. Sulaiman lantas
memerintahkan para syaitan supaya membina sebuah halaman dalam istana yang
seakan-akan sebuah kolam air supaya Sulaiman dapat memastikan kebenaran
cerita itu. Apabila Balqis berjalan di atas halaman yang dibina itu sambil
menyingsingkan kainnya, maka Sulaiman mendapati kaki Balqis sebenarnya
berkeadaan baik. Menurut riwayat ini juga, ketika Balqis menyingsing kainnya
itu, Sulaiman terpandang akan bulu betisnya. Sulaiman tidak suka melihatnya
lalu syaitan menghilangkannya dengan kapur.
Apabila riwayat Tafsir Anwar Baidhawi ini dibandingkan dengan pendapat
para ahli tafsir seperti al-Fansuri, Sayyid Qutb, Ibn Kathir dan al-Maraghi, didapati
tidak ada satu pun tafsiran daripada ahli tafsir yang menyentuh tentang perkara
ini apatah lagi membenarkannya. Tafsiran para ahli tafsir didapati hanya
menjelaskan tentang kekaguman Balqis terhadap istana yang dibina oleh Nabi
Sulaiman (a.s.). Rasa kagum ini melahirkan keinsafan dan telah menyedarkan
Balqis bahawa ada lagi kuasa lain yang lebih hebat daripada kekuasaannya.
Fenomena ini akhirnya membawa Balqis kepada Islam. Kisah yang menyatakan
bahawa Balqis menyingkap kainnya ketika berjalan di dalam istana Sulaiman
kerana menyangka beliau sedang menyeberangi sebuah kolam air juga adalah
diakui kebenarannya oleh para ahli tafsir.
Bagaimanapun, tidak ada riwayat yang menyatakan bahawa ketika Balqis
menyingsing kainnya, Sulaiman telah terpandang bulu betis Balqis dan
membencinya serta tidak ada juga riwayat yang menjelaskan bahawa kaki Balqis
adalah seperti kaki keldai seperti yang didakwa oleh pengarang kitab Tafsir
Anwar Baidhawi.
Israiliyyat dalam Kitab Tafsir Anwar Baidhawi 33
3. Kisah Nabi Syu’aib (a.s.) dan Nabi Musa (a.s.) Firman Allah (s.w.t.) dalam
al-Quran bermaksud:
Musa menjawab, perjanjian itu adalah antaraku denganmu (tetap dihormati bersama)
yang mana sahaja dari dua tempoh itu aku tunaikan, maka janganlah aku disalahkan. Dan
Allah jualah menjadi pengawas di atas apa yang kita katakan (al-Qasas 28: 28).
Pengarang kitab Tafsir Anwar Baidhawi didapati mentafsirkan ayat 28, surah
al-Qasas ini dengan satu kisah, iaitu: Menurut kata mufassir, setelah selesainya
akad Nabi Shu’aib (a.s.) telah menyuruh anak perempuannya memberi kepada
Nabi Musa (a.s.) satu tongkat untuk menyelamatkan baginda daripada segala
binatang yang buas ketika menjaga kambing. Pengarang kitab Tafsir Anwar
Baidhawi ini juga didapati meriwayatkan bahawa tongkat semua nabi berada
pada tangan Nabi Shu’aib. Manakala tongkat yang berada pada anak perempuan
Nabi Shu’aib (a.s.) adalah tongkat Nabi Adam (a.s.) yang diperbuat daripada
sejenis kayu, yang bernama As Asol yang diambil daripada syurga, kemudian
diambil oleh Nabi Musa (a.s.) dengan pengetahuan Nabi Shu’aib (al-Fansuri
t.th.: 320).
Apabila dirujuk kepada kitab-kitab yang peka terhadap persoalan Israiliyyat,
seperti Sayyid Qutub (1974: 58-59), di dapati beliau mentafsirkan ayat 28, surah
al-Qasas ini dengan menyatakan bahawa apabila Nabi Musa (a.s.) menerima
tawaran dan perjanjian itu mengikut syarat-syarat yang ditetapkan oleh Nabi
Syu’aib (a.s.), maka Nabi Musa (a.s.) pun berkata: “Dan mana-mana sahaja
daripada dua tempoh kerja itu saya tunaikan maka hendaklah tidak ada apa-apa
tuntutan yang lain lagi ke atas saya. Dan Allah juga yang menjadi saksi di atas
apa yang kita katakan ini”. Ertinya apabila cukup tempoh selama lapan tahun
Nabi Musa (a.s.) bekerja maka hendaklah tidak ada lagi tuntutan yang lain
melebihi tugas-tugas kerja tersebut kerana kerja yang lebih itu hanyalah
merupakan kerja sukarela sahaja. Nabi Musa (a.s.) telah membuat penjelasan ini
sesuai dengan kejujuran hatinya dan ketegasan sahsiahnya, sedangkan beliau
sendiri telah berniat untuk menunaikan kerja yang lebih baik.
Ibn Kathir (1966: 274) pula menyatakan bahawa di dalam ayat sebelumnya
iaitu ayat 27, surah al-Qasas, Nabi Syu’aib telah menerima cadangan puterinya
supaya mengambil Musa (a.s.) bekerja dengan baginda, lalu Nabi Syu’aib (a.s.)
pun memanggil Nabi Musa (a.s.) dan berkata:
Wahai Musa, aku ingin mengahwinkan engkau dengan salah seorang daripada puteriku ini
dengan mas kahwinnya engkau hendaklah bekerja denganku selama lapan tahun. Jika
engkau hendak memanjangkan tempoh kerjamu selama sepuluh tahun, maka itu aku
anggap sebagai kerja sukarela dan aku tidak memaksa.
Kemudian dalam ayat 28, surah al-Qasas ini, Nabi Musa (a.s.) menjawab:
Aku menerima tawaranmu ini dengan perjanjian sebagaimana yang engkau tetapkan iaitu
bekerja selama lapan tahun dan sekiranya aku bersetuju, aku boleh memanjangkan masa
kerjaku sehingga sepuluh tahun. Allahlah yang menjadi saksi atas apa yang telah kita
ucapkan.
34 Isla-miyya-t 26(2)
Al-Maraghi (1974: 52-53) dalam mengutarakan pendapatnya berhubung
maksud ayat 28, surah al-Qasas ini menyatakan bahawa Nabi Musa (a.s.) telah
berkata:
Apa yang engkau syaratkan kepadaku adalah untukmu dan apa yang engkau syaratkan
kepadaku untuk mengahwini di antara salah seorang daripada puterimu adalah untukku.
Kita masing-masing tidak boleh keluar dari syarat yang telah kita persetujui ini”. Kemudian
Nabi Musa (a.s.) menyambung lagi: “Apabila aku telah menyempurnakan lapan atau
sepuluh tahun untuk mengembala kambing, itu bermakna aku telah menyempurnakan
syaratmu. Oleh itu, engkau tidak berhak yang lebih daripada itu. Dan sesungguhnya
Allahlah yang menjadi saksi kepada perjanjian kita.
Dalam mentafsirkan ayat 28, surah al-Qasas ini, para ahli tafsir tidak pernah
menyebut tentang adanya tongkat yang diberikan oleh anak perempuan Nabi
Syu’aib (a.s.) kepada Nabi Musa (a.s.). Apatah lagi tentang asal-usul tongkat
tersebut yang dikatakan salah satu daripada tongkat nabi-nabi dan berasal dari
syurga. Al-Quran hanya menceritakan tentang akad perjanjian yang berlaku di
antara Nabi Syu’aib (a.s.) dan Nabi Musa (a.s.). Dalam perjanjian tersebut, Nabi
Syu’aib telah berjanji akan mengahwinkan Nabi Musa (a.s.) dengan salah seorang
daripada anak perempuannya sekiranya Nabi Musa (a.s.) bersetuju untuk bekerja
selama lapan tahun bersama baginda dan syarat ini dipersetujui oleh Nabi Musa
(a.s.).
4. Kisah Nabi Musa (a.s.) dengan Firaun Firman Allah dalam al-Quran yang
bermaksud:
Dan Firaun pula berkata, hai pembesar kaumku, aku tidak mengetahui ada bagi kamu
Tuhan selain daripadaku. Oleh itu wahai Hamman, bakarkanlah untukku batu-bata serta
binalah untukku bangunan yang tinggi supaya aku boleh naik untuk melihat Tuhan Musa
yang dikatakan itu. Dan sesungguhnya aku percaya Musa daripada kalangan orang-orang
yang berdusta (al-Qasas 28: 38).
Al-Fansuri telah mentafsirkan ayat 38, surah al-Qasas ini dengan katanya:
Tersebut di dalam al-Khazin, tatkala selesailah mereka membina mahligai (tangga) seperti
yang disuruh itu, maka naiklah Firaun ke atas dan disuruhnya panah ke langit. Setelah
anak panah itu kembali kepadanya, didapati anak panah itu berlumuran dengan darah
dan Firaun mengatakan bahawa beliau telah membunuh Tuhan Musa (al-Fansuri t.th.:
322).
Dalam mentafsirkan ayat 38, surah al-Qasas ini, pengarang kitab Tafsir Anwar
Baidhawi menyatakan bahawa ketika Nabi Musa (a.s.) menyeru Firaun kepada
Islam, Firaun telah mempersendakan kata-kata Nabi Musa (a.s.). Dalam usaha
untuk menimbulkan keraguan terhadap kebenaran kata-kata Nabi Musa (a.s.),
beliau telah memerintahkan pembesarnya yang bernama Hamman supaya
membina sebuah binaan yang tinggi menjulang ke langit untuk mencari Tuhan
Nabi Musa (a.s.). Setelah itu, Firaun menaiki tangga tersebut lalu memanah ke
langit. Menurut riwayat ini lagi, apabila anak panah itu kembali kepadanya, anak
Israiliyyat dalam Kitab Tafsir Anwar Baidhawi 35
panah tersebut dipenuhi dengan darah. Firaun kemudian mendakwa bahawa
beliau telah membunuh Tuhan Nabi Musa (a.s.).
Cerita ini jelas bertentangan dengan tafsiran yang dibuat oleh para ahli
tafsir yang muktabar. Menurut tafsiran mereka, ayat 38, surah al-Qasas ini adalah
menceritakan tentang keangkuhan Firaun yang mengaku dirinya sebagai Tuhan
serta berlaku zalim terhadap rakyatnya. Justeru itu, apabila Nabi Musa (a.s.)
mendakwa ada Tuhan selain daripadanya, dia berasa tercabar lalu memerintahkan
pembesarnya untuk membina sebuah binaan yang tinggi menjulang ke langit.
Tujuannya adalah untuk mencari Tuhan Nabi Musa (a.s.). Sebenarnya, katakata
Firaun ini bukanlah menunjukkan kesungguhannya melainkan sekadar hanya
untuk mempersendakan Tuhan Nabi Musa (a.s.) dan pada masa yang sama
bertujuan untuk menimbulkan keraguan di kalangan rakyatnya terhadap
kebenaran dakwaan Nabi Musa (a.s.).
Namun begitu, tidak ada riwayat yang menyatakan bahawa Firaun telah
naik ke langit untuk mencari Tuhan Nabi Musa (a.s.) dan memanah ke langit lalu
apabila anak panah itu kembali kepada Firaun, anak panah itu berlumuran darah
sebagaimana yang didakwa oleh pengarang kitab Tafsir Anwar Baidhawi. Hal
ini jelas membuktikan kepalsuan cerita ini.
Sayyid Qutb (1974: 67) dalam mentafsirkan ayat ini menyatakan bahawa
Allah telah menceritakan tentang Firaun yang telah menyeru kepada pembesarnya
dengan menyatakan: “Wahai pembesar-pembesarku, setahu aku kamu tidak
mempunyai Tuhan yang lain selain daripadaku”. Kata-kata Firaun ini
berlandaskan kisah dongeng yang terkenal di Mesir dalam menghubungkan
raja-raja dengan tuhan-tuhan dan juga berdasarkan kuasa paksaan yang tidak
membenarkan para hambanya berfikir dan bercakap. Mereka sedar bahawa Firaun
hanya seorang manusia sama seperti mereka yang akan hidup dan mati, namun
apabila Firaun mengeluarkan kata-kata seperti ini, mereka hanya mampu
mendengar tetapi tidak mampu membantah.
Kemudian dia berpura-pura menunjukkan kesungguhan hendak mengetahui
hakikat yang sebenar dengan mencari Tuhan Musa (a.s.), sedangkan tujuannya
yang sebenar adalah untuk mengejek dan menyenda. Katanya: “Wahai Hamman!
Bakarlah untukku tanah liat, kemudian binakan untukku satu bangunan yang
tinggi supaya aku dapat naik melihat Tuhan Musa di langit”. Kemudian dengan
kata-kata mengejek pula dia berpura-pura meragui kebenaran Musa, tetapi dia
terus mencari dan menyiasat untuk mendapatkan hakikat sebenar.
Menurut pendapat Ibn Kathir (1966: 282-283 ) pula, ayat 38, surah al-Qasas
ini menjelaskan tentang gaya hidup Firaun yang sombong dan kejam terhadap
rakyatnya. Tidak cukup dengan itu, beliau turut mengingkari kenabian Nabi
Musa (a.s.) dan menganggap dirinya sebagai Tuhan yang wajib disembah oleh
manusia. Beliau berkata:
Wahai sekalian rakyatku, aku tidak mengetahui dan mengenal Tuhan bagimu selain aku
dan aku telah memerintahkan kepada Hamman supaya membina sebuah gedung yang
tinggi menjulang ke langit agar aku dapat melihat Tuhan Musa. Aku yakin bahawa dia
36 Isla-miyya-t 26(2)
adalah seorang pendusta yang mengatakan ada Tuhan selain aku serta menyuruh sekelian
kamu menyembah Tuhannya itu.
Dalam pada itu, al-Maraghi berpendapat bahawa kata-kata Firaun itu secara
zahirnya menunjukkan kebijaksanaannya. Beliau berharap dengan kata-kata itu
rakyatnya akan menerima dirinya sebagai Tuhan. Ada dua kalimah yang
diucapkan oleh Firaun iaitu: “Aku tidak mengetahui ada Tuhan bagi kalian selain
aku” dan “Akulah Tuhan kalian yang maha tinggi”. Maksudnya Firaun
menganggap tidak ada Tuhan selainnya tetapi rakyatnya menyembah Tuhan
Musa dan membenarkan kata-kata yang dibawa oleh Nabi Musa (a.s.).
Bagaimanapun, menurut ar-Razi seperti yang dinukilkan oleh al-Maraghi
berhubung ayat 38, surah al-Qasas ini, pengakuan Firaun sebagai Tuhan tidak
bermaksud bahawa beliau mengaku dirinya sebagai pencipta langit, bumi, laut,
gunung dan manusia kerana baginya, setiap orang yang berakal sudah tentu
mengetahui hal itu. Tetapi yang dimaksudkan oleh beliau ialah kewajipan
menyembah kepadanya.
KESIMPULAN
Kitab Tafsir Anwar Baidhawi adalah sebuah kitab yang mengandungi banyak
kisah-kisah Isra’iliyyat. Apa yang dibincangkan dalam artikel ini hanyalah
sebahagian kecil daripadanya sahaja. Kisah-kisah Israiliyyat adalah kisah-kisah
yang bukan sahaja boleh merosakkan tafsiran yang sahih, malah ia juga boleh
mencetuskan kekeliruan di kalangan umat Islam. Bagaimanapun, kitab Tafsir
Anwar Baidhawi ini adalah antara kitab tafsir dalam bahasa Melayu yang banyak
digunapakai oleh masyarakat Melayu dalam usaha mereka untuk memahami tafsir
kitab Allah (s.w.t.). Sebagai cadangan bagi menangani isu kekeliruan di kalangan
umat Islam, penjelasan atau tafsiran hendaklah disertakan sama ada di akhir
kisah-kisah tersebut bagi menyatakan bahawa apa yang diriwayatkan tersebut
adalah dari periwayatan Israiliyyat, atau yang paling baik pengarang tidak
menukilkan atau memasukkan kisah-kisah tersebut di dalam kitab-kitab tafsiran
mereka. Cadangan ini perlu diberi perhatian dan diambil tindakan oleh semua
pihak yang terlibat dalam pentafsiran kitab Allah (s.w.t.). Ini adalah kerana
golongan sasaran yang akan membaca kitab-kitab tafsir mereka adalah mungkin
terdiri daripada kalangan orang Melayu yang tidak mempunyai pengetahuan
mengenai Israiliyyat yang menyebabkan mereka menyangka bahawa itulah tafsiran
sebenar terhadap kisah-kisah yang terdapat di dalam al-Quran.
RUJUKAN
Abdul Malik Abdul Karim Amrullah, Haji. 1999. Tafsir al-Azhar. Singapura: Pustaka
Nasional PTE LTD.
Abdullah Basmeih. 1980. Tafsir pimpinan al-Rahman. Kuala Lumpur: Darulfikr.
Israiliyyat dalam Kitab Tafsir Anwar Baidhawi 37
al-Bukhari, Abu Abdullah Muhammad b. Ismail. t.th. Matan al-Bukhari bi hasyiah al-
Sindi. Misr: Mitbaah Faisal Isa al-Babi al-Halabi.
al-Fansuri, Abd. Rauf bin Muhammad Ali. t.th. Tafsir Anwar al-Baidhawi. Thailand:
Maktabah Wa Mitbaah Muhammad Nahdi Wa Awladuh.
al-Maraghi, Ahmad Mustafa. 1974. Tafsir al-Maraghi. Beirut: Dar al-cArabiyyah.
Al-Qurtubi, Abi Abdullah Muhammad bin Ahmad al-Ansari. t.th. al-Jamic al-ahkam al-
Qur’an. Qaherah: Dar al-Bayan li al-Turath.
al-Suyuti, cAbdul Rahman Jalaluddin. 1983. al-Darul al-Mansur fi tafsir al-Qur’an .
Lubnan: Dar al-Fikr.
Ibn Kathir, Ismail bin Kathir al-Qurasyi al-Dimasyqi. 1970. Tafsir al-Qur’an al-cAzim.
Beirut: Dar al-Fikr.
Ibn Khaldun. Abd al-Rahman b. Khaldun al-Maghribi. 1968. Muqaddimah Ibn Khaldun.
Beirut: Dar Maktabah al-Hayat.
Mahayuddin Hj. Yahya. 1986. Ensiklopedia sejarah Islam. Bangi: Penerbit Universiti
Kebangsaan Malaysia.
Muhammad b. Muhammad Abu Shahbah. 1408H. al-Israiliyyat wa al-mawducat fi Kutub
al-tafsir. Qaherah: Maktabah al-Sunnah.
Muhammad Hussin al-Zahabi. 1990. al-Israiliyyat fi al-Tafsir wa al-Hadith. Qaherah:
Maktabah Wahbah.
Muhammad Hussin al-Zahabi. t.th. al-Tafsir wa al-mufassirun. Qaherah: Maktabah
Wahbah.
Rozali Adam. 1985. Al-Quran di antara tafsir dan Isra’iliyyat. Kuala Lumpur: Dewan
Bahasa dan Pustaka.
Sayyid Qutb. 1994. Fi zilal al-Qur’an. Beirut: Dar al-Shuruq.
Jabatan Usuluddin dan Falsafah
Fakulti Pengajian Islam
Universiti Kebangsaan Malaysia
43600 UKM Bangi
Selangor Darul Ehsan
Malaysia
mazib@pkrisc.cc.ukm.my

Islam merupakan agama yang syumul merangkumi seluruh aspek kehidupan
manusia. Sejajar dengan itu, al-Quran diturunkan sebagai kitabullah yang
mempunyai panduan dan hidayah kepada seluruh umat manusia lengkap
dengan segala isi kandungannya sama ada dari segi akidah, ibadah,
perundangan, akhlak, sejarah dan sebagainya. al-Quran dinukilkan secara
mutawatir dan merupakan kitab yang sentiasa dipelihara isi kandungannya
oleh Allah (s.w.t.) daripada diseleweng oleh musuh Allah (s.w.t.). Namun begitu
tidak dinafikan bahawa terdapat sesetengah para pentafsir dahulu atau masa
kini memasukkan beberapa unsur-unsur Israiliyyat di dalam pentafsiran
mereka. Unsur ini banyak dikesan terutamanya dalam menggambarkan perihal
cerita-cerita para nabi dan rasul, dan faktor ini adalah antara penyebab
berlakunya kelemahan dalam Tafsir Ma’thur. Kajian ini cuba menganalisis
kitab tafsir Melayu lama karangan Syeikh Abd. Al-Rauf bin Ali al-Fansuri al-
Singkili, yang merupakan antara kitab-kitab tafsir berbahasa Melayu yang
dipelajari di surau-surau serta pondok-pondok bukan sahaja di Indonesia
bahkan juga di Malaysia. Kajian ini akan menjelaskan tentang biodata
pengarang terlebih dahulu, dan kemudiannya diikuti dengan pengenalan
kitab dan terakhir ialah analisa terhadap riwayat-riwayat Israiliyyat yang
terdapat di dalamnya. Selayaknya kitab ini diberi perhatian dan penumpuan
bagi menilai sama ada ia juga dipengaruhi oleh riwayat-riwayat Israiliyyat
ataupun tidak. Semoga masyarakat yang cintakan al-Quran mampu mendalami
tafsiran-tafsirannya tanpa terpengaruh dengan riwayat-riwayat Israiliyyat
yang batil yang tidak berdasarkan kepada sanad yang sahih.

Klik disini untuk melanjutkan »»
 
Namablogkamu is proudly powered by Blogger.com | Template by o-om.com | Distributed by Blogger Templates