Showing posts with label dunia. Show all posts
Showing posts with label dunia. Show all posts

2.12.2010

Motivasi Diri



Kenapa harus 40 cari saja sendiri ya ...!

40 hari ad-Dukhan
Doa Saat Sudah Berumur 40 Tahun
Bumi dan Langit Menangis Selama 40 Hari

Barangsiapa yang shalat karena Allah selama 40 hari secara berjama’ah dengan mendapatkan Takbir pertama (takbiratul ihramnya imam), maka ditulis untuknya dua kebebasan, yaitu kebebasan dari api neraka dan kebebasan dari sifat kemunafikan

Kata kata motivasi

  • Apa benar keberadaan Anda saat ini tidak berarti apa-apa?, apa arti keberadaan Anda saat ini?Rasa percaya diri akan tumbuh karena dipersiapkan perencanaan dan pelaksaanaannya.Ingat! Anda dilahirkan bukan untuk melakukan semuanya, tapi Anda dilahirkan untuk melakukan seseuatu. Carilah sesuatu itu. Anda pasti BISA! 
  • Tips sederhana untuk memvisualisasikan mimpi-mimpi Anda adalah TAJAM ; T (Tekad yang kuat dan Tujuan yang jelas), A (Arahkan pada potensi positif), J (Jauhkan dari Metafora Negatif), A (ambil ,manfaat dari setiap kegagalan), M (Mantapkan motivasi dengan motivasi mantap) 
  • Jangan bilang “ saya tidak mampu melakukan itu.” Tapi katakanlah “ bagaimana cara saya melakukan itu;” 
  • setelah kesulitan pasti ada kemudahan. Rumus orang sukses adalah ; orang SUKSES lebih banyak gagalnya dari pada orang gagal. Sering mencoba sering gagal, tak pernah mencoba tak pernah gagal. Tapi hasilnya pasti beda! 
  • Bangkitkan diri Anda dengan tiga hal : 1, Jangan mengeluh. 2, coba lagi dan coba lagi. 3, berdoalah kepada Allah dengan sesungguhnya. 
  • cara tercepat mengubah sikap teman Anda terhadap diri Anda adalah dengan mengubah sikap anda sendiri. 
  • Tidak akan pernah terjadi sebuah perubahan kalau yang Anda lakukan adalah menunggu orang lain mengubah dirinya untuk Anda tanpa adanya perubahan dari diri Anda. Penderitaan, masalah, rasa sakit, dan kesuksesan adalah satu paket harga yang tak dapat dibeli secara terpisah. 
  • Kalau Anda ingin sukses maka Anda harus siap menjalani hal-hal yang tidak mau dilakukan oleh orang-orang biasa. Dan orang-orang biasa terbiasa menghindari masalah, banyak mengeluh dan senang mencari-cari alasan yang membenarkan kemalasannya. Kalau Anda bercita-cita mendapatkan ikan paus. Mengapa Anda memancing di selokan ? bukankah ikan paus itu ada di samudera? Cita-cita akan sebanding dengan resiko yang akan Anda alami. 
  • Tidak penting berapa kali Anda jatuh dan gagal . yang lebih penting adalah apakah Anda senantiasa bangun kembali? 
  • Apalah artinya seorang yang bisa melakukan banyak hal namun selalu tidak mau melakukan banyak hal. 
  • Anda mungkin tidak mampu mengubah dunia yang Anda lihat sekitar Anda. Tetapi Anda mampu mengubah cara pandang Anda melihat dunia yang ada dalam diri Anda. Perubahan besar pada dasarnya adalah kumpulan dari perubahan-perubahan kecil yang terkumpul dan menjadi sebuah kebiasaan… 
  • Bahagia, sedih, senang, dan semua rasa berawal dari bagaimana Anda memandang sesuatu dengan pikiran Anda. Peluang adalah kesempatan untuk berhasil namun juga kesempatan untuk menambah kegagalan. 
  • Tiga langkah cerdas menghadapi masalah ; 1) Melangkahlah setahap demi setahap. 2) Belajarlah dari keslahan Anda sendiri. 3) Yakin dan percaya diri Anda pada Allah 
  • Ingat, semua kata-kata miring akan luntur dengan bukti nyata. 
  • Kalimat “sulit tapi bisa” berakhir pada sikap optimis dan berlanjut pada gerak mencoba, sedangkan kalimat “Bisa tapi sulit” cenderung mendorong sikap pesimis dan menyerah sebelum melakukan percobaan. Kesalahan Anda dalam memilih kosa kata akan berpengaruh pada mandeknya kreativitas bawah sadar. 
  • Emosi kita akan membentuk sikap tubuh dan sikap tubuh kita dipengaruhi oleh emosi. Sikap tubuh Anda akan mampu mengbah emosi Anda. 
  • Sepuluh pola salah yang akan menghambat proses pencarian jati diri positif ; 1) Takut mengmbail resiko, 2) Kurang tekun, 3) Ingin mempreoleh hasil dengan cepat, 4) Kurangnya prioritas, 5) mementingkan diri sendiri dan ketamakan, 6) Tidak berpendirian, 7) Keengganan menyususun rencana dan mempersiapkan diri, mencari pembenaran terhadap keslahan diri, 9) Tidak belajar dari kesalahan masa lalu, 10) Kurangnya tujuan. 
  • Banyak peluang besar yang hilang karena faktor kebimbangan. Ketakutan menimbulkan rasa tidak aman, kurang percaya diri serta kecenderungan menunda-nunda pekerjaan. 
  • Orang yang tidak berani mencoba akan kalah sebelum berusaha. 
  • Persiapan adalah ; Tujuan + Prinsip + Perencanaan + Pelaksanaan + Ketekunan + Kesabaran + Kebanggaan. 
  • Cara terbaik menghadapi kesalahan adalah ; Segere mengakuinya, tidak mendiamkannya, belajar dari kesalahan itu, tidak mengulanginya, tidak melemparkan kesalahan tau mencari-cari alasan. Anda lebih sering menunda dengan harapan mampu membayarnya pada waktu berikutnya. 
  • “Malas” adalah kosa kata permanen untuk semua kegagalan. 
  • Malas adalah sifat dasar orang yang kehilangan motivasi. Malas adalah kata yang selalu muncul pada diri sang pecundang sejati. Kemalasan adalah cikal bakal penyesalan pada setiap kesimpulan akhir. Malas bermula dari pikiran negatif yang terpelihara, kemudian terpupuk oleh rasa meremehkan sesuatu yang akhirnya berujung pada kesimpulan akhir, « Aku tidak mampu » atau Kenapa harus aku yang mengerjakannya ? » 
  • Kata kasihan sangat patut diberikan pada orang-orang yang dipercaya oleh orang lain apa yang dikatakannya, namun dirinya sendiri tidak mempercayai apa yang diutarakannya. 
  • Anda berhak memilih dan memutuskan apapun dalam kehidupan Anda, namun Anda tidak dapat memilih konsekuensi dan akibat dari pilihan-pilihan dan keputusan Anda. 
  • Menyerah adalah suatu pemecahan permanen untuk masalah temporer. (Anonim) 
  • Ujian bagi para pecundang tidak lebih dari suatu penderitaan tak berujung yang menimbulkan persangkaan buruk pada setiap orang yang ada disekitarnya, bahkan kepada Allah. 
  • Ujian bagi pemenang adalah merupakan jalan cepat menuju naik kelas. 
  • Dengan masalah, kita akan banyak belajar, tekun, dan sabar. Dengan masalah, kita mampu menemukan hal-hal baru. 
  • Tahukah Anda bahwa orang gagal karena melakukan sesuatu 1000 kali lebih baik dari pada orang yang tidak pernah melakukan sesuatu. 
  • Kegagalan akan melahirkan pengalaman dan dari pengalaman akan terlahir kecerdasan emosional yang tidak pernah diperoleh orang yang tidak pernah melakukan apapun. 
  • Yang lain dapat menghentikan langkah Anda hanya sementara, namun Andalah satu-satunya orang yang dapat melakukannya secara permanen. (Maxwell) 
  • Pengorbanan yang sesungguhnya adalah investasi, dimana kita melepaskan sesuatu hari ini dan kita akan memperoleh sesuatu yang lebih berharga di esok hari. 
  • Pemenang tidak melakukan sesuatu yang beda, pemenang hanya melakukan sesutau dengan cara yang berbeda. 
  • Keberhasilan ataupun kegagalan bukanlah sebuah hasil yang datang secara tiba-tiba, sebuah keberhasilan berasal dari proses yang panjang yang diawali keberanian memutuskan, kemauan untuk melakukan,dan kesiapan menerima resiko dan konsekuensi apapun dari tindakan yang dilakukan. 
  • Tidak ada usaha tanpa gerak. Gerak akan terkontrol jika Anda memiliki niat yang yang kuat, Niat Anda akan konsisten jika tujuan Anda terukur, Tujuan Anda terukur jika ada KOMITMEN yang sinergi dengan GERAK, NIAT, dan TUJUAN. (Aris ABCo) 
  • Bergeraklah! Karena bergeraklah air tidak bau. Karena bergeraklah udara terasa segar. Karena bergeraklah motor berjalan lancar dan tidak berbenturan. 
  • Orang sukses akan menjadikan kegagalan sebagai bagian dari temuan baru sebagai cara salah yang tak perlu terulang kedua kali. kebanggaan terbesar kita adalah bukan karena kita tidak pernah gagal, tapi kebanggaan terbesar kita adalah ketika kita mampu bangkit kembali setiap kali kita jatuh. 
  • Selalu tanamkan dalam pikiran Anda bahwa ketetapan hati Anda untuk berhasil lebih penting dari hal apapun. (Abraham Lincoln) 
  • Kebebasan manusia yang terakhir adalah memilih sikap dalm situasi apapun yang telah ditentukan baginya. (Victor Frankl) 
  • Anda tidak mungkin berkomitmen pada diri Anda kalau Anda masih berusaha untuk menyenangkan semua orang. 
  • Lima sikap mental yang harus dimiliki oleh seorang pemenang ; tekad baja, tekun dan tabah, berpikir positif, menjunjung tinggi kejujuran dan bersikap konsisten. 
  • Untuk berhasil, sejumlah hambatan dan rintangan seperti kemalasan, ketakutan, godaan, keterbatasan pengetahuan, keterbatasan relasi, kurang fasilitas, kurang modal dan 1001 kekurangan lainnya harus diatasi. 
  • Intuisi dapat diperoleh melalui ; 1) Pemikiran mendalam mengenai persoalan dan data sehingga pikiran kita dijenuhi, 2) Syarat yang penting yang harus dipenuhi adalah kebebasan dari persoalan-persoalan lain atau gangguan perhatian lain, 3) Banyak orang memperoleh intuisi sewaktu beristirahat dari pekerjaannya setelah usaha yang intensif, 4) Pikiran-pikiran yang timbul sering muncul sewaktu-waktu yang sangat singkat saja. 
  • Beberapa cara untuk memperluas pengetahuan sehingga Anda mampu berpikir kreatif ; membaca, pengamatan atas persoalan, transfer pengetahuan dengan menghadiri seminar, lokakarya, pelatihan/workshop, Diskusi, terbuka terhadap berbagai bentuk informasi (leaflet, booklet dll) 
  • Musuh terburuk kreativitas adalah keraguan atas kemampuan diri sendiri. 
  • Seorang yang bahagia bukanlah seseorang yang dalam situasi serba pasti, tapi lebih pada seseorang dengan sikap yang serba pasti. (Hugh Downs) 
  • Sembilan puluh sembilan persen kegagalan berasal dari orang yang mempunyai kebiasaan membuat alasan. (George Washington) 
  • Hukuman pertama bagi orang yang berbohong dari kebohongannya adalah dia tetap dianggap bohong ketika ia bersikap jujur. (Ibnul Mubarak Rahimahullah) 

11.14.2009

Cinta Dunia



Cinta dunia adalah pangkal dari segala dosa. Dunia tidaklah sama dengan harta dan tahta saja. Harta dan tahta hanyalah bagian terkecil dari kehidupan dunia yang amat luas itu. Kehidupan dunia adalah kondisi obyektif Anda sebelum meninggalkan dunia. Sedangkan akhirat adalah kondisi obyektif

Anda setelah meninggal. Apa pun isi kehidupan yang Anda hadapi sebelum meninggal, maka itu adalah kehidupan dunia, kecuali ilmu pengetahuan, ma’rifat dan kebebasan. Kehidupan duniawi itu amat variatif.

Apa yang ada setelah kematian, juga merupakan wahana kenikmatan, bagi yang memiliki matahati. Tetapi wahana setelah meninggal itu bukanlah dunia, walaupun muncul di dunia.
Bagian-bagian duniawi tersebut saling terkait satu sama lain, berkaitan pula dengan upaya perbaikan kerja Anda, yang kembali pada harta-benda yang ada dan bagian Anda di dalamnya, serta kesibukan Anda untuk memperbaikinya.

Yang berupa harta-benda (materi) adalah bumi beserta isinya. Allah swt. berfirman:
“Sesungguhnya Kami telah menjadikan apa yang ada di bumi sebagai perhiasan baginya...” (Q.s. Al-Kahfi: 7).


Kepentingan manusia terhadap bumi itu pun bervariasi, bergantung pada sisi bumi itu sendiri. Tanahnya secara umum dimanfaatkan oleh manusia sebagai tempat tinggal dan kebun. Tetumbuhannya sebagai obat dan makanan. Barang tambangnya sebagai sumber devisa, bahan-bahan produksi dan berbagai peralatan. Sedangkan binatang-binatang difungsikan sebagai alat kendaraan dan bahan makanan. Adapun manusia itu sendiri berperan sebagai khalifah Allah yang bertugas memakmurkan bumi dengan melakukan berbagai kebajikan dan mengembangkan keturunan. Semua itu telah terhimpun dalam firman Allah swt.:

“Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu: wanita-wanita, anak-anak...” (Q.s. Ali Imran: 14).


Sedangkan bagian duniawi Anda di muka bumi, telah diungkapkan Al-Qur’an melalui kata “hawa nafsu”.
Allah swt. berfirman: “... dan menahan diri dari keinginan hawa nafsunya ...” (Q.s. An-Nazi’at: 40).
Kemudian sebagai rincian terhadap ayat tersebut, Allah swt. berfirman pula:
“... Sesungguhnya kehidupan dunia itu hanyalah permainan dan suatu yang melalaikan, perhiasan dan bermegah-megah antara kamu serta berbangga-banggaan tentang banyaknya harta dan anak...” (Q.s. Al.-Hadid: 20).


Di balik semua itu berbagai ancaman terselubung terhadap batin, berupa kedengkian, kesombongan, riya’, hipokrit, berfoya-foya, cinta dunia dan gila sanjungan. Semua itu adalah dunia batin. Sementara kekayaan fisik adalah dunia lahiriah. Kesibukan Anda untuk memakmurkan dan mengolah dunia melalui industri dan profesi, yang membuat manusia sibuk sehingga lupa diri, lupa prinsip dan kehilangan makna hidup, semata karena kelelapan mereka terhadap kesibukan duniawi itu.

Kesibukan itu muncul akibat dua kaitan: ketergantungan hati karena cinta dunianya, dan ketergantungan fisik dengan sibuk mengolahnya.
Itulah hakikat dunia, yang -apabila -mencintainya merupakan pangkal dari segala dosa. Padahal dunia diciptakan semata sebagai bekal menuju akhirat. Hanya saja gemerlap dunia itu seringkali membuat orang tersesat sehingga lupa pada tujuan hidupnya sebagai musafir menuju alam akhir. Ibarat pemula yang menunaikan ibadat haji, dia pasti disibukkan dengan segala persiapan dan perbekalan maupun perlengkapan kendaraannya, sehingga akhirnya dia pun tertinggal oleh rombongannya dan gagal menunaikan ibadat haji, malah dimangsa oleh binatang buas di padang pasir.

Itulah dunia yang tercela dan yang menghancurkan. Padahal substansinya adalah ladang akhirat. Kehidupan dunia merupakan salah satu fase perjalanan menuju Allah swt. Ia ibarat perumahan yang dibangun di tengah jalan. Di situ segala bekal perjalanan dipersiapkan dan disimpan. Siapa pun yang mempersiapkan dan mengambil bekal perjalanannya di situ sekadar kebutuhan, seperti bekal makanan, pakaian, menikah dan kebutuhan lain, maka la benar-benar menanam tanaman dan akan dipetiknya kelak di akhirat. Tetapi, barangsiapa melebihi batas dalam mengambil bekal dan terlena olehnya, maka dia bakal binasa.
Allah swt. berfirman:

“Barangsiapa yang menghendaki kehidupan dunia dan perhiasannya, niscaya Kami berikan kepada mereka balasan pekerjaan mereka di dunia dengan sempurna...” (Q.s. Hud:15).

“Yang demikian itu disebabkan karena sesungguhnya mencintai kehidupan di dunia lebih dari akhirat...” (Q.s. An-Nahl: 107).

“Adapun orang yang melampaui batas, dan lebih mengutamakan kehidupan dunia...” (Q.s. An-Nazi’at: 37-8).
Begitu pula Sunnatullah di dunia. Dunia adalah rumah jamuan bagi orang yang lewat. Bahkan rumah para penghuni, agar orang-orang yang lewat memanfaatkan mengambil bekal perjalanan, seperti pemanfaatan barang pinjaman. Kemudian dipindahkan kepada orang berikutnya dengan hati yang lapang tanpa ada ketergantungan hati terhadap apa yang beralih dari tangannya. Bukannya seperti orang yang menyesal ketika dunianya berakhir ke tangan orang lain.


11.09.2009

Kontinu meski Sedikit

Rajin Ibadah usahakan terus menerus

Sebagian ulama salaf mengatakan,

مِنْ ثَوَابِ الحَسَنَةِ الحَسَنَةُ بَعْدَهَا، وَمِنْ جَزَاءِ السَّيِّئَةِ السَّيِّئَةُ بَعْدَهَا

“Di antara balasan kebaikan adalah kebaikan selanjutnya dan di antara balasan kejelekan adalah kejelekan selanjutnya.”

Ibnu Rajab menjelaskan hal di atas dengan membawakan perkataan salaf lainnya, ”Balasan dari amalan kebaikan adalah amalan kebaikan selanjutnya. Barangsiapa melaksanakan kebaikan lalu melanjutkan dengan kebaikan lainnya, maka itu adalah tanda diterimanya amalan yang pertama. Begitu pula barangsiapa yang melaksanakan kebaikan, namun malah dilanjutkan dengan amalan kejelekan, maka ini adalah tanda tertolaknya atau tidak diterimanya amalan kebaikan yang telah dilakukan.”

Pentingnya Beramal Kontinu (Rutin), Walaupun Sedikit

Di antara keunggulan suatu amalan dari amalan lainnya adalah amalan yang rutin (kontinu) dilakukan. Amalan yang kontinu –walaupun sedikit- itu akan mengungguli amalan yang tidak rutin –meskipun jumlahnya banyak-. Amalan inilah yang lebih dicintai oleh Allah Ta’ala. Di antara dasar dari hal ini adalah dalil-dalil berikut.

Dari ’Aisyah –radhiyallahu ’anha-, beliau mengatakan bahwa Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda,

أَحَبُّ الأَعْمَالِ إِلَى اللَّهِ تَعَالَى أَدْوَمُهَا وَإِنْ قَلَّ

”Amalan yang paling dicintai oleh Allah Ta’ala adalah amalan yang kontinu walaupun itu sedikit.” ’Aisyah pun ketika melakukan suatu amalan selalu berkeinginan keras untuk merutinkannya. 

Dari ’Aisyah, beliau mengatakan bahwa Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam ditanya mengenai amalan apakah yang paling dicintai oleh Allah. Rasul shallallahu ’alaihi wa sallam menjawab,

أَدْوَمُهُ وَإِنْ قَلَّ

”Amalan yang rutin (kontinu), walaupun sedikit.”

’Alqomah pernah bertanya pada Ummul Mukminin ’Aisyah, ”Wahai Ummul Mukminin, bagaimanakah Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam beramal? Apakah beliau mengkhususkan hari-hari tertentu untuk beramal?” ’Aisyah menjawab,

لاَ. كَانَ عَمَلُهُ دِيمَةً وَأَيُّكُمْ يَسْتَطِيعُ مَا كَانَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- يَسْتَطِيعُ

”Tidak. Amalan beliau adalah amalan yang kontinu (rutin dilakukan). Siapa saja di antara kalian pasti mampu melakukan yang beliau shallallahu ’alaihi wa sallam lakukan.”

Di antaranya lagi Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam contohkan dalam amalan shalat malam. Pada amalan yang satu ini, beliau menganjurkan agar mencoba untuk merutinkannya. Dari ’Aisyah, Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda,

يَا أَيُّهَا النَّاسُ عَلَيْكُمْ مِنَ الأَعْمَالِ مَا تُطِيقُونَ فَإِنَّ اللَّهَ لاَ يَمَلُّ حَتَّى تَمَلُّوا وَإِنَّ أَحَبَّ الأَعْمَالِ إِلَى اللَّهِ مَا دُووِمَ عَلَيْهِ وَإِنْ قَلَّ

”Wahai sekalian manusia, lakukanlah amalan sesuai dengan kemampuan kalian. Karena Allah tidaklah bosan sampai kalian merasa bosan. (Ketahuilah bahwa) amalan yang paling dicintai oleh Allah adalah amalan yang kontinu  walaupun sedikit.”



Dari ‘Abdullah bin ‘Amr bin Al ‘Ash radhiyallahu ‘anhuma, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata padaku,

يَا عَبْدَ اللَّهِ ، لاَ تَكُنْ مِثْلَ فُلاَنٍ ، كَانَ يَقُومُ اللَّيْلَ فَتَرَكَ قِيَامَ اللَّيْلِ

“Wahai ‘Abdullah, janganlah engkau seperti si fulan. Dulu dia biasa mengerjakan shalat malam, namun sekarang dia tidak mengerjakannya lagi.” 



Hikmah Mengapa Mesti Merutinkan Amalan



Amalan yang kontinu akan terus mendapat pahala. Berbeda dengan amalan yang dilakukan sesekali saja –meskipun jumlahnya banyak-, maka ganjarannya akan terhenti pada waktu dia beramal. Bayangkan jika amalan tersebut dilakukan terus menerus, maka pahalanya akan terus ada walaupun amalan yang dilakukan sedikit.

Ibnu Rajab Al Hambali mengatakan, ”Sesungguhnya seorang hamba hanyalah akan diberi balasan sesuai amalan yang ia lakukan. Barangsiapa meninggalkan suatu amalan -bukan karena udzur syar’i seperti sakit, bersafar, atau dalam keadaan lemah di usia senja-, maka akan terputus darinya pahala dan ganjaran jika ia meninggalkan amalan tersebut.” Namun perlu diketahui bahwa apabila seseorang meninggalkan amalan sholih yang biasa dia rutinkan karena alasan sakit, sudah tidak mampu lagi melakukannya, dalam keadaan bersafar atau udzur syar’i lainnya, maka dia akan tetap memperoleh ganjarannya. Hal ini berdasarkan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,

إِذَا مَرِضَ الْعَبْدُ أَوْ سَافَرَ ، كُتِبَ لَهُ مِثْلُ مَا كَانَ يَعْمَلُ مُقِيمًا صَحِيحًا

“Jika seseorang sakit atau melakukan safar, maka dia akan dicatat melakukan amalan sebagaimana amalan rutin yang dia lakukan ketika mukim (tidak bepergian) dan dalam keadaan sehat.”[15]

Amalan yang sedikit tetapi kontinu akan mencegah masuknya virus ”futur” (jenuh untuk beramal). Jika seseorang beramal sesekali namun banyak, kadang akan muncul rasa malas dan jenuh. Sebaliknya jika seseorang beramal sedikit namun  (terus menerus), maka rasa malas pun akan hilang dan rasa semangat untuk beramal akan selalu ada. Itulah mengapa kita dianjurkan untuk beramal yang penting kontinu walaupun jumlahnya sedikit. Kadang kita memang mengalami masa semangat dan kadang pula futur (malas) beramal. Sehingga agar amalan kita terus menerus ada pada masa-masa tersebut, maka dianjurkanlah kita beramal yang rutin walaupun itu sedikit.

Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda,

وَلِكُلِّ عَمِلٍ شِرَّةٌ ، وَلِكُلِّ شِرَّةٍ فَتْرَةٌ ، فَمَنْ يَكُنْ فَتْرَتُهُ إِلَى السُّنَّةِ ، فَقَدِ اهْتَدَى ، وَمَنْ يَكُ إِلَى غَيْرِ ذَلِكَ ، فَقَدْ ضَلَّ

”Setiap amal itu pasti ada masa semangatnya. Dan setiap masa semangat itu pasti ada masa futur (malasnya). Barangsiapa yang kemalasannya masih dalam sunnah (petunjuk) Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam, maka dia berada dalam petunjuk. Namun barangsiapa yang tidak keluar dari sunnah tersebut, sungguh dia telah menyimpang.”

Apabila seorang hamba berhenti dari amalan rutinnya, malaikat pun akan berhenti membangunkan baginya bangunan di surga disebabkan amalan yang cuma sesaat.

Al Hasan Al Bashri mengatakan, ”Sesungguhnya bangunan di surga dibangun oleh para Malaikat disebabkan amalan dzikir yang terus dilakukan. Apabila seorang hamba mengalami rasa jenuh untuk berdzikir, maka malaikat pun akan berhenti dari pekerjaannya tadi. Lantas malaikat pun mengatakan, ”Apa yang terjadi padamu, wahai fulan?” Sebab malaikat bisa menghentikan pekerjaan mereka karena orang yang berdzikir tadi mengalami kefuturan (kemalasan) dalam beramal.”



Untuk mengetahui manakah amalan yang mesti dirutinkan, dapat kita lihat pada tiga jenis amalan berikut.

Pertama, amalan yang bisa dirutinkan ketika mukim (tidak bepergian) dan ketika bersafar.

Contohnya adalah puasa pada ayyamul biid (13, 14, 15 H), shalat sunnah qobliyah shubuh (shalat sunnah fajar), shalat malam (tahajud), dan shalat witir. Amalan-amalan seperti ini tidaklah ditinggalkan meskipun dalam keadaan bersafar.

Kedua, amalan yang dirutinkan ketika mukim (tidak bepergian), bukan ketika safar.

Contohnya adalah shalat sunnah rawatib selain shalat sunnah qobliyah shubuh 

Amalan yang kadang dikerjakan pada suatu waktu dan kadang pula ditinggalkan.

Contohnya adalah puasa selain hari Senin dan Kamis. Puasa pada selain dua hari tadi boleh dilakukan kadang-kadang, misalnya saja berpuasa pada hari selasa atau rabu.

Initinya, tidak semua amalan mesti dilakukan secara rutin, itu semua melihat pada ajaran dan petunjuk Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam.

Penutup

Ketika ajal menjemput, barulah amalan seseorang berakhir. Al Hasan Al Bashri mengatakan, ”Sesungguhnya Allah Ta’ala tidaklah menjadikan ajal (waktu akhir) untuk amalan seorang mukmin selain kematiannya.” Lalu Al Hasan membaca firman Allah,

وَاعْبُدْ رَبَّكَ حَتَّى يَأْتِيَكَ الْيَقِينُ

”Dan sembahlah Rabbmu sampai datang kepadamu al yaqin (yakni ajal).” (QS. Al Hijr: 99).



Beriman dan Istiqamah

Apakah yang disebut dengan Istiqamah?
Apakah seorang pemuda dapat selalu istiqamah (konsisten) untuk taat kepada Allah Swt. sepanjang usianya? Tentu saja, di sini saya (penulis) tidak bermaksud untuk tergesa-gesa mengambil penilaian, karena siapa di antara kita yang tidak pernah melakukan kesalahan? Akan tetapi, yang kami maksudkan adalah bahwa kebanyakan orang mengawali hidupnya dengan ketaatan kepada Allah Swt.

kemudian terjerumus dalam kemaksiatan yang sangat besar. Mungkin pada awalnya di rumah ia dididik dengan sangat baik untuk selalu taat dan mendekatkan diri kepada Allah. Tapi, setelah itu pola hidupnya berbalik arah 1800 dari yang pernah ia jalani. Ia menjadi suka mengkonsumsi obat-obatan terlarang, minum minuman keras, dan tidak pernah melaksanakan shalat. Setelah itu, ia kembali lagi ke jalan Allah.

Yang menjadi pertanyaan adalah, apakah mungkin kita mendapati seorang pemuda yang begitu pandai menjaga nafsu dan dirinya, sehingga dengan lantang berkata, “Aku tidak pernah melakukan begini atau begitu,” dan dia selalu taat kepada Allah? Ataukah hal ini mustahil dan hanya sebatas khayalan belaka?
Pada suatu ketika Rasulullah Saw. sedang duduk. Umar bin Khaththab r.a. datang dan melihat rambut Nabi Saw. Kisah ini terjadi pada masa-masa terakhir kehidupan Rasulullah Saw. dan Umar melihat banyak rambut uban di kepada Nabi Saw.
“Ya Rasulullah, Kamu telah beruban.” Kata Umar bermaksud mencandai beliau.
“Benar kamu, hai Umar. Surat Hud telah mampu membuatku beruban.”
“Mengapa begitu, ya Rasulullah?”
“Ya Umar, dalam surat tersebut ada sebuah ayat yang membuatku beruban.”
“Ayat yang manakah itu, ya Rasulullah?”
“Yaitu firman Allah ‘Maka tetaplah kamu pada jalan yang benar, sebagaimana diperintahkan kepadamu dan (juga) orang yang telah taubat beserta kamu dan janganlah kamu melampaui batas. Sesungguhnya dia Maha Melihat apa yang kamu kerjakan.’” (QS. Hud [11]: 112)
Renungkanlah, bagaimana mungkin orang sekaliber Nabi  dapat dibuat beruban oleh ayat ini, padahal di antara kita ada orang yang sebentar saja tidak pernah memperhatikan ayat ini, bahkan mungkin di antara kita ada orang yang sama sekali belum pernah mendengar ayat ini.

Ada seorang lelaki yang mendatangi Rasulullah. sembari berkata, “Ya Rasulullah, tunjukkanlah kepadaku suatu ajaran dalam Islam yang tidak akan aku tanyakan lagi kepada siapa pun setelah kamu ini.” Beliau bersabda, “Katakan aku beriman kepada Allah kemudian istiqamahlah!” (HR. Imam Ahmad dalam Kitab Musnadnya dari Abdullah bin Sufyan, dari ayahnya)